Pukul 02.17 waktu lokal.
Suara ledakan pertama membuat seluruh kota seperti terbelah menjadi dua.
Kaca-kaca gedung bergetar. Sirene meraung bersahutan. Api menjilat langit malam di kejauhan, sementara asap hitam menggulung di antara gedung-gedung yang sebagian besar telah kehilangan listrik.
Di atas kota Kharzov, ibu kota negara fiktif Arkania, sebuah helikopter militer melintas rendah menembus kabut.
Di dalamnya, dua belas prajurit bersenjata lengkap duduk dalam diam.
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Bukan karena mereka takut.
Mereka hanya tahu bahwa beberapa menit lagi, seseorang di antara mereka mungkin tidak akan kembali.
Radio di dada seorang pria bertubuh tegap tiba-tiba berderak.
“Hawk One, this is Command. Radio check.”
Pria itu mengangkat mikrofon.
Wajahnya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja memasuki wilayah perang.
“Hawk One. Loud and clear.”
Hawk One. Itulah call sign-nya. Nama aslinya adalah Mayor Raka Ardhana. Namun di medan operasi internasional, tidak ada yang memanggilnya Raka.
Ia adalah Hawk One, pemimpin unit pengamanan khusus dari pasukan gabungan internasional yang ditugaskan mengevakuasi warga sipil dan personel medis dari zona konflik Arkania.
Seorang prajurit di sebelahnya menoleh.
“Lima menit menuju titik evakuasi.”
Raka mengangguk.
“Bagaimana kondisi tim medis?”
“Masih bertahan.”
“Dokter?”
“Masih di rumah sakit lapangan.”
Tatapan Raka berubah.
“Siapa?”
“Dr. Alesha Veyra.” Ekspresi Raka berubah sedikit.
“Dia belum dievakuasi?”
“Menolak.”
Raka menghela napas pendek.
“Kenapa aku tidak terkejut?”
Prajurit di sebelahnya tersenyum tipis.
“Katanya masih ada pasien.”
“Selalu begitu.”
Raka menatap keluar jendela.
Di bawah sana, Kharzov terbakar.
Gedung-gedung tinggi yang dulu menjadi simbol kemajuan Arkania kini berdiri seperti kerangka raksasa. Jalanan dipenuhi kendaraan yang ditinggalkan. Lampu-lampu kota padam, menyisakan kobaran api dan kilatan cahaya dari kejauhan.
Perang telah berlangsung selama sebelas bulan.
Awalnya hanya konflik politik.
Kemudian berubah menjadi pemberontakan.Lalu menjadi perang terbuka.
Dan malam ini, semuanya mencapai titik paling buruk.
“Hawk One, we have movement near the hospital.”
Suara dari radio membuat semua kepala terangkat.
Raka langsung meraih teropong.
“Berapa?”
“Tidak bisa dipastikan.”
“Apakah rumah sakit masih aman?”
Hening selama dua detik.
Kemudian suara operator terdengar lagi.
“Untuk sementara.”
Raka menatap lurus ke depan.
“Turunkan kami.”
“Hawk One, perintah utama kalian adalah evakuasi. Jangan terlibat—”
“Negative.” Raka memotong.
“Kami mengambil dokter dan pasien.”
“Komando tidak memberikan izin untuk... “
“Kalau mereka menunggu izin, orang-orang itu akan mati.”
Hening. Kemudian suara dari radio terdengar berat.
“Copy, Hawk One.”
Helikopter mulai turun.
02.24.
Rumah sakit lapangan Kharzov tidak lagi tampak seperti rumah sakit.
Tenda-tenda medis robek.
Lampu darurat berkedip.
Suara tangisan bercampur dengan jeritan orang-orang yang terluka.
Para tenaga medis berlari membawa tandu.
Di tengah semua kekacauan itu, seorang perempuan berjilbab abu-abu berdiri di depan meja operasi darurat.
Dr. Alesha Veyra.
Usianya tiga puluh dua tahun.
Wajahnya terlihat lelah, tetapi kedua matanya tetap tajam.
“Tekanan darahnya turun!”
“Tambahkan cairan!”
“Dok, kita kehabisan darah O negatif!”
Alesha menoleh.
“Cari donor dari tim internasional.”
“Tidak ada!”
“Kalau begitu cari.”
“Tapi... “
“Cari!” Suaranya tegas. Perawat itu segera berlari. Alesha kembali menunduk.
Seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun terbaring di hadapannya.
Tangannya gemetar. Bukan karena takut. Karena ia sudah terlalu lelah.
“Bertahanlah,” bisiknya.
Anak itu membuka mata.
“Dokter... apakah saya akan mati?”
Alesha terdiam sesaat.
Kemudian tersenyum.
“Tidak.”
“Kok dokter tahu?”
“Karena saya belum mengizinkan kamu pergi.”
Anak itu tersenyum kecil.
Lalu…
DUARRR!
Ledakan mengguncang bangunan. Lampu padam. Beberapa orang berteriak.
Alesha refleks menundukkan tubuh, melindungi pasiennya.
Debu berjatuhan dari langit-langit.
Seseorang berteriak dari luar.
“Mereka mendekat!”
Alesha berdiri.
“Semua pasien yang masih bisa dipindahkan, bawa ke ruang bawah!”
“Tapi ruang bawah sudah penuh!”
“Kalau begitu buat tambah penuh!”
Ia belum selesai bicara ketika suara tembakan terdengar dari kejauhan.
Semakin dekat. Semakin jelas.
Alesha menatap pintu rumah sakit. ketakutan terlihat di matanya. Namun hanya sesaat.
Ia kembali mengambil sarung tangan medisnya.
“Tidak ada yang meninggalkan pasien.”
02.29.
Pintu belakang rumah sakit terbuka keras.
Raka masuk bersama timnya.
“Hawk One masuk!”
“Falcon Two, cover west side!”
“Atlas Three, check the civilians!”
“Ghost Six, stay with the medics!”
Suara-suara call sign memenuhi radio.
Semua bergerak cepat.
Namun Raka tidak langsung menuju ruang medis.
Ia berhenti. Mendengar sesuatu. Bukan ledakan atau tembakan.
Suara seseorang berteriak.
“Dokter!”
Raka menoleh. Seorang perawat berlari keluar dari koridor.
“Dokter Alesha masih di dalam!”
Raka langsung bergerak.
“Di mana?”
“Ruang operasi!”
“ Semua orang keluar!”
“Tapi dia menolak!”
Raka mengumpat pelan.
“Tentu saja.”
Ia berlari menyusuri koridor.
Alesha sedang mencoba memindahkan pasien terakhir ketika pintu ruang operasi terbuka.
Seorang pria berseragam hitam berdiri di ambang pintu.
Tubuhnya penuh debu. Wajahnya keras. Senjata tergantung di depan dada. Mata mereka bertemu. Alesha mengernyit.
“Siapa Anda?” Alesha menatapnya. Jantungnya berdetak kencang. Mata pria itu begitu familiar dengan seseorang di masa lalunya.
Pria itu menatapnya beberapa detik.
“Orang yang datang membawa Anda pulang.”
“Saya tidak pulang.”
“Dokter..”
“Saya masih punya pasien.”
Raka menahan napas.
“Gedung ini akan segera dievakuasi paksa.”
“Kalau begitu bantu saya.”
“Pasiennya?”
“Delapan orang.”
Raka melihat sekeliling. Delapan pasien. Beberapa bahkan tidak mampu berjalan.
Ia menekan tombol radio.
“Hawk One to Command. We have eight critical civilians and medical staff. Request additional transport.”
Jawaban datang cepat.
“Negative, Hawk One. Transport capacity is limited.”
Raka menatap pasien-pasien itu. Kemudian menatap Alesha.
“Berapa yang bisa berjalan?”
“Dua.”
“Yang lain?”
“Tidak bisa.”
Raka mengangguk.
“Kalau begitu kita bawa semuanya.”
Alesha menatapnya.
“Kau tahu itu bisa membahayakan timmu?”
Raka tersenyum tipis.
“Dokter, saya datang ke sini bukan untuk pulang dengan tangan kosong.”
Sebelum Alesha sempat menjawab..
BRAK!
Sebuah ledakan terdengar dari sisi bangunan.
Dinding bergetar hebat. Debu memenuhi ruangan. Radio Raka berbunyi nyaring.
“Hawk One! Multiple contacts approaching the eastern entrance!”
Raka langsung berubah.
“Falcon Two, hold the corridor. Atlas Three, move civilians now. Ghost Six, stay with the medical team.”
“Copy!”
Alesha memandangnya.
“Kita harus pergi.”
“Sekarang Anda mengerti?”
Alesha mengangguk.
Namun ketika ia hendak mengambil anak kecil yang tadi dirawatnya, Raka sudah lebih dulu mengangkat tubuh mungil itu.
“Biar saya.”
“Dia pasien saya.”
“Dan malam ini,” kata Raka sambil menatapnya tajam, “saya juga akan memastikan dia tetap hidup.”
Mereka bergerak.
Satu demi satu pasien dievakuasi. Koridor berubah menjadi kekacauan. Suara langkah. Sirene. Ledakan. Perintah melalui radio.
Dan di tengah semuanya, Raka tetap berada paling belakang. Memastikan tidak seorang pun tertinggal. Sampai tiba-tiba..
“Hawk One!”
Suara Falcon Two terdengar panik.
“We have incoming!”
Raka berhenti.
“Arah?”
“Semua sisi!”
Raka menatap Alesha. Ia tahu siapa perempuan itu. Ia hanya pura-pura tidak tahu.
Perempuan itu melihat sesuatu yang berbeda di mata lelaki tersebut. Bukan keberanian. ataupun ketenangan. Melainkan keputusan.
Keputusan seseorang yang sudah berkali-kali melihat kematian dan menolak membiarkannya mengambil orang lain malam ini.
Raka mengangkat radio.
“All units, this is Hawk One. We are not leaving anyone behind. Repeat, no one gets left behind.”
Suara-suara jawaban bermunculan.
“Copy, Hawk One.”
“Copy.”
“Roger that.”
Raka menarik napas.
Kemudian terdengar suara yang paling tidak ingin mereka dengar.
Ledakan besar mengguncang seluruh rumah sakit.
Alesha kehilangan keseimbangan.
Raka menangkap tubuhnya sebelum jatuh.
Mata mereka bertemu. Hanya beberapa detik. Namun cukup untuk membuat keduanya menyadari satu hal.
Malam itu, perang bukan hanya akan mengubah hidup mereka.
Perang akan mempertemukan dua orang yang seharusnya tidak pernah saling memiliki.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!