Bab 01

Kanazawa, before we were human

1 dibaca

A

Kanazawa di bulan Januari tampak seperti kota tua yang sedang menahan nafas. Salju menutupi atap kayu di jalanan penuh retakan, menimbun rumput liar yang tumbuh di gang sempit, sekaligus membungkus lampu-lampu jalan dengan cahaya yang redup dan dingin.

Pohon-pohon berdiri kaku, semakin menekuk karena beban salju yang bertumpuk. Sementara bau tanah basah bercampur asap dari perapian rumah-rumah tua sampai menyusup ke sela-sela udara dingin.

Di sisi lain kota, Meilin berdiri menghadap ke arah jalur kereta yang membentang sunyi, jarang dilewati, lengkap dengan bantalan kayu yang mulai lapuk. Angin menerbangkan anak rambutnya tanpa suara—seolah bunyi sekecil apapun akan membangunkan daun kering yang tertidur di bawah butiran salju.

Meilin menyukai kota ini karena di sini hal-hal aneh bisa ada tanpa pertanyaan. Abu buku di kaleng teh, halaman robek yang berserakan, atau sekadar lampu jalan yang terkadang nyalanya memancarkan merah tipis—semua itu diterima diam-diam oleh sepinya kota dan salju yang menolak bersuara.

Meilin berhenti sejenak dari kegiatan menulisnya, ia duduk di kursi kayu yang lapuk sambil menghitung tiap-tiap butir salju yang turun dalam semenit. Pipinya merona, kontras dengan kulit pucat yang hampir menyerupai mayat hidup. Rambut sebahunya dan poni tipis menutupi dahi Meilin.

Dia seperti boneka porselen tanpa nyawa yang cantiknya janggal.

Buku di pangkuan Meilin terbuka ke halaman paling akhir. Kertas itu dirobek dengan sengaja. Huruf-hurufnya belum sempat protes ketika api melahap, mengubahnya menjadi abu yang berbaur dengan angin dan salju.

Dari sudut mata, Meilin dapat merasakan lelaki itu. Ia berdiri seperti makhluk yang lupa cara menjadi nyata, tubuhnya melebur dengan bayangan salju. Dari jarak sepuluh langkah suaranya terdengar parau, lebih dingin dari udara yang menusuk kulit gadis itu.

“Kau membakarnya lagi” itu bukan pertanyaan, lebih seperti pernyataan mutlak.

Meilin menatapnya, menyipit. “Aku harus menghapus hal-hal yang terlalu hidup.” jawabnya datar meninggalkan hening di antara mereka berdua.

“Seperti apa?” Lelaki itu mendekat tanpa suara, langkah kakinya tak meninggalkan jejak.

Meilin berhenti sejenak, ia melihat sekali lagi lelaki yang wajahnya selalu buram seperti sensor alami atau vonis yang dijatuhkan tuhan untuk dia. Sesuatu dalam sosok itu membuat udara bukan lagi dingin tapi berat dan sunyi—tempat di mana hanya yang ganjil yang bisa bernapas.

“Seperti rasa sakit yang cantik, seperti … kamu.”

“Apakah aku kurang nyata untuk bisa menyentuhmu?” Tanya lelaki itu lagi namun kali ini ikut duduk di kursi kayu samping rel.

“Dulu kau bukan sekadar menyentuhku, ingat?” jawab Meilin sambil tertawa getir.

Lelaki itu terdiam, wajah buramnya tak sedetikpun berpaling dari Meilin. Dingin merayap hingga ke tulang, tetapi kulitnya yang sepucat Meilin seolah tak lagi mengenal rasa. Api melahap halaman terakhir sampai mati dan sisa abu berterbangan dibawa angin, kemudian tertutup salju. “Dan kau masih menulis tentangku, padahal kita sudah tahu bagaimana akhirnya.”

“Di Kanazawa semua terasa seperti saksi. Sekop salju di rumahku seakan terus membicarakan kamu, dinding juga seperti menatap tajam seakan meminta pertanggung jawaban.” Suara Meilin meluncur datar hampir tanpa emosi.

“Kau menulis rangkaian pembunuhan untukku di setiap halaman, lalu dibakar. Dan aku muncul seperti mimpi buruk di siang bolong”

“Jika aku berhenti menulismu, apakah kau akan pergi?” Meilin meremas bolpoinnya, wajah datar itu kontras dengan saraf-saraf yang mulai kaku.

“Kau harus mulai menulis tentang bagaimana kau membunuh dirimu sendiri” lelaki itu berkata lugas dengan sedikit ejekan di dalamnya.

Kali ini Meilin diam, membiarkan percakapan mereka dibawa angin. Salju tebal menutupi rel tua dan menutupi setiap jejak kaki yang sebenarnya tidak ada. Kanazawa bagai kota mati, serangganya menahan napas seakan tahu kalau ada jiwa seseorang yang hilang dan hanya tersisa serpihannya.

“Aku tidak menulis kematianku.” balas Meilin menusuk. Kali ini ia berani menatap wajah buram lelaki di sebelahnya, meski tahu betul betapa puasnya ia sedang ditertawakan.

“Kau sadar–” lelaki itu berhenti sejenak, “Kau membunuhku karena tidak ingin terluka, dan kau membunuh dirimu sendiri karena tak tahu bagaimana hidup tanpa luka.”

Meilin menutup mata, “Jangan sok tahu.”

“Aku selalu ada di setiap robekan halamanmu, dijeda hela nafasmu setiap kau selesai menulis. Dan kau tak pernah sampai pada halaman saat kau memilih mati. Apakah itu suatu pertanda akan sebuah penyesalan?”

“Jadi ini apa? Neraka?” Meilin tertawa pelan—kering, hampir tak terdengar.

Lelaki itu menggeleng, “Bukan. Neraka butuh hukuman, ini hanya … sisa.”

Salju semakin menebal, rel tua menghilang di bawah putih yang dingin. Kanazawa berdiri diam, terlalu sopan untuk bertanya kemana dua jiwa ini pergi setelah menyerah pada kesalahan mereka sendiri.

Untuk terakhir kalinya, Meilin memberanikan diri membuka mulutnya, mencoba mengucapkan sesuatu yang familiar dan selalu tertera di antara halaman yang ia tulis.

“Rei—“

Wajah buram itu perlahan menghilang dibawa terpaan angin, berganti dengan fitur wajah lelaki yang juga tersenyum tipis, namun menusuk. Sekarang wajah itu terlihat jelas, bukan lagi buram. Hanya sisa ingatan Meilin yang menyangkut pada setiap jengkal dan lekuk wajah seorang lelaki—Rei.

Luapan emosi yang tertahan di dadanya pecah menjadi tawa kecil. Bolpoin di tangan Meilin bergetar, mengikuti kekehan getirnya, seolah ikut menyadari bahwa sesuatu telah berakhir, tepat di ujung halaman.

“Aku tau kita selalu tidak cocok untuk hidup” kata Meilin.


“Sabtu pagi awal Januari 1958, warga Kanazawa digegerkan oleh penemuan dua jenazah di sekitar jalur rel lama yang sudah tidak digunakan, diduga merupakan sepasang kekasih. Polisi belum memberikan keterangan lebih lanjut dan menutup kasus sebagai cold case—“

Suara berita televisi di ujung ruangan terputus, berganti dengan tayangan memasak yang mengisi keheningan sepasang Ibu dan anak yang tinggal di rumah itu. Tungku perapian dinyalakan hingga asap khas kayu bakar tercium bercampur dengan aroma sup ikan yang memenuhi ruangan. Seorang remaja perempuan di sisi kanan meja mengambil telur rebus setengah matang dan menaruhnya di atas nasi hangat.

“Aku tidak tahu ada yang mati” gadis itu berucap asal.

Ibunya hanya menggeleng ringan, malas menanggapi celotehan aneh anak perempuannya. Ia kemudian mengambil kaleng teh tua dari rak kayu dekat jendela, menuang air ke dalamnya, dan meletakkan kaleng teh di tengah meja.

“Jangan bicara sembarangan.”

Gadis remaja itu mencebik, “Rel itu kan dekat sini.”

Ibunya berhenti mengaduk sup, hanya sebentar. Kemudian kembali mengaduknya seperti tidak ada yang salah.

“Kadang, aku sering melihat dua orang duduk di sana. Yang satu menulis dan yang satu diam. Mereka buram, tapi aku penasaran” lanjut gadis tersebut.

“Kau mimpi” kata Ibunya..

Gadis itu mengangkat bahu, “Mungkin. Tapi setiap salju turun, bau kertas terbakar selalu masuk ke kamarku.”

Ibunya tidak menjawab lagi, hanya menatap kaleng teh di meja—yang bagian dalamnya menyisakan noda abu hitam, menempel seperti sesuatu yang tidak pernah dicuci bersih. Ibunya berdiri sambil membawa kaleng teh dan mangkuk kosong ke dapur.

Di ambang pintu, ia berhenti. “Jangan main ke rel itu,” katanya pelan tanpa menoleh.

Gadis itu hanya mengangguk sebagai respon sambil kembali menikmati makanannya dengan khidmat. Sedangkan di dapur, wanita yang dipanggil Ibu itu mencuci mangkuk kosong kemudian lanjut membasuh kaleng teh tua sedikit terlalu lama.

Air terus mengalir, seolah berharap abu di dalamnya larut bersama waktu. Lewat kaca jendela, pantulan wajahnya tampak buram—seperti seseorang yang pernah mati tapi lupa caranya untuk pergi. Sementara Ibunya pergi ke dapur, gadis remaja itu kembali mengganti tayangan televisi, menjadi tayangan berita yang sama tapi kali ini tanpa suara.

Di luar, rel lama tertutup salju sepenuhnya. Dan di bangku kayu yang lapuk itu tidak ada siapa-siapa—karena tidak semua yang mati itu pergi dan tidak semua yang tinggal masih hidup.

Tidak ada jejak kaki, tidak ada bangku, tidak ada lagi dua orang yang pernah duduk di sana. Tapi setiap awal Januari, di Kanazawa selalu tercium bau kertas terbakar, dan tidak ada yang bertanya darimana asalnya.

Beberapa orang mati di rel, sebagian lain mati pelan-pelan di ingatan—dan Kanazawa mengubur keduanya dengan salju yang sama.

Kanazawa, before we were human

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Aku hampir membaca seluruh tulisanmu, kecuali yg ulasan2 buku itu. Dan menurutku ini yg paling rapi

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk