Bab 02

Appetizer

2 dibaca

A
Appetizer (Inggris) atau Hors d’oeuvre (Perancis) merupakan sajian yang dihidangkan pertama kali dalam sebuah jamuan makan. Biasanya disajikan dalam ukuran kecil dan bertujuan untuk meningkatkan selera makan.

Aku menutup kotak terakhir sebelumi meletakkannya ke dalam tas termal.

“Akhirnya.”

Pagi ini ada dua klien yang akan menerima sarapan spesial dari Breakfast in Bed. Kulirik jam tangan untuk memastikan pengaturan waktu yang kubuat sudah sempurna, lalu memandang prihatin pada dapurku yang lumayan berantakan. Tak pernah ada waktu yang cukup untuk merapikan dapur sebelum mengantar pesanan klien, hal itu aku pelajari dalam beberapa bulan awal bisnis Breakfast in Bed berjalan. Karena itu juga akhirnya aku dan Kayra memutuskan  mempekerjakan karyawan untuk membantuku merapikan dapur, dan sesekali juga mengantarkan pesanan pada para klien di hari-hari tersibuk kami.

Breakfast in Bed telah beroperasi selama enam bulan, dan kadang kami terpaksa harus menolak beberapa pesanan klien yang datang terlalu mepet. Selain karena jumlah penata menu yang hanya aku seorang diri, meski kadang juga dibantu oleh karyawan, tapi jalanan Jakarta yang hampir selalu sibuk membuat kami harus memperhitungkan matang-matang saat menerima pesanan. Kadang dua pesanan dalam sehari sudah membuatku kewalahan jika lokasinya berjauhan.

Malangnya, menemukan karyawan bagi usaha jasa seperti ini juga teramat sulit, aku harus melakukan training pada hampir selusin orang sebelum akhirnya mempekerjakan satu orang yang cocok. Padahal aku dan Kayra berharap kami sudah mendapat minimal tiga orang karyawan yang dapat membantuku mengantarkan pesanan dan menata menu untuk klien.

Aku mengancingkan kedua tas termal yang akan kubawa dan meraih seikat bunga sebelum keluar dari apartemen. Setelah meletakan bawaan ke dalam bagasi dan memasukkan alamat klien pertama ke Maps, aku mengendarai mobil keluar dari area parkir.

Matahari baru hendak terbit dan terlihat malu-malu memancarkan cahayanya di ujung timur langit. Jakarta di jam-jam seperti ini masih cukup bersahabat, tapi jika aku terlambat setengah jam saja, aku harus bertarung dengan padatnya jalanan, klakson mobil yang nyaring, motor-motor yang saling menyalip, dan asap kendaraan umum yang tak kenal ampun. Kadang menjadi morning person adalah sebuah keberuntungan. Aku jadi bisa menikmati Jakarta yang tenang sebelum negara api menyerang.

“Pagi, Mbak Blanca.” Lasmi, pengurus rumah tangga klienku itu segera mempersilakan untuk masuk dan mengantarku menuju pantry.

“Selamat pagi, Bi. Saya nggak terlambat, kan?”

“Enggak, kok.”

Klien pertama hari ini adalah Ibu Prapti, istri salah satu aktor senior kenamaan di Indonesia. Ibu Prapti dan suaminya adalah salah satu klien setiaku.

Sejak berkenalan dengan Breakfast in Bed bulan Mei lalu, setiap bulan minimal satu kali mereka memesan sarapan romantis untuk berdua. Aku sangat terkesan dengan hubungan yang masih mereka jaga sehangat itu di usia pernikahan yang mungkin sudah berusia puluhan tahun. Dari Ibu Prapti pula aku mendapatkan banyak klien artis ibu kota yang sesekali memesan sarapan romantis untuk pasangan mereka.

“Hari ini menunya apa, Mbak?” tanya Lasmi, pengurus rumah tangga keluarga Ibu Prapti.

Steak and egg burrito,” jawabku sambil mengeluarkan beberapa kotak makan dari dalam tas termal. “Hari ini ada permintaan khusus juga dari Bu Prapti.”

“Iya. Bapak dan Ibu hari ini ulang tahun pernikahan,” imbuhnya.

“Oh ya? Kalau gitu, nanti saya titip kartu ucapan ya, Bi,” ucapku sambil memotong burrito menjadi dua dan meletakannya di piring.

Setelah menata piring dan gelas seindah mungkin di atas sebuah nampan besar, satu kuntum bunga matahari segar kuletakan di vas dan beberapa kelopaknya kusebarkan di beberapa sisi piring dan nampan. Sebuah kartu Breakfast in Bed yang sudah aku tulisi ucapan special kuletakan ke atas nampan. Lalu sebelum meninggalkan rumah Ibu Prapti, aku sempatkan memotret hasil karyaku pagi ini dan mengirimkannya pada Kayra untuk dijadikan konten sosial media.

“Terima kasih banyak ya, Bi. Saya langsung jalan lagi. Salam untuk Pak Agus dan Bu Prapti,” ucapku seraya merapikan barang-barang bawaanku.

“Nanti saya sampaikan salamnya, Mbak.”

Salah satu yang aku sukai dari menyajikan sarapan untuk klienku yang sudah berumah tangga adalah kebanyakan dari mereka punya pengurus rumah tangga yang membantuku untuk masuk dan keluar dari rumah mereka. Sedangkan untuk klienku yang masih pacaran, perkara menyajikan sarapan spesial ini cenderung lebih rumit. Kadang aku harus izin dengan pihak orang tua, satpam apartemen, bahkan seperti maling yang berjingkat-jingkat memasukan makanan dengan kunci cadangan yang dititipkan klien padaku.

Ponselku berbunyi saat aku baru hendak menginjak pedal gas meninggalkan rumah Bu Prapti. Di layar, nama Kayra terpampang.

“Hai, Kay,” sapaku.

“Lo udah selesai dari rumah Bu Prapti, ya?” tanya Kayra di seberang telepon.

“Udah, lah. Kalau belum nggak akan gue angkat juga kali telepon lo. Kenapa?”

“Hari ini meeting di rumah gue aja boleh, nggak? Mumpung laki gue hari ini di rumah jadi bisa sekalian gue suruh dengerin meeting kita.”

“Boleh. Lo kabarin ke Gia juga, ya. Nanti abis nganter sarapan ke Cipete gue langsung ke rumah lo.”

“Oke, see yaa!”

Aku meletakan kembali ponsel ke holder yang terletak di dasbor mobil, dan mengarahkan mobilku menuju rumah klien kedua. Jarak yang harus aku tempuh ke rumah klien kedua cukup jauh. Untungnya ada akses tol yang mempermudah hidupku.

Tak sampai satu jam perjalanan aku sudah tiba di rumah klien kedua, sepuluh menit kemudian aku telah selesai menyajikan sarapan untuknya dan mengirimkan foto hasil karya keduaku untuk Kayra. Aku masih sempat melihat Kayra mengirimkan sebuah jempol besar sebagai balasan dari kiriman fotoku sebelum aku kembali mengarahkan mobil membelah jalanan Ibu Kota menuju supermarket untuk berbelanja kebutuhan dapur untuk menu sarapan besok.

Satu hal yang aku pelajari selama delapan bulan ini adalah berbelanja kebutuhan dapur sebaiknya dilakukan satu sampai dua kali sebulan, kecuali untuk roti, daging, sayur, dan buah, semua harus di beli H-1 untuk memastikan seluruh bahan yang didapatkan masih segar. Jadi setiap awal bulan, Aku akan menyusun menu harian. Kemudian aku ditemani karyawanku, Gia, akan berbelanja seluruh kebutuhan dapur. Setelahnya, kami akan membagi seluruh belanjaan tersebut berdasarkan jenisnya dan menatanya di lemari dapur agar memudahkanku saat memasak.

Ya, seperti yang sudah aku bayangkan sebelumnya, menciptakan bisnis yang satu ini memang bukan pekerjaan sepele. Ada banyak hal yang harus dilakukan, dan ada banyak hal juga yang harus direlakan.

Contohnya, aku hampir tidak pernah libur dalam delapan bulan terakhir. Jangankan libur, untuk sekedar malem mingguan aja juga nggak sempet.

Hmm... tapi kalau mau jujur, soal malem mingguan bukan karena nggak ada waktunya sih, tapi nggak ada yang diajakin malem mingguan. Masa aku malem mingguan sama Kayra? Males banget kan malem mingguan sama ibu hamil yang hobinya ke kamar mandi setiap sepuluh menit sekali.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk