Ibuku meninggal. Aku mengulangnya dalam kepala, dan dua kata menyebalkan itu makin membuatku sesak. Sementara aku bahkan tak yakin batas antara kenyataan dan khayal. Ini masa-masa yang sulit, dan masa yang demikian itu gemar berlama-lama.
Aku tak pernah membayangkan suatu saat bakal dihadapkan dengan perasaan yang aku sendiri tak yakin bagaimana menyebutnya: asing, aneh, dan barangkali perasaan semacam itu tak semestinya ada. Hidup ini memang tak melulu baik, sebagaimana rentetan sedu-sedan itu mempengaruhi perasaanku.
Ibuku sudah nggak ada, ya? Aku bertanya pada diriku sendiri, dengan suara yang nyaris tak terdengar. Tetapi tak ada jawaban di sana, hanya keheningan.
Hari ini sudah lebih seratus hari ibuku meninggal, tetapi rasanya seperti baru kemarin. Mungkin klise, tapi begitulah keadaanya sekarang.
Ibuku sudah tiada.
Dan di dunia ini tak ada kesedihan yang begitu dalam selain ditinggalkan orang-orang terkasih, lalu menyadari bahwa kita tak cukup waktu untuk mengerti mengapa orang itu ada membersamai kita, sampai perpisahan memberi tahu.
Tepat ketika kain jarik itu hampir menutupi seluruh wajahnya, aku memandanginya dan kucium tepat di keningnya: ini untuk hari-hari di mana aku melupakanmu, Ibu, dan barangkali untuk terakhir kalinya. Mataku lalu terpejam, dan ingatanku terlempar pada hari-hari di mana segalanya tampak hitam.
Malam telah jatuh ketika Paman Hue membuyarkan lamunanku. Langkah kakinya berat seperti seorang serdadu. Ia mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya, mengambil sebatang dan menyodorkan kepadaku. Aku menerimanya, memutar tuas korek, dan menghisapnya perlahan. Lalu asap mengepul di sana. Dadaku terasa hangat.
“Dari seorang kenalan di Temanggung,” katanya, “kalau suka, nanti kubawakan.”
“Tak perlu repot-repot.”
Hening. Kami diam sejenak.
Di depan sana, segalanya tampak seperti biasa, jalanan ramai dan orang berduyun-duyun entah ke mana. Sesekali mereka saling salip, seperti berkejaran dengan waktu yang bahkan tak peduli dengan mereka. Orang-orang tampak sibuk menjalani hidup yang mungkin bukan milik mereka sendiri.
“Omong-omong soal ibumu. Maksudku, mendiang ibumu,” suara Paman Hue memecah keheningan, “sudah menyelesaikan tugasnya, dan sudah semestinya dia tenang di sana.”
Aku hanya mengangguk. Tak ada yang tahu betul apa yang terjadi setelah kematian. Dan kata-katanya terdengar seperti angin yang kadaluarsa.
“Kadang aku pikir,” kataku, akhirnya, “apa gunanya semua ini?”
“Apa?”
“Ya, hidup. Orang lahir, lalu tumbuh, jatuh cinta, kehilangan, lalu mati. Seolah-olah semuanya cuma urutan yang dipaksakan.”
Paman Hue mengangguk pelan, matanya menatap ke ujung jalan.
“Barangkali hidup memang tak perlu guna, Han. Ia hanya perlu dijalani.”
“Itu kedengarannya seperti penghiburan.”
“Memang.” Ia menoleh. “Tapi siapa bilang penghiburan itu buruk?”
Angin malam mulai berembus sebentar-sebentar. Dingin. Aku menarik kaki ke atas kursi, memeluk lutut, seperti bocah yang kebingungan di rumah sendiri. Rumah ini tak berubah: temboknya tetap retak di sudut tangga, lantainya masih berderit, dan pintu kamarku masih mengeluarkan suara minor saat dibuka.
“Biasanya,” aku berkata, “ibu menaruh potongan jeruk nipis di dekat jendela. Katanya biar harum. Sekarang jendelanya bau debu.”
Paman Hue tak menanggapi. Ia hanya mengangguk lagi, lalu melempar puntung ke tanah dan mematikannya dengan ujung sandalnya.
“Mereka itu,” katanya setelah jeda, pandangannya mengarah ke jalan, “barangkali ada yang baru saja kena omel bos, atau baru apes. Habis dimarahi istri misalnya, atau mungkin habis kecopetan. Tentu itu bukan kehendak mereka. Tapi hidup tetap harus dijalani.”
Aku memalingkan pandangan pada lampu jalan yang temaram, di bawah pohon yang entah sudah berapa tahun ada di sana.
“Aku kira itu tak ada kaitannya dengan ibuku,” kataku akhirnya. “Lagi pula, ini bukan soal apes atau tidak apes.”
“Han,” katanya kemudian, “kau tak harus kuat. Tapi kau harus terus. Itu saja.”
Aku mengangguk, meski tak sepenuhnya paham. Kadang, anggukan cuma cara agar percakapan bisa berakhir.
Kami diam cukup lama sampai suara jangkrik terdengar begitu jelas. Malam menutup kota dengan selimut kelam.
Dan aku tahu, bahkan dalam keheningan begini pun, duka bisa tumbuh liar seperti gulma.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!