Di suatu pagi hari yang cerah, dalam sebuah kediaman mewah terlihat seorang wanita cantik tengah duduk di kursi pantry dapur sedang menatap layar ponselnya tanpa ekspresi.
Jihan menutup layar benda pipih tersebut setelah melihat jam pada pukul 07.34 pagi. Sesekali menyesap teh hangat tanpa rasa yang ia pikir tanpa gula. Entah, Jihan lupa ia menaruh gula atau memang perasaannya saja yang terlalu pahit saat ini.
Sedikit tersentak saat mendengar langkah kaki tegas seseorang terasa mendekat menuju dapur.
Itu suaminya tercinta.
Untaian rambut panjangnya itu ia elus, berupaya tidak menuruti kata hati yang memaksanya untuk menoleh. Jihan mempertahankan diri dalam posisinya agar tidak terlihat terlalu menyedihkan.
Walaupun sebenarnya tidak cukup membantu. Jihan lemah jika berhadapan dengan Arka.
Atmosfer hening itu terpecahkan saat suara air mineral hangat dari teko kaca yang sebelumnya Jihan siapkan untuk sang suami meluncur menuju gelas dalam genggaman tangannya.
Suara itu terdengar cukup nyaring hingga Jihan tidak tahan lagi untuk membuka suara.
“Mas semalam tidur di ruang kerja lagi, ya?” tanyanya, takut membuat Arka terusik.
Jihan menatap punggung tegapnya yang sudah terbalut jas kantor sambil mengelus bibir gelas teh di tangannya, gugup. Berdiri penuh harap pada laki-laki itu.
Pernikahan sudah berjalan dua tahun tetapi semakin hambar rasanya hingga setiap hari Jihan gelisah. Takut kalimat itu akan terucap. Kata-kata yang tak akan Jihan sanggup untuk mendengarnya.
Contohnya sekarang ini, Jihan belum menyerah untuk se-ramah mungkin pada Arka, seolah-olah semuanya baik-baik saja.
“Kamu melewati batas lagi.”
Jihan tertegun. Sambil mendekat, wanita itu menatap wajah pria yang ia cintai sepenuh hati itu dengan sayu. Napasnya memberat, begitu lirikan matanya berhasil bertubrukan dengan netra kelam Arka.
Jihan menunduk. Arka sangat datar, berbeda dengan saat-saat sebelumnya dulu, bibir tebal pria itu selalu menyunggingkan senyuman manis tapi sekarang selalu rapat, bicara pada Jihan hanya seperlunya saja.
“Aku ...” ucap Jihan tergantung.
Arka menatap dingin istrinya. Bola mata cantiknya berkaca-kaca seolah Arka telah melakukan kesalahan yang membuat hati istri cantiknya itu terluka.
Dia menaikan satu alis, dengan kaku menghapus air mata Jihan yang meluncur begitu saja. Tangannya hangat namun, sikapnya sangatlah dingin.
“Maaf,” parau Jihan. Memilih untuk bungkam.
Paras nyaris sempurna namun tampak luar biasa di mata istrinya itu, selalu terdiam bungkam tanpa sepatah kata pun untuk menjelaskan, mengapa kehidupan pernikahan mereka satu tahun belakangan ini seperti sepasang suami-istri yang menikah secara terpaksa?
Seolah-olah tidak ada cinta sejak awal.
“Kamu tidak melakukan kesalahan Jihan ... Jangan cengeng,” katanya.
Jihan menggeleng lemah. Tak kuat menatap lama-lama wajah tampannya. Tidak! Seharusnya Mas Arka yang merasakan perasaan seperti ini, bukan Jihan.
Dadanya sesak. Arka begitu hangat sebetulnya tapi Jihan tak puas, karena sikap Arka yang sudah cukup keterlaluan padanya belakangan ini.
Suaminya itu seolah-olah menyiksa Jihan secara batin mau pun mental.
“A-Apa Jihan melakukan kesalahan, Mas?” tanya Jihan kembali, dengan suara bergetar. Menatap kembali Arka dengan pandangan menyakitkan.
Arka malah tersenyum kecil. Sekilas mengalihkan pandangannya. Membuang napas kasar lantas melangkah maju.
Kedua tangan kekar itu menumpu pada bibir pantry. Menunduk pada Jihan yang sudah berlinang air mata.
Visual Arka terlihat kaku namun masih bisa membuat jantung Jihan berdebar, karena rasa cintanya tak pernah pudar walaupun sudah tidak dianggap lagi sebagai istri.
Mengapa pria yang dicintainya sejak remaja itu kini terlihat menakutkan? Jihan takut, jika ternyata dirinya benar-benar telah berbuat kesalahan yang fatal pada Arka tanpa Jihan sadari.
Tapi apa?! TOLONG KATAKAN!
Dalam hati Jihan terus menjerit pilu.
“Saya tidak bisa jawab.”
Jihan menghela napas pelan. Sungguh berat kehidupannya.
Jihan lantas tertunduk seraya meremas dress selutut pemberian Arka ketika ulang tahun pernikahan mereka yang ke-1 tahun yang ia pakai. Gaun ini mungkin akan menjadi barang kedua yang ia benci setelah benda melingkar di jari manisnya itu nampak mengkilat seakan benar-benar siap melukainya kelak.
Jihan ingin sekali memeluk Arka. Aroma tubuh Arka yang ia rindukan menyesakkan dadanya seolah tak akan lama lagi aroma ini akan menghilang saat benar-benar Arka memutuskan untuk berpisah darinya.
“Kamu enggak cinta lagi sama aku, Mas!?” Jihan memberikan sangsi. Menatap menusuk Arka dengan pandangan lurus. Terlihat frustrasi.
Arka memilih acuh tak acuh menatap arloji di pergelangan tangannya. Melangkah mundur, menjaga jarak kembali. Semua itu tak luput dari pandangan Jihan yang nampak menyakitkan.
“Saya hampir terlambat.”
“MAS?!”
Arka hanya menatap dingin Jihan seolah memperingati. Jihan lagi-lagi hanya bisa terdiam kaku seperti biasa. Menelan kembali amarah yang ingin naik kepermukaan.
“Sampai kapan kita terus seperti ini?” hanya vokalnya terdengar bergetar seiring kuku-kuku jarinya menusuk telapak tangan yang mengepal. Begitu menyayat layaknya detik-detik vonis mati dirinya.
Jiwanya terasa terenggut tanpa alasan jika terus berhadapan dengan Arka yang satu tahun belakangan sudah seperti orang lain.
“Jihan.” Bariton Arka terdengar lembut dan halus sampai rasanya seperti siap meluluhlantakkan hati Jihan perlahan, “saya akan berangkat kerja, kita bahas pembicaraan ini lain kali karena akan ada waktunya nanti.”
“Maksud... kamu, Mas?”
Arka mengusap wajahnya kasar. Menatap Jihan dengan tatapan serius. “Cara kamu seperti ini seakan-akan kamu ingin mempercepat perpisahan kita, Jihan! Saya-berangkat dulu.”
“Apa?”
Jihan langsung terguncang sampai terduduk lemas di lantai dapur yang dingin.
Bukan seperti itu yang Jihan maksud. Arka memang keterlaluan. Sungguh, Jihan benar-benar kecewa pada suaminya itu.
Pria itu sudah melanggar janjinya terhadap Mamanya. Tega sekali kamu, Arka!
Saat hendak menaiki anak tangga berikutnya langkah Arka terhenti, dia menoleh sekilas dengan tatapan sulit diartikan sebelum bersuara.
Tubuh Jihan bergetar. Bahkan terlihat dari belakang saat Arka menatap jauh di atas tangga.
“Ingat, nanti siang kita ada janji sama Mama dan Papa jadi ... Jangan lupa.”
Terasa hening usai langkah kaki Arka sudah tak terdengar. meninggalkannya sisa-sisa pertanyaan yang bahkan belum terucap. Rumah ini terasa dingin, tidak lagi sehangat dulu. Rumah besar yang tak mampu menampung besarnya rasa sakit dan luka yang Jihan rasakan sendirian. Jihan terisak, menghapus air matanya dengan paksa kemudian merapikan pakaiannya.
Ya, seperti biasa. Perempuan itu akan menangis sendiri begitu juga bangkit sendiri, seolah-olah dirinya benar-benar kuat atas hidupnya yang seperti ini terus menerus.
Jihan menatap meja makan yang penuh masakan buatannya yang sama sekali tidak tersentuh sedikit pun oleh suaminya itu.
Padahal Jihan menyiapkan semuanya dengan penuh kasih dan harapan yang besar. Namun, semuanya sudah jelas.
Kehidupan rumah tangganya dengan pria yang dicintainya sepenuh hati itu, ternyata tidak akan bertahan lebih lama lagi.
Cepat atau lambat.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!