Egg (Inggris) atau Oeuf (Perancis) merupakan sajian berbahan dasar telur dan paling banyak pilihan penyajiannya. Meski tidak merupakan bagian dari pilihan menu pada jamuan makan, tapi menu telur adalah salah satu yang paling digemari dalam daftar menu sarapan.
Ponselku berdering ketika aku baru saja memarkir mobil di depan klinik Medina. Aku melirik sekilas ke layar sebelum menekan tombol hijau untuk menerima panggilan itu.
“Selamat pagi, Ibu bosque. Baru bangun lo, ya?” sapaku.
“Enak aja baru bangun. Gue pagi-pagi udah milihin data calon karyawan baru nih. Lo di mana?” tanya Kayra.
“Gue di kliniknya Medina.”
“Ngapain lo? Suntik rabies?”
Tawa menggelegar si ibu hamil itu benar-benar menyebalkan. Kayra memang senang menggoda.
“Iya, suntik rabies. Soalnya gue keseringan ketemu sama lo jadi perlu suntik rabies,” balasku.
“Sialan!” Tawanya kembali terdengar. “Ini calon karyawan mau gue panggil buat wawancara, lo kapan bisanya?” tanya Karya setelah tawanya mereda.
“Pertanyaan lo semacam ditanyakan pada wanita karier yang sibuk banget gitu deh. Gue kapan aja juga bisa, yang penting after lunch biar nggak bentrok sama jadwal ngirim sarapan.”
“Oh iya, gue lupa lo udah bukan wanita karier. Sekarang kan lo wanita kurir, ya.”
“Brengsyeeeekkk!” Kali ini aku yang tak bisa menahan gelak mendengar kata-katanya. Untungnya meski menikah dengan pria kebanyakan duit dan sekarang sedang hamil besar, Kayra sama sekali tidak kehilangan becandaan receh ala dirinya.
“Ya udah gue jadwalin wawancaranya besok, ya? Nanti e-mailnya gue CC ke elo.”
“Oke. Atur aja, bosque.”
“Siap! Eh, salamin ya buat Medina. Kangen juga gue sama dia.”
“Iya, nanti gue sampein. Bye.”
Terakhir kali aku, Kayra, dan Medina bertemu mungkin saat reuni SMA kami beberapa bulan lalu. Itupun sepertinya tidak terlalu lama karena Medina dan kakaknya datang agak terlambat.
“Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu,” sapa seorang resepsionis berrambut pendek saat aku memasuki klinik.
“Pagi. Saya mau bertemu dengan Dokter Medina.”
“Sudah buat janji?” tanyanya sambil meneliti bawaanku.
“Oh, saya nggak bawa binatang peliharaan,” sahutku cepat. “Saya Blanca, temannya Medina.”
“Oh. Dokter Medina sedang kontrol pasien. Boleh duduk dulu, ya, Kak. Biar nanti saya beritahukan sama Dokter kalau Kakak datang.”
Aku mengangguk sambil tersenyum, lalu mengambil tempat di sebuah sofa panjang.
Klinik milik kakak beradik Hamid ini cukup terkenal dikalangan pet lover. Konon, mereka berdua adalah dokter hewan terbaik di Jakarta. Dan jika dilihat dari bentuk klinik mereka, sepertinya gelar tersebut tidak datang dari sekedar isapan jempol. Klinik ini bahkan jauh lebih bagus dari banyak klinik swasta untuk manusia. Tembok dicat putih bersih dengan gambar-gambar informatif seputar binatang tersebar di beberapa sisi, sebuah ruang tunggu yang nyaman dengan pendingin ruangan, serta TV berukuran cukup besar yang menayangkan siaran Discovery Channel agar waktu menunggu tidak membosankan. Medina dan Cairo merintis bisnis ini dengan teramat serius, dan aku sepertinya harus belajar banyak dari mereka.
Suara lonceng yang tadi menyapa saat aku masuk kembali terdengar. Refleks aku menengok ke arah pintu masuk.
“Selamat pagi, Dok,” sapa resepsionis pada pria yang baru saja memasuki klinik.
Pria itu hanya mengangguk cepat sambil terus berjalan. Jika tidak mengetahui bahwa klinik ini hanya memiliki dua dokter, aku tentu tak akan mengenali penampilan Cairo.
“Cairo,” sapaku sambil berdiri dari sofa.
Pria itu menengok dan memperhatikanku lamat-lamat. “Blanca?”
“Iya.” Aku mengangguk dan mendekat padanya. “Gue turut berduka cita, ya.”
“Terima kasih. Mau ketemu Medina?”
“Iya,” sahutku singkat.
“Tunggu aja ya, paling sebentar lagi dia selesai kontrol pasien.”
Aku mengangguk. Dia berlalu. Aku masih bisa melihat kepedihan menggantung pada matanya. Tapi ketampanan pujaan hati seisi sekolah saat aku SMA dulu itu tak menghilang. Dia hanya terlihat sedikit lebih lesu dari yang kuingat.
“Ca, ngapain lo ke sini?” tanya Medina yang tiba-tiba saja muncul dari salah satu pintu.
“Mau ketemu sama elo.” Aku dengan sengaja memamerkan cengiran untuk mencairkan suasana.
“Repot-repot banget. Padahal gue cuma mau pesen sarapan doang,” ucapnya. Segaris senyum terlihat di sudut bibirnya. “Yuk, ngobrol di ruangan gue aja.”
Aku meraih tas dan mengikuti langkahnya menuju pintu di samping meja resepsionis.
“Cairo sudah datang, ya?” tanya Medina pada resepsionis berambut pendek.
“Sudah, Dok.”
“Kalau ada pasien kasih ke Cairo dulu, ya.”
“Baik, Dok.”
Medina menengok ke arahku. “Yuk, Ca.”
Ruangan Medina serupa dengan kebanyakan ruang dokter lainnya, lengkap dengan bau antiseptic khas rumah sakit. Tapi aku tak pernah merasa terganggu dengan bau rumah sakit, bagiku aroma itu seperti sebuah palang penanda bahwa kebersihan adalah hal yang paling utama.
“Duduk, Ca.”
“Udah kayak pasien nggak sih gue di suruh duduk di depan meja dokter?”
“Gue pernah punya pasien manusia juga, kok. Biasanya yang mau suntik rabies.” Medina sedikit tergelak.
“Eh, dapet salam dari Kayra.”
“Oh ya? Udah lama kita nggak nongkong bareng ya. Kapan-kapan yuk,” ajaknya.
“Boleh. Tapi si Kayra sekarang lagi hamil gede. Paling bentar lagi juga lahiran.”
Obrolanku dan Medina berlanjut pada hal-hal lainnya, tentang kehidupan masing-masing, bisnisku dan beberapa hal tak penting lainnya. Aku rasa Medina memang butuh teman untuk sekedar ngobrol. Semakin lama berada di sana, aku melihat Medina lebih seperti dirinya yang biasa. Medina yang ceria. Perempuan yang selalu menjadi pusat perhatian karena kecerdasannya. Salah satu sahabatku sejak SMA yang meski jarang kutemui, tapi selalu punya tempat dalam hidupku.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!