Bab 01

Cerpen - Di Balik Tabir

1 dibaca

A

Namaku Robert, tetapi orang-orang di internet mengenalku sebagai Angel Miranda. Ya, Angel Miranda. Nama itu terdengar seperti nama tante seksi dengan pengalaman seksual yang luar biasa, kan? Pas banget buat genrenya: sexual romance.

Kenyataannya? Orang mengenalku sebagai Obet Jones. Jomlo ngenes 29 tahun yang masih tinggal di kamar kos 3x3 meter dengan cat yang mulai mengelupas. Pengalamanku dengan lawan jenis? Nol besar. Sekadar ngobrol sama cewek aja bikin telapak tanganku berkeringat kayak habis lari maraton. Entah kenapa, novel-novelku laris manis. Bahkan para pembacaku sering bilang, “Kak Angel, adegan ranjangnya tuh realistis banget! Berasa hidup, kayak beneran!”

Realistis? Hidup? Kalau mereka tahu aku cuma mengandalkan video dari situs ehem-ehem profesional, mereka mungkin bakal ngamuk.

“Bet, lo itu kocak banget, sumpah,” ujar Reno, sahabatku, sambil ngelap mulutnya yang belepotan sisa kuah bakso. Reno ini sahabatku sejak SMP sekaligus sumber kebingungan dalam hidupku. Dia playboy kelas kakap yang bisa saja setiap dua minggu ganti pacar. Sementara aku? Satu-satunya perempuan yang pernah menyentuh pipiku cuma ibu kos waktu aku demam.

“Kocak kenapa, Ren?” tanyaku, pura-pura sibuk dengan mangkuk bakso di depanku.

“Lo nulis adegan ranjang yang penuh emosi dan detail, tapi lo sendiri enggak tahu rasanya. Itu kayak nelayan yang enggak pernah lihat laut, Bet. Konyol.”

Aku mendengus. “Namanya juga imajinasi, Ren. Tolong hargai seni, dong.”

Reno tertawa terbahak-bahak. “Kalau lo pakai imajinasi terus, kapan mau ngerasain yang asli? Percaya deh, Bet, sekali aja lo coba. Itu bakal bantu tulisan lo lebih authentic.”

Aku mengernyit. Reno memang sering ngomong ngawur dan kali ini aku agak terpancing. Di satu sisi, aku penasaran juga. Masalahnya, aku enggak punya nyali buat ngobrol sama cewek, apalagi nyoba “sesuatu”.

Reno menyandarkan tubuhnya ke kursi, senyumnya meledek. “Pembaca lo mungkin puas, tapi lo sendiri enggak penasaran? Kalau lo serius mau jadi penulis hebat, lo harus riset langsung.”

Aku menatapnya tajam. “Maksud lo apa, riset langsung?”

“Gini deh, Bet.” Reno mencondongkan badan ke meja, nadanya penuh tipu muslihat. “Lo tuh enggak bakal pernah ngerti gimana rasanya kalau lo enggak nyobain sendiri. Kalau lo enggak berani kenalan sama cewek biasa, coba aja BO.”

Aku tercekat. “BO? Lo gila?”

“Bukan gila, bro. Itu solusi. Sekali aja. Anggap investasi buat karier lo sebagai penulis.”

Aku mendengus lagi, tetapi ucapan Reno itu entah kenapa menggelitik pikiranku. Setelah beberapa hari galau, akhirnya aku menyerah pada rasa penasaran. Kalau ini memang demi seni, kenapa tidak?

***

Aku sibuk scrolling layar ponsel dengan perasaan campur aduk. Di layar itu, terpampang profil seorang perempuan bernama Nadya. Rambut hitam sebahu, bibirnya merekah merah muda, matanya bulat dan bersinar menggoda, lengkap dengan deskripsi yang agak terlalu berani untuk diucapkan. Bukan itu yang membuatku memutuskan memilihnya. Jujur saja, dari semua profil yang aku lihat, Nadya terlihat paling... “normal.”

Setelah pesan singkat bolak-balik dengan Nadya, aku setuju untuk memberikan DP Rp200.000. Katanya, itu untuk memastikan aku enggak membatalkan janji di tengah jalan.

***

Malam itu, aku menunggu di parkiran sebuah hotel kelas melati di daerah Harmoni, Jakarta Pusat. Aku mengenakan hoodie hitam dan masker. Bukan karena pandemi, melainkan karena aku takut ada yang mengenaliku. Ya, memang sih aku bukan siapa-siapa, tidak ada yang peduli dengan kehadiranku juga. Hanya saja, aku memilih untuk tidak terlalu menunjukkan wajahku.

Tak lama kemudian, Nadya menghampiriku dari dalam hotel.

“Robert, ya?” tanyanya dengan senyum tipis.

Aku mengangguk kaku. “Panggil aja Obet.”

Dia tertawa kecil. “Santai aja, Mas Obet. Enggak usah tegang-tegang gini. Yuk, masuk.”

***

Di dalam kamar hotel, suasana semakin canggung. Aku duduk di tepi tempat tidur sambil meremas ujung hoodie-ku. Nadya sibuk membuka tas kecilnya, mengeluarkan tisu basah dan sesuatu yang kelihatannya seperti parfum mini.

“Mas Obet ini baru pertama kali ,ya?” tanyanya sambil melirikku.

Wajahku langsung merah. “Eh... iya. Kelihatan banget, ya?”

Dia tersenyum, tetapi sebelum sempat menjawab, ponselnya berdering. Dia mengangkat tangan, meminta izin untuk mengangkat telepon. Aku mengangguk kikuk.

“Halo, Sayang,” katanya lembut ke ponsel. “Iya, udah makan? Oh, PR? PR apa? Matematika? Aduh, Ibu lagi kerja, Sayang. Coba kerjain dulu sebisa kamu, nanti Ibu bantu kalau udah selesai, ya?”

Aku terpaku. Suaranya berubah saat bicara di telepon, dari nada menggoda menjadi penuh kasih sayang. Aku mulai merasa ada sesuatu yang... salah. Ketika dia menutup telepon, Nadya mendesah panjang.

“Anak, ya?” tanyaku tanpa sadar.

Dia mengangguk. “Iya. Kelas tiga SD. Pintar, tapi suka enggak sabaran kalau soal PR.”

Aku diam sejenak, mencoba mencerna fakta baru ini. Di kepalaku, bayangan almarhum ibuku melintas. Dia juga seorang ibu tunggal yang kerja keras membesarkan aku sendirian. Dulu, aku sering kesal karena jarang punya waktu main bersama dia, tetapi sekarang aku paham, semua yang dia lakukan hanya demi aku.

“Nadya,” panggilku pelan. “Kenapa... eh, maksudku, kamu kenapa pilih kerja kayak gini?”

Nadya menatapku lama, mungkin bingung kenapa aku kepo. Namun, akhirnya dia menjawab. “Pilihan terakhir, Mas. Setelah suami saya kabur waktu anak saya baru dua tahun, saya cuma punya ijazah SMA. Kalau kerja kantoran, gaji pas-pasan dan saya enggak bisa anter jemput anak. Ini memang yang paling menjanjikan, cukup buat keperluan saya dan anak.”

Aku menelan ludah. Semua rasa penasaran konyol tentang “riset” dan “pengalaman” menguap. Yang tersisa hanya rasa kasihan bercampur hormat.

“Eh, Mas Obet, kok malah bengong? Yuk, kita mulai aja. Waktu jalan terus, lho,” ujar Nadya sambil tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana.

Aku menggeleng cepat. “Kalau begitu, enggak usah. Eh, maksudku, gini, kamu pulang aja ke anakmu. Bantu dia ngerjain PR.”

Nadya mengerutkan dahi. “Maksudnya, Mas? Saya udah siapin slot waktu malam ini buatmu, lho!”

Aku mengeluarkan sisa uang dari dompetku dan menyerahkannya padanya. “Ini, buat kamu. Anggap aja aku bayar penuh. Pulanglah ke anakmu. Dia lebih butuh kamu daripada aku.”

Mata Nadya membesar, mungkin tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Aku bangkit berdiri, memakai kembali hoodie dan maskerku.

“Mas, kamu baik banget. Jarang ada tamu kayak kamu,” katanya, suaranya sedikit bergetar.

Aku cuma tersenyum tipis. “Aku cuma tahu rasanya jadi anak yang punya ibu tunggal. Dan aku yakin, anakmu pasti lebih senang kalau kamu menemaninya ngerjain PR.”

***

Sejak malam itu, aku dan Nadya jadi lebih sering berkomunikasi. Bukan karena aku mau melanjutkan rencana awal, tetapi karena aku merasa ada sesuatu dalam dirinya yang menarik. Dia orang yang cerdas, lucu, dan realistis, sesuatu yang tidak aku temukan dalam lingkaran kehidupanku yang... yah, itu-itu saja.

Suatu malam, aku baru selesai menulis satu bab di novelku. Adegan panas yang, kalau boleh jujur, terasa kaku seperti biasa. Aku membacanya berulang-ulang, mencoba mengoreksi, tetapi tetap saja rasanya ada yang kurang.

Lalu ide gila muncul: kenapa aku enggak minta pendapat Nadya? Dia jelas lebih berpengalaman dalam hal ini. Namun, bagaimana caranya supaya dia enggak tahu aku adalah “Angel Miranda”?

***

“Mas Obet, serius deh, kenapa ngajak aku ke kafe malam-malam gini?” selidik Nadya sambil memandangku curiga, kemudian menyeruput teh tariknya.

Aku menggaruk kepala. “Ehm, aku mau minta pendapat kamu soal sesuatu. Kamu kan, eh... bisa dibilang profesional di bidang tertentu. Jadi, aku pikir kamu bisa kasih masukan.”

Dia mengangkat alis, terlihat semakin curiga. “Profesional di bidang apa, nih? Jangan aneh-aneh, ya.”

Aku buru-buru membuka tas dan mengeluarkan print-out bab baru dari novelku. “Ini, aku lagi bantu temanku. Dia penulis novel online. Aku cuma penasaran, kalau kamu baca ini, apa pendapat kamu?”

Nadya menerima kertas itu dengan ekspresi penasaran. Dia mulai membaca, alisnya kadang naik turun, kadang dia mengerutkan dahi. Sesekali, dia menahan tawa. Aku merasa seperti murid yang menunggu hasil ujian dari guru galak. Setelah beberapa menit, dia meletakkan kertas itu di meja.

“Mas, aku enggak tahu temenmu itu siapa, tapi ini...” Dia berhenti, menatapku dengan senyum gemas.

“Kenapa?” tanyaku, jantungku nyaris melompat.

“Ini lucu banget.”

Aku melongo. “Lucu gimana?”

“Coba deh, di bagian ini.” Nadya menunjuk satu adegan yang menurutku panas. “Menurutku, kalau ceweknya manusia beneran, reaksinya enggak mungkin langsung ‘terpesona’. Paling enggak dia bakal panik dulu atau kaget, bahkan nendang cowoknya. Mas Obet pernah pacaran sama cewek beneran enggak, sih?”

Aku langsung mengeluh dalam hati. Itu pertanyaan yang enggak usah dijawab, Nadya.

“Tapi... ya, aku suka detail lainnya. Bahasa di novel ini bagus. Cuma, kalau mau lebih realistis, tambahin emosi. Misalnya, ceweknya gugup dulu, terus ada momen keragu-raguan. Kan enggak semua adegan harus bag-bug-bag-bug, Mas.”

Aku menatap Nadya, kagum sekaligus bingung. Saran-sarannya sangat masuk akal. “Jadi, menurut kamu ini kurang realistis?”

“Iya. Temen kamu ini jelas berbakat, tapi kurang pengalaman. Kalau dia pernah ngalamin yang kayak gini sendiri, pasti hasilnya lebih natural.”

Aku tersenyum kaku. “Hehe, iya. Temanku ini... agak kurang berpengalaman, memang.”

***

Seiring waktu, aku mulai lebih sering membawa naskah untuk dibahas bersama Nadya. Dia selalu punya masukan yang menarik, bahkan untuk detail-detail kecil yang aku abaikan sebelumnya. Kadang, obrolan kami nyeleneh, tetapi justru itu yang membuat suasana menyenangkan.

“Mas, aku ada ide,” katanya suatu sore di Wake Up Coffee Graha yang menjadi tempat pertemuanku dengan Nadya. “Coba tambahin detail kayak gimana ceweknya menahan napas waktu si cowok mulai nyentuh lehernya. Napas cewek itu penting, Mas. Kalau enggak ada, malah jadi kayak robot.”

Aku menatapnya, tertegun. “Kok kamu bisa mikir sampai situ?”

Dia mengangkat bahu. “Yah, pengalaman, Mas.”

***

Suatu hari, saat kami sedang nongkrong seperti biasa, Nadya menyodorkan ponselnya.

“Mas, lihat nih.” Dia menunjukkan video anak laki-lakinya yang sedang bermain di taman. “Ini Raka, setahun lalu. Lagi belajar naik sepeda roda dua. Sekarang hobinya keluyuran naik sepeda.”

Aku memperhatikan video itu. Anak laki-laki itu tersenyum lebar, menampakkan gigi depannya yang ompong satu. Namun, ada sesuatu di wajahnya yang membuatku merasa aneh. Matanya, mungkin? Atau bentuk hidungnya? Aku enggak tahu pasti, tetapi wajah anak itu terlihat familier.

“Lucu banget anakmu,” kataku sambil tersenyum.

“Lucu, kan? Dia tuh kebanggaan aku, Mas. Kadang bandel, tapi dia pintar,” jawabnya dengan nada bangga.

Aku hanya mengangguk, tapi rasa familier itu tetap melekat di benakku. Aku mencoba mengabaikannya, meskipun hati kecilku penasaran.

***

Beberapa minggu setelahnya, aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan identitasku. Aku merasa sudah terlalu banyak berbohong, dan jika aku ingin tetap menjalin hubungan baik dengan Nadya, ini harus dilakukan.

“Nadya,” kataku saat kami bertemu di tempat favorit kami.

“Hm?” Dia sedang sibuk menggulung rambutnya menjadi sanggul santai dengan beberapa helai rambutnya yang menjuntai ke bahu.

“Aku mau bilang sesuatu.”

Dia menatapku, keningnya berkerut. “Kenapa, Mas? Mukanya tegang gitu.”

Aku menarik napas panjang. “Aku mau jujur. Jadi, selama ini... cerita yang aku kasih ke kamu itu bukan tulisan temanku. Itu cerita tulisanku dengan  nama pena Angel Miranda.”

Awalnya dia terdiam, lalu pelan-pelan sudut bibirnya terangkat. “Serius, Mas?”

Aku mengangguk, merasa seperti seorang maling ayam yang tertangkap basah.

Nadya tertawa keras. “Pantesan! Dari awal aku udah curiga. Mas Obet ini pernah book aku untuk sesi gituan, eh malah enggak pernah dipake. Justru Mas Obet lebih sering bawa aku ke kafe ini.”

“Eh, kok gitu?” protesku, meski dalam hati aku tahu dia benar.

Dia masih tertawa, tapi akhirnya dia berkata, “Yaudah, Mas. Kalau itu beneran cerita kamu, aku malah senang bisa bantu. Tapi aku juga mau jujur.”

Aku langsung menegang. “Jujur soal apa?”

Dia meletakkan cangkir tehnya dengan hati-hati. “Nama asliku Ningrum, dan sebenarnya aku enggak pernah menikah. Aku punya anak, iya. Tapi bapaknya… dia bukan suami aku. Dia cuma pacar waktu aku masih muda. Waktu aku hamil, dia ninggalin aku karena dia memang enggak serius dari awal. Tipe orang yang cuma main-main, yang terbiasa dengan hubungan satu malam.”

Aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Bayangan anaknya, Raka, tiba-tiba muncul di pikiranku. Rasa familier itu kembali menghantamku.

“Aku tahu, aku bodoh waktu itu. Percaya sama cowok yang cuma main-main. Tapi aku enggak menyesal punya Raka. Dia adalah segalanya buat aku,” lanjutnya dengan suara tenang dan mata berkaca-kaca.

Nadya membuka ponselnya dan seketika kami terdiam. “Sebentar Mas, aku kasih lihat foto jadul ya.”

Aku memandang foto itu. Di dalamnya, ada seorang Nadya yang lebih muda—eh, Ningrum—berdiri di samping seorang laki-laki dengan wajah yang sangat kukenal. Itu Reno. Reno dengan gaya rambut spike-nya yang norak, lengkap dengan jaket kulit murahan.

“Ini pacar aku dulu,” katanya pelan. “Kami pacaran cuma sebulan, Mas. Tapi dalam waktu sebulan itu, ya... aku kebobolan.”

Aku menelan ludah. Mulutku terbuka, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar. Aku memandang foto itu lagi, lalu memandang Ningrum. “Jadi... ini bapaknya Raka?”

“Iya, namanya Reno. Aku enggak pernah cari tahu tentang dia. Mungkin dia juga sudah lupa hehehe… Aku hanya ingin memperbaiki kesalahan yang aku buat. Jadi, aku memang ambil pekerjaan ini, asal bisa membesarkan Raka dengan layak.”

Pikiranku mulai berkecamuk. Reno yang sering bercanda soal “kencan semalam”, Reno yang menertawakanku karena enggak punya pengalaman. Ternyata, di balik semua itu, dia meninggalkan luka yang begitu besar untuk Ningrum. Dan aku... apa yang harus kulakukan sekarang?

Aku ingin marah, tetapi kepada siapa? Kepada Reno? Kepada diriku sendiri? Kepada takdir yang terlalu kejam mempertemukanku dengan Ningrum tanpa tahu latar belakangnya?

“Ningrum,” kataku akhirnya. “Aku... aku enggak tahu harus bilang apa.”

Dia tersenyum tipis. “Aku cuma pengen Mas Obet tahu siapa aku sebenarnya karena kamu orang yang baik.”

***

Malam itu, aku pulang ke kos dengan kepala yang penuh sesak. Aku menatap laptopku yang masih menyala dengan tulisan di bab baru novelku. Adegan panas antara tokoh utama yang penuh gairah mendadak terasa hambar. Aku ingin menulis, tetapi pikiranku terjebak dalam konflik batin.

Bagaimana aku bisa melanjutkan cerita hot ini setelah tahu kebenaran tentang Ningrum? Haruskah aku tetap bekerja dengannya, menjadikannya inspirasi untuk cerita-ceritaku? Atau haruskah aku menjauh, karena aku merasa perasaanku semakin dalam, sementara Ningrum dan masa lalunya adalah sesuatu yang tidak bisa aku hapus begitu saja?

Aku duduk di kursi, menatap layar kosong di depanku. “Bet, Bet,” gumamku pada diri sendiri, “Ini sih namanya di-prank hidup. Giliran udah kenal cewek, eh malah begini.”

Aku tertawa getir. Namun, tawa itu tidak bisa menyembunyikan kenyataan pahit menusuk hatiku.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk