Bab 01

Takdir Kadang Kelihatan Kejam, Tapi Lumayan Juga Sih…

3 dibaca

A

Versi suara

Dibacakan Dhita Asharry · 13 mnt

Dijual terpisah dari teks bab. Teks berjalan ikut tampil kalau babnya bisa kamu baca.

Nggak pernah sekalipun terlintas di kepala Raya, bahwa ini bakal jadi jalan hidupnya. Kaya ga make sense aja gitu. Seorang mahasiswi cumlaude lulusan UGM ini- harus menyungsepkan mimpinya buat kerja kantoran dan memilih pekerjaan yang nggak sesuai sama keahliannya. Dia kan anak sastra inggris ya, kalaupun ga kerja di kantor,minimal ngajar di sekolah inter lah. Tapi kerjaan yang satu ini? Bener-bener nggak masuk dalam list dream jobnya.

            “Mana 19 jutaaa lapangaaan kerja ituuuu!!!!!” teriaknya dalam hati. Sebenernya dia pengen bener-bener teriak sih, demo sekalian kalo perlu, tapi takut disangka gila, apalagi sekarang dia lagi berhenti di lampu merah bersama beat karbu andalannya itu.

            Kalau ada lomba ngelamar kerja, mungkin Raya lah pemenangnya dan kalau ada lomba ditolak lamarannya, nah Raya bakal jadi juara umum. Semenjak lulus, entah udah berapa ratus lamaran yang dia kirim, jawabannya selalu, mohon maaf Anda belum memenuhi kualifikasi kami… atau mohon maaf Anda over qualified untuk pekerjaan ini. Dia sendiri sampai bingung sebenernya perusahaan itu cari orang yang kaya apa sih?

            Gara-gara ditolak sana sinilah akhirnya Raya mulai mempertimbangkan bisikan-bisikan penuh goda dan gelora dari Luna, “Kayanya, bakal gue ambil deh.”


            Hari itu, seperti biasa, Raya keluar rumah, dan pergi ke balai kota untuk numpang wifi gratis. Nah di sana lah dia selalu kirim lamaran atau membaca penolakan-penolakan yang menyakitkan. Balai kota ini luas, ada satu masjid yang sepi di jam jam tertentu, sengaja Raya jadikan markas. Pokoknya Raya nggak mau kelihatan nganggur di rumah, malu dong sama Dion, yang dari pagi udah necis pake kemeja rapi dan pamit sama ibu, “Bu, Dion berangkat kerja dulu ya.” Nggak bisa, Raya juga harus pamit tiap pagi, meskipun kata-katanya, “Bu, Raya pamit cari kerja dulu ya,” prinsip hidupnya, nganggur itu Nasib kelihatan nganggur itu pilihan, dan dia ga mau kelihatan nganggur. Karena duitnya cekak, daripada nongkrong di kafe, Raya lebih milih ke masjid balaikota. Wifinya kenceng, gratis,dan kalau siang sering ada yang kasih sedekah makan siang. Iyah, semenyedihkan itu emang anak ini.

            “Lun, gue udah capek banget nih. Lu emang nggak punya info apaaa gitu. Jadi cleaning service di kantor lu gue juga mau deh. Asalkan gaji gue tetap. Gue jadi guru les gajinya segitu-gitu aja, mana kadang dicut off tiba-tiba lagi. Berasa jadi beban keluarga gue.”

            Luna, sahabatnya sedang mengetik laporan akhir tahun di sebuah bank sambil meladeni Raya yang mengeluh hampir tiap hari. Kadang dia juga heran kenapa dia bisa lebih beruntung dari Raya dan mudah mendapat pekerjaan, padahal dari segi otak nih, jelas lebih pinter Raya lah. Mungkin itulah kenapa ada pepatah, lebih baik jadi orang beruntung daripada orang pintar. Sebenarnya Luna juga kasihan dengan kondisi Raya, dan sebenarnya dia juga punya info kerjaan, tapi… Apa Raya mau?

“Gue ada info kerjaan sih Ya, tapi…”

“Nggak pake tapi-tapi, gue pasti mau!!!”

Sejurus kemudian Raya terdiam, “Eh tapi halal kan?”

“Halal laaah! Kalo mau kerja nggak halal mah dari dulu juga bisa, nggak usah nunggu desperate dulu.”

Raya tersenyum bangga di ujung telpon, senang karena temannya menjunjung tinggi integritas. Luna melanjutkan, “Lu tau bossnya mamah kan Lun?”

“Yang orang kaya itu?”

“Iya, yang rumahnya sering lu lewatin.”

“Oh iya, tau… Kenapa? Dia butuh admin?” Tanya Raya bersemangat, “Tenang, gue mah bisa jadi admin apapun juga. Tinggal sebutin aja kebutuhannya.” Luna menelan ludah, agak tidak enak hati mau menyampaikan.

“Eum…Dia butuh nanny, Ya.”

Dhuaaar, nanny? “Nanny… nanny babby sitter maksud lu?”

“I..iya.. Ya, tapi ini anaknya udah ga baby, udah kelas dua SD.” Sambung Luna.

Nanny? Sekali lagi dia merapal kata itu, ini beneran Luna nawarin gue jadi pengasuh anak? Batinnya. Dari semua pekerjaan di muka bumi, kenapa jadi nanny sih? Eh bentaaar, jangan marah dulu darling, bukannya Raya memandang sebelah mata kerjaan ini ya, semua pekerjaan bagus asal tidak merugikan orang lain, tapi, untuk dia yang sarjana, bukankah seharusnya ada pekerjaan lain?

“In this economy, Ya, kerjaan ini emang ga bisa dipamerin tapi gajinya lumayan banget loh.”

Kuping Raya bergerak gerak mendengar kata “gaji lumayan” ia ingin tau lebih, “Boss nya mamah tuh bukan orang sembarangan Ya, dia butuh nanny yang terlatih, sat set, bisa jadi pawang, dan jago ngajarin anak, yang daftar banyak, udah ada beberapa yang kerjasama, tapi …”

Perasaan Raya mendadak tidak enak, “Tapi apa?” Raya mendesak.

“Tapi… Kata mamah, anaknya kaya monster, makanya banyak yang nggak betah.”

Raya segera mencoret angan-angan dapat kerjaan tetap itu. Apalagi anaknya kaya monster, anaknya manis dan anteng kaya boneka aja dia bakal mikir seribu kali apalagi ini kaya monster. Kayanya ga baik buat mental health.

“Terakhir sih kata mamah, bossnya nawarin gaji 10 juta.”

Bagai tersengat listrik , Raya Kembali fokus demi mendengar kata 10 juta, “Sebulan?”

“Iya sebulan. Karena emang kerjaannya cukup complicated sih. Lu bukan Cuma nemenin dia main, tapi juga nemenin belajar. Lu kan lulusan sasing, nah pas banget berarti. Pelamar sebelumnya yang pada nggak bisa Bahasa Inggris aja diterima, nah ini kesempatan juga buat tawar menawar gaji. Coba deh lu ajuin 15 juta.”

Raya menimbang-nimbang, semua pekerjaan yang dia lamar tidak ada yang menawarkan gaji di atas 5 juta. Kerjaan ini , walaupun tidak masuk ke dalam list dream jobnya, nawarin gaji 10 juta, dan kemungkinan besar dia bakal diterima karena ada ordal alias mamahnya Luna. Oh iya, by the way mamahnya Luna di sana kerja sebagai orang kepercayaan Bu Rita mamanya si boss, jadi rekomendasinya pasti sangat diperhitungkan. Raya udah bisa membayangkan, kehidupan keluarganya bener-bener bakal terangkat kalau dia bisa menghasilkan 10 juta per bulan, syaratnya satu, nggak boleh ada yang tahu apa pekerjaannya!


Luna dan Raya paham banget sama sifat Bu Rindu, ibunya Raya. Sebagai PNS sejati, sebenernya Bu Rindu juga pengen anaknya mengikuti jejak karirnya itu. Kalaupun enggak, ya kerjanya harus di tempat enak lah. Jadi nanny, jelas nggak masuk daftar kerja enak yang diinginkan oleh Bu Rindu. Mereka juga yakin, mau dijelaskan pakai Bahasa apapun, Bu Rindu tetap bakal nganggep kerjaan nanny itu sama kaya kerjaan pembantu.

“Apaaa!!! Jadi pembantu? Susah-susah ibu kuliahin masa ujung-ujungnya jadi pembantu? Kalau Cuma mau jadi pembantu, nggak usah sekolah tinggi-tinggi!” Hiii, ngebayangin ibunya ngomong begitu aja udah bikin Raya gemeter.

Untuk itu lah malam ini lewat wa call, Raya dan Luna merencanakan strategi keluar dari rumah dengan cara seelegan dan se gak ketauan mungkin.

“Bu, Yaya keluar bentar ya.” Langkah Raya terdengar menuruni tangga.

Ibu Raya yang sedang mengulek sambel di dapur menyipitkan mata, tumben anak itu mau keluar malam-malam begini, “Ke mana, Ya?”

Sejenak Raya ragu, kemana ya? Yang jelas dia hanya ingin ngobrol dengan Luna di luar biar nggak kedengeran ibunya. “Ke alfa mo cari pembalut.”Jawabnya asal.

“Loh ibu masih punya itu di kamar.”

Aduh… alasan apa lagi ya, “Sama mau jajan bu, Ibu mau nitip nggak?”

Mata Bu Rindu langsung berbinar, “Mau dong, ibu nitip onigiri ya, yang rasa chicken mayo aja.” Raya tersenyum sambil mengacungkan dua jempol. Siiiip!!

Akhirnya Raya benar-benar pergi ke alfamart deh, lagipula di sana juga tempat yang tepat, di depan alfamart ada kursi yang disediakan untuk orang-orang beristirahat, atau sekadar kabur sebentar dari kehidupan seperti dirinya. Setelah membeli beberapa kebutuhan termasuk onigiri chicken mayo, Raya duduk di salah satu kursi. Ia segera memencet wa call Luna.

“Mekum Yaaaa!!!” Suara Luna terdengar bersemangat di ujung sana.

“Kumlam. Eh gimana nih, bantuin gue nyusun rencana dong.”Raya sudah tidak sabar.

“Oke, dengerin gue baik-baik.”

Raya pasang kuping, “Eh tunggu dulu, lagi nggak ada siapa-siapa kan di deket lu?”

Raya menyapukan pandangan, jarak terdekat ada abang-abang ngerokok, sambil main HP, “Ada sih, tapi gue nggak kenal.”

“Aduuuh dodol! Maksud gue nggak ada ibu atau adek lu kaaan?” Luna gemas sendiri pada temannya.

Raya nyengir, “Hehe oalah, nggak ada lah, ini gue sampe ngungsi ke Alpaaaa.”

“Oke, pasang kuping baik-baik!” Luna menginstruksikan lagi, “kalo lu jadi nanny di rumah Pak Ryan, lu ga bisa sembarangan pulang. Lu bakal tinggal sama keluarga mereka. Berarti, lu ga bisa ngaku-ngaku punya kerjaan yang sistemnya pulang pergi.”

Lah iya bener juga, “Gue sebagai temen yang totalitas tanpa batas ini, udah mikirin bangeeet apa yang harus lu lakuin agar supaya lu bisa kerja di sana, dan aman dari angkara murka ibu lu. Gimana, kalo lu ngaku keterima kerja di luar kota, di tempat gue kerja sekarang. Pertama, Ibu lu pasti bakal ngerasa aman karena senggaknya lu punya temen, terus karena kerja di luar kota, lu jadi ga perlu balik tiap hari kan? Gimana ide gue?” Luna menepuk nepuk dadanya sendiri, merasa bangga.

Raya mengangguk angguk, tumben otak Luna seencer ini, tapi tunggu dulu, “Nah, gue kan tetep kerja satu kota sama Ibu ya sebenernya, dan gue kan nggak cuma kerja dalem rumah dooong, pasti ada masanya gue diajak jalan-jalan, atau nganterin anaknya si boss, kalo gue ketemu ibu gimana?”

Luna segera menjawab karena hal itu sudah dia pikirkan, “Masker! Lu pake masker aja.” Luna melanjutkan, “Tapi gue jamin, kemungkinan lu ketemu sama keluarga lu tuh kecil, karena mereka nggak main ke tempat yang banyak rakyat jelatanya. Mereka punya waktu dan tempat sendiri yang nggak bisa dijangkau warga biasa.”

Benar juga, orang kaya tidak mungkin belanja di pasar becek yang sering didatangi ibu, atau piknik ke taman kota gratisan dengan mainan sederhana yang minim fitur keselamatan. Omongan Luna cukup masuk akal.

“Ok, masuk akal. Nah, sekarang gimana caranya supaya gue bisa keterima?”

Dari tempatnya berada Luna tersenyum lebar, “Besok, lu ditunggu di rumah Pak Ryan untuk wawancara! Inget, nego gaji. Menurut mamah kualifikasi lu udah melampaui peserta lain. Yang perlu lu lakukan Cuma mikir , gimana cara ngadepin Neo!”

“Neo?”

“Si Boss kecil!”

Raya memejamkan mata, mendadak rasa takut menjalar ke dada. Dia tidak yakin apakah bisa menghadapi boss kecil yang katanya seperti monster dan bikin nanny nanny sebelumnya nggak betah. Tapi, dengan gaji yang besar maka aka nada tanggungjawab besar. Raya sudah sangat siap membawa keluarganya menuju puncak kekayaan gemilang… ha ha ha!!!!

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk