Bab 01

Glundung

3 dibaca

A

Aku menghirup nafas panjang lalu menghembuskannya pelan. Sambil menatap bangunan baru di depanku. Tampak benar-benar baru bahkan catnya terlihat masih segar. Akhirnya bisa pindah ke kos baru. Bukan karena kos sebelumnya ada masalah seperti ribut dengan penghuni kamar lain atau pemiliknya yang menyebalkan. Lebih tepatnya di sana terlalu sempit. Belum lagi satu kejadian yang buatku muak.

“Anu…ya sempat ada Sound Horeg lewat, pak.”

Begitu penjelasan ku pada bapak kos yang baru ini. Awalnya dia biasa saja. Tapi saat mendengar kata “Sound Horeg” disitu dia langsung terkejut.

“Serius ada Sound Horeg lewat situ? Wah kebangetan dah!”

Aku hanya tersenyum saja. Pak Kus pemilik kos itu langsung memastikan bahwa hal semacam itu tak akan ada. Tentu saja karena tempat ini mengarah ke kuburan dan jalan buntu. Apa iya mereka mau membangunkan penghuni kubur dengan musik yang membagongkan. Bisa-bisa nanti pada bangkit dari kubur semua deh.

“Ya tapi karena dekat ke kuburan minusnya ojol suka takut berhenti sampai sini.”

Pak Kus tidak ragu menceritakan kekurangan tempat kos miliknya. Agar calon penghuni disana tidak kaget jika harus jalan dan menunggu di depan gang bila mau menggunakan jasa ojol. Termasuk kalau pesan makanan lewat aplikasi ojol.

“Wah, saya jarang pakai begituan pak. Kalau mau ya beli dulu baru ke kos. Lagian saya kan punya motor.”

“Oh iya juga ya! Ya sudah kalau mau beberes dulu. Ini kuncinya ya.”

Kunci dengan nomor kamar tujuh itu diserahkan begitu saja. Sebagai tanda jadi karena aku juga sudah bayar dimuka. Segera kumasukkan barang-barang milikku yang tak seberapa banyak itu. Sebab besok sudah harus mulai kerja lagi.

“Wah, akhirnya ada yang isi lagi sebelah kamar!”

Awalnya aku tak menggubris karena sedang sibuk menyeret tas berisi baju. Lumayan berat juga dijinjing dan aku tidak kuat sama sekali. Mungkin karena sudah lelah pindahan sendiri tanpa dibantu siapapun. Aku pikir orang itu bakalan pergi kalau dicuekin. Ternyata malah mencoba membantu. Tapi dia nyaris saja membuat kesalahan paling fatal.

“Eeh, mas tolong jangan gitu bawanya ya!”

“Oh, maaf deh sebenernya cuma mau bantu aja.”

“Kalau mau meja itu aja nggak apa deh.”

Isi tas yang sempat dibawa tadi memang sekilas bakal dikira hanya baju saja. Padahal di dalamnya ada robot Gundam figur yang lumayan langka. Kalau hancur di dalam aku bisa nangis tua karena harganya nyaris separuh gajiku. Beruntung orang tadi mau saja aku arahkan angkat meja belajar ke kamar kos-ku yang baru ini.

“Barangnya ini aja ya mas?”

“Iya, aku emang nggak punya banyak barang. Lagian di kos lama sempit. Baru disini aja dapat yang murah dan lumayan gede kamarnya.”

“Iya sih karena tanahnya luas. Eh, tapi yang baru ini cuma empat kamar aja. Kalau nambah masnya ya jadi lima deh.”

Pantas kok rasanya sunyi. Ternyata dari dua belas pintu hanya terisi lima kamar. Itu juga katanya pada cuek. Apalagi Pak Kus selaku pemilik tinggalnya masih sekitar tiga gang lagi dari sini. Tapi malah justru bagus. Aku lebih suka begini daripada yang temboknya tipis dan mau ngapain aja berasa kedengeran sebelah.

“Mas namanya siapa?”

“Panggil aku Pras aja. Kalau kamu mas?”

“Dika, simpel deh gitu aja. Eh, tadi Pak Kus nggak cerita?”

“Soal apa dulu nih? Kalau tadi aku dengarnya soal ojol yang nggak mau masuk sampai di depan kosan ini.”

“Aduuh…! Bukan yang itu tapi satunya lagi.”

“Ceritanya cuma sampai disitu aja deh tadi.”

Dika akhirnya menjelaskan padaku tentang satu hal. Disini ada waktu dimana kita nggak boleh keluar dan lihat ke atas. Awalnya aku juga bingung ada apa. Tapi dia menjelaskan tentang sosok hantu yang sering disebut gundul pecengis.

“Ah, Mas Dika ini ada-ada aja!”

“Serius! Tapi ya nggak gundul juga sih ada rambutnya cuma kaku kayak nggak pernah creambath.”

Seketika aku tertawa mendengar kata “creambath” dari Dika. Memangnya ada ya setan yang perawatan di salon begitu. Tapi kayaknya dia serius banget cerita soal ini. Aku sambil menyapu lantai depan kamar masih memperhatikan bagaimana tetangga sebelahku ini bercerita.

“Kalau Mas Pras pulangnya malem gitu langsung masuk aja. Nggak usah tengok keluar apalagi cobain nongkrong di kursi bawah pohon itu.”

“Ngapain juga aku mau nongkrong malem-malem di bawah pohon situ.”

“Udah, pokoknya dengerin omonganku iki mas eh ya lebih tepatnya peringatan. Soalnya penghuni kamar sebelum masnya pilih pindah setelah ngeyel aku kasih tahu.”

Aku hanya mengacungkan jempol padanya. Lalu masuk ke kamar dan mulai menata barang. Sebenarnya aku orang yang skeptis. Pernah soal rumor setan di kantor pas diperiksa satpam ternyata itu cuma anak kucing kejebak di sela-sela tempat penyimpanan barang kebersihan para OB. Makanya aku merasa hal seperti ini cuma ketakutan manusia yang tidak mendasar.


Ada aja kerjaan si bos sampai semua orang harus pulang malem. Padahal itu kerjaan dia yang belum selesai. Kenapa tim IT sepertiku jadi kena getahnya. Mana malah diajak karaokean di ruangan rapat. Seharusnya aku sudah pulang sedari Maghrib tadi.

“Hoaheeem…bos sialan emang!”

Jam segini mana ada warung makan buka. Sudah makan martabak manis karena tadi ada yang mentraktir. Tetap saja perut ini minta diisi. Bahkan sebanyak apa warung makan padang mereka sudah beberes. Tentu saja ini sudah pukul sembilan malam.

“Huh! Mau kemana lagi sih ya?”

Keliling daerah lain memang ada yang buka, sate kambing. Tapi aku kurang suka. Akhirnya aku coba ke daerah sekitar alun-alun. Ternyata masih ada nasi goreng yang buka. Pas sampai di depan penjualnya dia langsung bilang kalau tinggal seporsi lagi.

“Iya, pak saya kan cuma mau beli sebungkus aja.”

“Ooh, iya deh saya buat kalau begitu.”

Cepat penjual itu memasak nasinya. Aku baru saja buka hp tiba-tiba sudah diserahi bungkusan. Sampai nyaris kaget dan beruntung masih bisa ku kendalikan diri ini biar tidak loncat.

“Ehem…pakai Qris bisa?”

“Bisa, bisa, ini kode Qrisnya.”

Demi menutupi rasa malu akhirnya aku bayar pakai Qris. Sekalian saja daripada harus keluar dompet lagi. Terus pulang begitu saja tanpa melihat lagi ke arah penjual tadi. Ternyata sepi juga saat melintas arah menuju kos. Apalagi waktu masuk gang, makin sunyi saja.

“Pantes, udah jam dua belas malam ternyata.”

Langsung aku masukkan motor tepat di depan kamar. Memang modelnya seperti lorong jadi lebih aman. Kecuali yang lantai dua tentu saja parkirnya harus tetap disini. Disini juga sama sepinya.

“Dika kayaknya sudah tidur deh.”

Kordennya sedikit terbuka jadi aku bisa mengintip. Ternyata dia memang sudah tidur. Aku akhirnya masuk ke dalam kamar. Mau ke kamar mandi rasanya jauh. Karena aku pilih yang kamar mandi luar.

“Besok aja deh kok males….”

“Duk, duk, duk!”

Suara apa itu kok berisik banget. Padahal tadi pas buka kamar sunyi. Masuk dari gang kesini juga sepi. Bahkan kucing lewat juga nggak ada. Awalnya aku cuekin tapi makin lama penasaran juga.

“Aneh banget apa penghuni lantai dua ya?”

Setahuku orangnya jarang sekali pulang ke kos. Malahan bisa dibilang lantai dua seperti tidak berpenghuni. Tiba-tiba teringat kata-kata Dika waktu pertama kali aku disini. Kalau ada suara apapun jangan digubris.

“Ah, iya juga takutnya itu maling!”

Aku masuk ke dalam kamar kos lagi dan segera tidur. Berusaha memejamkan mata tapi malah susah. Padahal tadi waktu di kantor rasanya udah ngantuk banget.

“Duk, duk, duk, dok!”

Untuk kali ini aku benar-benar tidak tenang. Akhirnya aku keluar sekalian ke kamar mandi. Handuk milikku aku ambil dan bergegas pergi. Makin keras saja suaranya terdengar. Tapi langkahku semakin cepat ke arah kamar mandi. Aku yakin ini karena terlalu lelah saja. Mungkin setelah membersihkan diri tidak lagi dengar suara yang aneh-aneh.

“Aah, seger juga akhirnya!”

Rasanya bersih seolah seperti baru lahir kembali. Aku pun berjalan ke kamar lagi dan suara tadi tak terdengar. Benar kan berarti karena aku sedang lelah selepas pulang dari kantor.

“Duk, Duk, Duk, tak!”

Ternyata masih saja terdengar. Kesal sekali dengan suara itu. Akhirnya aku berlari keluar dengan handuk yang masih tergantung di leherku. Sebenarnya siapa sih yang mau ganggu tengah malam begini. Nyaris aku mau teriak kesal, tapi tak jadi. Saat melihat sesuatu yang menggelinding jatuh dari atap kos.

“Taaakk!”

“Benda apa yang bulat begitu ya?”

Setahuku disini hanya ada pohon mangga. Tapi itu seperti kepala eh bukan kok ada serabutnya. Belum sempat ku sentuh tiba-tiba benda itu berbalik dan seketika badan ini membeku di tempat. Tadi itu bukan buah, juga bukan batu. Melainkan sebuah kepala lengkap dengan kedua matanya yang memerah.

“Arrgh…!”

Aku tak tahu harus berkata apa, jelasnya kedua kaki ini masih bisa berlari sudah bersyukur. Rasanya untuk menuju ke pintu kamar kos alangkah jauh jaraknya. Nafasku mulai tersengal dan lebih parahnya lagi pintu kamarku terkunci. Aku baru ingat kalau tadi memang dikunci sebelum ke kamar mandi.

“Buka, buka, bukaaa! AYO TERBUKA PINTUNYA!”

Saat pintu terbuka, aku langsung terjatuh. Kaki ini rasanya lemas. Sampai berusaha aku seret. Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki kemari. Jantungku jadi berdetak lebih cepat. Buru-buru aku menutupi kepala dengan selimut.

“Mas ono opo kok berisik banget?”

“Pergi! Jangan kesini ayo pergiii!”

“Mas Pras, ono opo seh? Eh, iki aku Dika!”

“Nggak! Pergi sana setan pergiii…!”

“Setan? Sik, sik, sik koyone ono sing ora beres. Mas Pras ini beneran aku Dika.”

Aku mengintip dari balik selimut. Memang betul ada dua kaki menapak di lantai kamar kos. Baru aku mau membuka perlahan selimutnya. Ternyata betul itu si Dika.

“Mas Pras tadi kenapa kok sampe takut segitunya?”

Aku ingin berkata sesuatu, tapi rasanya tak bisa. Aneh, seperti ada yang menahan pita suaraku. Dika mendekat sambil menempelkan telapak tangannya ke keningku. Ekspresinya terkejut luar biasa.

“Mas Pras demam ya?”

“Demam? Aku tadi baik-baik aja!”

Suaraku bisa kembali lagi ternyata. Tapi badanku memang masih terasa lemas. Sudah tidak kuat lagi dan perlahan aku merebahkan diri. Tanpa kusadari sudah terpejam mata ini begitu saja.


“Mas, tolong bangun dulu ya.”

Sayup kudengar suara yang lembut. Bukan, itu bukan suara Dika. Tapi orang lain yang masih muda. Dia laki-laki yang mungkin usianya sama denganku. Kamarku ini juga jadi ramai. Beberapa orang kemari termasuk Pak Kus.

“Mas bangun dulu ya pelan-pelan biar saya bantu.”

Aku ikut saja karena masih bingung. Sebenarnya apa yang baru saja terjadi. Kenapa ada orang seperti ustad muda kemari.

“Nah, sekarang minum air hangat ini.”

 Aku masih menuruti saja. Saat air hangat itu masuk melalui tenggorokanku, rasanya badanku jadi lebih segar. Perlahan tenagaku kembali pulih.

“Sebenarnya ini ada apa?”

“Mestine aku yang tanya sama awakmu, Mas Pras.”

“Iya, kata Dika masnya ini semalam sempat pingsan.”

Jadi semalam aku pingsan ya. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi setelah Dika masuk ke kamarku. Ternyata dia telepon Pak Kus. Pemilik kos ini baru datang bersama warga lainnya termasuk orang yang memberiku air putih hangat tadi.

“Mas sinten niki namine?”

“Ee…Prasetyo ya panggil Pras saja pak ustad eh mas.”

Ah, aku bingung harus memanggilnya apa. Dia hanya senyum saja sambil memintaku bercerita. Aku coba ingat kembali peristiwa semalam. Iya aku berteriak usai melihat buah ah lebih tepatnya itu adalah kepala. Ustad itu hanya mengangguk saja. Beberapa orang yang ada ikut berkomentar bahkan ada yang berani bicara dengan Pak Kus. Sementara Dika tanpa babibu langsung protes padaku.

“Padahal aku kan udah pernah bilang sama Mas Pras. Kalau jangan coba-coba lihat ke atas pas ada suara itu.”

“Aku nggak lihat keatas lho ya!”

“Iya tapi intinya mas itu lihat kepala ngglundungnya kan? Sama aja itu!”

“Terus kamu kok tahu soal itu, berarti pernah lihat dong.”

“Aku nggak pernah lihat, tapi tahu sih soal suara berisik itu.”

Ternyata Dika tahu dari penghuni kamar tujuh yang sebelumnya. Dua kali mereka bercerita sebelum akhirnya memilih pindah. Memang sudah sering bergonta-ganti penghuni di kamar tempatku saat ini. Konon katanya mereka nggak kuat karena setelah melihat itu pasti diganggu. Pak Kus mendengarnya langsung dan ia menegur Dia. Mengapa tak pernah cerita padanya.

“Saya…saya mau cerita tapi keburu orangnya pindah.”

“Harusnya tahu begitu kamu bilang. Nanti saya dikira punya pesugihan di kosan ini.”

“Kalau punya pastinya kos ini selalu ramai dong, pak.”

“Oh, iya betul juga kata Pak Ustad. Nah, terus ini gimana sekarang?”

“Nanti saya coba lakukan penelusuran dulu, Pak Kus. Untuk sementara Mas Pras pindah kamar dulu semisal takut.”

Pak Kus langsung mengangguk saja. Beliau yang bahkan pilihkan kamarnya. Malah dapat kamar mandi dalam padahal itu lebih mahal. Beliau sepertinya takut jika aku pada akhirnya pindah lagi seperti penghuni sebelumnya. Beruntung ini hari Minggu ternyata, jadi aku tak kepikiran untuk berangkat kerja. Tapi dari sini akhirnya aku jadi percaya. Bahwa makhluk gaib itu memang ada. Sekalipun aku yang awalnya tak percaya sama sekali. Peristiwa semalam membuatku sadar bahwa tak semua bisa dilogika oleh otak manusia.


Awas ada sesuatu yang menggelinding di dekat kalian!

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Untung baca siang-siang

Ayo nanti diulang lagi bacanya malem.

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk