Bab 01

Prolog

4 dibaca

A

Prolog

“Adora, Adora, Adora” aku membisikkan namanya, tepat di telinga kecil dan lembut miliknya sendiri sambil mengembuskan nafas.

Wanita yang perlahan aku puja dan idamkan dalam diam..

Kini sedang mengerang dibawahku, bersimbah keringat, rambut berhamburan dan menempel di dahi, pipi dan bibirnya.

Aku tidak suka, wajahnya harus terlihat.

“Sudah, Jonas, kumohon”. Erangnya.

Ah.. Indah sekali suara itu, begitu bulat namun serak di waktu yang bersamaan.

Dengan hati-hati, satu persatu helaian rambut yang menutupi sisi kanan wajaynya aku singkirkan dengan jemariku yang berkeringat dan sedikit bergetar.

Satu helai rambut masih menempel di bibirnya, jangan, ini tidak baik.

Aku menundukkan wajah, mendekat padanya, mengambil satu helai rambut itu dengan memungutnya menggunakan bibirku.

Setelah berhasil, aku kembali mengelus pipinya. Lalu terulang lagi yang sudah kuperbuat padanya.


Selesai menyatukan diri dengannya sekali lagi, aku kembali tersenyum dan mengecup dahinya. Seakan Adora memang milikku dan ini adalah hal biasa antara kita.

Aku bergeser ke tepi ranjang, membiarkan tubuhku perlahan mendingin. Tanganku terjulur ke lantai, meraba tumpukan pakaian yang berserak, hingga jemariku menemukan benda logam yang dingin di dalam saku celanaku. Sebuah pocket watch. Aku membukanya dengan satu klik pelan.

Pukul 20:30 malam.

“Di mana suami dan anakmu?” tanyaku, memecah keheningan kamar. Suaraku terdengar begitu santai, seolah kami hanya sedang mengobrol di ruang tamu. “Selarut ini mereka belum pulang, hm?”

Entah badai apa yang tiba-tiba bangkit dari balik keheningan itu.

Mendengar pertanyaanku, tubuh polos dan berkeringat Adora bangkit seketika lalu bergerak liar. Ia bangkit, menerjangku dengan sisa tenaga yang tidak kusangka masih ia miliki.

Genggaman tangannya dan kukunya mencengkeram sekaligus menggores kulit leherku begitu erat. Dari celah bibirnya, meluncur untaian sumpah serapah, kalimat-kalimat kutukan yang memekakkan telinga.

Seketika, hatiku kalut. Perasaanku bercampur aduk antara senang, sedih, dan amarah yang samar.

Aku tidak suka ini. Adora yang aku tahu adalah Adora yang hangat, tenang, dan lembut, bahkan sejak tadi, ia hanya memberikan perlawanan kecil sejak aku mendorongnya beberapa jam yang lalu dan membuka pahanya, hanya diiringi isakan kecil yang justru membuatku kian menginginkannya.

Tapi gerakannya kini terlalu kuat. Amukannya merusak kesempurnaan ilusi yang kubangun. Aku benar-benar tidak suka.

Dengan sigap, tangan kananku yang masih memegang pocket watch bergerak maju.

Memanfaatkan momentum, aku membelitkan rantai logamnya yang panjang.

Bunyi kekehan, dan raut wajah Adora yang seperti menelan nikmat lamat-lamat terekam di otakku. Indah.

Beberapa saat kemudian, ruangan itu telah sunyi dari makian. Hanya ada ketegangan dari cengkeraman jarinya yang lembut di pergelangan tanganku, sebelum perlahan, seluruh kekuatannya menguap. Tubuhnya lemas, jatuh kembali ke atas kasur.

Aku merapikan letak tubuhnya, lalu berbicara dengannya seperti biasa, saat dia telah lunglai di ranjang yang sebenarnya masih menyisakan bau suaminya, meski kini, bau tubuhku sudah mendominasi seluruh ruangan.

Aku menatap wajahnya yang kini sangat tenang. Aku tahu, Adoraku—istri kakakku, Joseph—baru saja tiada. Jiwanya telah pergi.

Setelah puas berbincang dengan Adoraku yang kini terlelap tanpa napas, aku merebahkan diri di sampingnya.

Aku melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan sebelumnya pada Adora, memeluknya, menciumnya, dan berpura-pura seolah dia masih ada di sana bersamaku. Lalu melilitkan rantai yang sama dari pocket watch milikku, persis seperti yang aku lakukan pada Adora namun lebih kuat.

Perlahan, aku merasa badanku dingin, menjulur dari kaki, lalu aku seperti melayang dan tenggelam dalam gelap, semuanya hanyut. Semua ketakutan kini merengkuhku.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Kirain masih berupa premis 👀

Benar2 spontan uhuy 👀

"Setelah puas berbincang dengan Adoraku yang kini terlelap tanpa napas, aku merebahkan diri di sampingnya." Waittt. Janggal 😩

Gimana gimana kak kejanggalannya???

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk