“Hei- fuego, bangunlah. Tuki-san akan masuk kelas sebentar lagi”
“Berisik sekali, lagian guru les juga belum masuk kan, aku mau tidur sebentar, lelah sekali setelah pulang sekolah langsung ke tempat les.”
“Heh~, tidak biasanya kau seperti ini, memangnya kamu habis maraton ya?.”
“Maraton apanya, Aku kemarin begadang karena melihat berita kalau ada orang yang terbunuh karena KIBOU di Kota Cinko sebelah kota kita (Kota Nami).”
“Serius?, akhir-akhir ini memang rawan yah. Tunggu, jangan bilang kamu juga kibou, fuego?.”
“Ya benar, aku akan memakanmu sekarang juga.” Canda-ku
Aku mengusili Touma.
“Ehh, hentikan itu. Tapi sepertinya AKTA akan menangani nya dengan baik.”
“Mungkin, kita cuma bisa melihat dari tv. haaah, andai saja aku bisa bergabung kedalam AKTA.”
“AKTA? Kau? Masuk akta?, tidak mungkin.”
“Sialan kau.”
Chika Takana, perempuan cantik yang baru masuk seminggu di tempat les masuk kelas dengan anggun, mata yang agak besar dengan rambut biru halus yang terurai dan memakai kaca mata.
“Hey fuego, lihat itu. Cewe tercantik di kelas kita, sayangnya aku tidak pantas untuknya. Kalau kau suka dengan dia gak?”
“Jangan menggodaku, cewe seperti dia mana mungkin suka kepadaku.”
Tiba-tiba dia berjalan ke arahku, aku tertegun berfikir mengapa dia mendekatiku.
“Hai, kau Fuego-san kan?”
“I-iya Takana-san, ada perlu apa dengan ku?”
“Oh kamu sudah tau namaku, panggil chika saja aku juga sudah memanggil nama depan mu juga. Aku ingin mengajakmu ke kafe di jalan buvana, kamu mau gak?”
Aku melirik touma, dia mengangguk-angguk seperti anjing.
“B-baiklah.”
“Yey, Kita bertemu di cafe jam 7 malam besok ya.”
“Ok.”
Chika-san pergi ketempat duduknya, sedangkan touma mensikut perutku.
“Hei fuego sialan, kau beruntung sekali ya.”
“Diamlah.”
Baru kali ini aku diajak kencan oleh perempuan, tapi bukan berarti dia suka padaku juga.
Guru (Tuki-san) masuk ruangan dengan membawa buku pelajaran.
“Semuanya diam, kelas akan dimulai. Sebelum itu, saya akan memberikan informasi mengenai jadwal kita kedepannya. Besok hari Friday kita libur dulu. Harap kalian bicara dengan orang tua kalian setelah pulang dari sini, terimakasih.”
Touma melontarkan pertanyaan kepada Tuki-san.
“Ada apa tuki san?, tidak biasanya kita libur.”
“Tidak ada apa-apa, cuma urusan pribadi mendadak.”
“Baiklah.”
“Satu lagi. Setelah pulang jaga diri kalian baik-baik, kalian tidak mau jadi santapan KIBOU kan?”
“Tuki-san ngelawak ya? Hahahaha.”
Para murid tertawa di dalam ruangan.
“Hei sudah-sudah, ayo kita buku matematika halaman 30.”
“Baik.”
Kami melanjutkan pelajaran seperti biasa, dan selesai jam 21:00. Aku pun pulang ke rumah.
Selama perjalanan pulang
Sedikit kejadian Kibou di kota Cinko, mengingatkan aku apa yang terjadi saat 8 tahun lalu
Ibuku terbunuh tahun 2002 bulan desember saat aku berusia 10 tahun.
Bloody Winter, mungkin itu sebutan yang terkenal oleh banyak orang.
Saat itu sebelum tinggal di Nami, kami bertiga tinggal di kota Vinus, kota paling pojok dipulau Janae. Namun berbeda dengan hari lainnya.
Hari itu adalah moment dimana Kizura, sang Kibou empat tangan yang di klasifikasi kan sebagai SS Rank di waktu sekarang (saat itu S rank) sedang mengamuk. secara kebetulan mengamuk di wilayah tempat kami tinggal.
Dia menghancurkan rumah, membunuh anak-anak dan wanita yang tidak bersalah.
Semuanya kacau, orang-orang berlarian kesana kemari menyelamatkan anak, istri, maupun keluarganya sendiri.
Kami bertiga melarikan dari monster, namun dia mempunyai kecepatan diluar nalar manusia. Aku tersandung reruntuhan rumah dan tertinggal.
Ibu mengira dia memegang tanganku, tapi itu tangan anak orang lain.
“Ayah..., dimana Fuego?”
“Bukankah tadi kamu memegangnya?”
Tepat di hadapanku Kibou itu muncul.
Aku tidak bisa bergerak karena ketakutan, kibou mengayunkan tangannya, namun ibu segera lari ke arahku dan memeluk. ibu terkena serangannya dan mengalami banyak pendarahan dibagian punggung nya.
Aku berteriak.
Menangis.
“Ibuuuu, tidakkk.”
“Tolong jangan mati.”
Dengan suara sesegukan
Monster itu melanjukan serangan nya kepadaku. Ayah lari kearah ku sambil berteriak.
“Fuegoooo, lari dari situuuu.”
Aku menutup mata, pasrah menunggu giliran selanjutnya.
Saat aku menutup mata, seseorang berlari dengan memunculkan pedang entah darimana. Baju seperti jubah berwarna putih dan rambut warna putih dengan kacamata. Menahan serangan dari kibou tersebut.
Dia diam, tidak berbicara sedikitpun.
Dengan disusul 4 orang dengan jubah yang sama tapi berwarna hitam membantu orang tadi.
Salah satu dari mereka berkata. “Hey nak, apakah kamu baik-baik saja?.”
“Ibu. Ibuku tidak sadarkan diri.”
“Salah satu dari kalian cepat bantu anak dan ibu itu ke ambulan, ibunya mengalami pendarahan.” Kata orang yang menahan serangan Kibou
“Baik Saki-san.” Dengan tegas mereka berkata
Sekarang aku tau siapa mereka, mereka adalah orang dari AKTA (Asosiasi Kibou Tactical Annihilator)
atau orang-orang menyebutnya INSPECTOR
yang bertugas membunuh Kibou serta menjadi pelindung negara.
Lalu orang yang disebut dengan Saki-san, aku juga tidak tau siapa itu. Namun yang pasti dia adalah orang kuat yang bisa menghadapi monster kelas S.
Dia bertukar serangan dengan monster itu, serta yang lain ikut membantu orang bernama kuro-san mengelilingi monster tersebut.
“Sial, besar sekali.”
“Mari serang bersama-sama.” Kata Saki
“Baik.”
Serangan demi serangan mereka lancarkan.
Membuat monster itu terpukul mundur tidak bisa menghadapi mereka ber empat.
Namun di saat-saat terpojoknya, monster itu mengeluarkan seluruh kemampuannya dengan menyerang secara brutal.
Setelah itu satu anggota membantuku untuk membawa ibu ke ambulan.
“Ayo pergi dari sini, disini berbahaya.”
Lalu ayahku menghampiri. dan menggendong ibu.
“Apa kau tak apa fuego?, tenang semuanya akan baik baik saja, ibu akan segera bangun.”
Ibu yang akan kehilangan kesadaran pun ikut berkata.
“Ibu baik-baik saja fuego, pasti ibu akan sembuh.”
Kami pun bergegas ke ambulan.
Selepas dari itu, orang AKTA itu mendapat kabar dari earphone bahwa monster itu lari.
“Tidak mungkin.” Jawabnya
Dia bergegas ke medan pertempuran.
“Ka-kalian, kalian baik-baik saja?”
“Baik apanya, Akira-san tangan nya terputus, Nagi-san terkena serangan di matanya.” Kata Iguchi
“SIAL, ayo kita bawa mereka berdua ke ambulan. Lalu kenapa kibou itu pergi? harusnya itu moment terbaik dia untuk menghancurkan kita.”
“Saki-san memotong kedua tangan monster itu, dan membuat dia sekarat.”
“APA? Saki-san melakukan itu? Sendirian?”
“Ya, sekuat itulah Saki-san”
Saki melihat ke atas bintang malam dengan berlumuran darah.
Sementara itu, aku sudah sampai dalam ambulan
Sebenarnya aku tau. aku tau ibu tidak akan pernah bisa bangun setelah mendapatkan serangan mematikan itu.
Benar saja, saat sampai di dalam ambulan. Ibu tidak bergerak maupun bernafas, seluruh tubuhnya menjadi dingin.
“Ibuuuu...”
“Tolong .... Bangunlah.”
Air mata mengalir tak terbendung, tidak bisa berbuat apa-apa.
Hanya kesabaran dan tekad manusia yang menyelamatkan duka ini.
Keesokannya berita melaporkan kejadian malam itu memakan korban jiwa sebanyak 132, dengan sejumlah kerusakan rumah parah.
Monster Kibou yang tadinya berada pada S Rank naik ke SS rank karena telah membuat pasukan Elite Class terpukul mundur dan mengalami banyak kerugian.
8 tahun berlalu, namun aku masih merasakan sesaknya kejadian pada malam hari itu.
Aku mempunyai kebencian mendalam pada Kibou dan bertekad untuk masuk kedalam AKTA, meskipun itu mempertaruhkan nyawaku.
karena sekarang tidak ada artinya. aku kehilangan ibu dan ayahku juga tidak pernah melirikku lagi.
Kami berdua pindah ke kota Nami
Setelah kejadian itu, ayah menjadi pendiam dan pergi dari rumah dan meninggalkan kartu tabungannya.
Mungkin karena ketidakmampuan dia untuk melindungi ibu dan menjadi depresi, itu yang aku pikirkan.
Dia tidak pernah pulang kerumah, bahkan natal sekalipun selama 8 tahun terakhir.
Aku terpaksa harus hidup mandiri selama 8 tahun.
Tinggal sendirian di rumah mungkin banyak yang menginginkannya dan menyebutnya kebebasan. Tapi bagiku adalah kehampaan.
Aku selalu ingin makan malam dengan ayah dan ibu sekali lagi, meski hanya beberapa saat. Hanya itu yang aku inginkan.....
Aku pun sampai kerumah.
Namun, selama Fuego dalam perjalanan pulang. dia tidak tau bahwa sedang diawasi dan diikuti oleh seseorang dari jauh.
“Aku pulang.”
“Sudahlah, tidak ada yang menjawab juga.”
Aku segera mandi dan pergi ke ruang tamu untuk menonton tv sesaat.
*Tingtong
Tiba-tiba ada yang menekan bel rumah. Aku bergegas membuka pintu tersebut.
Membuka pintu perlahan.
Namun aku tidak melihat siapapun di depan rumah.
Aku membalikkan tubuhku, sesosok Kibou menyergapku dari belakang.
“WAHHHHH.”
Alarm membangunkanku dari mimpi.
“Sial cuma mimpi.”
“Aku harus bergegas sebelum kesiangan ke sekolah.”
Fuego menyiapkan roti selai dan langsung lari ke sekolah dengan roti di mulutnya.
Lalu bertemu dengan touma, touma juga bersekolah yang sama dengan fuego.
“Hei fuego, tumben kau kesiangan.”
“Tidak apa-apa, aku ceritakan saat di sekolah saja. Ayo lari sebelum gerbang di tutup.”
“Hey ayolah, sekarang kan belum kesiangan.”
“Aku bukan kamu yang selalu telat.”
“Haha, benar juga.”
Setelah itu kami sampai ke kelas. untungnya kelas belum mulai. serta memulai pembelajaran.
Hari sudah sore dan waktunya untuk pulang. aku pun menyeritakan ke touma apa yang di alami waktu malam [mimpi buruk].
“Ohh cuma mimpi, kau terlalu menonton berita Kibou, fuego.”
“Mungkin.”
Aku tidak pernah menceritakan masa lalu yang ku alami 8 tahun lalu, karena tidak terlalu penting juga untuk dia.
Seperti janji, aku pergi ke kafe untuk menemui chika, ternyata dia belum sampai, sambil menunggu dia aku sedikit membaca buku tentang Kibou.
Dibuku tertulis Kibou adalah pemakan darah dan daging manusia, makanan makanan manusia bisa mereka makan, tapi tidak membuatnya kenyang dan bisa membuat mereka merasa lemas dan tidak bertenaga. namun ada satu minuman yang bisa mengontrol kelaparan mereka, Susu dan Kopi.
Dan mempunyai ciri fisik dengan pupil mata yang berubah seperti kucing (meruncing) berwarna merah dan kornea hitam.
Buku ini diciptakan oleh Shino Awaza.
Chika-san pun datang menghampiriku.
“Aduh maaf ya aku terlambat.”
“Tidak apa-apa, baru lima menit.”
“Kau baca buku apa? Sepertinya serius sekali membacanya.” Sambil tersenyum
“Oh ini? About Kibou karya Shino Awaza.”
“Heeh~, kamu ternyata tertarik dengan Kibou ya?”
“Sedikit ... Sebenarnya aku mengalami....”
Terbawa suasana, aku menceritakan kejadian 8 tahun lalu, akupun tidak tau kenapa menceritakan kepadanya, sedangkan ke Touma saja aku belum pernah.
Chika Takana sontak kaget mendengar cerita yang didengarnya.
“Itulah mengapa aku sangat tertarik.”
“Aku turut berduka atas kepergian ibu mu.”
“Tidak apa-apa, itu sudah lama.”
“Ngomong-ngomong siapa nama belakang mu?”
“Kisaragi, Kisaragi Fuego.”
*Telepon berdering
Chika mengangkat teleponnya.
“Baik, Aku segera kesana.”
“Maaf fuego, aku ada urusan mendadak, aku pergi ya.”
“Ah tidak apa apa, hati hati dijalan.”
“Ya.”
Di sini, pelayan kafe melihat Fuego dan Chika. dan Touma datang ke kafe (sebenarnya dia suka sekali nongkrong di kafe sepulang sekolah).
“Hey Fuego, mana Takana-san? Kok tidak bersamamu.”
“Dia pergi, katanya ada urusan mendadak.”
“Hmm, kamu ditolak ya?”
“Tidak, tidak seperti itu, dia memang ada urusan.”
“Heeh~”
“Kenapa tidak mengincar itu saja, tuh.”
Touma menunjuk pelayan kafe.
“Lihat itu, cantik sekali.”
“Sudah jangan di liat terus, nanti dia melihat.”
“Ah iya iya, btw kamu sudah mengerjakan PR B.inggris mu untuk hari senin nanti?”
“Belum.”
“Sama aku juga, gimana kalau kita mengerjakan nya di rumah mu [Fuego] sehabis ini?”
“Boleh saja.”
Pelayan cantik itu melihat mereka berdua keluar dari cafe.
Fuego dan Touma jalan menuju ke rumah.
“Hei Fuego, kau pergilah dulu ke rumah [fuego].”
“Kau mau kemana?”
“Aku ke supermarket dulu beli minuman dan camilan untuk kita.”
“Baiklah, aku akan menunggumu di rumah, jangan lama-lama ya.”
“Siap.”
Fuego berjalan dan sampai sampai di rumahnya, sembari menyalakan lampu.
Muncul suara entah darimana.
“Krskkkskkk .... Krskkskk.”
“Suara apa itu.”
“Apa ada pencuri?” Pikirku
Mengecek ruang tamu, kamar, toilet tidak ada siapapun, namun ketika aku sampai ke dapur, semuanya sudah berantakan.
“Apa-apaan ini, hey apakah ada orang disana.”
Sembari aku masuk ke dalam dapur, tidak ada siapapun didalam.
Mendapatkan firasat buruk, aku bergegas keluar rumah siapa tau pencuri melarikan diri.
Tapi tidak ada satu pun orang yang terlihat.
Aku kembali kedapur sambil merapikan barang-barang yang jatuh maupun berantakan.
Melihat tidak ada barang yang hilang. Sebenarnya apa motif pelaku mengacak-acak rumah ku, itu yang aku pikirkan.
*Tingtong
Bell rumah berbunyi ketika aku sedang beres-beres, mungkin itu Touma yang sudah datang. aku keluar untuk membukakan pintu.
Ketika aku membuka, seseorang bertopeng devil (iblis) bertanduk dengan rambut berwarna biru berdiri didepan ku.
Orang bertopeng yang mempunyai senjata [Kusanagi] yang keluar dari tangannya. Itu adalah KIBOU.
“M-mau apa kau disini.”
Dia tidak menjawab. tapi langsung mengincar leherku dengan Kusanagi nya.
Aku terkapar tidak sadarkan diri, lalu di bawa oleh-nya.
Sementara itu, Touma sedang berjalan ke rumah Fuego sambil menenteng barang belanjaan supermarket.
Dari jauh dia melihat seseorang melompat dengan membawa orang dari genteng rumah ke rumah lainnya.
“Gilaaa, apaan itu.”
“Perasaan ku tidak enak, aku harus cepat ke rumah nya [Fuego].”
Touma pun sampai, dengan keadaan kaget.
“Kenapa ... ada darah disini.”
“Sial.”
Dia lari ke dalam rumah memaggil Fuego dengan keras.
“FUEGOOOO ... DIMANA, DIMANA KAMU.”
Sambil berlari dari sudut ke sudut, dia tidak menemukannya.
“Apa jangan-jangan ... yang tadi di genteng rumah itu dia.”
“I-ini ... Ini salahku meninggalkan dia sendiri.”
Touma menyalahkan dirinya sendiri, melihat sahabat nya menghilang membuat dia terpukul.
Dia bergegas ke kantor cabang AKTA untuk membuat laporan.
“Tolong, temanku diculik oleh Kibou.”
“Kamu anak sekolah, jangan buat kebohongan yang keterlaluan, jika tidak kami akan melaporkan mu ke polisi walaupun kau masih remaja—.”
“Aku... Aku melihatnya, Kibou itu berjalan melompati genteng di setiap rumah.”
Para petugas melihat satu sama lain dengan petugas lainnya.
“Di jalan mana kamu melihatnya?”
“Jalan Kiluna no 10.”
“Baiklah, kamu pulanglah dulu, kami akan mengirim beberapa Inspector kesana.”
“Baik, Terima kasih.”
Di sisi lain.....
Kibou itu membawa Fuego ke tempat bawah tanah yang lokasinya entah berada dimana.
mengikatnya pada kasur agar tidak bisa bergerak.
dia [fuego] pun bangun.
Aku membuka mata perlahan. berfikir apa yang sebenarnya terjadi. tidak bisa berbicara karena tenggorokan ku tertebas oleh senjata dia.
Orang bertopeng itu berdiri di samping ku. dia membuka topengnya.
Sontak aku terkejut, menunjuk ke arah dia. mengisyaratkan bahwa aku tau siapa dia. dia pun juga mengenalku.
dia adalah CHIKA TAKANA.
“Heh ... Kau sudah bangun? maaf ya membuat mu terkejut, tapi apa kau tau kenapa Osiris dikhianati? Karena dia terlalu baik dan terlalu percaya dengan seseorang terdekatnya.”
Aku melototinya bereaksi ketakutan, dan mencoba melepas ikatan tali yang mengikatku.
“Tenanglah, kau tidak bisa keluar dari sini.”
Seseorang masuk ruangan dengan baju seperti ilmuan. lagi-lagi aku terkejut, aku sangat kenal dengan orang ini. dia yang selalu mengajar aku
sampai bisa mendapat nilai A pada setiap ujian sekolah. none other than, TUKI LOUIS [Tuki-san].
“Jangan terkejut seperti itu Kisaragi-san. Dan kau Takana, mana Sample Zero yang kau bawa.”
“Aku tidak menemukannya, sepertinya memang tidak ada disana.”
Tuki mengeluarkan tombak yang entah dari mana, seperti saat Saki menyelamatkan aku. dan melumurinya dengan cairan [tidak diketahui].
“Tidak perlu cemas, mungkin Sample itu disembunyikan yang tidak bisa kita jangkau. kita akan mendapatkannya dengan menyiksanya.”
Dia menodongkan tombak itu ke tubuhku, aku menutup mata, namun saat membuka mataku. kejadian tak terduga, Tuki malah menombak jantung Chika.
“Kau ... Apa yang kau lakukan brengsek!! Aku tidak bisa mengeluarkan Kusanagi, trik apa yang kau lakukan!!.”
“Buahahaha, Sebenarnya aku mempunyai sample tersebut. sekarang matilah, karena aku tidak membutuhkan mu lagi—mungkin jantungmu saja yang di perlukan.”
“Sial, kenapa ... Kenapa kamu melakukan ini padaku.” Kata chika
“Orang mati tidak perlu tau.”
Chika mati seketika tanpa perlawanan.
“Kisaragi-san kau tidak perlu khawatir, aku akan membuat mu menjadi lebih kuat, kau memerlukan kekuatan untuk membalas dendam atas kematian ibumu kan? Kamu tertidurlah yang nyenyak dan jangan memberontak.”
Apa ... Maksudnya...
Aku tidak mau ... Tidak mau.......
Tuki mengeluarkan obat bius serta Sample Zero dan menyuntikan kepada Fuego lalu tertidur lelap.
... Di mana ini, kenapa semuanya gelap, bukannya tadi aku mau belajar dengan Touma. kenapa aku mengalami kejadian itu. kenapa harus aku? Kenapa? Kenapa? Kenapaaaa?
Saat terbangun, tiba-tiba aku ada di rumah sakit.
“...”
“Ah rupanya kau sudah bangun, ini di rumah sakit, Inspector menemukan mu pingsan di jalan, kau istirahatlah dulu.” Kata Dokter
Satu hari berlalu Fuego di rumah sakit. namun rasa lemas yang dia derita tidak kunjung pulih. aku merasa harus pulang untuk beristirahat di rumah saja.
“Perawat, bolehkah aku pulang hari ini?”
“Tunggu, ku panggilkan dokter[lewat telepon].”
“Dokter Chain, pasien telah sadar.”
“Baiklah saya kesana.”
“Hey, apa kau baik-baik saja? Apa ada rasa mual atau lemas?”
“Walaupun sudah makan, ntah kenapa aku masih merasa lemas.”
“Itu normal, karena mungkin terkena serangan Kibou.”
Dokter memberikan obat. “Kalau kau merasa lemas. setelah pulang, minum lah obat ini ketika selesai makan, tapi hanya untuk satu minggu, setelah itu kau datanglah kemari.”
“Kau boleh pulang sekarang, ingat untuk minum obatnya, dan minum susu agar rasa lemas mu hilang untuk sementara waktu.”
Fuego pulang ke rumahnya sambil berfikir.
Apakah kehangatan yang diberikan oleh Chika adalah kebohongan? Aku terlalu bingung setelah kejadian itu, apa maksud dari Sample Zero yang mereka cari? Kenapa manusia dan Kibou bekerja sama? Aku sunggu bingung.
Ketika sampai rumah...
Touma mengirimkan pesan singkat:
“aku dengar kamu sudah pulang kerumah fuego, sungguh menyesal ketika meninggalkan mu di rumah saat itu, tapi semoga kamu baik-baik saja. untung Kibou itu tidak memakan mu hahaha.”
“Bocah itu selalu bercanda ga tau tempat yah,” Kata Fuego.
Ingat apa yang dikatakan dokter, minum obat seperti yang di resepkan, obat itu ternyata berwarna merah. benar saja, setelah aku meminumnya, rasa lapar berkurang drastis.
Seminggu berlalu....
Fuego mendatangi rumah sakit untuk meminta obat kepada Dokter Chain, akan tetapi pihak rumah sakit mengatakan bahwa tidak ada dokter yang bernama Chain, bahkan di database mereka tidak ada nama yang tercantum.
“Kenapa ... Tidak ada...”
“Aghh!” Fuego meringis kesakitan memegang matanya.
“Di mana toilet berada?”
“Sebelah sana kak.”
Ia berlari untuk melihat kondisi matanya, berdiri di depan cermin di toilet, menatap wajahnya yang pucat, dan matanya yang berubah menjadi warna merah dengan pupil meruncing.
““Ap... apa-apaan ini?”
“Kenapa mataku jadi seperti ini?”
- Fuego menatap mata dengan ketakutan. seperti yang dia pikirkan, itu mata seperti monster yang ia benci. Ia tahu, setelah hari ini, kehidupannya akan berubah.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!