Bab 01

Cerpen - Jejak Tanpa Wajah

2 dibaca

A

Aku berdiri di tengah TKP. Darahnya sudah kering, menyerap ke dalam lantai kayu yang mengilap. Korban tergeletak tak bernyawa, wajahnya pucat, tubuhnya masih dalam posisi terjatuh. Tak ada tanda perlawanan. Luka tusukan di jantung, rapi, tanpa cela. Ini pembunuhan berantai kelima yang kutangani dalam dua bulan terakhir, dan lagi-lagi, tidak ada petunjuk yang bisa diandalkan.

“Detektif, kami tidak menemukan sidik jari atau jejak,” lapor petugas forensik.

Laporan itu membuat kepala berdenyut. Aku berusaha fokus, meski perasaan aneh yang mengganggu tetap ada. Rasa familier ini, seperti déjà vu. Sejak awal kasus ini, tubuhku sering terasa lelah, dan kepalaku penuh dengan ingatan-ingatan yang mengabur.

Setiap aku menutup mata, mimpi-mimpi aneh muncul—aku berada di tempat ini sebelum semua terjadi, seolah aku adalah saksi... atau lebih buruk lagi, pelaku. Pandanganku terpaku pada dinding di seberang ruangan. Ada sesuatu yang salah. Aku merasa, ada sesuatu yang tidak beres.


Aku pulang larut malam ke apartemenku. Ruang tamu ini kosong, sunyi, dan selalu terasa dingin. Kutatap cermin di dinding, melihat pantulan diriku. Wajahku terlihat agak asing. Mata cekung, dengan lingkaran hitam di bawahnya akibat kurang tidur. Namun, ada sesuatu yang lebih... sesuatu yang tidak bisa kujelaskan. Seperti ada yang mengamatiku dari balik refleksi diri—bukan orang lain, melainkan aku sendiri.

Kupandangi wajahku lebih lama, mengingat mimpi-mimpi aneh itu. Aku sering bermimpi berjalan di koridor gelap, menatap darah di tanganku, mendengar suara pisau menembus daging. Saat terbangun, rasa dingin itu masih tersisa, tetapi aku selalu mencoba menepisnya. Itu hanya mimpi, pikirku.


Dua pekan berikutnya, Kapten Richard memanggilku ke kantor. Ketika aku tiba, suasana terasa lebih berat dari biasanya. Ia langsung memintaku masuk ke ruang interogasi. Ada ketegangan yang tak biasa di wajahnya, seolah ia menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin ia bicarakan.

“Tim forensik menemukan sesuatu,” katanya pelan. “Di TKP terakhir... ada sidik jarimu di sana, Lisa.”

Aku tersentak. “Tidak mungkin!” sergahku. “Aku tidak pernah menyentuh apa pun di sana!”

Richard menatapku tajam. “Lisa, ini kasus besar. Kami juga menemukan sesuatu yang lebih mencurigakan.”

Aku diam, hatiku berdegup kencang, ada firasat buruk merayapi kulitku.

“Semua korban,” lanjutnya, “mereka terhubung dengan kasus yang pernah kau tangani. Kasus perdagangan manusia beberapa tahun lalu. Kau ingat?”

Aku masih tak percaya. “Apa maksudmu?”

“Korbannya semuanya adalah orang-orang yang pernah kau selamatkan, Lisa. Mereka semua terkait denganmu.”

Sekujur tubuhku terasa kaku. Terkait denganku? Aku mencoba mencerna informasi itu. Mengapa mereka menjadi target? Dan yang lebih penting—mengapa sidik jariku ada di sana?


Malam itu, aku tak bisa tenang. Kepalaku dipenuhi pikiran liar. Laporan-laporan kasus tersebar di mejaku, foto-foto korban menatapku seolah menuntut jawaban. Aku merasa semakin dekat dengan jawabannya, justru semakin jauh dari diriku sendiri. Seseorang, entah bagaimana, mencoba menjebakku.

Atau mungkin... pikiranku terganggu lagi. Sial, kenapa aku tidak bisa mengingat dengan jelas apa yang kulakukan di hari-hari tertentu?

Kuambil pistolku, mengamankan senjata itu di pinggang. Di tengah ricuhnya kepalaku, aku mendengar ponselku berdering—nomor tak dikenal.

“Kau tahu siapa aku, Lisa,” suara berat di seberang telepon membuatku merinding.

“Siapa ini?!” Aku menggenggam gagang telepon dengan tangan gemetar.

“Kau mencariku, tapi sebenarnya, kau tahu... karena kau adalah aku.”

Napas terhenti. “Apa maksudmu?”

“Datanglah ke alamat yang akan kukirimkan. Sendirian. Jika kau ingin jawaban.”

Tersentak, aku melempar ponsel ke atas meja, tangan gemetar. Tubuhku bergerak otomatis, aku segera berlari menuju mobil. Pikiran kacau, tapi intuisiku jelas: aku harus pergi.


Saat tiba di alamat yang dimaksud, jantungku berpacu cepat. Lampu-lampu redup menerangi ruangan yang luas, membuat bayangan samar di dinding-dinding berkarat. Pistolku sudah siap di tangan, aku berjalan hati-hati menyusuri lorong yang gelap.

Dan di sana, di tengah ruangan, seseorang berdiri. Siluetnya tampak seperti pria berjas gelap. Saat ia mendekat, aku mulai menyadari sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri.

“Lisa,” suara berat itu memanggil namaku. Wajahnya... wajahku.

Aku tertegun, napasku memburu. Ini tidak mungkin. Di depanku berdiri seseorang dengan wajahku, tapi senyumnya dingin, matanya penuh kebencian.

“Aku bagian dari dirimu,” ia berbisik. “Sisi yang kau sembunyikan selama ini.”

Aku berbalik ke segala arah, mencoba mencari penjelasan rasional. Namun, kepalaku terasa semakin kabur, pikiranku terpecah. Suara-suara itu kembali, memanggil-manggil dari dalam diriku.

“Setiap kali kau tertidur, aku bangun. Setiap korban… akulah pelakunya, Lisa.”

Dengan gerakan cepat, pria itu menyerang, dan kami terlibat dalam pertempuran sengit.

Pistolku meledak, tapi ia terlalu gesit, menyerang dengan pisau yang tajam, sama seperti yang digunakan pada korban-korbannya.

Ada sesuatu yang aneh. Setiap gerakannya terasa akrab. Setiap serangannya seperti... aku yang melakukannya.

Aku mundur, terhuyung, hingga aku jatuh ke tanah, napasku terengah. “Siapa kau sebenarnya?!” teriakku, darah mendidih di dadaku.

Dia mendekat, tatapannya kosong tapi senyumnya menyeramkan. “Aku adalah kamu, Lisa. Siapa yang kau pikir membunuh mereka? Setiap malam, aku muncul. Dan kau selalu bangun dengan tangan bersih, tidak ingat apa-apa.”

Pisau di tangannya berkilauan di bawah lampu redup. Dan saat itu juga, semua ingatanku kembali, menghantamku seperti ombak besar yang tak bisa dihindari.

Aku adalah pembunuhnya.

Setiap korban, setiap malam, itu semua ulahku. Alter ego-ku, sisi gelap dari kepribadianku yang selama ini terpendam, yang melakukan pembunuhan itu. Aku tidak hanya memburu pelaku—aku sedang memburu diriku sendiri.

Aku merasakan kesedihan dan kebingungan bercampur. Sudah terlambat. Sekarang aku tahu, tak ada tempat bagiku untuk bersembunyi lagi.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk