Bab 01

Dusta

7 dibaca

A

“Yah, aku takut,” ujar Ari padaku. Mata polos bocah tujuh tahun itu dipenuhi kekhawatiran.

“Takut? Kenapa?”

“Aku takut liat Ayah marah. Orang yang tadi ayah bentak itu siapa?”

Aku tersenyum dan menjawab, “Nggak usah takut. Itu tadi kenalan ayah, kok. Cuma ada salah paham sedikit aja. Besok juga udah nggak papa.”

“Oh,” ujarnya lirih. “Seperti kalau aku dan Doni berantem?”

“Iya. Jadi santai aja ya. ”

Ia mengangguk dan kembali bermain dengan figur astronotnya. Aku pun kembali mengalihkan fokusku ke depan, ke jalanan lengang di depan mobilku.

Satu jam kemudian, sampailah kami ke tujuan, sebuah area berhenti di pinggir tebing dengan pandangan luas ke resort pantai di bawah sana. Aku menghela napas, memarkirkan mobil di posisi terbaik, lalu menoleh  ke arah Ari yang tertidur pulas.

“Hey, kita sudah sampai,” bisikku sambil menggoyang pundaknya pelan-pelan. Ari pun terbangun, mengejapkan matanya sejenak, lalu mulai memperhatikan pemandangan di sekitar mobil kami. Tak lama, ia menoleh dan menatapku dengan binar ceria di matanya.

“Kembang api?” tanyanya penuh harap.

“Betul sekali!” jawabku dengan nada yang sedikit terlalu antusias.

“Asyik! Apa kali ini bakal lebih besar dari yang kemarin?”

“Paling besar dan paling terang,” jawabku sembari mengangkat telapak tanganku ke arahnya. “Tos?” tawarku. Dia menyambutnya dengan segenap tenaga dan antusiasme yang dimiliki bocah tujuh tahun. Kugendong Ari keluar dari mobil lalu kami duduk di atas kap mesin, Ari di pangkuanku. Dengan berlagak sulap, aku mengeluarkan sebungkus cokelat batangan dari sakuku. Ia tertawa tergelak-gelak dan merebutnya dari tanganku. Dengan cekat ia membuka bungkusnya dan mulai makan dengan lahap.

“Sebentar lagi mulai. Yang cepat makannya, biar gak kelewatan,” saranku.

Di sela-sela kunyahannya, kami mengobrol tentang pertunjukan cahaya yang akan datang. Sejenak ia berandai-andai, kalau saja ibunya tidak perlu bekerja di luar kota dan bisa bersama kami di sini, dan hatiku terasa semakin hancur mendengarnya.

Seperti harapanku, alasan ketidakhadiran ibunya ia terima dengan kepolosan seorang anak kecil. ​​Memang, setahun belakangan ibunya sering bepergian karena tugasnya, sebuah alasan siap pakai yang mudah. Jadi aku tidak perlu berpanjang lebar membuat dusta baru. Itu bagian yang mudah, walau sambil menahan rasa sedihku sekalipun. Yang sulit adalah menjalani hari demi hari setelahnya, terutama saat situasi semakin genting.

Dan sekarang, sampailah kami di titik akhir. Semua jalur yang kukira kupunya, tiada yang membuahkan hasil. Pemerintah tidak mau membuang-buang ruang bunker untuk seorang pria dengan penyakit mematikan dan anak laki-laki berkursi roda. Demi mengoptimalkan kelangsungan umat manusia, kita harus memilih orang dengan kemampuan bertahan hidup terbaik, kata mereka. Seolah pejabat-pejabat gendut bau tanah dan istri-istri simpanannya akan cukup berguna di reruntuhan peradaban yang akan datang. Lalu segelintir orang, utamanya konglomerat, yang memiliki rencana penyelamatan mandiri, juga mengklaim tidak punya ruang lebih. Mereka yang dulu menjamuku dengan ramah pada pesta-pesta mewah, tak bergeming saat aku memohon satu tempat saja untuk Ari. Semua janji dukungan mereka untuk seorang ‘aset berharga sastra nasional’ ternyata hanya omong kosong. Aku hanya cukup berharga untuk sesi foto dan ajang penghargaan. Namun dalam soal bertahan hidup, hanya kata-kata hampa yang bisa mereka berikan. Pada akhirnya, aku harus berjuang sendiri.

Jadi, inilah akhirnya. Hanya satu hal yang masih bisa kulakukan. Aku menunduk dan menatap wajah bocah lelaki di pangkuanku. Matanya setengah terpejam saat ia berusaha melawan rasa kantuk akibat obat yang kumasukkan ke dalam cokelatnya. Obat yang harus kubeli dengan mengorbankan semua stok makanan yang kupunya, kecuali sebatang cokelat itu. Tentu saja aku tidak akan membutuhkannya lagi, tapi kuharap mereka tersedak dan sakit perut saat memakannya.

“Kembang api...” gumam Ari, dengan kesadarannya mulai memudar. Aku mendongak dan melihat asteroid itu. Jejak apinya menerangi langit sepanjang lintasannya menuju pelukan terakhirnya dengan Bumi yang sedang menanti ajal. Kata orang, gelombang kejutnya akan langsung merenggut nyawa pada jarak sedekat ini, namun aku tetap memberi Ari obat itu. Rasanya akan... lebih mudah.

Aku memeluk anak semata wayangku erat-erat, lalu mengucapkan satu kalimat terakhir, satu kejujuran tersisa dari semua dusta yang kuucapkan untuk menjaganya.

“Ayah sayang kamu, Nak.”

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk