Internet

1 dibaca

A

Aku duduk di warmindo, melihat menu yang tergantung di dinding.

Bau harum mi instan yang baru dimasak menguar ke udara, membuat perutku keroncongan.

Di seberang meja, Kayla, teman masa kecilku, tersenyum penuh semangat. “Lo mau coba internet?” tanyanya dengan mata berbinar-binar.

Aku mengernyit bingung. “Internet? Di warmindo?”

Kayla tertawa ngakak, lalu menutup mulutnya karena merasa malu. “Iya, internet. Indomie Telur Kornet.”

Mendengar kata “kornet”, tiba-tiba aku teringat masa kecilku. Ketika usiaku 10 tahun, Mama dan Papa membangunkanku untuk sahur. Mereka sudah makan sahur sebelumnya dengan nasi goreng Udin yang terkenal lewat di malam hari. Aku ingat rasa kecewa yang menusuk ketika mereka hanya menyuruhku makan kornet.

Aku menatap Kayla, mencoba menyembunyikan perasaan yang tiba-tiba meluap. “Lo tau nggak? Gue enggak suka kornet. Sejak kecil gue bilang kornet itu daging palsu.”

Kayla terdiam sejenak, tampak bingung. “Kenapa? Kornet enak kok.”

Aku menghela napas, mencoba menenangkan diri. “Waktu kecil, kan gue lagi belajar berpuasa, tuh. Nyokap sama bokap bangunin gue buat makan sahur pake kornet. Sementara mereka udah makan nasi goreng Udin yang mereka beli sebelumnya. Gue ngerasa enggak dipeduliin, kayak dikhianati, gitu. Sejak itu, gue enggak pernah mau makan kornet lagi.”

Kayla menatapku dengan penuh pengertian. “Wah, gue enggak tau cerita itu. Maaf ya, gue malah bikin lo teringat kenangan buruk.”

Aku tersenyum tipis, merasa lega bisa menceritakan hal ini. “Santai. Mungkin udah saatnya gue berdamai sama masa lalu, ya. Bisa jadi internet ini jadi langkah awal.”

Kayla tersenyum lebar. “Ya udah, kita pesan ya! Gue yakin lo bakalan suka.”

Akhirnya, kami memesan dua porsi internet. Saat pesanan kami tiba, aku menatap mi instan dengan telur dan kornet di atasnya. Aku mengambil sendok dan garpu lalu membuka mulut untuk suapan pertama.

Rasa gurih mi instan bercampur dengan telur dan kornet yang lembut.

Sebuah senyuman kecil muncul di bibirku. “Kayla, internet ini enak juga.”

Kayla tertawa. “Nah, kan! Gue bilang juga apa!”

Dalam suapan demi suapan, aku merasa beban masa lalu sedikit demi sedikit terangkat. Mungkin rasa sakit waktu kecil itu tidak akan hilang sepenuhnya, tetapi aku bisa memilih untuk melihat ke depan. Dalam kesederhanaan warmindo ini, aku menemukan kekuatan untuk melepaskan.

Setelah selesai makan, aku dan Kayla tertawa dan bercanda, merayakan momen kecil yang penuh makna. Internet mungkin hanya hidangan sederhana, tetapi hari ini, di warmindo ini, aku merasa sudah membuat keputusan yang mengubah hidup.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk