Era mempunyai tujuh daun dan satu masalah. Masalah itu bukan kurang air, bukan serangan hama, bukan akar busuk, apa lagi kekurangan cahaya. Semua kebutuhan dasarnya terpenuhi. Ia ditempatkan di dekat pintu garasi agar mendapatkan cahaya pagi, tetapi tidak tersentuh matahari langsung. Daunnya dibersihkan dengan kain lembab dan lembut. Media tanamnya diganti enam sampai tujuh bulan sekali; tidak pernah dibiarkan terlalu basah dan tidak pernah benar-benar kering.
Masalah Era adalah warna. Dulu warna putih pada daunnya membuat orang terkagum-kagum. Sekarang warna itu semakin sedikit dan orang-orang mulai berpikir bahwa Era telah kehilangan sesuatu yang penting. Mereka menyebutnya variegasi, seolah-olah tanaman yang memiliki nama segrande monstera harus tunduk pada aturan yang rumit. Mereka tidak pernah bertanya apakah Era sehat. Mereka selalu bertanya, “apakah daun-daunnya akan kembali menor?”
Mira, perempuan yang menjual Era, memahami aturan itu meskipun tidak menyukainya. Selama dua tahun terakhir, ia sudah menjelaskan kepada banyak orang bahwa Era masih sehat, akarnya bagus dan daun-daunnya tidak bermasalah. Penjelasan itu jarang menghasilkan penjualan. Orang-orang tetap melihat daun-daun muda Era dan menghitung sisa hidup bagian putihnya. “Toh sebentar lagi daun paling tua itu mati. Sisanya hijau semua, dong!” kata mereka. Ya, menurut mereka, kematian satu daun bisa serta-merta menghapus nilai tanaman setinggi hampir satu meter itu.
Mira kemudian menurunkan harga. Harga Era turun lebih dari setengah dalam satu tahun. Tidak ada yang menganggap itu aneh. Harga tanaman hias bisa turun kapan saja, termasuk ketika tanaman tersebut tidak lagi sesuai dengan selera pasar. Orang-orang menerimanya sebagai mekanisme yang wajar. Pun demikian halnya dengan Mira. Ia memahami bahwa orang membeli apa yang mereka sukai dan membayar sesuai dengan apa yang mereka anggap pantas. Ia hanya tidak menyukai kenyataan bahwa kepantasan itu bisa berubah begitu cepat.
Sebagai seorang sarjana yang sudah beberapa tahun terakhir tidak mempunyai pekerjaan tetap, Mira berusaha beradaptasi dengan pasar. Kini, imaji tentang bekerja di kantor, menerima gaji setiap bulan, mengenakan pakaian rapi, dan menghadiri rapat samar-samar tersisa dalam ingatannya. Ia berhenti bekerja ketika anaknya lahir. Pada waktu itu, keputusan tersebut terasa masuk akal. Anak masih kecil, suaminya masih bekerja dan peduli. Mira mengira bisa kembali bekerja beberapa tahun lagi. Ternyata tak sesederhana itu dunia bekerja. Ketika akhirnya ia kembali mencari pekerjaan, pengalaman kerjanya sudah dianggap terlalu lama, usianya tidak lagi sesuai dengan beberapa lowongan, dan statusnya sebagai ibu tunggal membuat banyak hal yang dahulu sederhana menjadi persoalan yang harus dijelaskan panjang lebar.
Sekarang, sebagian besar keseharian Mira berlangsung di garasi rumah. Setelah mengantar Una, anaknya ke sekolah, ia membuka pintu garasi, memeriksa tanah, membersihkan daun, memangkas akar, membalas pesan pelanggan, menghitung harga, membungkus pesanan, dan sesekali mengangkat pot-pot yang beberapa lebih berat dari tubuhnya. Siang hari ia masuk ke dapur untuk memasak, lalu kembali ke garasi setelah mencuci piring. Sore hari ia menjemput anaknya. Malam hari ia memeriksa pesanan yang masuk dan membuka situs lowongan kerja. Besok semuanya dimulai lagi dari awal. Beberapa orang menganggap jual tanaman adalah pekerjaan sampingan karena Mira masih bisa mengerjakannya sambil mengurus rumah. Namun Mira tidak pernah menemukan bagian samping dari pekerjaan itu. Semuanya berada di depan, di garasi rumah, di garda terdepan keluarga kecilnya.
Pagi itu Mira sedang membersihkan daun Era ketika Una keluar dari rumah dengan satu kaus kaki di tangan. “Kaos kaki satunya mana, Nak?”
“Di sofa kayaknya.”
“Kok kayaknya?”
“Karena kemarin aku lepas di situ.”
Mira menatap Una lembut. “Cari baik-baik dulu ya.”
Una masuk kembali dan Mira melanjutkan pekerjaannya. Penuh kehati-hatian, ia membersihkan daun-daun Era. Ketujuhnya kelihatan segar di mata Mira. “Kamu masih cantik,” katanya. Tentu Era tak bisa membantah atau menyetujui. Tanaman tidak punya pendapat tentang kecantikan. Cuma manusia yang memerlukannya.
Pukul sepuluh, seorang calon pembeli datang. Ia sudah melihat foto Era di internet dan datang dengan harapan mendapatkan beberapa tanaman variegata yang sedang hits di media sosial. Laki-laki muda itu mengenakan kaus hitam longgar, celana baggy, dan sepatu kanvas yang sudah tak terlihat putih. Tote bag hitam dengan logo band tergantung di bahunya. Poninya jatuh menutupi sebagian mata. Ia berkeliling garasi dengan ponsel di tangan, memotret beberapa tanaman dan sesekali bertanya harga. Ketika sampai di depan Era, ia berhenti lebih lama. Ia melihat daun tuanya, kemudian daun-daun mudanya, lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Wah, hijau semua daun barunya. Cebres.” Mira menjawab dengan anggukan.
Sambil tidak mengalihkan pandangan dari Era, pemuda itu bertanya, “kalau keluar daun baru, masih bisa putih lagi?”
“Mungkin bisa.”
“Berapa persen kemungkinannya?”
Mira mengangkat bahu. “Tanaman tidak bisa dijanjikan.” Pemuda itu tertawa pendek. “Kalau begitu, saya pikir-pikir dulu.” Ia tidak melirik Era lagi. Ia memilih dua pot serabut kelapa dari rak paling bawah, membayarnya, lalu membawanya pergi dalam satu rengkuhan. Mira memperhatikannya sampai keluar dari garasi sebelum kembali mengatur tanaman yang bergeser. Ia memindahkan satu pot ke rak atas, kemudian mengambil kain lembab untuk membersihkan pot-pot yang belum terjamah. Baru beberapa kali usap, suara keras terdengar dari arah belakang rumah. Bunyi benturannya begitu tiba-tiba dan berat. Dalam pandangannya, rak tanaman sampai bergetar.
Mira menjatuhkan kain dan berjongkok menutup kepala dengan kedua lengan. Ia meraih pot Era dengan kedua tangan. Ia menariknya mendekat ke dada, membungkukkan tubuh, dan menunggu. Alih-alih berpikir apa yang sedang terjadi, tubuhnya lebih dulu mengenali suara itu sebagai sesuatu yang mengancam. Beberapa detik berlalu tanpa suara lanjutan. Dari rumah sebelah kemudian terdengar teriakan seorang perempuan, disusul suara laki-laki yang memanggil-manggil seseorang. “Nangka! Nangka jatuh!” Baru setelah itu Mira mengangkat kepala.
Tetangganya datang tergesa-gesa dari balik pagar. “Mira, maaf! Maaf banget. Pohonnya memang sudah terlalu lebat. Saya kira buah yang itu belum matang. Nggak nyangka jatuh sampai bikin jebol.”
Mira mengangguk. “Nggak apa-apa, Bu. Nanti saya urus.”
“Nanti buahnya buat Mira saja. Semoga masih bagus. Biasanya sih manis.” Ujar tetangga sambil melenggang keluar dari garasi.
Mira mengangguk sambil tetap memeluk Era. Ia tidak segera menjawab karena napasnya belum kembali teratur. Lubang pada atap seng di luar garasi membuat cahaya siang mengarah langsung ke beranda rumah dan mengenai beberapa pot kosong.
Mira melepaskan pelukannya dan meletakkan Era kembali di tempat semula. Ia mengambil kain yang tadi jatuh, meremas-remasnya sembari meredakan kecemasan. Ia tak menyangka suara sebuah nangka jatuh sanggup membuat tubuh sedemikian gemetarnya. Yang jelas bagi Mira, beberapa detik tadi ia tidak memikirkan atap yang jebol, tanaman yang rusak, atau pekerjaan yang belum selesai. Ia hanya ingin memastikan tidak ada seorang pun yang terluka.
Ia pernah memeluk Era dengan cara yang sama delapan tahun lalu, ketika sebuah pot keramik melayang hanya beberapa inci dari telinganya, membentur tembok, lalu pecah berkeping-keping. Tangisan Una terdengar dari pintu kamar yang tertutup rapat. Setelah itu, memar datang hampir setiap pekan. Kadang di lengan, kadang di bahu, kadang di paha yang mudah ditutupi rok atau celana panjang. Ada yang menguning sebelum memar berikutnya muncul; ada yang cukup kecil untuk disembunyikan dengan lengan baju; ada yang membuatnya harus tidur menghadap satu sisi selama beberapa malam. Mira menjadi pandai membedakan mana memar yang bisa dilihat orang dan mana yang cukup ia simpan sendiri.
Hampir delapan tahun berlalu sejak pot itu pecah. Tubuh Mira masih mengingat suara benda yang dilempar dan pecah. Waktu itu, Era masih mungil, menor, dan memenuhi standar pasar. Kecil-kecil, ia sudah menjadi saksi bisu kehidupan Mira yang mustahil diceritakan kepada siapa pun.












