“Yud, kamu tahu legenda kota Renjana?”
Yudha yang tengah mengetik di komputernya mengangkat kepalanya dengan malas. Wajahnya terlihat lelah.
“Apa?”
“Kenapa malah bertanya balik?”
“Aku enggak dengar kamu bicara apa, Bram.”
Lelaki tua yang tengah mengetuk puntung rokok di atas asbak itu menghela napas.
“Aku, lho, dari tadi nanya ke kamu. Enggak dengar?”
“Aku sedang sibuk,” jawab Yudha sambil menatap foto seorang gadis kecil yang memiliki rambut hitam dan dikuncir ekor kuda.
Bram melihat itu dan mengangkat bahu.
“Aku tahu kamu perlu uang untuk putrimu, tapi jangan terlalu kaku, dong. Pekerjaan kita ‘kan bukan hanya menulis artikel seram.”
Kali ini, Yudha yang menghela napas. Lelaki dengan jambang yang setengah dicukur itu menatap Bram dengan alis terangkat.
“Kota Renjana itu di mana?”
“Katanya kamu enggak dengar.”
Yudha mengernyit, yang membuat editornya itu mengedikkan bahu.
Tapi, Bram tidak langsung menjawab pertanyaan Yudha. Dia memutar layar komputernya dan dengan kursor, dia menunjukkan sebuah utas yang aneh.
Nama dan foto profil yang mengunggah utas tidak ada. Hanya ada gambar palang jalan dari kayu yang bertuliskan KOTA RENJANA dengan sebuah kota tua yang sedang hujan deras, lampu kuning redup, kabel listrik yang rendah, dan sebuah halte kosong sebagai latar belakangnya.
“Apakah kamu percaya bahwa ada kota yang selalu hujan?”
“Tapi, jangam pernah mengunjungi tempat ini kala hujan.”
“Kenapa hanya tidak boleh saat hujan?” cetus Yudha.
“Aku juga tidak tahu. Tapi, kamu tahu ‘kan, kalau kota Renjana itu dekat dari sini?”
Yudha memijat keningnya.
“Aku tidak suka arah pembicaraan ini, Bram.”
“Lakukan, dan kamu dapat bayaran. Mudah, bukan?”
Yudha mengernyit, dia mengambil salah satu kertas di meja, membentuk gulungan dan memukul kepala Bram.
“Aduh!”
“Kalau aku punya pemukul bola kasti, itu yang akan aku layangkan padamu, tahu?”
“Hei, aku hanya mengatakan realita! Kamu perlu uang, ‘kan? Kamu pikir aku juga mau mengerjakan tulisanmu yang serba aneh itu?”
“Kamu yang menyuruhku untuk membuat yang aneh-aneh itu, Bram.”
Bram meringis, “Karena pembaca di forum daring kita menyukainya! Apa lagi yang harus aku perbuat? Ayolah, datang saja ke kota itu. Kalau kamu takut, datang saja saat siang hari. Atau bawa Ratih bersamamu.”
“Siapa yang membawa aku dan kemana?”
Seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahunan masuk ke dalam ruangan bercat biru yang temaram itu. Dia membawa sebungkus gorengan.
“Kalau aku yang membawamu pergi, nanti aku dicekik Yudha—aduh!”
Yudha menatap Bram datar, masih memegang kertas yang digulung tadi, “Kalau itu maumu, aku tidak perlu alasan lain untuk melakukannya.”
Ratih tertawa kecil, “Kalian akrab seperti biasa, ya.”
Yudha menghela napas, tapi tidak berkata apa-apa. Lelaki itu selalu seperti itu jika menyangkut istrinya.
“Dari mananya, Ratih? Suamimu ini selalu melakukan kekerasan padaku. Dia hanya diam saat minum kopi atau merokok—ah.”
Yudha mendelik ke arah Bram, dan saat ini, Ratih menatap sang suami sambil berkacak pinggang.
“Masih, ya? Sudah kubilang untuk berhenti demi Anita, ‘kan?”
Yudha tidak menjawab, lelaki itu hanya menggaruk kepala.
“Mana permintaan maafnya?” tanya Ratih, “kalau tidak ada, kamu tidak dapat bakwan.”
“Aku sungguh minta maaf atas perbuatanku yang tidak patut dipuji itu.”
Bram terkekeh dan mematikan rokoknya, “Langsung tunduk dengan kemarahan istri dan sogokan bakwan, ya?”
“Bram, kamu mau aku hajar lagi? Kali ini pakai tinjuku.”
“Hei, kasihanilah pria tua ini sedikit!”
“Kamu hanya lebih tua empat tahun dariku, tidak usah merasa kamu seorang sesepuh tua.”
“Sudah, sudah,” ucap Ratih sambil meletakkan bungkus gorengan itu di atas meja, “jadi, ceritakan padaku—apa maksudmu tadi, Bram?”
“Bram menyuruh kita untuk menyelidiki kota Renjana,” sahut Yudha setelah mengambil bakwan.
“Kota Renjana? Yang selalu hujan itu?”
Yudha mengangkat alis.
“Kamu tahu?”
Ratih mengangguk, dia mengambil kamera digitalnya, “Aku pernah memotret salah satu penduduk di sana. Mau lihat?”
Yudha menggeser kursinya tepat ke sebelah sang istri, sementara Bram berdiri di belakang mereka.
“Ini foto—lo, kok tidak ada?”
“Hanya halte kosong,” gumam Yudha, matanya memicing, dan mendekatkan wajah ke layar kamera.
“Kamu sungguh memotret seorang?”
Ratih mengernyit sesaat, “Aku ingat pernah memotretnya, dia seorang wanita ... usia berapa ya? Aduh, aku tidak ingat.”
Yudha mengangkat alis, “Kalau namanya?”
“Ah, namanya—”
Ratih terdiam sejenak, sebelum menurunkan kameranya dengan wajah bingung.
“... Siapa ya namanya?”
Melihat kebingungan Ratih, Yudha dan Bram bertukar pandang.
“Kamu yakin memotret seseorang, Rat?” tanya Yudha, dia mengambil kamera itu dari tangan sang istri dan mencoba menekan tombol maju dan mundur beberapa kali, hingga ia melihat sebuah foto yang aneh.
Foto itu adalah gambar seorang anak kecil yang berdiri membelakangi kamera, sambil melihat ke atas, meskipun sedang hujan deras. Tangannya terangkat, seperti sedang menggenggam sesuatu.
“... Seperti cara Anita memegang tangan kita.”
Ratih menatap layar dan mengerjap.
“Kamu benar ... Tapi kenapa hanya anaknya yang ada di sana, ya?”
Bram menatap Ratih bingung, “Kamu sendiri yang memotretnya, Ratih. Kenapa kamu yang heran?”
“Rasanya aku memang memotret sebuah keluarga …” Ratih mengusap wajahnya, “tapi entah kenapa, aku lupa persisnya.”
Kesunyian sejenak di ruangan itu terasa tidak nyaman. Hanya ada detik jarum jam yang terdengar.
“... Baiklah,” ucap Yudha, mengembalikan kamera itu pada istrinya, “aku akan selidiki kota itu.”
“Kita, Yudha. Bukan kamu sendiri. Lagipula, memangnya kamu bisa memotret sambil menulis hasil wawancara?” tanya Ratih, “aku juga ikut.”
Yudha menggaruk kepala.
“Kalau aku bilang tidak, kamu tetap akan ikut, ‘kan?”
Ratih tertawa kecil, “Tentu saja. Mana mungkin aku membiarkanmu pergi sendirian ke kota asing.”
Bram menatap keduanya dengan wajah datar dan bertumpu kedua tangan di atas meja.
“Kalau kalian mau bermesra-mesraan, di rumah saja, sana.”
“Kami tidak bermesraan,” jawab keduanya hampir bersamaan.
Bram hanya menatap mereka tanpa bersuara.
“Seharusnya kamu juga begitu dengan istrimu, Bram,” ucap Ratih sambil membereskan berkas-berkas di mejanya.
“Kamu tidak tahu saja istriku seperti apa. Aku mencoba romantis, dia akan melempariku dengan panci.”
“Untuk kali ini, aku setuju dengan istrimu,” sahut Yudha, ikut membereskan laptop dan berkas yang ada di mejanya.
“Kalian ini kompak sekali merundungku, ya.”
“Ya sudah, kami pamit dulu,” jawab Ratih tanpa benar-benar menjawab perkataan Bram, “Yud, nanti kita mampir dulu ke supermarket ya, beras habis.”
“Bawa percakapan rumah tangga harmonis kalian keluar, sana. Hus, hus.” ucap Bram sambil mengibaskan tangannya.
“Tanpa disuruh kami juga akan pergi,” gerutu Yudha sambil menyandang tasnya, “ayo, Ratih.”
Kedua pasangan itu keluar dari ruangan bercat biru dengan lampu temaram itu dan menutup pintu pelan.
Bram menatap komputernya yang masih menampilkan utas dari pengguna tanpa nama itu. Telunjuknya mengetuk meja beberapa kali.
“Kota Hujan Renjana … Berarti, tempat itu seharusnya tidak bisa dimasuki,” gumam Bram, “apa aku batalkan saja ya kepergian Yudha dan Ratih?”
Tapi, instingnya sebagai editor forum daring menang kali ini, dan dia membiarkan kedua orang itu pergi demi mendapatkan sebuah berita yang akan menggelitik naluri pembacanya.
***
Yudha dan Ratih saat ini berada di dalam supermarket.
“Anita kemarin dapat nilai seratus di ujian matematika, lo,” ucap Ratih sambil mengambil telur eceran, “katanya, dia mau menunjukkan ke ayahnya.”
Yudha tersenyum kecil.
“Dia pintar seperti kamu.”
Ratih tertawa kecil, “Kamu juga pintar, kok. Dengan cara yang berbeda saja.”
“Mungkin itu benar.”
Yudha mengangkat beras dan meletakkannya ke dalam troli, “Apa lagi yang kita perlukan?”
“Ibu bilang dia ingin memasak semur. Sapi atau ayam?”
“Anita lebih suka ayam, ‘kan?”
“Kalau begitu, ayam.”
Setelah keranjang belanja mereka penuh, kedua orang itu berjalan keluar supermarket—dan entah sejak kapan, di luar hujan deras.
“Eh? Lho?”
Ratih tampak merogoh-rogoh saku celana, baju, dan jaketnya.
“Kenapa, Rat?”
“Aku lupa dimana aku meletakkan kunci rumah,” ujarnya bingung, “aneh, seharusnya aku letakkan di jaket … kemana ya?”
“Di dalam tas, mungkin?”
Ratih merogoh tas kecilnya, tidak ada apa-apa. Yudha akhirnya menurunkan plastik belanjaan dan merogoh tasnya, dan anehnya—kunci itu ada di sana.
“Kok bisa ada di dalam tasmu?”
Keduanya bertukar pandang. Ratih menggaruk kepalanya.
“Apa mungkin aku yang salah meletakkan, ya? Tapi masa iya aku meletakkannya di tasmu?”
“Sudah, jangan dipikirkan terlalu jauh. Yang penting kuncinya ketemu.”
Ratih mengangguk, dia menatap hujan dan langit yang tampak gelap, meskipun hari masih sore. Awan-awan berkumpul menjadi satu yang berubah warna menjadi keabuan.
“... Hujannya belum reda juga, ya.”
“Padahal sedang musim panas,” balas Yudha sambil mengangkat tangannya dan merasakan tetesan hujan di telapak tangan.
“Panas tapi lembab, ya. Kulitku jadi lengket kalau begini.”
Yudha menatap Ratih, dan menggaruk pipinya.
“Tetap cantik, kok.”
Ratih menoleh ke arah suaminya, dan tertawa kecil sambil mencubit lengan atas Yudha pelan.
“Bisa aja nih, pak suami.”
“Itu kenyataan.”
Ratih tersenyum kecil, “Jadi kangen masa pacaran, deh.”
“Jangan nostalgia dulu, ini bagaimana cara kita pulang?”
Hujan semakin bertambah deras, yang membuat Ratih menarik resleting jaketnya hingga ke atas.
Yudha menatap hujan yang tidak kunjung berhenti. Dia mengambil ponselnya, dan mengernyit saat melihat cuaca dan suhu di tampilan layar.
“Suhu tiga puluh dua derajat? Cerah? Bagaimana bisa?”
“Apa, kenapa?” tanya Ratih sambil melirik ponsel Yudha.
“Cuaca di ponselku tertulis cerah dan suhu tiga puluh dua derajat. Tidak ada tanda-tanda hujan atau mendung.”
“Mungkin ponselmu rusak?”
“Coba lihat punyamu.”
Ratih merogoh saku dan mengambil ponsel miliknya. Dan hal yang sama terjadi.
Cuaca cerah.
Suhu tiga puluh dua derajat.
“Kenapa begini, ya?” Ratih menggaruk kepalanya.
Yudha tidak menjawab. Di bawah kakinya, aspal sudah kering—seolah tidak pernah ada hujan.









