RAHASIA

1 dibaca

A

Pagar besi hitam di sisi timur perpustakaan pusat dilingkari garis plastik merah-putih. Dua unit sedan berpelat hitam instansi negara terparkir tepat di depan anak tangga utama, mesinnya mati, lampu hazard-nya berkedip pelan.

Mahasiswa berkerumun di balik semak kamboja. Mereka menunjuk ke arah pintu kaca yang digembok rantai baru.

“Ada tim forensik kementerian di dalam,” kata seorang mahasiswa sastra kepada temannya.

“Bukan, intelijen arsip.”

“Semalam dosen sejarah dipanggil rektorat.”

Abde melangkah mendekat, langkahnya melambat melihat garis pembatas di sekeliling perpustakasn. Tas ransel di bahunya tergantung miring.

Xavier menyusul dari belakang, ia turun dari mobilnya, lalu melangkah ke samping Abde.

Almaz tiba paling akhir. Ia berdiri di sebelah Abde, menatap dua pria berjas abu-abu yang sedang mencatat nomor seri gembok di beranda.

“Semalam...” Abde berbisik, matanya tidak lepas dari pintu perpustakaan, “...mereka gerak secepat itu?”

Xavier mendengus. “Kelihatannya kita baru saja bikin masalah paling sial seumur hidup.”

Pintu koridor Fakultas Seni Budaya terbuka. Pak Darma melangkah keluar, wajahnya kaku. Matanya menyapu kerumunan mahasiswa, lalu berhenti ke tiga sosok di balik garis polisi. Ia melambaikan tangan pendek.

“Kalian bertiga,” panggil Pak Darma datar. “Masuk.”

Mereka saling berpandangan sejenak sebelum mengikuti langkah Pak Darma melewati koridor Fakultas Seni Budaya. Di ujung koridor, dua pria berjas berdiri menjaga pintu ruang rapat. Salah seorang mempersilakan mereka masuk tanpa sepatah kata.

Di atas meja rapat mahoni panjang, tiga botol air mineral bersegel, satu unit mesin perekam suara digital berlampu merah yang berkedip pelan. Dua orang pejabat kementerian berjas rapi duduk berseberangan. Pak Broto berdiri di sudut ruangan dengan tangan terlipat.

Pria berjas di sebelah kiri menekan tombol rekam. “Kronologi,” ucapnya tanpa melihat ke Almaz, Abde dan Xavier. “Jam berapa kalian memasuki gudang arsip kemarin?”

Abde menelan ludah. “Pukul sepuluh kurang sepuluh.”

“Siapa yang memegang kunci?”

“Pak Darma.”

“Siapa yang menarik peti kayu?”

“Saya,” jawab Abde.

“Siapa yang membuka sampul buku log?”

“Siapa yang menyentuh halaman delapan puluh sembilan?”

Pertanyaan itu meluncur cepat, tanpa jeda.

“Hei.” Xavier menggeser kursinya hingga berdecit di atas lantai keramik “Kami ini saksi atau tersangka?”

Pria berjas itu mendongak. Matanya menyipit menatap tajam ke arah Xavier. “Kami hanya memastikan rantai penguasaan barang bukti steril. Jawab pertanyaannya, ada yang memotret halaman tersebut?”

Almaz menggeleng. “Nggak ada.”

“Salinan digital?”

“Nggak ada.”

Almaz melirik Abde.

Pintu di ujung ruangan terbuka. Profesor Soedirdjo masuk membawa kotak logam pipih berlapis perak.

Profesor Soedirjo meletakkan kotak perak di tangannya ke tengah meja. Petugas membuka kunci. Buku log ekspedisi bersampul kanvas kasar diangkat menggunakan sepasang sarung tangan putih.

Petugas menempelkan stiker barcode instansi di sampul buku, lalu merobek gulungan lakban coklat tebal.

Lakban melilit sampul buku, menyegel lembaran-lembaran tua ke dalam kantong pengaman khusus. Seluruh dokumen lain dari peti yang sama dimasukkan ke dalam kotak terpisah.

Pak Broto berdiri terpaku di dekat jendela, matanya mengikuti setiap gulungan lakban.

Petugas menyodorkan selembar formulir berita acara. “Tanda tangan di sini.”

Almaz, Abde dan Xaveir menarik pulpen, menorehkan garis tangan di atas kertas putih.

“Seluruh inventaris arsip ini akan dipindahkan ke fasilitas penyimpanan khusus di Jakarta,” Pejabat kementerian menutup mapnya. “Penelitian lanjutan diambil alih oleh tim ahli negara.”

Pak Broto melangkah maju, telapak tangannya menepuk tepi meja. “Kalau begitu, ketiga mahasiswa ini harus ikut.”

Pejabat itu mengerutkan kening. “Tidak.”

“Mereka penemunya,” tegas Pak Broto. “Mereka yang menemukan kejanggalannya. Tanpa mereka, arsip itu masih busuk di gudang bawah.”

“Kami menghargai kontribusi mereka,” jawab pejabat itu. “Namun standar keamanan riset negara memiliki protokol ketat.”

“Justru mereka yang paling memahami polanya.”

“Keputusan ini final.”

Pak Broto terdiam. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menurunkan tangannya, kembali mundur ke sudut ruangan.

Sebuah dokumen tipis disodorkan di hadapan mereka. Surat Pernyataan Tutup Mulut dan Kerahasiaan Negara.

Xavier membaca cepat paragraf demi paragraf. “Kalau kami menolak?”

“Maka negara memiliki instrumen hukum untuk melindungi informasi strategis,” jawab petugas itu tanpa berkedip.

Abde membaca teliti setiap klausul pidana di bawahnya. Almaz meraih pulpen, menarik kertas itu mendekat, dan membubuhkan tanda tangannya di sudut bawah. Abde dan Xavier menyusul.

“Kalian bisa keluar sekarang.” petugas itu menarik lembar kertas yang sudah ditandatangi oleh mereka.

Almaz, Abde dan Xavier berdiri bersamaan, lalu berbalik melangkah menuju pintu. Almaz membuka pintu lebih dulu. Pak Broto tetap berdiri di tempatnya.

Pintu menutup di belakang mereka, salah seorang petugas meraih map merah yang sejak tadi diletakkan terbalik di sudut meja.

Di dalam ruangan hanya menyisakan Profesor Soedirdjo, Pak Broto, dan dua pejabat kementerian, map merah bertuliskan RAHASIA dibuka. Beberapa lembar fotokopi arsip tua dihamparkan di atas meja.

“Profesor,” kata pejabat itu. “Dua puluh tiga tahun lalu, kami menemukan arsip VOC lain di Semarang.”

Pak Broto memicingkan mata.

“Tidak lengkap,” lanjut pejabat itu. Ia membaca kutipan dari kertas. ”Kapal terakhir kembali... muatan dipindahkan sebelum tiba di Batavia... kapten menggunakan istilah Gudang Timur.”

Pak Broto mengernyit. “Gudang Timur?”

“Tidak pernah tercatat dalam arsip resmi VOC,” jawab pejabat itu, lalu menggeser buku log temuan Almaz. “Sampai simbol kecil di halaman delapan puluh sembilan itu muncul kembali.”

Profesor Soedirdjo menatap fotokopi itu. “Apa sebenarnya yang kalian cari?”

“Kami mencari ekspedisi yang sengaja dihapus dari sejarah.” jawab pejabat itu.

“Apa isinya?” tanya Pak Broto.

“Aset VOC yang hilang.” Pejabat itu terdiam sesaat sebelum menatap Pak Broto. “Kalau dugaan kami benar... nilai temuannya jauh melampaui nilai sejarah.”

“Maksud Anda?”

“Maaf. Informasi selebihnya berada dalam klasifikasi yang tidak dapat kami sampaikan.” Pejabat itu menggeleng pelan. “Saya tidak berwenang menjelaskan lebih jauh.”

Dada Pak Broto naik turun. “Kalau itu benar...”

“Tidak ada yang benar sampai kita benar-benar menemukannya.”

Pejabat kementerian merapikan map di hadapannya, lalu menoleh kepada Profesor Soedirdjo.

“Profesor, sesuai prosedur kami membutuhkan satu orang penghubung resmi dari pihak universitas selama proses penelitian berlangsung.”

Profesor Soedirdjo menoleh ke arah Pak Broto. “Saya menunjuk Pak Broto.”

Pupil mata Pak Broto membesar. “Saya, Prof?”

“Anda yang pertama kali memverifikasi keaslian arsip itu. Dan Anda memahami konteks sejarahnya.”

Pejabat kementerian menyodorkan surat penugasan.

“Selama penelitian berlangsung, seluruh komunikasi antara tim kami dan universitas akan melalui Anda.”

Pak Broto membaca sekilas isi surat itu. “Apa tugas saya?”

“Memberikan pendampingan akademik bila diperlukan, membantu verifikasi sumber, dan menjaga kerahasiaan seluruh proses penelitian.”

Suara langkah kaki bergemuruh menyambut Almaz, Abde dan Xavier. Beberapa mahasiswa yang sejak tadi mondar-mandir di depan ruang rektorat spontan menoleh bersamaan.

“Itu mereka.”

“Yang nemu arsip VOC itu, kan?”

“Lihat, sampai dipanggil kementerian.”

Bisik-bisik segera menjalar dari satu kelompok ke kelompok lain.

Seorang mahasiswa tingkat akhir dari jurusan Sejarah melangkah mendekat lebih dulu. “Maz, bener kalian nemu arsip baru? Dosen-dosen lagi pada ribut dari pagi.”

Almaz menggeleng tipis. “Maaf, gue nggak bisa jelasin.”

“Lah, kenapa?”

Seorang mahasiswi lain menyela dengan mata berbinar. “Keren banget, sih. Baru kali ini ada mahasiswa kampus kita yang bikin kementerian turun langsung.”

“Atau jangan-jangan...” terdengar suara lain dari belakang kerumunan, “...cuma buku tua biasa terus dibesar-besarin biar viral.”

Beberapa mahasiswa tertawa kecil.

Xavier menoleh ke arah sumber suara. “Kalau iri, bilang aja.”

“Siapa yang iri?”

“Ya lo. Dari tadi paling kenceng ngomongnya.”

Abde menyenggol lengan Xavier. “Udah,” katanya pelan. “Percuma.”

Seorang petugas berjas yang berjaga di depan ruang rapat melangkah maju, memecah kerumunan. “Mohon beri jalan.”

Kerumunan perlahan membuka celah. Tatapan puluhan pasang mata tetap mengikuti langkah mereka bertiga hingga menuruni tangga rektorat.

Menjelang petang, mobil-mobil dinas satu per satu meninggalkan halaman kampus. Garis pembatas masih membentang mengelilingi perpustakaan. Kerumunan mahasiswa perlahan bubar dengan pertanyaan yang belum terjawab. Di sisi lain kota, tiga mahasiswa memasuki kamar kos.

Lampu neon kuning menggantung rendah di atas langit-langit kos Almaz. Xavier melemparkan tas punggungnya ke sudut lantai. Abde membuka laptop di atas kasur lipat. Almaz berlutut di depan laci meja, menarik keluar flashdisk hitam dan map plastik tipis berisi sepuluh lembar fotokopi hasil scan halaman jurnal yang sempat disalin diam-diam sebelum penyitaan.

Abde tersenyum tipis, wajahnya pucat. “Untung gue ngotot fotoin buku log itu.”

Xavier melirik dari sudut kamar. “Ternyata parno lo ada gunanya.”

Almaz membentangkan print hasil foto itu di lantai. Barisan tinta pudar, nomor halaman yang loncat, dan simbol geometris kecil di bawah cahaya lampu.

Almaz terdiam lama. Ia mengangkat wajahnya, menatap Abde, lalu beralih ke Xavier. “Kalau kita yang nemuin...” suara Almaz datar, memecah kesunyian kamar, “...kenapa harus nunggu orang lain yang nyelesaiin?”

Abde menghentikan jemarinya di atas keyboard. Xavier menatap lurus ke depan.

Almaz mengeluarkan jurnal catatan milik Hendrick dari dalam tasnya. Ia membuka halaman baru, membacanya pelan.

Maret 1794.

Cahaya lampu minyak di atas meja kerja bergetar setiap kali angin malam menembus jeruji besi benteng.

Amplop tebal berlogo resmi Dewan Hindia tergeletak terbuka di samping tumpukan peta. Kertas perkamen di dalamnya kaku, beraroma tinta kantor gubernur.

Aku memegang surat itu, membaca baris perintah untuk menghadap ke ruang audit tertutup sebelum matahari berada tepat di atas menara pengawas.

...Pagi ini aku menerima sepucuk surat bersegel dari Dewan Hindia. Isinya singkat. Aku diminta menghadap sebelum matahari berada tepat di atas benteng...


Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk