Part 5

1 dibaca

A

Ssstt! Ssstt! Ssstt!


Terdengar bunyi lebih dari satu orang. Mei segera bangkit dan mendapati dirinya masih di tempat yang sama, tetapi rute telah berubah. Ditapakinya ubin buku dengan lunglai.


Dari kejauhan iris matanya yang serupa batu obsidian tak sengaja menemukan sebuah cermin besar.


Ah, itu cermin untuk keluar dari dunia gila ini!


Mei memacu kecepatan langkah kakinya. Di depan cermin, dia mengatur napas barang sejenak. Sejurus kemudian tubuhnya masuk dan menghilang, lalu muncul di tempat yang sangat familiar.


Gadis bersweter putih itu mengedarkan pandangan. Ribuan buku tersusun rapi di rak-rak yang tinggi menjulang. Lampu putih tergantung di beberapa titik pada langit-langit ruangan.


Tak salah lagi, dia berada di dalam gedung perpustakaan sekolah. Tunggu dulu, bukankah tadi dia di gedung ekstrakulikuler?


“Mei.” Seseorang menepuk bahunya dengan suara terengah-engah. “Kamu ternyata di sini.”


“Zacky? Kamu kenapa?” Mei keheranan melihat kroninya yang bak habis lari marathon.


“Aku cari kamu satu gedung ekskul, bahkan sampai di gedung sekolah,” Zacky bersungut-sungut. “Tahu-tahu stalking kakak kelas.”


“Sembarangan,” sahut Mei, tidak terima mendapat tuduhan.


“Ssstt!”


Beberapa pasang mata memandang mereka berdua dengan sinis. Mei dan Zacky buru-buru menyingkir ke deretan rak buku.


“Kok kamu bilang aku menguntit kakak kelas?” Mei memelankan suara. Khawatir jika mengganggu konsentrasi orang sekitar.


“Lah, terus apa kalau bukan menguntit Kak Ezra?”


“Memangnya, Kak Ezra ada di sini?” Mei balik bertanya.


Dengan kesabaran pangkat dua, Zacky memegang dagu Mei lantas memutarnya ke arah lain. “Menurutmu, itu bukan Kak Ezra? Makhluk jadi-jadian, begitu?” Zacky menekankan setiap kalimatnya.


Tatapan Mei terpaku pada Ezra yang sibuk menekuri buku di meja seorang diri. Teringat beberapa waktu lalu, sosok berkemaja biru itu muncul dan menghilang begitu saja di depan mata. Namun, terlepas dari itu semua, dia tak pernah menguntit lelaki pujaan hatinya barang satu kali pun.


“Tumben banget sih, kamu menguntit senior kita yang kelakuannya suka aneh itu,” cibir Zacky. Melihat gadis di hadapannya terdiam, dia seakan baru menyadari sesuatu. “Matamu ... agak sembab. Kamu habis nangis?”


“Aku masuk ke tempat aneh lagi. Kakiku juga sampai tergores tanaman berduri,” jawab Mei. Tangannya menunjuk luka kemerahan yang melintang dan membekas di betisnya.


Zacky menelengkan kepala ke kiri. Keningnya terlipat dalam ketika matanya memicing. Bibirnya nyaris terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu dan kembali mengatup. Agaknya dia memilih kalimat yang tepat.


“Aku enggak tahu apa yang terjadi sama kamu, tapi kayaknya kamu butuh istirahat,” ujarnya seraya menyodorkan sebuah tas berisi biola. “Ayo pulang. Sudah menjelang malam, nih.”


Aku hilang selama itu? gumam Mei dalam hati. Dia segera menerima tas miliknya. “Terima kasih,” katanya, “Tapi aku mau di sini dulu.”


—Bersambung

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk