Bab 01

01. Jubah putih

3 dibaca

A

“Aku dalam perjalanan pulang. Mari kita rayakan hari kelahiran kita pada tahun ini.”


Sebuah pesan singkat tertulis di atas kertas tua berwarna kecoklatan yang dikirim melalui merpati putih sekitar seminggu yang lalu.


Secarik surat yang tidak memiliki nama pengirim. Akan tetapi, hanya dengan melihat pesan di dalamnya, Elle dapat menerka siapakah sosok pengirim surat tersebut, yang tidak lain adalah Ellen Royn Verhathan, kakak kembarnya.


Sudah tak terhitung berapa kali Elle membaca surat tersebut, ia berpikir jauh tentang apa yang harus ia siapkan untuk merayakan kedatangan sang kakak, dan juga apa yang akan ia berikan sebagai hadiah pada hari lahir mereka.


“Sepertinya akan lebih baik jika aku memberinya jubah yang tebal, beberapa bulan lagi musim dingin akan tiba, setidaknya saat itu ia tidak akan mengomel karena kekurangan baju yang hangat,” gumam Elle kepada dirinya sendiri.


Elle membuka sebuah kotak kayu tua yang berada di sudut kamarnya, untuk menyimpan surat demi surat yang Ellen kirimkan melalui merpati putih miliknya.


Ia membuka salah satu surat yang terkumpul di sana, di dalam kertas tersebut tertulis tentang hal-hal sederhana, seperti kebun mawar rindang yang ditemuinya, pohon-pohon apel yang mulai berbuah, juga perihal jubah kesayangannya yang robek karena tanpa sengaja tersangkut pada batang pohon.


Ellen juga menuliskan hal-hal tentang anak laki-laki yang dibawanya sepuluh tahun lalu. Tentang bagaimana ia tumbuh, seberapa lahapnya ia makan, bahkan tentang betapa ahlinya ia dalam hal berburu. Andai saja Ellen tahu, bahwa Elle sering kali melewati cerita yang ia tulis jika menyangkut tentang anak tersebut. Elle bahkan tidak ingat warna rambutnya, dan pada umur berapa Ellen membawanya ke Verhathan.


Jika saja orang lain tidak tahu, bahwa sang kakak tidak sengaja menemukan anak tersebut saat mengembara, mungkin, mereka akan mengira bahwa Ellen adalah ayah dari anak tersebut.


Setelah menghabiskan beberapa saat dalam lamunan, Elle akhirnya beranjak, ia kembali merapikan surat-surat tersebut ke dalam kotak penyimpanannya.


“Sebaiknya aku mencari angin sebentar, hadiah untuk Ellen bisa aku pikirkan lagi besok. Lagipula, aku masih harus memetik beberapa buah apel untuk membuat pie, dia pasti akan menyukainya.”


◇◇◇


Mentari perlahan terbit, melukis cahaya keemasan di atas kanvas langit biru, sebelum akhirnya bersinar terik menyinari permukaan bumi. Awan-awan pun turut serta dalam menghiasi hari yang indah itu.


Elle menggigit sebuah apel ranum berwarna merah yang baru saja ia petik. Awal musim gugur selalu menjadi waktu favoritnya, di mana pohon apel yang ditanam oleh Lucy dan Varn mulai dipanen.


Seekor naga putih mendekat padanya, ia menunduk dan mengendus, merasa penasaran akan apa yang baru saja tuannya santap.


Elle tersenyum, ia menyodorkan buah apel itu kepada sang naga, “ini adalah buah yang kau suka, Valha.”


Valha—naga putih Elle— dengan ragu-ragu menjulurkan lidahnya yang kasar untuk memindahkan apel tersebut ke dalam mulutnya, membuat Elle tertawa gemas melihat tingkah naga miliknya yang seperti seekor kucing.


Di tengah momen tersebut, sang naga secara tiba-tiba menoleh, mendapati sebuah portal teleportasi yang perlahan terbuka tak jauh dari mereka.


Portal tersebut secara otomatis menajamkan insting para penyihir dalam hutan Verhathan, membuat beberapa dari mereka berlari mendekat, termasuk Lucy dan Varn yang tengah mencuci apel di sungai.


“Ellen Verhathan telah tiba!” Salah seorang diantara para penyihir yang mendekat berteriak, seperti tengah menyampaikan sebuah kabar gembira ke penjuru hutan.


Kekuatan sihir Ellen mulai terasa kuat seiring melebarnya portal teleportasi tersebut hingga ukurannya dapat dilewati oleh seorang manusia dewasa. Dari sana muncullah sosok pria muda, berjubah hitam panjang, dan memiliki rambut berwarna merah yang cukup panjang hingga menutupi bagian belakang lehernya.


Para penyihir yang tadinya bersorak ria kini terdiam, bahkan beberapa dari mereka terkesiap seolah baru saja melihat sebuah penampakan.


Senyum lebar yang mereka harapkan tidak ada di sana, digantikan oleh sosok pria dengan jubah lusuh dan luka yang menggendong pria lain berjubah putih yang sebagian kainnya telah ternoda dengan warna darah yang Elle benci.


Elle sama sekali tidak bergeming, ia tidak berlari mendekat dan menanyakan apa yang sedang terjadi, sorot wajahnya bahkan terlihat datar seakan ia hanyalah pahatan patung yang sama sekali tidak memiliki nyawa bahkan perasaan.


Ia tahu betul jubah putih itu, jubah putih yang pernah ia jahit karena Valha menggigit ujungnya pada musim panas lalu. Jubah milik Ellen.


Untuk beberapa saat, jiwanya seolah pergi meninggalkan tubuhnya entah kemana, membuatnya merasa kosong, dan di saat jiwanya kembali, segala pemikiran buruk menyerangnya bertubi-tubi diiringi oleh beribu penyangkalan.


Tidak mungkin. Ini pasti mimpi buruk yang lain.


Pria tersebut tidak melangkah lebih dekat, ia merasa sepasang kakinya terlalu berat untuk digerakkan, membuatnya jatuh di atas kedua lututnya dan membaringkan Ellen pada rerumputan di hadapannya.


Rasa dingin yang menusuk menjalar di tubuh Elle, dadanya kini terasa penuh, dan tubuhnya mendadak terasa lemas.


Wajah Ellen yang biasanya penuh dengan senyuman kini tampak terlampau tenang, kulitnya pucat, kontras dengan warna merah yang menghiasi jubah putih yang ia kenakan.


Ia tampak terlalu tenang, hingga membuat orang yang menyayanginya merasa sesak akan ketenangan tersebut.


Keheningan menguasai selama beberapa saat, bahkan membuat angin pun enggan untuk berhembus terlalu keras di sekitar mereka. Dan dalam hitungan detik Elle memecahkannya dengan langkah cepat, mempersempit jarak diantara dirinya dan pria tersebut, sehingga ia berdiri sangat dekat dengan Ellen yang tengah terbaring kaku.


“T-tolong jelaskan ini semua... Ellen tidak akan mungkin-“ Elle berhenti sebelum menyelesaikan kalimatnya.


Tenggorokannya tercekat, ia merasa tak mampu menyelesaikan kalimat tersebut meski ia memaksa dirinya untuk berbicara. Meninggalkannya gemetar, seakan ia baru saja menyadari bahwa sesuatu yang ia takutkan kini datang tepat di depan matanya.


Pria berjubah hitam itu akhirnya berbicara, “maaf, seharusnya saya melindunginya-“


“Aku tidak peduli dengan itu. Katakan padaku... siapa yang beraninya melakukan ini?” Elle mengepalkan tangannya erat, hingga kukunya menyakiti telapak tangannya. Hatinya kian diliputi dengan dendam bahkan sebelum ia mengetahui siapa dalang di balik ini.


“Saya... tidak tahu.”


Jawaban singkat dari pria tersebut mengundang rasa heran  dari para penyihir yang berada di sana, bahkan tak sedikit dari mereka berbisik mencurigai pria itu.


Dan bagi Elle, jawaban itu sungguh konyol, membuatnya bingung antara harus tertawa atau percaya. Dalam hitungan detik, cahaya putih berkumpul di telapak tangannya, bergerak cepat membentuk sebuah tongkat sihir panjang, cahaya itu perlahan berubah menjadi bentuk fisik yang dapat di sentuh, dan tanpa pikir panjang, Elle mengarahkan ujung tongkatnya pada pria tersebut.


Rasa curiga datang membakar dan merayapi hati Elle, membuatnya menjadi gelap mata dan tidak berpikir panjang.


“Kau pikir... makhluk bodoh mana yang akan mempercayai itu?”


Seketika, cahaya putih melesat cepat dari ujung tongkat milik Elle.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk