Bab 01

1. Pot Tanaman Mama

0 dibaca

A

Joshua tidak ingat di rumahnya pernah memelihara anjing. Atau kucing. Atau jenis hewan lain yang bisa merusak tanaman mama dan mengotori teras yang berada tepat di bawah kamar si cacat—begitu ia memanggilnya. Hingga sedetik kemudian, laki-laki yang mengenakan celana jins pendek itu tersadar, sejak kapan pula dia peduli dengan apa yang dipelihara di rumah ini?

Mana ada anjing yang mau dipelihara anjing, pikirnya.

Namun, sekali lagi dia menoleh. Menatap pot tanah liat yang pecah. Tanah dan tahi kambing yang berhamburan ... dan langkahnya seketika terhenti saat suara dering ponsel menginterupsi. Sambil berbalik dan melupakan niat untuk memeriksa apa yang terjadi dengan tanaman mama, laki-laki itu mengangkat telepon, meletakkannya di salah satu telinga.

“Gue otewe.”

Ponsel itu sudah dimasukkannya ke saku celana. Dia sempat berhenti melangkah untuk menatap langit. Mengamati gumpalan awan kelabu yang mulai bergantungan di atas sana. Pakek mobil aja, Jo. Bentar lagi ujan. Joshua mengangguk. Benar, sebentar lagi hujan. Namun, dia malas, karena nanti harus menjadi sopir manusia-manusia brengsek itu jika mereka berniat pindah tempat nongkrong. Dia juga tidak ingin mobil kesayangannya menjadi bau asap rokok—meskipun Joshua juga seorang perokok.

Maka, Joshua memilih pergi dengan motornya. Dengan kecepatan penuh dia pasti sudah sampai tanpa perlu kehujanan, pikirnya. Sayang, baru setengah jalan, hujan sudah lebih dulu mengguyur. Laki-laki itu mau tak mau menepi di deretan ruko yang tutup di hari Minggu.

Laki-laki itu menghela napas. Mulutnya sibuk mengumpat dengan tangan terus menerus menepuk jaket denimnya yang terkena air hujan. Sedetik ... lima ... sepuluh ... Joshua terdiam. Menatap air hujan yang menderas. Suara bulir air yang bersentuhan dengan tanah dan atap ruko tempat dia berteduh itu mulai mengisi kekosongan, memenuhi indera pendengaran, menghipnotis kepalanya yang tiba-tiba teringat pada pot mama yang hancur tadi.

Pasti teras rumahnya sekarang sudah berlumpur terkena air hujan.


Joshua tidak habis pikir, pot tanaman mama yang hancur tadi benar-benar mengganggu pikirannya. Apa yang salah? Apa yang sudah terlewat? Apa mungkin karena tanaman itu berada di bawah kamar si cacat? Atau pot tanaman itu hancur karena si cacat terjatuh saat mencoba kabur?

Sebentar.

Sejak kapan dia peduli? Kenapa pula si cacat itu harus kabur dan terjatuh dari jendela saat pintu rumah selalu terbuka lebar jika dia memang ingin pergi untuk selamanya?

“Ru! Woy! Biru!”

Teriakan itu langsung menyeret pikirannya ke alam nyata.

Joshua yang pikirannya sudah kembali itu hanya melirik, menatap rokok yang disodorkan ke depan wajahnya. Joshua tebak, itu pasti ganja, dan di sedang tidak berselera. Entah kenapa.

“Nih! Cepetan!”

“Nggak, untuk lo aja.” Joshua menepis tangan tersebut. Mengatakannya dengan malas.

“Tumben lo. Sini, untuk gue aja,” timpal temannya yang lain lagi.

Joshua tidak peduli, pikirannya kembali dikuasai oleh pecahan pot tanaman mama. Apa yang salah? Laki-laki itu langsung menegakkan punggung, mengambil ponsel di saku, yang ternyata ... mati. Tunggu ... memangnya kalau ponselnya hidup, dia mau menghubungi siapa?

Joshua menghela napas kesal. Kembali menyandarkan punggung. Matanya sempat menatap sekitar. Kepulan asap rokok yang memenuhi udara, botol-botol minuman yang setengahnya sudah habis, kartu yang berserakan bercampur dengan uang yang tampak tak ada harga dirinya ... padahal ini masih siang, nyaris menjelang sore. Bukannya apa yang sedang manusia-manusia brengsek lakukan ini berlebihan?

Joshua meringis. Padahal dia juga salah satu dari manusia berengsek itu.

“Gue balik duluan,” ujar Joshua tiba-tiba, beranjak.

“Mau ke mana, Ru? Sabar, dong. Kayak cewek lagi PMS aja lo buru-buru mau pulang.”

Joshua pergi begitu saja.

Tidak peduli.


Joshua tidak menyangka, pemandangan pertama yang dilihatnya setelah melewati gerbang adalah Si Cacat. Laki-laki itu tersenyum cerah kepada Joshua seolah memang sedang menunggunya. Bersandar di daun pintu yang tertutup.

“Lo telat, Jo,” ujarnya hangat.

“Telat kenapa?” Joshua berkata sinis.

“Untuk bersihin itu!” Laki-laki itu menggerakkan dagu menunjuk pot bunga mama yang hancur.

Joshua menoleh ke arah pot bunga mama yang masih belum berubah sejak dia pergi tadi. Hanya tanahnya yang sudah berubah menjadi lumpur. “Elo aja. Gue nggak ada urusan. Lagian, apa gunanya ada pembantu.”

“Dari kemarin, Bu Mirah di suruh papa pulang kampung.”

“Terus kalo Bu Mirah pulang kampung, yang ngurusin elo siapa? Gue?”

Laki-laki itu tertawa senang. Biasanya Joshua tidak pernah mau menanggapi ucapannya. Menoleh pun enggan. Buru-buru dia mengikuti Joshua yang sudah membuka pintu, berjalan masuk, menaiki anak tangga, dan ikut berhenti saat Joshua berhenti di depan kamarnya.

“Orang gila itu mana?”

“Lagi kencan dengan pacarnya, malem ini mereka juga mau staycation di hotel.”

Joshua mengeryitkan dahi. Ada yang janggal. “Lo tau dari mana papa malem ini mau tidur di hotel?”

“Gue denger percakapannya di telepon pagi ini.”

“Terus, kenapa lo nggak di kamar?”

“Kamarnya kekunci. Nggak bisa masuk.”

Joshua sempat menatap Jonathan tidak percaya, sebelum akhirnya mencoba membuka pintu kamar tersebut. Benar. Terkunci. “Kok bisa kekunci? Lo nggak pegang kuncinya?”

“Enggak. Kan, kekunci dari dalem.”

Hening.

Joshua dan Jonathan saling tatap dengan perasaan mengganjal.

“Terserah deh, gue mau tidur.” Joshua mengibaskan tangan. Berjalan menuju kamarnya yang tepat bersebelahan dengan kamar Jonathan.

“Jo ... lo nggak ngerasa aneh karena hari ini mau ngomong panjang lebar dengan gue?”

Seharusnya Jo sadar. Hari ini dia memang sangat aneh.


Joshua mengerang karena mendengar suara teriakkan di luar.

“Jo! Jo! Jonathan! Jo! Jonathan! Buka pintunya! Ini Mama!”

Mama?

Laki-laki itu meraih ponsel di atas nakas. Melihat jam di layarnya. Pukul delapan malam. Ternyata dia benar-benar tertidur meski hanya sejam. Masih dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali, Joshua bangkit, tersentak melihat Si Cacat—Jonathan, tidur di sampingnya.

Sejak kapan?

Terserah.

Joshua menendang bokong laki-laki itu.

“Woy bangun, ngapain lo tidur tempat gue? Itu Mama nyariin,” ujarnya galak.

Tak lama kemudian, Jonathan di sampingnya mengerang. Terbangun.

“Sana pergi! Mama—“

“Jo! Joshua!”

Joshua menghiraukan saudaranya yang masih duduk di atas ranjang. Sepertinya juga sedang mengumpulkan kesadaran. Ia segera bangkit menuju pintu. Hendak membuka kamar yang ternyata dikuncinya. Ah, dia lupa. Memangnya tadi dia sempat mengunci pintu?

Cklek.

“Jo, kamu udah makan belum? Mama tadi baru dihubungin Bu Mirah, katanya dia udah pulang kampung dari kemarin. Kamu Mama chat, ceklis. Ke Jonathan juga ceklis. Terus pot tanaman di depan juga Mama lihat hancur,” ujar wanita itu cepat begitu pintu terbuka.

“Mama ngapain ke sini? Nanti kalo orang gila itu pulang, Mama pasti dipukulin lagi.”

“Mama liat mobil papamu nggak ada tadi. Makanya langsung masuk. Pasti kalian belum makan. Tapi, Jonathan sama sekali nggak nyaut dari tadi. Coba kamu yang panggil.”

“Nggak usah, Ma. Itu orangnya.”

Joshua menggeser sedikit tubuhnya. Membiarkan mama melihat Jonathan yang masih terduduk sambil mengumpulkan kesadaran.

Ada keheningan yang terasa aneh, dan Joshua baru menyadarinya begitu dia melihat wajah mama yang memucat.

“Jo, kamu ngomong apasih? Di sana nggak ada siapa-siapa ....”

Ya.

Seharusnya Joshua sadar, Si Cacat itu hari ini berjalan normal.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk