Bab 01

Kedatangan Penghuni Baru

8 dibaca

A

Siang hari sebelum malam.

“Barang-barangmu itu gampang urusannya. Yang penting, kamu jangan pulang. Cari tempat baru,” ucap seorang pria dengan suara berat, yang seolah lembut, tapi sebenarnya tegas.

“Ca … cari tempat baru? Ta … tapi ….”

“Tidak ada tapi - tapi!” bentak keras pria itu yang membuat jantung gadis itu berdegup keras juga cepat. Terasa sakit, dia sampai perlu mengusap dadanya kuat-kuat.

“Pergi sekarang! Jangan sampai dia melihatmu!”

“Ta … tapi ….”

“KANA!”

Bentakan kali ini lebih keras, hingga tubuh gadis bernama Kana oleng, lalu bersandar di tembok.

“Jauhi dia! Aku sudah kirim uang ke rekeningmu dalam jumlah sangat besar. Tutup mulutmu, jangan beritahu orang-orang dan tinggal yang aman.”

Air mata merembes turun ke pipi putih pucatnya. Kana mencoba mengintip dengan tubuh tetap merapat ke dinding keramik yang dingin. Di depan pintu apartemennya, berdiri empat pria dengan tubuh yang besar dan wajah-wajah menakutkan baginya. 

Salah satu dari pria itu menoleh dan tatapan matanya bertabrakan dengan mata Kana.


Malam hari setelah siang.

“Turun di mana, Mbak?” tanya sopir taksi dengan tubuh maju dan kedua mata mengerut–menajamkan penglihatan.

Di luar hujan cukup deras, mengurangi jarak pandang. Kana bingung harus turun di mana. Berulang-ulang dia menatap angka-angka di argo. Diam-diam, dengan tangan gemetar, Kana memeriksa uang di dalam dompet kecilnya.

“Ber … berhenti depan, Pak,” pinta Kana dengan suara gemetar.

“Eh …?” Sopir taksi menatap Kana dari kaca spion dalam. “Di depan gak ada rumah, Mbak. Cuma toko-toko.”

Kana semakin panik dengan angka-angka yang bergerak nambah.

“I … iya, Pak. Pokoknya berhenti di depan.” Kana meminta dengan suara tergesa.

Sopir taksi menurut. Dia menepikan mobilnya di depan sebuah toko yang sepertinya bersiap untuk tutup. Kana pun mulai mengeluarkan uang untuk membayar.

“Mbaknya yakin turun di sini? Hujannya deras lho, Mbak. Itu tokonya juga … kayaknya mau tutup.”

Kana menelan ludah, menatap ke toko. Ada perasaan gentar, tapi dia tetap harus turun karena uangnya sudah habis, tersisa uang receh. Buru-buru Kana turun. Dia tidak mau terlibat pembicaraan lagi dengan si sopir taksi.

Hujan langsung mengguyur Kana dari pucuk kepala. Udara dingin memeluk tubuh mungilnya. Kana pura-pura masuk ke dalam toko hanya agar taksi itu segera berlalu.

“Mau beli apa, Kak?” tanya pria kurus dari etalase dalam.

Kana menggigit bibir bawahnya, menoleh ke belakang, menatap mobil taksi yang mulai berlalu.

“Kak …?”

“Oh … nggg … mmm ….” Kana melihat-lihat etalase, kebingungan karena tidak ada uang.

‘Harus berani tanya. Kamu harus berani tanya, Kana! Gak mungkin gak ada kos-kosan dekat sini. Tanya!’ bentak keras suara batin Kana.

Setelah menarik napas dalam, Kana memberanikan diri bertanya.

“Nggg … anu … mau tanya ….” Suara Kana gemetar. Itu antara dingin juga resah, menjadi satu.

“Iya, Kak?”

“Sss … sekitar sini. Mmm … apa ada … kos-kosan?”

Sejenak si pria kurus, menatap lamat-lamat Kana. Dia mencoba menilai keadaan Kana, sebelum memberikan jawabannya. Gadis muda berwajah sepucat kapas dengan tubuh menggigil dan basah. Itu menyedihkan dan pastinya bukan ancaman.

“Ada, Kak,” jawab si pria kurus itu. “Kakaknya jalan lurus, nanti ada gapura dengan hiasan bunga bougenvile. Nah, kakaknya masuk aja. Nanti tanya-tanya lagi aja di sana. Rumah kos Bu Raras.”

Kana mengangguk cepat, senyum langsung terukir di wajah pucatnya. Ada kemungkinan dan harapan. Kana kemudian pamit. Namun baru beberapa langkah, dirinya dipanggil.

“Kak … Kak ….”

Dengan mata menyipit–menajamkan penglihatan sekaligus mengurangi rasa sakit karena bulir hujan–Kana berbalik. Pria kurus itu berlari kecil ke arah Kana dengan satu payung terkembang di tangan.

‘Apa dia mau antar aku, ya?’ tanya Kana dalam hati.

“Pakai payung ini, Kak. Hujannya deras.”

Sebuah kebaikan setelah seharian penuh dia tersiksa lahir dan batin, kebingungan, dan luntang-lantung dalam kebimbangan. Itu seperti oase. Membuat dada Kana berguncang, kumpulan air mata merembes lagi.

“Maaf, Kak. Saya gak bisa ngantar. Warung gak ada yang jaga.”

Kana menerima payung kecil itu dengan tangan gemetar. Dengan suara lirih, Kana mengucapkan terima kasih.

Kana melanjutkan langkahnya, si penjaga warung kembali masuk. Kaki Kana gemetaran. Kelelahan dan rasa lapar mendera.

‘Jangan … jangan pingsan di sini … aku harus menemukan kos itu ….’

Payung yang dipinjamkan tak bisa benar-benar melindungi Kana. Hujan deras dan angin, membuat langkah Kana terseok-seok.

Sampai di depan gapura yang dipenuhi bunga bougenvile ungu, Kana melihat pos penjaga. Senyum lega terukir di wajahnya. Tenaganya yang kelelahan, seketika bangkit. Kana semangat mendekati pos penjaga.

Tapi, begitu dia sampai di pos penjaga, Kana harus kecewa. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya lampu yang masih tetap menyala.

“Cari siapa, Neng?”

Teguran dari belakang, membuat Kana menjingkat terkejut. Seorang bapak-bapak, dengan jas hujan, muncul entah dari mana. Kana tidak yakin siapa pria itu, dalam hati berharap pria itu adalah si penjaga pos atau siapa saja yang tinggal di komplek itu.

“Nggg … anu, Pak … Rumah kos Bu Raras di mana, ya?”

“Ooo … Ayo, Neng. Bapak antar. Kebetulan juga mau ke arah sana.”

Kana bernapas lega. Dia pun melangkah bersama-sama si Bapak yang kemudian memperkenalkan diri bernama Pak Mamat, dan dia memang adalah salah satu dari empat penjaga di komplek Bougenvile–nama disesuaikan dengan bunga yang ditanam di depan gapura.

“Dari mana, Neng?” tanya Pak Mamat ramah.

Kana menunduk diam dan justru memegang payungnya erat-erat–bukan karena angin yang cukup kencang, tapi hanya payung itu satu-satunya pegangan Kana.

Pak Mamat melirik, mulai merasa aneh karea tidak direspon.

“Dekat-dekat sini aja, Neng? Atau dari luar kota?”

Kana merespon dengan anggukan kecil. Sedangkan Pak Mamat hanya meringis bingung, karena anggukan itu tidak jelas menjawab yang mana dari dua pertanyaannya.

“Tau kosnya Bu Raras dari siapa, Neng?”

Kana tidak bereaksi, Pak Mamat hanya menghela napas pelan dan memilih diam juga.

Langkah dilalui dengan sepi, hanya berisik hujan dan sesekali guntur yang membuat tubuh Kana gemetaran.

“Nah itu rumah kosnya Bu Raras.” Pak Mamat menunjuk ke arah rumah yang ada pohon mangganya dan ada juga tanaman bougenville ungu.

“Semoga masih ada kamar kosongnya ya, Neng.”

Mendengar ucapan Pak Mamat, Kana semakin kuat meremas gagang payungnya. Dia pun mengkhawatirkan itu–tidak ada kamar baginya untuk berteduh setidaknya 1 malam saja.

“Jangan hotel! Jangan penginapan apa aja! Kamu akan terlacak dan aku gak bisa menjamin dirimu.”

Itu kenapa sampai semalam ini, yang Kana cari adalah kos-kosan saja.

Pak Mamat menekan bel beberapa kali. Butuh waktu sampai ada yang mengintip dari dalam melalui salah satu panel kaca di pintu, baru kemudian pintu dibuka. Seorang wanita muda, dengan celana pendek dan kaos longgar, muncul.

“Pak Mamat?” tanya wanita muda itu.

“Iya Neng Tasya. Ini ada yang cari kos,” jawab Pak Mamat sambil berteriak, bersaing dengan hujan deras.

“Apa?”

“Ada yang cari kos.”

Si wanita itu masuk lagi ke dalam rumah, membuat Kana cemas.

“A … apa … ki … kita ditolak, Pak?” tanya gugup Kana.

“Belum tentu, Neng,” jawab teduh Pak Mamat.

“Ta … tapi dia masuk.”

“Paling ambil payung. Itu, pintunya masih dibuka.”

Kana menatap pintu yang masih terbentang.

‘Masih ada harapan,’ batin Kana.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk