Setiap sore, kau berdiri di pesisir pantai Jimbaran, Bali, menatap ke arah sebuah rumah dekat pantai. Kau tidak pernah lelah, meskipun angin laut menerpa wajahmu dengan garangnya dan butiran pasir menyusup di antara jari-jarimu. Langit senja yang memerah seakan mencerminkan keresahan di hatimu, mencari sosok istri yang kau cintai. Kau tidak mengerti mengapa tidak pernah bisa melihatnya. Bukankah seharusnya dia di rumah itu, menunggumu seperti dulu?
Pantai Jimbaran selalu ramai. Hiruk pikuk suara anak-anak yang bermain bola, para pedagang yang menawarkan dagangan, serta desiran ombak yang tiada henti. Namun, semua itu terasa hampa bagimu. Kau berjalan melintasi pasir, menghindari kerumunan yang sibuk, dan hanya fokus pada rumah kecil yang menyimpan banyak kenangan. Rumah itu berdiri kokoh, dengan halaman yang penuh bunga matahari. Dulu, kau yang menanam bunga-bunga itu, berharap mereka akan selalu mekar untuk istrimu.
Hari ini, saat kau berdiri menatap rumah itu, sesuatu yang berbeda terjadi. Kau melihat istrimu bersama seorang anak kecil, cucu kalian, Bila. Mereka sedang menyiram bunga matahari dengan semprotan air dan memberi pupuk cair di dekat akarnya. Hati kecilmu bergetar. Mengapa mereka sering tak terlihat di rumah? Kau mencoba memanggil mereka, namun suara itu tak pernah keluar dari mulutmu. Kau hanya bisa melihat dan merasa semakin bingung.
Bila berbicara pada bunga matahari itu, seakan mengajak mereka bercengkerama. “Nenek sayang pada bunga ini, tahu nggak? Karena dulu kakek yang merawat bunga matahari di rumah ini,” katanya dengan suara lembut, seraya menatap neneknya dengan penuh kasih.
Ucapan itu menyentakmu. Kau merasa ada sesuatu yang salah, namun belum bisa memahaminya. Kau mencoba mengingat kembali hari-hari yang telah berlalu. Kenapa kau tidak bisa menyentuh mereka, kenapa mereka tidak bisa melihatmu? Kenapa suara ombak, angin, dan hiruk pikuk pantai terasa seperti gema yang jauh?
Lalu, kebenaran itu datang menghampirimu dengan perlahan. Kau tersadar bahwa kau sudah tiada. Kau hanya bayangan masa lalu yang terjebak di antara waktu. Air mata yang tidak terlihat mengalir di pipimu. Kau ingin menyentuh mereka, ingin berbicara, namun tak ada lagi yang bisa kau lakukan.
Dengan berat hati, kau memutuskan untuk pergi. Langkahmu berat, meninggalkan pantai yang selalu menjadi saksi cintamu pada istrimu. Angin senja membawa perpisahan yang pilu, seakan mengantarkanmu ke tempat yang lebih damai. Di kejauhan, kau melihat istri dan cucumu tertawa, bahagia di antara bunga matahari yang kau tanam. Itu cukup. Cintamu akan selalu ada di sana, di setiap kelopak bunga yang mekar.
Dan kau pun pergi, meninggalkan dunia ini dengan perasaan lega, mengetahui bahwa cintamu abadi di hati mereka.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!