Malam itu tiga pemuda berkumpul di sebuah pos ronda. Bukan untuk menjalankan tugas menjaga kampung lewat kegiatan ronda. Melainkan hendak menjalankan kegiatan mereka yang cukup nekat.
“Ini ide gilanya Rasno.”
“Tapi kamu mau tuh ikutan malam ini, Den.”
Deni hanya memasang muka masam. Sejujurnya ia tak mau lakukan. Tetapi karena kedua temannya Rasno dan Faiz meledeknya dengan sebutan penakut. Dia pun akhirnya mau juga meski terpaksa.
“Terus siapa yang mau jadi pocongnya?”
Jelas Faiz tak mau karena ia merasa malas harus terikat badannya dengan kain. Deni pun segera melirik ke arah Rasno. Pemilik dari semua ide spontan yang tercetus tadi siang di warung makan Bik Imah.
“Iya, aku aja yang jadi pocongnya.”
“Oke, sip! Berarti Rasno yang jadi pocongnya ya.”
“Kenapa nggak kita pakai boneka dari guling aja, Iz?”
“Masalahnya kalau pakai itu nanti kita mesti lepas lagi sebelum pagi. Lagian kurang serem pakai itu, Den!”
Deni hanya bisa mengangguk sambil tersenyum. Setidaknya bukan dia yang harus jadi pocongnya. Sebenarnya dia takut tapi gengsi dengan kedua temannya. Kesepakatan sudah dilakukan malam ini tinggal menyiapkan bahan saja. Kain mori perlu dibeli dulu karena mana mungkin mau pakai kain sembarangan. Korban mereka nanti malah pada tertawa karena rasa aneh ada pocong pakai kain batik.
“Pocong pergi ke kondangan kali ya!”
“Dah, kita serius lagi nih. Pokoknya bahan mesti ada besok malam kita langsung eksekusi.”
Begitu kalimat terakhir dari Faiz sebelum mereka semua pulang ke rumah. Sebenarnya yang mau mereka lakukan adalah melakukan aksi begal. Bukannya ketiga orang itu berotak kriminal. Tetapi semuanya dilakukan karena kesal dengan mandor bangunan tempat mereka bekerja. Suka meremehkan bahkan kesalnya hal yang sudah benar selalu dibilang salah.
“Besok kita lihat dia masih berani sok-sokan apa nggak sama tukang lainnya termasuk kita bertiga.”
“Bener tuh biar tau rasa orang satu itu. Ntar kita ambil sekalian motornya.”
“Mantep daaah! Ntar mandor songong itu nggak bisa berangkat kerja.”
Mereka tertawa sambil berjalan ke kontrakan tempat tinggal bersama para tukang bangunan lainnya. Sambil terus membayangkan aksi mereka besok membegal sang mandor.
Segalanya telah siap tinggal Deni dan Faiz bantu Rasno memasangkan kain agar membentuk seperti pocong. Rasa tak nyaman tetapi harus dilakukan. Demi memuaskan rasa kesal mereka. Tentu saja tak lupa kejadian itu harus direkam. Agar bisa dijadikan bahan olokan sekaligus membuat malu mandor mereka.
“Bisa kan buat loncat?”
“Bisa tapi agak susah nih!”
“Udaaah, penting bisa lah buat lompat-lompatan kek pocong gitu.”
Mereka bertiga sebelumnya sudah sering mengamati. Kalau mandor bangunan itu sering melewati area sekitaran tanah kosong tak bertuan. Disana hanya tumbuh liar bambu kuning yang makin buat suasana jadi mistis. Deni dan Faiz mengamati di dua tempat berbeda. Saat dirasa mandor mereka datang, segera saja salah satunya memberi tanda. Rasno pun bersiap melompat untuk menghadang di tengah jalan.
“Hah! Apaan itu ada putih-putih di depan?”
Area ini memang terhitung gelap meski sering jadi jalan pintas bagi yang tahu tembusannya. Tentu saja mengandalkan sinar lampu motor ataupun pencahayaan lainnya. Karena disini memang tidak dipasangkan lampu jalan khusus. Sebab ini hanyalah jalan menembus dari tengah-tengah tanah kosong.
“Kok tambah mendekat kesini?”
Masih belum tahu orang itu kalau ada pocong jejadian disini. Hingga perlahan Rasno makin mendekatinya. Baru orang itu berteriak kencang. Bukannya laju motor dia yang dibuat kencang. Kendaraan roda dua itu justru yang dia tinggal. Orang tadi malah berlari kencang entah kemana. Deni dan Faiz pun tertawa diikuti teman mereka yang masih berdandan ala pocong itu.
“Rasain! Emang enak kita kerjain?”
Deni pun mendekati motor yang ditinggalkan. Ia lihat jika kendaraan tadi masih menyala bahkan kuncinya juga ada. Seketika Rasno punya ide lain untuk menjual kendaraan itu. Padahal niat awalnya hanya disembunyikan saja. Lagipula tak akan ada yang tahu.
“Buset! Makin lama kita kriminal juga jadinya kalo gini.”
“Halah! Kayak kamu nggak mau aja, Den. Ntar hasilnya kita bagi tiga deh!”
Ketiganya akhirnya pulang sambil membawa entah motor siapa itu. Sekilas memang mirip milik mandor mereka. Namun saat pagi harinya, Deni baru sadar kalau itu bukan kendaraan yang mereka kenali.
“Ini sih bukan motornya si mandor itu.”
“Lah, tapi bukannya dia sering lewat disitu ya!”
“Gawat! Kalau ini bukan motor dia terus punya siapa?”
Ketiganya saling berpandangan. Namun akhirnya mereka pilih untuk membongkar motornya dan dijual secara terpisah. Bukan utuh satu kendaraan untuk menghindari jika mereka pelakunya. Ternyata benar mandor mereka masih berangkat. Bahkan tak merasa apapun serta sikapnya masih sama seperti biasanya. Sementara yang semalam mereka tahu betul orang itu sangat ketakutan.
“Kita mesti lakuin lagi! Rasa masih penasaran aja kok bukan mandor kita.”
“Iya, tapi ngomong-ngomong lumayan juga bisa jual tuh pretelan motor.”
Pikiran mereka pun berubah dari yang tadinya hanya sekedar ingin membuat takut mandor mereka. Menjadi ingin terus lakukan karena ternyata bisa dapat keuntungan lebih. Gaji mereka sebagai tukang bangunan juga tak terlalu banyak. Belum lagi saat kena potongan hingga kasbon yang makin mengurangi pendapatan mereka.
Tidak disangka selama mereka beraksi ada saja yang didapatkan. Tentu saja yang paling besar adalah motor. Pernah juga ponsel yang tertinggal akibat orang melihat Rasno yang menakutkan dengan kostum pocongnya. Bahkan dompet dengan jumlah uang yang lumayan. Sampai jadi omongan kalau jalan yang tadinya aman saja berubah menjadi menakutkan.
“Kita jangan sering kek gini. Nanti pada curiga warga sekitar sini.”
Begitu pesan Rasno pada kedua temannya. Hingga akhirnya mereka punya jadwal tersendiri untuk lakukan hal itu. Sengaja juga secara acak agar orang tak mudah menebak. Kapan pocong itu muncul untuk menakuti orang-orang.
“Eh, tau nggak kalau kebun kosong itu sekarang jadi serem.”
Omongan salah satu orang yang sedang makan di warung Bik Imah sempat terdengar di telinga mereka bertiga. Intinya membicarakan tentang peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi. Banyak yang kehilangan motor serta barang lainnya. Namun obrolan semakin dalam saat mulai dikaitkan adanya arwah salah satu warga yang meninggal di dekat kebun itu.
“Semuanya kan berawal setelah Wak Salim meninggal di kebun itu. Padahal dia habis pulang kerja kan?”
“Iya, kasihan juga sih. Aneh aja kok bisa motor Wak Salim hilang paginya. Terus orangnya malah ketemu sudah meninggal di dekat sungai.”
Memang ada sungai di dekat tanah kosong itu. Tetapi aliran alirnya terlalu kecil bahkan sering dipakai mandi oleh anak-anak SD. Tak terlalu dalam hanya seukuran lutut anak-anak umur sembilan tahun. Sehingga kematian orang bernama Wak Salim itu dirasa tak wajar.
“Jangan-jangan pocong itu Wak Salim!”
“Ah, orang religius kayak gitu kok bisa meninggalnya gentayangan.”
Ketiga orang tadi ingin tertawa mendengarnya. Tetapi sengaja mereka tahan karena kalau ketahuan bisa berbahaya juga. Aksi mereka ketahuan dan tentu saja berujung pada jeruji besi. Mereka sadar kalau tindakan yang dilakukan jelas sudah melanggar hukum. Namun soal cerita tentang arwah gentayangan itu tentu buat perut mereka terasa geli.
Seperti biasa mereka mulai beraksi lagi. Rasno sudah siap dipakaikan kain mori seperti biasa. Sengaja tak diganti bahkan tidak pernah dicuci agar tidak mencurigakan. Lagipula pocong mana yang sempat cuci kain. Setelah semuanya siap baru mereka berangkat.
“Belum aja mulai udah gerimis duluan!”
“Halah! Ntar kan juga terang lagi.”
Tanah di tempat mereka hendak beraksi itu jadi becek. Namun tak menyurutkan niat mereka. Tetap saja berangkat untuk lakukan aksi itu. Seperti biasa mereka memposisikan diri untuk melihat target. Saat muncul sorot lampu dari kejauhan, salah satu dari mereka memberi tanda. Supaya Rasno bersiap untuk menakuti.
Rasno sudah bersiap. Tetapi anehnya sorot lampu itu masih saja begitu. Tidak ada pergerakan untuk mendekat. Mereka bertiga jadi curiga. Hingga tiga orang itu berpikir untuk mendekati. Tentu saja Rasno yang paling sulit karena ia harus melompat-lompat.
“Kok aneh dia nggak mendekat?”
“Iya, itu orang apa udah tahu ya.”
Setelah didekati ternyata hanya ada motornya saja. Deni sempat curiga karena bentuk kendaraan roda dua itu seperti yang ia kenali. Rasno langsung merinding. Ia minta dibukakan satu talinya agar lebih leluasa bergerak. Namun sialnya kedua temannya sudah berlari duluan.
“Woi! Aku kok ditinggal?”
Rasno coba mengejar temannya meski masih dengan cara melompat. Tetapi ia tak sadar jika temannya yang asli masih ada di belakangnya. Ternyata ia tak mengejar apa-apa.
“Ini Rasno gimana sih malah lompat kesana. Woi, kita berdua disini!”
“Ras, balik sini dulu!”
Terdengar suara motor berjalan. Deni dan Faiz pun menengok ke belakang. Motor tadi tiba-tiba berjalan menuju ke arah mereka. Tentu saja keduanya jadi ketakutan. Kini mereka berlari kencang mendahului Rasno. Temannya yang masih berdandan ala pocong itu jadi bingung.
“Lho, bukannya mereka berdua tadi ada di depan. Kenapa sekarang jadi lari dari belakang?”
Terlambat Rasno menyadari kalau ada keanehan di belakangnya. Begitu dia menengok baru tersadar kenapa teman-temannya lari semua. Ternyata motor tadi bergerak ke arah mereka. Kini ia susah payah mencoba menghindar. Sudah masuk ke area rumpun bambu tapi malah dia terjepit disana.
“Toloooong…!”
Siapa yang mau menolongnya. Sementara dua temannya sudah lari entah kemana. Motor tadi makin mendekatinya. Padahal tak mungkin untuk menembus ke rumpun bambu. Sekilas ia lihat ternyata ada pengendara motornya. Tetapi wajahnya hitam dengan sorot matanya memerah nyala.
“Aaaaa…!”
Rasno makin panik dan terus bergerak. Sayang tubuhnya semakin terjepit dan tak bisa bergerak sama sekali. Deni masih coba berlari. Tapi karena terlalu gelap dia terpeleset dan jatuh ke sungai. Kepalanya terantuk batu di sana hingga berdarah. Sementara Faiz sudah berhasil keluar dari tanah kosong itu.
“Hah! Mana yang lainnya?”
Ia terus menengok ke belakang berharap ada teman-temannya. Tapi saat kembali menengok ke depan dia justru melihat sosok pocong tanpa wajah. Faiz berteriak kencang hingga akhirnya terjatuh disana.
Keesokan paginya, warga dikejutkan oleh penemuan mayat mereka bertiga. Rasno masih terjepit di antara rumpun bambu dan ia tak mampu bernafas lagi dengan kostum pocongnya. Sementara Deni sudah sempat terbawa aliran air cukup jauh. Hingga ditemukan oleh ibu-ibu yang mau mencuci pakaian di sungai.
Faiz seharusnya masih hidup. Dia hanya pingsan saja setelah melihat sosok pocong itu. Tapi ternyata di tanah ada batang pohon tajam menembus kepalanya saat dia terjatuh.
“Hiii…ini orang-orang kok kayak begini matinya.”
“Apa jangan-jangan selama ini mereka yang pura-pura jadi pocongnya.”
“Tapi kok nyatanya mereka kayak orang ketakutan begitu. Lihat, matanya masih terbuka.”
Kebetulan ada yang tahu mereka ini siapa. Akhirnya jenazah ketiganya diurus oleh warga sekitar. Sambil coba dihubungi keluarganya oleh para tukang bangunan lainnya yang jadi rekan kerja mereka bertiga.
TAMAT














Akhirnya bertemu pocong sungguhan wkwk, kasian rasno, deni, faiz