Berjalan di Atas Puing Kepala Sendiri: Cerita Tentang Siapa Saya dan Kenapa Saya Menulis

0 dibaca

A

Di bab kedua ini, saya sengaja memilih untuk membuka topeng dan mengenalkan siapa diri saya yang sebenarnya. Orang sering bertanya, kenapa saya tidak menulis cerpen atau novel fiksi saja? Jawabannya sederhana: bagi saya, kisah hidup yang saya jalani terlalu nyata dan berharga untuk dibiarkan hilang begitu saja di kepala. Setidaknya, apa yang sudah saya lewati bisa menjadi teman renung—atau bahkan pelindung—bagi orang lain agar tidak sampai terperosok ke lubang yang sama. Entah itu tumbuh sebagai anak yang harus menghadapi pahitnya broken home, atau pengalaman berat ketika saya sempat terjebak lingkaran hitam lowongan kerja palsu (loker bodong).

Sering kali orang bertanya, apa sih sebenarnya yang ada di balik kepala seorang kreator yang memilih menulis hal-hal sunyi di internet? Supaya kita tidak seperti dua orang asing yang kebetulan berpapasan di gerbong kereta, biarkan saya menceritakan sepuluh sudut paling jujur tentang siapa saya, dari mana saya datang, dan apa yang sedang saya pertaruhkan di meja tulis ini, mengalir apa adanya tanpa sekat daftar angka yang kaku.

Menulis itu sebenarnya bukan pelarian keren-kerenan buat saya, tapi cara bertahan hidup paling purba sejak zaman dulu. Waktu kepala penuh sama sesak keresahan hidup dan nggak punya tempat buat ngadu atau sekadar didenger, ujung-ujungnya layar ponsel atau kertas kosong jadi satu-satunya kawan bicara.

Begitu pula ketika roda kehidupan membanting saya ke fase yang jauh lebih ekstrem. Jauh sebelum mendarat di dunia digital, saya menghabiskan waktu selama 11 tahun hidup bekerja di dalam ekosistem industri otomotif Jepang (PT Honda Precision Parts Manufacturing). Memulai dari bawah sebagai Operator Produksi hingga akhirnya dipercaya menjadi Internal Trainer perusahaan. Sebuah zona nyaman yang akhirnya berani saya tinggalkan demi mengejar mimpi baru: membangun jalan hidup mandiri sebagai seorang pekerja kreatif dari rumah.

Banyak orang mengira dunia kreatif adalah ruang tanpa batas yang bebas aturan. Namun bagi saya yang dibesarkan oleh kedisiplinan budaya kerja Monozukuri, kreativitas tanpa eksekusi yang presisi itu cuma omong kosong. Meskipun hari ini saya masih berjuang menata karier baru di ranah digital, standar ketelitian, ketepatan waktu, and mentalitas pemecahan masalah yang saya bawa dari pabrik tetap saya pakai setiap hari saat meracik desain dan tulisan. Disiplin lantai produksi itu sudah mendarah daging, membentuk cara pandang saya bahwa karya yang baik lahir dari proses yang tidak sembarangan.

Semua ini bermula dari iseng di pojokan ruangan, yang tanpa disangka kini dibaca oleh jutaan kepala. Saya aktif menulis di Quora kurang lebih sudah 3 tahun. Jujur, pada awalnya saya tidak pernah peduli dengan angka, algoritma, atau jumlah pengikut. Bagi saya, media sosial tak lebih dari sekadar tempat melepaskan penat setelah lelah bekerja, membaca pengalaman hidup orang lain, dan sesekali menumpahkan isi kepala. Namun, dari sebuah konsistensi yang jujur, angka-angka itu bergerak sendiri hingga menyentuh puluhan juta tayangan. Akun Quora, Threads, hingga Substack saya bertumbuh bukan karena trik instan, melainkan karena suara seorang manusia biasa dari Purwakarta yang kini menetap di Rajamandala ini ternyata beresonansi dengan isi kepala jutaan orang di luar sana.

Hidup juga tidak selalu berjalan mulus. Saya pernah jatuh di titik nol dan menyentuh garis kematian yang sesungguhnya. Puncaknya adalah momen ketika saya sempat ambruk—dan pembaca tidak salah dengar, saya bahkan sempat koma dua kali. Saya bukan sedang memakai kata “mati” sebagai metafora drama. Secara medis, saya benar-benar pernah berada di ambang antara napas yang terputus dan kesadaran yang lenyap. Pengalaman traumatik sekaligus spiritual di ruang paling sunyi itu mengubah total cara pandang saya: jangan pernah menaruh harapan terlalu tinggi pada pundak manusia. Selalu andalkan diri sendiri dan Tuhan, karena ketika berada di titik paling bawah yang paling gelap, tidak ada orang lain yang bisa menggerakkan kaki kita untuk bangkit selain diri kita sendiri.

Bagi saya, perjalanan hidup ini seperti jalan tol yang menjadi cerminan dari setiap pilihan besar. Saya selalu melihat komitmen besar—seperti pernikahan atau transisi karier—ibarat kita memutuskan masuk ke dalam pintu gerbang jalan tol. Jalurnya searah. Di dalamnya, perjalanan tidak selalu mulus; ada kalanya kita menemui lubang realita, kemacetan ego, atau tikungan tajam yang menguji nyali. Namun, kita tidak bisa putar balik dan pura-pura tidak pernah memilih jalur tersebut. Kita dituntut bertanggung jawab penuh atas kemudi yang kita pegang sampai tiba di gerbang keluar terakhir.

Itulah sebabnya saya menolak manisnya kepahitan yang dibungkus gincu motivasi palsu. Saya adalah orang pertama yang akan berbalik arah ketika melihat kutipan motivasi klise atau toxic positivity yang menyuruh orang tersenyum di saat dunia mereka sedang hancur lebur. Di ruang digital ini, saya memposisikan diri sebagai “Teman Curhat” yang bertugas merawat cerita, bukan pemandu sorak. Saya lebih memilih menyajikan realitas hidup yang pahit namun jujur, serta tamparan logika yang matang, daripada menjanjikan harapan kosong yang justru membuat orang terbuai lalu jatuh semakin dalam.

Untuk menyambung hidup dan merawat karya, saya menebar jaring di berbagai platform tanpa harus kehilangan arah. Sebagai seorang perencana konten, saya percaya pada kekuatan menyebar jangkar di berbagai sudut ekosistem digital. Saya membangun fondasi tulisan yang mendalam di Quora dan Substack, namun di saat yang sama juga menjemput peluang kerja serta interaksi cepat di LinkedIn dan Threads. Hasilnya nyata: kombinasi lintas platform ini terbukti mempertemukan saya dengan klien-klien riil yang menghargai karya.

Senjata andalan saya sehari-hari tidak muluk-muluk: cukup di atas meja kayu dengan kopi, rokok, dan kreativitas. Dua hal pertama adalah teman setia untuk menemani malam-malam panjang, mengawinkan kekuatan untaian kalimat dengan estetika visual. Saya tidak pernah merasa butuh perangkat lunak yang rumit; cukup berbekal Canva Pro dan CapCut di laptop atau ponsel pintar, ide-ide mentah di kepala sudah bisa diubah menjadi konten visual yang memikat mata.

Di balik semua layar yang menyala sampai pagi dan angka-angka digital tersebut, tujuan akhir saya sangat sederhana: rumah bernama keluarga di ujung hari. Terkadang, hal paling memalukan atau perjuangan terberat di masa lalu memang sengaja dipelihara semesta untuk jadi akar dari apa yang paling kita cintai seumur hidup. Semua kerja keras yang menguras tenaga dan keputusan nekat melompat ke dunia digital ini bermuara pada satu niat: saya ingin menjemput rezeki yang berkah dari rumah agar bisa memberikan waktu berkualitas, kehadiran yang utuh, dan masa depan yang tenang untuk keluarga kecil saya.

Sebab pada akhirnya, saya ingin menjadikan ruang sunyi ini sebagai tempat untuk duduk bersama, bukan menggurui. Saya selalu memandang setiap pembaca yang mampir ke lapak saya sebagai teman diskusi yang setara, bukan murid yang sedang diceramahi di atas podium. Di tengah riuhnya dunia maya yang penuh dengan pamer dan kebisingan, saya ingin ruang ini tetap menjadi tempat yang sunyi dari kepalsuan, namun selalu kaya akan ketulusan isi kepala.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk