“Serius Mut, rambut sebagus dan sepanjang ini mau dipotong pendek?” tanya Lidia, stylist salon langganan Muti di mall tersebut. Wajah wanita itu terang-terangan menyayangkan.
“IYA POTONG AJA!” jawab Muti ketus.
“Oh!” celetuk Lidia terkejut sampai kakinya mundur selangkah. Karena tidak biasanya Muti bersikap seperti ini. “Oke.”
“Maaf, Kak,” ucap Muti meralat sikapnya. “Tolong dipotong saja.”
“Seberapa? Segini?” Lidia mengarahkan tangan ke bahu.
Muti menggeleng. “Pixie.”
Mata mereka saling beradu di cermin. Lidia beberapa kali menangani rambut Muti, ia tahu benar betapa gadis itu bangga dengan mahkotanya.
Siapa yang menyakiti hati gadis ini sampai begini? Batin Lidia.
“Yang benar aja, Muti…” Sejurus tadi Lidia sudah menyiapkan omelannya. Tapi semua terhenti saat melihat ekspresi Muti yang kosong dengan mata putus asa.
Lidia menghela napas ringan. “Dibikin pixie bob, ya,” ucapnya sambil menunjuk panjang sekitar rahang Muti. “Kita bikin layer. Biar tetep cocok sama karakter rambut dan wajahmu.”
“Oke,” sahut Muti cepat. “Yang penting pendek.”
“Sudah siap?”
Muti menggeleng lembut, ekspresinya melunak seperti hampir menangis. Kedua tangan Lidia sudah berada di pundak Muti dan menekan sedikit.
“Oke, aku akan kembali 30 menit lagi, ya. Jadi kamu bisa siapkan dirimu,” ujar wanita itu yang kemudian meninggalkan gadis itu sendirian.
Lima menit yang lalu, Muti masih berdiri mengawasi Bagas. Posisinya cukup jauh, tapi gadis itu masih bisa melihat bagaimana Bagas dan Yola berinteraksi. Di sana pun masih ada Pak Amar.
Muti mengenali benar tawa dan senyum Bagas serta gestur saat dia bahagia. Biasanya itu semua hanya hadir saat Bagas sedang bersamanya. Tapi kini Bagas bagi kepada orang lain.
Rasa sakit membebat hati Muti. Setiap detik memandang keakraban Bagas dengan seorang wanita bernama Yola itu adalah siksaan.
Kenapa sakit banget rasanya? Rintih Muti dalam hati sembari menjejalkan kuku-kukunya ke mulut.
“Apa yang aku lakukan di sini coba?” gumam Muti mencoba berbicara pada diri sendiri. “Buat apa aku ngawasi mereka? Kamu bodoh banget, Mut!”
Gadis itu lalu melangkah pergi dan membawa serta rasa sakit di hatinya. Kakinya melangkahkan Muti ke depan pintu salon langganan di lantai lain.
Muti kini menatap dirinya di cermin yang berusaha keras untuk menjaga ekspresi wajah terlihat tetap tenang. Matanya meniti rambut hitam yang selalu jadi kebanggaan. Dia sempatkan untuk menggenggam rambut itu untuk terakhir kalinya.
Aku harus tahu diri, kan? Aku harus mundur. Harus menjauh. Harus melepaskan. Dan aku harus menyingkirkan ini, terlalu banyak mengandung kenangan bersama Bagas, batin Muti.
Mungkin dengan ini aku bisa benar-benar melepaskan dia dan membiarkan dia bahagia. Terlalu banyak kenangan dengan rambut ini, ucap Muti dalam hati.
Kapster langganan Muti menunggu dengan tenang. Ia tahu customer satu ini sedang galau dan menghadapi masalah besar.
“Nggak jadi motong?” tanya rekan Lidia.
“Habis ini,” jawab Lidia cepat.
Rekan Lidia menoleh saat mendengar helaan napas Muti yang berulang kali. “Kenapa dia?”
“Aku tebak sih patah hati.”
“Jangan ngasal.”
“Dia minta potong pixie.”
“Oh, padahal rambutnya bagus gitu lho,” celetuk rekan kerja Lidia. “Siapa yang menyakiti, ya? Aku kok sayang lihat rambut itu dibabat gitu aja.”
“Aku juga sayang motongnya.”
Bagaikan rahasia umum di salon ini. Jika ada seorang pelanggan wanita tiba-tiba datang dan minta potong pendek, besar kemungkinan ia sedang patah hati.
Lidia melangkah dengan berat hati mendekati Muti. “Sudah siap?” ucap wanita itu, lalu menekan bibir agar terlihat seperti tersenyum.
“Sudah,” jawab Muti lirih.
“Kita potong di atas bahu dulu ya, baru nanti keramas dan kita rapikan lagi,” ucap Lidia mengarahkan.
Anggukan kecil hadir dari Muti seolah menyetujui ide tersebut. Gadis itu sibuk mengatur napasnya begitu melihat gunting dan sisir di tangan Lidia mendekat.
Kapster berpengalaman itu membagi beberapa bagian rambut Muti sebelum benar-benar memotongnya. Mata Muti awalnya terus mengawasi arah gunting dari pantulan kaca. Jantungnya terasa kacau balau saat itu.
Muti menutup matanya.
Crik… crik…
Suara itu terdengar begitu nyaring di telinga Muti. Ia bisa merasakan helai rambutnya gugur ke depan. Matanya terpaksa terbuka. Benar, rambut itu terjatuh ke depan.
Air mata Muti terjun bebas mengikuti gugurnya rambut hitam itu. Sakit di dada Muti terasa semakin menyiksa. Gadis itu langsung membekap mulutnya agar tak ada suara yang keluar.
Rekan kerja Lidia sudah siap datang menawarkan tisu pada Muti. “Memotong rambut panjang memang momen emosional. Selalu terjadi pada customer kami,” ucapnya mencari alasan.
Gadis menerima beberapa lembar tisu itu dengan sukarela. Sementara rekan kerja Lidia meletakkan kotak tisu di depan Muti.
Crik… crik… crik…
Tak hanya air mata yang turun, kenangan tentang Bagas dan rambutnya ikut datang. Menekan kuat hati Muti.
“Rambutmu kayak sutra.” Pujian pertama dari Bagas saat SMP masih segar di ingatan Muti.
Bukan kali pertama ada orang yang menyentuh rambutnya. Tapi itu kali pertama hati Muti terasa hangat hingga membuatnya tersenyum sepanjang obrolan.
Bagas sering membelai lembut rambut-rambutnya jika ada kesempatan. Seolah itu sebuah keharusan saat berada di dekat Muti.
Crik… crik… crik…
Suara guntingan rambut itu terdengar semakin nyaring. Muti jadi ingat satu momen saat Bagas mengusap rambut dan mengarahkan ke depan.
“Jangan di potong deh, Mut.” Kata-kata Bagas itu begitu lantang di kepala Muti.
“Kenapa?” Pertanyaan yang sebenarnya Muti sesali tanyakan kala itu.
“Rambut panjangmu bagus dan aku suka. Jangan dipotong ya? Biarkan dia panjang dan tetap cantik.”
Saat itu kalimat Bagas terdengar bagai gulali dan membuat Muti kegirangan. Selain ayahnya, ternyata ada orang lain yang mengagumi rambut panjangnya. Dia terang-terangan mengatakan agar Muti tidak memotongnya.
Gadis itu ingat benar kalau dirinya mengangguk sambil tersenyum. Sekarang dia merasa betapa bodoh sikapnya.
Crik..
Tangan Bagas pernah menekan kepala sembari mengacak-acak sedikit rambutnya. Wajah pria itu hangat dan penuh senyum. Matanya begitu indah saat menatap Muti.
“Cieee, yang sudah lulus.”
Kalimat sederhana saat dirinya keluar dari ruang sidang skripsi ternyata masih terngiang.
Muti tidak menyangka kenangan itu muncul di saat ini. Ia kesal harus mengingat itu. Kepalan tangan Muti sudah memukul-mukul lembut dadanya. Seakan itu bisa meredakan rasa sakit di hati.
Crik… crik… crik…
“Cuma dua tahun, habis itu aku nggak akan ke mana-mana.” Kalimat terakhir Bagas sebelum dia bertolak ke luar negeri.
Wajah pria itu begitu dekat saat bicara. Saking dekatnya sampai Muti sempat berpikir kalau Bagas hendak menciumnya. Sementara tangan pria itu terus mengusap rambutnya, mata Muti tak bisa beralih dari tatapan Bagas.
Crik…
“... Aku akan pindahkan kol dari piringmu, seumur hidup.”
Muti masih ingat kalimat yang diucapkan Bagas di warung nasi padang beberapa waktu lalu. Janji yang terdengar begitu manis dan penuh harapan untuk Muti. Sejenak ia berpikir tak ada salahnya bersikap egois dan menjadikan Bagas eksklusif untuk dirinya saja.
Tapi kini, semua ingatan itu terasa menusuk dada saat kembali lagi. Perasaan yang Muti pupuk tanpa ia sadari seketika tak lagi hangat saat Muti melihat kedekatan Bagas dan Yola tadi.
Keakraban yang sangat janggal di mata Muti. Bersamaan dengan guyuran rasa sakit yang menyiksa hati, datang pula ingatan tentang janji di masa SMA.
Janji kepada orang yang merasa kehadiran Muti sebagai batu sandungan hubungan mereka. Janji yang mengikat ingatan, mulut, hingga batin Muti untuk mengemasi diri. Janji untuk mendukung kebahagiaan Bagas.
Janji yang kini terasa bagai ratusan tusukan jarum. Membuat Muti melakukan hal nekat memotong rambutnya. Sebagai simbol kerelaan melepaskan Bagas.
Sedari tadi Muti berdiri di depan pintu rumahnya yang masih tertutup. Dia bisa mendengar suara gaduh yang sangat ia kenal. Suara orang tua Bagas ada di rumahnya.
Gadis itu menatap layu gagang pintu. Pikirannya kosong, ia tak sanggup untuk berpikir lebih lanjut. Berulang kali ia mengatur napasnya. Rasa sakit saat menghela napas begitu mengganggu malam itu.
“Eh? Cari siapa ya, dek?” tanya Ratih sesaat setelah membuka pintu dan menemukan seorang asing sudah berdiri di depan pintu rumah.
Gadis di depannya mendongak perlahan, barulah Ratih merasa mengenalinya. Sosok itu sangat mirip dengan anaknya, Muti, tapi tanpa rambut panjang kebanggaannya. Ratih mencoba mengernyitkan mata untuk memastikan apa yang dia lihat.
“MUTI?!” seru Ratih dengan suara lantang.
Eva yang berdiri di samping Ratih ikut terkejut dengan suara temannya. Di saat dirinya masih memproses siapa sosok di depan mereka.
Tangan Ratih bergerak kebingungan di udara mendekati Muti. Ia hendak menggapai apa yang kini sudah hilang dan berakhir menangkupkan tangan di wajah anaknya. Tatapan anak gadisnya kosong.
“Kamu kenapa, Mut?” suara lembut Ratih terdengar bergetar.
Jemari Ratih meraih rambut Muti yang kini berakhir di sekitar rahang. Matanya sungguh tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Bahkan anak di depannya mewarnai rambut yang sedang ia pegang.
“Hmm? Aku potong rambut,” sahut Muti yang mencoba sedatar mungkin menjawab pertanyaan ibunya.
“Tapi kenapa?”
“Pengen aja,” jawab gadis itu lirih.
“Kenapa, Bu?!” Sosok Fariq muncul tergopoh-gopoh mengejar suara lantang sang istri. Dan menemukan pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. “MUTI?!” Kini giliran Fariq yang berteriak.
Tangan pria itu lemas terkulai saat melihat mahkota anaknya sudah hilang tanpa aba-aba. Gadis itu melirik sebentar dan tersenyum tipis menanggapi kekagetan Fariq.
“Kamu kenapa? Siapa yang melakukan ini? Kamu di bully atau gimana?” runtutan pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Fariq. Ia sangat menyukai rambut hitam anaknya. Tapi kini hilang, rasanya bagai patah hati.
“Kapster salon yang melakukannya,” jawab Muti. “Nggak ada yang bully aku, Ayah.”
“Tapi kenapa dipotong?” Suara Fariq masih belum mau lebih tenang. Candra yang berdiri di dekat Fariq menepuk bahu pria itu agar menurunkan suaranya.
“Pengen aja,” ucap Muti. “Akhir-akhir ini sibuk, aku rasa jadi makan waktu ngurusin rambut saja. Kalau pendek kan sat-set.” Gadis itu tak lupa menambahkan senyum meringis terbaik yang bisa ia buat.
BOHONG, seru Ratih dalam hati. Matanya tak lepas mengawasi ekspresi anaknya.
“Kenapa tiba-tiba banget?” tanya Fariq dengan suara makin lemas.
“Nggak tiba-tiba, kok. Udah lama aku pikirin. Pas aja tadi lewat salon,” jawab Muti. Empat orang dewasa di depannya tahu benar itu semua bohong. “Bagus kan, ya?” tanya muti canggung.
“Ba-Bagus-bagus saja, Mut.” Ratih menjawab otomatis ia tidak tahu harus membuat anaknya tenang atau membuat dirinya tenang terlebih dahulu. “Ya kan, Yah?”
“I-Iya, tetep cantik anak ayah,” jawab Fariq sedikit panik diberi pertanyaan mendadak.
“Bagas tahu soal ini?” tanya Eva.
“Kenapa Bagas harus tahu, ya, Tante?” sahut Muti. Gadis itu menoleh dan menatap tante Eva dengan pandangan kosong.
“Ya, kan biasanya…” Eva sedikit bingung menjawab pertanyaan Muti. “nggak, nggak, Bagas musti tahu. Tante hubungi..”
“Jangan!” seru gadis itu. Tangan Muti sudah sangat gesit menahan tangan Eva yang memegang ponsel. “Jangan… jangan kasih tahu Bagas.”
“Kenapa sayang?” bujuk Ratih sembari mengelus kepala Muti.
“Ya… Lihat ayah deh, Ma. Ayah aja heboh lihat aku potong rambut dan harus ditahan Om Candra.”
“Lalu? Hubungannya?”
“Ya kalau Bagas tahu, dia bisa lebih heboh lagi. Ini sudah malam. Dan Muti… Muti nggak siap.. Nggak siap kalau Bagas tahu… dan bikin keributan.”
Eva menatap Muti dengan segala sisa fokus yang ia miliki. Matanya terus mengerjap sepanjang gadis itu bicara.
“Maaf, Tante Eva,” ujar Muti dengan suara lembut sambil melepas tangannya. “Jangan hubungi Bagas. Muti nggak siap,” ulang gadis itu dengan senyum canggungnya di akhir.
Muti tak kuat lama-lama ditatap Eva, ia segera mengalihkan mata ke sang ibu. Tapi itu bukan solusi, Muti merasa sang ibu lebih bisa membaca isi hatinya. Ia segera mengalihkan pandang kepada sang ayah dan Om Candra.
Gadis itu merasa sama saja. Ia lemah dengan tatapan kecewa dan sedih sang ayah. Mulut Muti bergerak-gerak karena ia berusaha menemukan kata terbaik yang bisa dilontarkan.
“Anu, e… sudah malam,” ucap Muti yang bersusah payah bicara. “Muti permisi dulu… harus bersih-bersih… capek banget. Anu… maaf. Permisi,” kata gadis itu sembari bergerak masuk rumah dengan kepala tertunduk.
Keempat pasang mata mengawasi gadis itu berjalan menghilang. Melihat Muti tanpa rambut panjangnya terasa asing. Ditambah gelagat canggung yang makin mencurigakan.
“Dia itu nggak pinter bohong, ya?” celetuk Eva setengah berbisik.
“Iya,” sahut Ratih lirih. Ia menoleh dengan lirikan tajam kepada Eva. “Anakmu ngapain anakku?”
“Dia bahkan baru selesai meeting,” ucap Eva sambil menunjukkan bukti chat dengan Bagas.
“Nggak ketemu Muti?” tanya Ratih bingung.
“Enggak, dia jawab seharian belum benar-benar ketemu Muti. Cuma sempat lihat di mall dan ngobrol via chat saja tadi siangan,” jawab Eva.
“Kita bakal kasih tahu Bagas?” tanya Candra takut-takut.
“Nggak,” sahut Eva. “Aku takut Muti marah lagi, dia juga terlihat tidak stabil kan? Dan aku takut anak kita histeris.”
Chandra mengangguk setuju dengan pendapat istrinya. Meski dirinya agak canggung dengan situasi ini. Anak mereka pasti melakukan sesuatu pada Muti.
Ratih menghela napasnya. “Ayah, kali ini… sekali lagi… kita biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri, ya.”
“Sebentar, aku masih menelaah, aku masih nggak biasa lihat Muti dengan rambut bondol itu,” jawab Fariq lemas. “Tunggu, kamu yakin ini masalahnya sama Bagas? Bukannya tadi Eva bilang nggak ketemu.”
Fariq menoleh ke arah istrinya dan mendapati dua wanita itu melirik sinis padanya.
“Ya, jelas,” jawab Ratih.
“Siapa lagi,” tambah Eva.
“Tapi, korbannya rambut anakku,” ujar Fariq setengahnya ingin merengek.
Ratih sama frustrasinya dengan Fariq. Ia hanya bisa memijat kepalanya karena memang se-tidak-rela itu melihat Muti bondol.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!