Malam itu, hujan turun deras di luar jendela vila tua bergaya kolonial yang terletak di pinggiran kabupaten Bogor. Cahaya bulan samar-samar menerobos awan kelabu, memberikan kesan suram pada malam ulang tahun Maya yang ke-25. Di dalam vila, hanya ada dirinya, dan seorang tamu yang tak diundang—rasa takut yang mencekam.
Maya agak bingung dengan keputusannya untuk tinggal di vila keluarganya dan menjauh dari keramaian. Meskipun ada Pak Gunawan, penjaga vila kepercayaan ayahnya di paviliun yang berjarak sekitar 300 meter dari halaman vila, Maya merasa terisolasi dalam kesepian. Dalam hati, ia sedikit menyesali pertengkaran dengan ayahnya beberapa pekan lalu.
Sebagai anak yang tumbuh sebagai dari keluarga kaya raya. Sejak kecil, Maya dimanjakan oleh segala bentuk kemewahan yang disediakan oleh ayahnya, Pak Darma. Rumah megah dengan perabotan antik, mobil-mobil mewah, dan liburan ke luar negeri sudah menjadi bagian dari kehidupan Maya. Tidak ada yang kurang. Segala keinginannya selalu dipenuhi, dan ayahnya yang terkenal sebagai salah satu crazy rich Indonesian selalu memastikan Maya mendapatkan fasilitas terbaik mulai dari pendidikan, kesehatan, dan tentunya hiburan.
Beberapa tahun lalu, Maya mengetahui sesuatu yang mengubah pandangannya tentang keluarga mereka. Pak Darma diam-diam menikah lagi dengan seorang perempuan muda, Dira, yang hanya terpaut lima tahun lebih tua dari Maya. Berita itu bagaikan petir di siang bolong. Dira bukan hanya muda, tetapi juga cantik, anggun, dan terlihat seperti boneka hidup. Maya membencinya sejak pertama kali melihat perempuan itu.
Bagaimana tidak, ibunya — Ratna, memilih diam, menikmati kemewahan meski hati kecilnya tersakiti. Maya tahu ibunya hanya menahan diri demi kenyamanan, sementara ayahnya terus memanjakan Dira. Seolah-olah tidak ada yang salah dan pelakor bernama Dira itu tidak pernah hadir. Ia terus menjalani hidup seperti biasa, menikmati kehidupan mewah yang telah diatur oleh suaminya.
Maya yakin, ibunya sebetulnya tidak berani melawan karena takut kehilangan segala hal yang selama ini mereka nikmati. Pak Darma dengan mudahnya menutupi luka dengan uang, hadiah, dan kekayaan yang tak terbatas. Kedua orangtuanya berpura-pura bahagia dan hal ini memuakkan bagi Maya.
Hubungan Maya dengan ayahnya memburuk. Dira selalu mendapatkan perhatian lebih, dan Maya merasa tempatnya sebagai anak tunggal yang paling disayangi mulai direbut.
“Dia cuma pelakor yang ngincar harta, Daddy! Daddy lebih sayang dia daripada aku dan Mommy!” Maya berteriak.
Pak Darma hanya menatapnya dingin, sementara Dira mulai menangis. Maya semakin marah. “Mati aja lo, cewek gatel! Pantas dapat karma terburuk! Daddy bodoh udah pilih ani-ani!”
Maya menghirup napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sambil memandangi jam dinding yang terus berdetak, seakan menghitung mundur sesuatu yang tidak ia mengerti. Suara tiktoknya mengiringi ketegangan yang perlahan merayapi hati Maya. Ponselnya berbunyi, membuat Maya terlonjak kaget. Sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal:
”Selamat ulang tahun, Maya. Jangan keluar malam ini. Tetaplah di rumah.”
Pesan singkat itu membuat jantung Maya berdegup lebih cepat. Maya mengernyit, mencoba mencerna apa maksud dari pesan tersebut. Siapa yang mengirimnya? Kenapa aku tidak boleh keluar? Pikiran Maya berkecamuk.
Mencoba mengusir kegelisahannya, Maya berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air. Namun, saat Maya menyalakan lampu dapur, matanya menangkap sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri. Sebuah kue ulang tahun lengkap dengan lilin, padahal ia tidak memesan kue atau merencanakan pesta. Di samping kue itu, ada kartu kecil dengan tulisan tangan yang halus.
”Untuk Maya, selamat ulang tahun yang terakhir.”
Ketakutan mulai menjalar, tetapi Maya mencoba berpikir jernih. Mungkin teman-temanku ingin mengerjaiku. Eh, bukannya tidak ada yang tahu aku di sini?
Maya mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk menghubungi Rani sahabatnya, tapi panggilannya langsung masuk ke voicemail. Sudah tidur sepertinya, pikir Maya. Saat hendak meninggalkan pesan, Maya mendengar suara ketukan pelan terdengar dari arah pintu depan.
Maya berjalan dengan hati-hati menuju pintu. Melalui lubang intip, Maya tidak melihat siapa-siapa di luar sana. Namun, ada sebuah kotak kecil hitam tergeletak di depan pintu. Dengan ragu, Maya membuka pintu, mengambil kotak itu, lalu kembali ke dalam vila. Sebuah catatan tertempel di atasnya.
”Buka sebelum tengah malam.”
Maya menatap jam dinding—pukul 23:55. Lima menit lagi tengah malam. Pikirannya kacau. Siapa yang melakukan semua ini? Aku merasa terjebak dalam permainan yang tidak kumengerti. Dengan rasa was-was, Maya membuka kado itu. Di dalamnya ada sebuah boneka kayu yang menyerupai manusia kecil, dengan seutas benang merah melilit lehernya. Di bagian punggung boneka, ada ukiran tanggal hari ini—tanggal ulang tahunnya.
Maya mendengar langkah kaki di belakangnya. Ia berbalik cepat, tetapi tidak ada siapa pun. Udara di dalam vila semakin terasa dingin, Maya mulai merasakan ada sesuatu yang tidak kasatmata sedang mengamatinya. Maya mundur beberapa langkah, meraih ponselnya untuk mencoba menelepon polisi. Namun, sebelum ia bisa menekan tombol, lampu di dalam vila padam.
Dalam keadaan panik, Maya berusaha mencari senter atau lilin, lupa bahwa ia bisa menggunakan ponsel sebagai senter. Ketika ia berbalik, matanya membelalak melihat Dira berdiri di sana sambil menyalakan senter melalui ponsel. Ia mengenakan gaun hitam panjang dengan senyum dingin di wajah cantiknya.
Detik berikutnya, Dira merasakan sesuatu mencengkeram lehernya dari belakang. Ayahnya muncul dari bayang-bayang, dengan tatapan dingin yang belum pernah Maya lihat sebelumnya. Pak Darma mencengkeram lebih erat, mencegah Maya bergerak.
“Apa kau menikmati ulang tahunmu, Maya?” Dira bertanya dengan nada lembut namun menyeramkan. Dira tertawa kecil. “Ini adalah malam yang istimewa, bukan? Malam ulang tahunmu yang terakhir.”
Maya terpaku. “D-daddy ... tolong ...,” Maya memohon, matanya mulai penuh air mata.
Namun, ayahnya tidak merespons dengan kasih sayang seperti yang dulu ia kenal. “Kamu anak enggak tahu terima kasih, Maya. Kamu melukai perasaan Dira dan menghina harga diri Daddy!”
Maya mencoba menjerit dan meronta, tapi cengkeraman itu terlalu kuat. Dengan panik, Maya meraba-raba dalam gelap, mencoba mencari apa pun yang bisa dijadikan senjata. Namun, ia hanya menggapai ruang hampa.
Dira mendekat, menyentuh pipi Maya dengan lembut. “Gimana rasanya, Maya? Kalah sama ani-ani. Enggak usah bawa-bawa karma, ya.” Dira tertawa keji, merasa menang dan bangga.
Tepat saat detik terakhir menuju tengah malam, Maya merasakan sebuah rasa sakit yang teramat dari punggungnya. Maya terjatuh ke lantai, merasakan darah hangat mengalir. Pandangannya mulai kabur, tetapi kesadarannya belum hilang sepenuhnya. Maya melihat Dira tersenyum puas, dan suara bisikan terakhir yang terdengar adalah ucapan ayahnya yang dulu begitu ia cintai.
“Selamat ulang tahun, Maya.”
Dalam napas terakhir, Maya menyadari kebenaran yang menyakitkan. Ulang tahunnya bukanlah sebuah perayaan. Ini adalah malam pembalasan. Maya harus membayar harga dari kata makian dan amarahnya sendiri.
Lampu-lampu di vila itu menyala kembali, sayangnya tak ada seorang pun di luar sana yang melihat nyala Maya memudar dalam kesunyian.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!