Bab 01

T1: {1} .. Seseorang yang Datang Membawa Tetes Hujan, Kabar Burung, dan Nasib Buruk

7 dibaca

A

TEROR PERTAMA: PENYUSUP


-{Chapter 1}-

...;;:[ ------------------------------- ]:;;...

Seseorang yang Datang Membawa Tetes Hujan, Kabar Burung, dan Nasib Buruk

-|- ============= -|-

...

-Tetes Hujan-

Keanehan terus berdatangan dan membayanginya sejak dini hari itu, lalu hujan itu, dan terakhir jalanannya. Terlebih sesuatu di jalanan. Terlebih lagi hujan pekat masih mengguyur hingga kini, sepanjang hari, di sepanjang sudut kota, menimpa daratan seperti sebuah pertanda buruk di akhir kuartal ketiga, barangkali memang. Terutama mengenai sesosok aneh kesepian yang entah mengapa akhir-akhir ini selalu muncul pada kala hujan dan gelap.

Yah, seharian ini laki-laki itu sudah terlalu sering menyaksikan penampakannya sekilas, di kejauhan, berjalan kehujanan. Bahkan ketika petang mulai dipenuhi kabut dengan udara dingin dan angin yang semakin kurang waras di luar sana, dia—sosok berjas hujan yang katakanlah misterius itu—sampai saat ini masih saja terus melintas di depan pekarangan rumahnya, seperti arwah penasaran atau apa pun itu.

Dia datang, sendirian dan menyedihkan, dengan langkahnya yang pelan dan menyedihkan, seolah sosok samarnya hanya bayangan tiang jalan, seolah keberadaan tipisnya di luaran sana hanya sekadar ingin dihujani suasana muram dan bau hujan yang kebetulan juga menyedihkan.

Sementara tatapan yang memancar redup dari balik bayang tudungnya, yang bergeming bak makhluk pekuburan, mungkin memang mengindikasikan bahwa perasaannya dipenuhi sesuatu yang bisa dikatakan sebagai kehampaan. Namun, diam-diam sorot mata kelam itu seakan-akan selalu mengawasi apa saja di sekitarnya: sesuatu, atau seseorang. Dan laki-laki itu merasa demikian sejak kali pertama ia melihatnya pada jalan yang mendadak berubah sepi, mengusik akal sehatnya, sementara kini lebih memilih beranjak pergi daripada harus lebih lama lagi memperhatikan gerak-gerik mencurigakan itu dari jendela loteng.

Begini... Ada hal aneh berikutnya yang ia sangat-sangat yakin bakal datang tidak lama lagi. Teror yang cukup klise, sebut saja “Telepon Misterius Berdering”.

Selalu saja begitu sejak jalanan masih terlalu remang untuk ditatap: dirinya terus-menerus mendapat panggilan dari satu nomor tak bernama, yang jika diangkat yang terdengar hanyalah hembusan napas seseorang yang kemungkinan tengah kesulitan untuk mengungkapkan perasaan terpendamnya.

Terus kenapa tidak ia blokir saja? Ya... karena baginya kurang seru jika harus berakhir secepat itu. Dering berisiknya cukup menghibur, menyelingi saat-saat jenuh ketika ia dikeroyok oleh sekumpulan suara badai yang terus berkecamuk di luaran sana, mengalihkan pikiran buruk soal atap rumahnya yang bisa saja roboh sewaktu-waktu.

Pada akhirnya, secara tidak mengejutkan, ponsel bututnya kembali berdering lesu tepat seperti yang ia duga. Dan tentunya, saat ia mengangkatnya, seseorang di balik telepon masih berpegang teguh dengan kebisuannya.

Padahal, laki-laki itu lebih mengharapkan jika dia mengatakan sesuatu. Misalnya, pernyataan balas dendam, ancaman, mantra guna-guna, atau apalah, bukan hanya menakut-nakuti dengan suara langkah konyol yang kadang terdengar agak menyeramkan, melewati jalanan becek, kemudian dia... Entahlah. Terdengar seperti derit dari pagar besi yang membuka.

Seseorang itu tiba-tiba saja mematikan sambungannya. Mungkinkah karena ponselnya kemasukan air? Lampu di loteng mendadak padam tidak lama dari sana. Tapi tidaklah aneh. Sungguh! Barangkali ada salah satu tiang listrik yang baru saja roboh di suatu tempat. Angin di luar memang tergolong bencana.

Ditambah dengan suara ketukan tiba-tiba (lebih mirip gedoran) yang jauh lebih buruk dan baru ia sadari di antara derasnya hujan, teredam hingga sulit dibedakan mana yang ulah tikus dan bukan. Atau mungkin hanya perasaannya saja? Terdengar samar dan terasa bagaikan gema di tempatnya bersandar, seperti rentetan ketukan (gedoran) pintu—suara itu melesat masuk melintasi anak-anak tangga, hingga berakhir pada tempatnya berdiam. (Atau memang hanya ada di pikirannya saja?) Rasanya aura gelap dan dingin juga ikut menyeruak melalui lubang kunci.

Terlalu berlebihan. Sebenarnya tak seburuk yang dibayangkan jika benar itu dirinya. Tapi, yah, ia yakin tamu tak diundang itu akhirnya datang juga, seakan sudah tahu jika ia tengah sendirian. Tambahan untuk sekarang: melamun, memikirkan bagaimana seharusnya sikap yang tepat nantinya jika harus dihadapkan dengan wajahnya yang kedinginan. Ia bertanya-tanya... Haruskah nanti, jika seandainya berniat membuka pintu, ia menanyakan keadaannya yang kurang baik? Apa lebih baik petang ini ia mulai mengindahkannya saja, mempersilahkan salah satu mara bahaya itu untuk masuk?

Tidak butuh waktu lama, ia yang baru saja selesai dengan urusan atap bocor di loteng rumahnya kini mulai berdiri dan menuruni anak tangga. Tidak, kali ini ia tidak berniat untuk menyapanya. Ia belum segila itu. Laki-laki itu hanya ingin memastikan jika dirinya sudah mengunci pintu dengan benar—yang ia rasa begitu, tapi rasanya juga tidak; nyatanya memang tidak...

Karena, setelah tiba di lantai bawah yang remang—bukan lagi ketukan samar, atau yang mengetuk, atau bahkan tikus berkeliaran—laki-laki itu malah mendapati sejumlah jejak sepatu basah yang datang dari arah pintu depan.

Kelihatannya badai semakin mengamuk di luar sana.

Jendela-jendela bergetar seolah nyaris pecah.

Yahhh...

Mungkin juga ini yang akan menghantuinya malam ini: hal-hal lain, suara-suara aneh di tengah ngeri, kolong tempat tidur yang membuat bulu kuduk berdiri sampai mampus, pisau di dapur yang hilang satu, televisi yang menyala sendiri, vas bunga pecah, keberadaan asing yang membayangi, atau paling tidak jejak-jejak itu lagi, mengarah ke remang-remang. Sulit untuk menganggap semua itu bukan ulah dari makhluk supernatural, termasuk sekelebat bayangan yang baru saja lewat di belakangnya.

Sesuatu (pengganggu itu) mungkin (pasti) menyelinap dan masuk.

Berkeliaran.

Tepatnya di sana, di belakangnya, menampakkan diri seperti orang hilang: si penyusup mondar-mandir ketika laki-laki itu berbalik. Menyelonong begitu saja. Begitu dekat. Begitu jelas. Begitu janggal—setelah diperhatikan dengan begitu yakin, bentukannya (tanpa tudung kepalanya yang menghalangi—mengabaikan rambut hitam legam menggelegar terurai sepunggungnya yang hampir membuat bergidik, berantakan seperti jerami gosong), jujur dia lebih condong ke orang sungguhan.

Sebelah wajahnya yang tertangkap oleh mata, yang terlihat rapuh dan berpura-pura lugu, sibuk memperhatikan sekeliling ruangan yang dia tapaki dengan sisa-sisa air yang menetes dari jas hujan berwarna biru muda (bermantel tebal dan modis dengan model terusan), mengotori lantai.

Sosoknya berada di sana cukup lama.

Hingga seketika, pandangan dan langkah murung itu terhenti. Mulai menoleh, mulai (berpura-pura) menyadari jika seseorang tengah berdiri menunggunya tidak jauh.

Laki-laki itu membalas tatapannya dengan ramah, sebisanya... pada pupil matanya yang hitam nan kelam itu.

Dan selagi si misterius mendekatinya, laki-laki itu mencoba untuk tidak memikirkan betapa sintingnya dia. Si sinting misterius kemudian membuka sedikit mulutnya yang kaku, diikuti segala keheningan yang ia bawa, menyisakan riuh hujan yang seketika menjadi tidak terlalu berarti, terasing dari pendengarannya.

“Pernah melihat kucing berkeliaran di sekitar sini?” Itu yang ditanyakan kepadanya setelah mereka cukup dekat. Hanya untuk itu. Jauh dari yang diharapkan setelah teror berbelit-belit ini.

Tidak salah, sih. Tabiatnya dari tadi pagi memang seperti tengah mencari kucingnya. Entah alasan barusan bisa dipercaya atau tidak. Setidaknya suaranya yang kurang bahagia terdengar cukup meyakinkan.

“Oh ya,” dia berkata lagi. “Tadi aku sempat mengira kamu sama sekali tidak sadar akan kedatanganku. Belnya rusak. Kurasa suara berisik yang kubuat juga tidak terlalu terdengar. Jadi, ya, aku langsung masuk saja... Hmm... yah... begitu.”

“Ya,” cuma sepatah kata, ia menjawab, mencoba santai seperti makhluk di depannya.

“Apa kamu pernah melihat kucing hitam masuk ke rumah ini?”

Si lelaki menggeleng.

Dan sosok itu masih menunjukkan raut muramnya yang tak berubah sedikit pun, yang membuat perilakunya semakin sulit untuk ditebak.

“Menurutmu aku bohong?” Laki-laki itu mencoba menerka.

“Tidak juga,” dia menyahut asal, seperti mencoba untuk percaya. Sementara kedua kakinya yang mungkin kedinginan, kembali berkeliaran, tidak bisa diam, entah akan ke mana; laki-laki itu ikuti. Sepertinya suasana dari tempat ini membuatnya sedikit merasa... tenggelam. Jadi, kabar buruknya dia akan sulit diusir. “Begini, sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan juga. Kamu mau dengar?”

Pastinya tidak.

“Yah, intinya semalam—maksudku pagi-pagi buta, ada orang aneh yang sempat aku lihat berkeliaran di tepi jalan.” Si muram itu memunggunginya, masih berputar-putar di lantai bawah, melamun, menyapu apa pun yang dia anggap jelek dengan telunjuk kanannya, sembari berbicara dengan suaranya yang lemah dan pelan. “Tentunya aku tidak terlalu melihat wajah itu dengan jelas. Yang aku ingat, laki-laki pucat itu... mungkin, dia terjaga sepanjang malam, tidak bisa tidur, dan malah memilih berkeliaran di tengah cuaca dingin... Dan menurutmu, apa yang dia lakukan di sana?”

Laki-laki itu masih memperhatikan, mengikuti langkah pelannya. Ia tahu jika si muram sedang menunggunya untuk menjawab, jadi ia memilih untuk menjadi orang dungu saja.

“Ya, dia cuma lewat. Memang tidak ada yang aneh tentang itu. Tapi saat itu, dia tidak sengaja berpapasan dengan kucing yang kukatakan—entah sejak kapan, menyelinap keluar, lewat mana, jangan tanya... Kucing itu tiba-tiba sudah ada di dekatnya, menunjukkan diri... Dan kurasa orang itu juga sudah sadar sejak awal jika aku mengawasinya dari balik jendela kamar. Lalu bisa ditebak, dia langsung mendekatinya, memasang muka polos padanya..., membawanya pergi—aneh—padahal kucing itu agak tidak enak dipandang.”

“Apa aku ada juga dalam ceritamu?” Laki-laki itu menyela, hanya penasaran. Sungguh! Tidak ada maksud lain.

Tetapi jika dipikir-pikir, memangnya untuk apa dia mengganggunya seharian ini lalu mengatakan semua alibi itu selain untuk memojokkannya?

Sosok itu berbalik. “Entahlah... Apa kamu tahu pria tua pemilik perpustakaan kecil... tinggal di dalam gang dekat taman?” Itu pertanyaan baru lagi. “Aku sempat bertemu dengannya, pagi ini, waktu aku mampir selama berkeliaran tidak jelas di sana. Singkatnya kami mengobrol, sebentar, tentang hal-hal tua membosankan, dan menariknya dia kebetulan mengaku pernah melihat orang yang sedang aku cari-cari, pada jam itu...”

“Dan... dia mengatakan itu aku?” tebaknya, melanjutkan setelah ditatap dengan penuh maksud, tak ingin memberikan dia kesempatan untuk menanyakan sesuatu lagi.

“Tidak, sih. Dia hanya mengatakan jika dirinya pernah berpapasan dengan orang aneh yang membawa kucingnya jalan-jalan dini hari itu. (‘Seharusnya orang-orang sedang tidur jam segitu,’ katanya.) Dan katanya dia pergi ke jalan ini, menurutku mungkin tinggal di sekitar sini. Hanya itu yang dikatakannya. Tidak lebih. Tapi—kalau kamu ingin tahu juga—selama aku memperhatikan orang-orang di tempat ini—”

“Intinya itu aku, kan?”

“Tidak. Aku tidak menuduhmu, tolol...” Alisnya mendadak terangkat—mengosongkan ekspresinya sesaat—sebelum seketika diturunkan sampai ke dasar jurang. “Yah, kenapa tidak kita anggap saja kalau kucing itu ternyata kabur darinya, diam-diam menyusup ke sini tanpa kamu sadari. Siapa yang tahu, kan...? Hanya saja... yah... kalian berdua kebetulan mirip. Cuma mirip.” Si murung itu kembali melangkah, sesekali memandang ke atas.

“Jadi, kamu sempat melihat wajahnya?”

“Tidak perlu sejelas itu...” Dia memang menuduhnya. “Tidak terlalu penting juga. Aku juga sudah tidak tertarik dia siapa.”

Suara yang keluar darinya terdengar kian samar.

“Mungkin juga, kucing itu memang diam-diam kemari, bersembunyi,” katanya lagi, dan kali ini dia sudah berpindah cukup jauh.

Pandangannya masih sama masamnya, menerawang, tidak peduli pada apa pun selain kepada sesuatu yang dia cari-cari. Dia hanya ingin memastikan, tidak lama, lalu dia akan benar-benar pergi untuk selama-lamanya (selama yang dia bisa), katanya.

Paling tidak, selama si aneh itu ke sana kemari, yang mengganggu hanya tatapannya yang serasa diam-diam mengawasi setiap kali laki-laki itu berpaling ke arah lain. Meskipun setiap kembali memperhatikannya ia cuma mendapatinya berkelit membuang muka—berlanjut pada tingkah masamnya semula yang memeriksa setiap celah dan laci tertutup—ia tetap bisa merasakannya: tatapan tajamnya yang membekas itu, menusuk tengkuknya, dan lagi-lagi dirasakannya saat mencoba iseng melirik keluar.

-Kabar Burung-

Jika bukan karena kucingnya, rasanya dia ke sini cuma ingin berbicara dengannya saja, mengganggunya, memenuhi beberapa desakan sinting yang terus lewat di kepalanya dan mencoba menjadi hal yang sedikit lebih jauh dari penguntit—entah lelaki itu harus menunjukkan reaksi yang bagaimana.

Dia juga tak terkesan berniat untuk menemukan apa yang dia cari-cari... barangkali tidak sesegera mungkin; lebih banyak menyampingkan diri dari haluan dan merehatkan langkahnya setiap kali menemukan tempat untuk duduk—melamun dengan sebelah kepala yang bertumpu pada lengannya—lantai dingin juga termasuk: sempat begitu lama tidur-tiduran sembari memandangi kegelapan kolong ranjangnya.

“Melihat sesuatu?”

“Belum,” jawabnya pada laki-laki itu yang duduk menonton di tepian kasur.

Barangkali karena alasan apa dia meyakini sesuatu itu benar-benar ada di sini? Mungkin sesuatu itu ketakutan, bersembunyi dan bermimikri pada bayangan. Atau hanya tidur-tiduran, menunggu sembari memandangi hujan lebat di luar: itu kebiasaan yang dia ceritakan padanya walau laki-laki itu tidak ingin mendengarnya, sebelum kehilangan jejaknya, menghilang di lorong yang menyisakan sepi, meninggalkan kebingungan.

Apakah dia sudah menyerah dan memilih pergi secara diam-diam?  Entahlah. Terlalu cepat untuk seseorang sepertinya. Sulit dipercaya. Lagi pula, di bawah deret lampu kuning jalanan yang mulai menyala di tengah kabut, laki-laki itu yakin jika tidak ada bayangan siapa pun yang terlihat menjauh dari kediamannya.

Sekejap, derap langkah kaki yang nyaris hening tiba-tiba terdengar menuruni landasan tangga—dia ternyata memang masih belum pergi—entah bagaimana juga laki-laki itu selalu bisa menyadari kedatangannya. Sementara di bawah,  ia sendiri tengah menunggu di dapur... Tapi tidak tepat jika disebut menunggu. Bisa dibilang, ia hanya ingin mengambil lilin.

Tidak butuh waktu lama, sosok itu menemukannya.

Terlihat sosok anehnya yang tertahan sebentar, berdiri diam di ambang tempat untuk masuk. Tatapan yang dia tunjukan sungguh gelap. Wajah abstraknya kali ini lebih membingungkan daripada sebelumnya: diselubungi suasana hujan dan cahaya remang nan kusam dari luar jendela yang semakin memudar, barangkali menyiratkan jika dia tidak menemukan apa-apa, sangat jelas.

Paling yang dia dapati cuma genteng bocor. Dan sayangnya, setelah beranjak dari sana, dia akhirnya sadar jika ternyata kucingnya benar-benar hilang—kemungkinan yang tidak pernah si sinting pikirkan, dan baginya fakta itu mungkin akan sangat menyebalkan. Yah, semoga saja dia tidak membuat rumah ini kebanjiran karena ulah kekesalannya. Siapa yang tahu, kan?

“Ketemu?” laki-laki itu menyapanya dari dekat meja tempat dirinya bersandar, duduk di kursi, selagi dia berjalan ke arahnya, yang seharusnya tidak perlu ditanyakan lagi. Ya, seharusnya ia tidak menanyakannya.

Sosok itu mendekat, dengan tangan-tangan yang sangat begitu rawan mencekik seseorang tanpa sengaja, duduk di hadapannya: di salah satu kursi. “Meski ada satu kamar terkunci yang pintunya cuma bisa kutempeli telinga... Yah, kurasa dia sudah pergi lebih dulu, mendadak bermain hujan-hujanan.”

Setelahnya dia tidak pernah membahasnya lagi. Hanya duduk diam. Dia melupakan kucing hitamnya. Menanyai ke mana laki-laki itu membawanya pun tidak, atau pun menanyainya tentang apa yang sebenarnya dilakukannya pada kucing itu. Atau bagaimana bisa dia menghilang? Bukannya si bangsat itu menyukainya? isi hati yang coba laki-laki itu bayangkan.

Hingga beberapa belas detik awan gelap di luar yang tampak semakin menggelap. “Ingin tahu kenapa aku masih di sini?” katanya, lesu, seperti mengharapkan kematian.

Si pemuda memilih untuk melupakan di mana lilin sialan yang ia cari berada, kembali mencari kursi dan duduk seperti sebelumnya. “Ya,” jawabnya.

Mungkinkah dia masih kesal mengenai kucingnya?

Si muram mengalihkan pandangan ke luar: suara koyakkan, hujan pekat yang sudah lama mereka tidak lihat. “Kurasa aku sempat mendengar samar-samar. Apa kamu merasakannya juga? Sebelumnya, sesaat setelah aku tiba di depan teras tadi. Terasa seperti ada tiang listrik yang baru saja roboh. Entah di mana. Jadi karena itu aku akan tetap di sini, menunggu semua kekacauan yang berlangsung di luar, dan juga...”

“Juga?”

“Mungkin teh hangat? Karena aku baru ingat jika aku harus bertingkah kedinginan.”

Laki-laki itu menggeleng, dan seketika seseorang yang sejak tadi memandang dingin di dekatnya mulai menunjukkan kekecewaan. Ternyata benar, dia datang menemuinya hanya untuk menginginkan sebuah keberadaan dungu yang bisa dia ajak bicara.

“Yah, lupakan, sebenarnya bukan karena itu juga.”

Si muram menoleh ke arah lain, mengawasi sekitar. Perhatiannya berubah setengah khawatir, setengah berjaga-jaga. Memangnya apa yang perlu dikhawatirkan? Petir? Badai? Puting beliung? Biarpun demikian, bagaimana bisa dia tiba-tiba merasa khawatir?

“Apa kamu memang selalu lupa mengunci pintu?” tanyanya, seperti baru saja memastikan jika yang ada di sini hanya mereka berdua.

“Maksudmu?”

“Hanya bertanya, kamu tahu, karena selama di jalan, selama aku mengganggumu dengan semua telepon konyol itu, dan berusaha untuk tak menoleh ke belakang, aku merasa...” Pandangannya kembali pada kaca buram di jendela. “Aku merasa... tidak sendiri.”

“Oh,” tanggapan singkat yang bisa ia berikan. Ia ikut memperhatikan ke luar. Berharap siapa pun yang dimaksud ada di sana dan menguping.

“Menurutmu aku sedang berbohong?”

“Nggak juga. Mungkin kamu sekarang punya satu lagi penguntit?”

“Mungkin, tapi di bagian ini aku serius.” Sepenglihatannya, tidak ada dari sikapnya yang menunjukkan kata serius. Hanya perkataan bernada getir—terkadang agak datar—yang mungkin penuh tipuan. Tapi yang satu itu terdengar menarik.

“Kamu khawatir?” laki-laki itu bertanya.

“Menurutmu?”

Ia rasa tidak.

Wajahnya kali ini mendekat. Laki-laki itu juga ikut mendekat, demi mendengarkan dia yang sepertinya akan berbisik. Aroma hujan yang melekat pada kepalanya yang barangkali sudah tercemar banyak hal mistis tercium samar-samar. “Kurasa... ini berhubungan dengar rumor aneh yang sering aku dengar. Rumor lama, tapi aku mendengarnya lagi akhir-akhir ini—”

“Rumor dirimu sendiri?”

“Bukan, ini beda. Ini lebih ke dia yang kurang waras—maksudku—pembunuh berdarah dingin, mereka menyebutnya begitu... yah, sebut saja dia gila. Seseorang yang kabur dari rumah sakit jiwa. Mungkin dia berada di sekitar sini, menyamar seperti orang waras.”

“Jadi...?”

“Yah, siapa yang tahu, bukan? Bisa jadi dia berkeliaran di depan pekaranganmu tanpa sengaja, lalu menyelinap masuk. Atau mengetuk pintu dan meminta tolong—mungkin lapar setengah mati, berniat menggorok seseorang yang rentan untuk tak dipedulikan jika hilang. Atau pernah berpikir jika dia tengah berbicara santai denganmu, mencoba mendekat, membangun hubungan, menunggu saat yang tepat untuk melepas sandiwaranya?”

Ya, mungkin dia benar. Sayang laki-laki itu tidak begitu mengingat tentang deret angka yang harus ditekannya demi memanggil polisi.

Mendadak, suara panggilan telepon terdengar menghantui rumah itu lagi. Tapi kali ini bukan ponsel yang laki-laki itu simpan di loteng. Telepon itu bergetar, bukan berdering. Itu berarti bukan ulah konyolnya. Si sinting mengeluarkan ponselnya (yang dibungkus seperti makanan kemasan).

Hujan turun menyisakan suara gemercik (tapi laki-laki itu rasa hanya bertahan sebentar). Sementara itu, kabut kelam di luar masih tetap sama, hanya saja lebih mencekam setelah rumor dan cerita yang kehadirannya baru saja coba bagikan. “Aku rasa aku sudah bisa pergi.”

Lalu dia mematikan telepon—tak pernah mengangkatnya—segera beranjak, mengenakan tudung dari jas hujannya kembali.

“Oh ya, akan aku kabari jika orang itu mencegatku di tengah jalan,” gumamnya sebelum pergi, membelakanginya ke lorong, dan rasanya dia baru saja tersenyum aneh... benar-benar aneh—seperti para hantu ketika mereka mengucap perpisahan untuk terakhir kalinya—atau mungkin tidak. Tapi entahlah, berikutnya ia tidak mendapatinya lagi. Kesuraman dari rumah ini bersama hujan di luar mungkin sudah menularinya kembali.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya laki-laki itu, masih duduk.

Hanya sebuah pertanyaan konyol, yang sebenarnya tidak ingin ditanyakannya, tapi entah kenapa keluar begitu saja—membuat sosoknya tertahan belum jauh; dia menunjukkan wajahnya yang hampir berubah bingung ketika dirinya berbalik, menatap diam.

“Suaraku kurang jelas?”

“Tidak juga, maksudku, cukup jelas. Kamu bertanya apa kita pernah bertemu sebelum ini atau tidak. Dan seingatku kamu juga pernah menanyakan itu kemarin. Tapi bukannya kita memang kadang, secara kebetulan, berada di lokasi yang sama akhir-akhir ini? Jangan bilang kamu masih berpura-pura tidak pernah melihatku sebelumnya?”

Laki-laki itu masih meneruskan pertanyaan konyolnya. “Maksudku jauh—jauh sebelum ini.”

“Oh...” Dia mendongak, mulai mengingat-ingat isi kepalanya yang menyimpan segudang tanda tanya. “Jika iya, mungkin itu dulu, mungkin lebih lama dari itu, mungkin berbicara singkat, lalu kita pergi. Tapi kurasa tidak. Aku ragu kita pernah begitu.”

Ya, rasanya sekali lagi dia benar. Jawaban yang entah membuatnya puas atau tidak, ia tidak menghentikannya lagi dengan pertanyaan konyol yang lebih aneh lagi. Dia berpaling, bersamaan dengan sekelilingnya yang semakin remang di penghujung hari, semakin sepi, menyisakan seseorang yang terus melamun di sudut ruangan.

Dan sebelum benar-benar lenyap dari balik lorong yang menghubungkan ruang tengah, sekali lagi, laki-laki itu sempat melihat jika sosoknya benar-benar tersenyum tipis kepadanya—begitu tipis karena, setelahnya, ketika dia beralih memandang sekitar (barangkali memandangi debu berjatuhan), matanya tiba-tiba menyorot begitu redup, lebih redup dari yang pernah ia lihat sebelumnya.

Seharusnya bukan hal mengejutkan, memang, jika wajah menyedihkan dan murung yang seharian ini dilihatnya ternyata kadang-kadang bisa lenyap juga walaupun hanya sesaat. Ekspresi masam yang belakangan ini dia tunjukan menghilang seolah-olah yang laki-laki itu lihat di detik itu merupakan seseorang yang berbeda. Mungkinkah dia mulai bosan meniru wajah laki-laki itu sepanjang hari?

Yah, memang.

Si pembawa misteri itu akhirnya pergi.

-Nasib Buruk-

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk