Bab 01

Di Mana Batas Antara Hasrat dan Kehilangan Kemanusiaan? | Mengulas Kembali Novel Taming the Quiet Beast

1 dibaca

A
Mungkin yang diwariskan dari sebuah keluarga bukan hanya luka, tetapi juga cara mencintai yang salah.


Dalam novel berjudul Taming the Quiet Beast karya Jessica Lush, pernyataan itu tertinggal  sepersekian detik lebih lama dari yang seharusnya, saat aku menyelesaikan sampai ke halaman terakhir. Novel yang menganut genre dark romance, psychological thriller, serta suspense ini sukses meninggalkan syok terapi bagi pembacanya, termasuk aku.

Berangkat dari kacamata Ammy Harleigh, pembaca dibawa melalui konflik berlapis. Mulai dari hubungan keluarga yang penuh luka, kehadiran sosok yang perlahan mengusik Ammy, serta keterlibatan Ammy dalam permainan bahaya yang mempertaruhkan hidup dan mati.

Namun, dibalik itu semua hubungan Ammy dengan Jane, ibunya—menjadi salah satu aspek yang menurutku menarik untuk diperhatikan.

Sebelum masuk lebih dalam, aku harus memberikan peringatan terlebih dahulu kalau novel ini memiliki rating 21+ dan memuat sejumlah tema yang cukup berat, seperti; kekerasan, hubungan abusive, stalking, juga unsur seksual yang mungkin cukup mengganggu bagi pembaca di bawah umur.

Novel Taming the Quiet Beast juga bisa dipesan melalui Pre-order yang informasinya bisa dilihat pada sosial media penulis.

Now, let’s dig in! 


Melihat Peta Keseluruhan dari Novel Taming the Quiet Beast

Bukan hal yang mudah membangun ketegangan dalam sebuah novel psychological thriller, tapi novel yang satu ini berhasil membuat pembaca—atau setidaknya aku—merasakan intensitas dari konflik yang dibangun satu persatu sedari awal.

Ammy Harleigh merupakan seorang penulis novel dark romance, yang kebetulan kehidupan di dunia nyatanya justru berjalan semakin selaras dengan cerita yang ia tulis sendiri.

Kehidupan Ammy jika dilihat dari luar mungkin seperti baik-baik saja, tapi saat ia menapakkan kakinya di rumah, tempat yang seharusnya memberikan keamanan, Ammy malah dipaksa melihat realitas. Ibunya Ammy— Jane, terjebak dengan suami abusive dan cabul yang tidak segan untuk melakukan kekerasan.

Satu hal yang membuat Ammy dan seluruh pembaca bertanya-tanya adalah kenapa Jane justru masih asik bertahan dalam hubungan itu?

Somehow, kejadian seperti ini cukup marak terjadi di dunia nyata. Ini ironis, karena kekerasan justru bisa dianggap sebagai sesuatu yang harus ditoleransi demi mempertahankan sebuah hubungan. Jane tahu apa yang dia alami menyakitkan, tapi dia tetap kembali pada orang yang sama—yang memberi rasa sakit itu.

Dan disinilah hubungan Ammy dan Jane menjadi menarik. Ammy tumbuh dengan menyaksikan bagaimana ibunya bertahan dalam sebuah hubungan yang menyakitkan.

Tanpa disadari, pengalaman tersebut ikut membentuk cara Ammy memandang hubungan dan rasa aman. Ia mungkin tidak mengulangi pilihan Jane dengan cara yang sama, tetapi luka yang diwariskan keluarganya tetap menemukan bentuk lain dalam kehidupannya.

Jadi, menurutku novel ini bukan hanya kisah romansa gelap milik Ammy dan Zayn, sebagai penguntit. Tetapi juga berisi ikatan darah yang mewariskan pola perilaku identik, hanya saja dengan cara yang berbeda.


**Dua Tiga Hal, yang Tertinggal di Kepala **

Aku bukan penggemar berat dari novel-novel bertema cinta obsesif, maupun romansa gelap, tapi satu kalimat yang bisa aku tulis untuk merangkum keseluruhan review ini adalah; novel ini berhasil membuatku terus bertanya-tanya, sebenarnya siapa yang sedang menjinakkan siapa di dalam hubungan Ammy dan Zayn?

Ini yang aku suka. Kedua karakter sebetulnya morally messy, mereka rusak sebagai individu manusia, tapi hal itulah yang membuat mereka seperti kepingan puzzle yang melengkapi satu sama lain.

Dalam novel Taming the Quiet Beast sendiri, Zayn mulai menguntit Ammy karena hasrat, entah apa yang salah dengan dia, namun seiring berjalannya cerita aku sedikit banyaknya mulai paham dengan motivasi Zayn sebagai karakter. Bukan hanya didasari oleh hasrat, tapi juga oleh keinginannya untuk memiliki, melindungi, sekaligus mengendalikan Ammy.

Perkembangan karakter Ammy sendiri mulai goyah dengan prinsipnya untuk bebas dari segala hal yang mengikat, saat Zayn perlahan-lahan menanamkan bahwa dia lah yang dapat memberikan rasa aman walau dibarengi juga dengan teror dan kebebasan yang direnggut.

Hal lain yang aku suka adalah permainan Blood & Dice yang terdapat pada pertengahan cerita.

Sedikit banyak mengingatkan aku dengan film Ready or Not—dimana ada pemburu dan ada juga yang diburu. Dalam permainan ini sendiri, pembaca diberikan istilah baru seperti dice, pion, dan juga medusa. Istilah ini merupakan bagian dari permainan itu sendiri.


Sekarang mari kita beralih ke sisi lain dari koin. Ada beberapa hal yang menurutku sebagai pembaca agak mengganjal saat membaca.

Ini bukan sebuah kritikan tajam, hanya berbentuk catatan jurnal kecil yang aku tinggalkan seperti jejak setelah membaca sebuah novel.


Kalau sebelumnya aku menulis Blood & Dice sebagai unsur cerita yang aku suka, ini berlaku sebaliknya. Bukan berarti kontradiksi, hanya saja aku merasa jika permainan itu berdiri sendiri sebagai plot dan kurang menggandeng cerita di kedua sisinya.

Konsepnya menarik, tetapi kemunculannya terasa seperti membuka pintu menuju cerita lain yang cukup besar, sementara konflik utama Ammy dan Zayn tetap berjalan di jalurnya sendiri. Akibatnya, ada beberapa bagian ketika aku merasa sedang membaca dua konflik yang saling bersebelahan, alih-alih satu konflik yang benar-benar saling menguatkan.

Hal ini juga membuat beberapa bagian Blood & Dice terasa lebih dominan daripada yang aku perkirakan. Setelah permainan tersebut diperkenalkan, aku justru mulai penasaran dengan dunia di baliknya. Hubungan antar-Pemain, Pion, dan Dice, serta posisi Zayn di dalam sistem tersebut.

Tapi secara keseluruhan, novel ini berhasil menawarkan sebuah premis yang terasa seperti angin segar di tengah gempuran novel romansa. Mungkin novel tentang stalker bukan hal yang baru, tetapi jelas Taming the Quiet Beast memberikan atmosfer yang berbeda.


Kalau Christopher Nolan Membuat Mahakarya Interstellar, Maka Jessica Lush lah Pencipta Novel Taming the Quiet Beast 

Oke, judulnya agak sedikit berlebihan. But i hope you got the point. 

Special mention untuk Jessica Lush sebagai penulis dari Taming the Quiet Beast. Novel ini tentunya meninggalkan, pesan moral yang melekat—setidaknya buatku—dan memberikan perspektif baru tentang bagaimana sebuah respons trauma terhadap hubungan abusive dapat diwariskan.

Aku suka bagaimana penulisnya tidak membuat trauma Ammy hanya menjadi latar belakang untuk menjelaskan kenapa karakternya bertindak seperti itu. Trauma tersebut bekerja dengan baik sebagai sesuatu yang terus mengikuti Ammy, memengaruhi cara ia memahami hubungan, rasa aman, dan bahkan orang-orang yang dia izinkan untuk berada di dekatnya.

Terima kasih telah menulis cerita ini dan memberikan terapi syok ringan untuk para pembacanya.

Semoga semakin banyak cerita yang keluar dari kepala penulis, dan semoga kita semua tetap kuat untuk mengikuti traumanya sampai ke halaman terakhir.

See you in the next review!


Kunjungi sosial media penulis, yuk!

Instagram: @jessicalush.author

Threads: @jessicalush.author

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk