Harus Lakik!

0 dibaca

A

Siang itu, setelah makan siang di warteg langgananku, aku menyalakan sebatang rokok. Asapnya perlahan-lahan memenuhi udara di sekitarku, membentuk lingkaran-lingkaran kecil yang mengingatkanku pada masa kecilku. Aku duduk sendirian di sudut warteg, mataku menerawang jauh, melintasi waktu ke tahun-tahun silam.

Aku masih ingat dengan jelas, bagaimana dulu aku sering duduk di ruang tamu rumah kami yang sederhana.

Setiap sore, bapak, paman, dan beberapa kerabat lainnya berkumpul di sana, bercengkrama sambil merokok.

Aku, yang saat itu masih bocah, selalu duduk di tengah-tengah mereka, mencoba menangkap setiap kata dari obrolan orang dewasa yang seringkali tak kumengerti.

Mereka berbicara tentang banyak hal—pekerjaan, politik, cerita masa muda mereka—semua diselingi dengan asap rokok yang mengepul ke udara.

Aku selalu terpesona melihat mereka merokok. Cara mereka menghisap rokok dengan tenang, lalu mengembuskan asapnya dalam bentuk lingkaran-lingkaran sempurna, seperti seni yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Aku bertanya-tanya, apa yang membuat rokok itu begitu istimewa sehingga mereka rela meluangkan waktu hanya untuk merokok dan berbincang.

Suatu hari, ketika kami sedang berkumpul seperti biasa, kejadian yang tak terlupakan itu terjadi.

Bapak, yang sedang asyik bercerita, tanpa sengaja menggerakkan tangannya dan rokok yang dipegangnya menyentuh lenganku.

Aku menjerit kesakitan, reflek alami seorang anak kecil yang merasa tersakiti.

Namun, bukannya mendapat perhatian atau simpati, aku malah merasakan tamparan keras di pipiku.

“Anak laki-laki harus kuat! Jangan menjerit seperti perempuan!” bentak Bapak dengan suara keras.

Aku terpaku, tidak hanya karena rasa sakit di pipiku, tetapi juga karena rasa malu yang tiba-tiba menyergap.

Semua orang di ruangan itu tertawa melihatku dimarahi.

Air mata menggenang di mataku, tetapi aku menahannya, tak ingin menambah malu yang sudah kurasakan. Dalam sekejap, aku merasa kecil, tak berdaya, dan tidak dimengerti.

Waktu berlalu, tetapi kenangan itu tetap terpatri di benakku.

Kini, ketika aku merokok setelah makan siang, bayangan masa lalu itu kembali menghantui. Aku mencoba memahami mengapa bapak bersikap begitu keras.

Mungkin, di matanya, itu adalah cara untuk mengajarkan kekuatan dan kejantanan. Namun bagiku, itu adalah pelajaran tentang rasa sakit dan ketidakmengertian.

Aku menarik napas dalam-dalam, membiarkan asap rokok mengisi paru-paruku.

Di sudut warteg yang ramai ini, aku kembali menjadi bocah kecil yang terluka, mencoba mencari makna di balik semua itu.

Aku mengembuskan asap rokok, berharap kenangan pahit itu bisa hilang bersama asap yang menghilang di udara. Namun, seperti lingkaran-lingkaran asap yang selalu kembali, kenangan itu tetap ada, mengingatkanku pada masa lalu yang tak bisa kuubah.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk