Kartu Nama

0 dibaca

A

Elaine mengalami penghinaan setiap hari selama berbulan-bulan., Telepon yang memaki-maki, ancaman pembunuhan, dan pembobolan. Beberapa wanita benar-benar meludahi wajahnya saat mereka melihatnya.

Pria dewasa telah memukulinya dengan kasar dalam upaya melampiaskan rasa frustrasi mereka pada siapa pun yang terkait dengan papanya. Dua kebakaran secara misterius terjadi di apartemen lamanya. Media bahkan menuduhnya mengetahui tentang penggelapan itu. Ietapi bagaimana mungkin? Dia masih remaja.

Yang terburuk dari semuanya terjadi ketika tiga korban papanya bunuh diri ketika mereka mengetahui skala kerugian finansial mereka. Kematian mereka menghantuinya selama sisa hidupnya.

Itulah sebabnya dia menggunakan nama gadis mamanya. Menjadi Elaine Tanjung yang tidak mencolok jauh lebih mudah daripada menjadi Elaine Kanigoro, putri seorang yang diduga melakukan penipuan keuangan.

“Mungkin itu akan berubah,” kata Indra, menariknya dari pikiran pahitnya.

“Kuharap begitu.”

Ketika mereka selesai makan, Indra memesan dessert. Sementara mereka menunggu hidangan penutup tiba, Indra mencondongkan tubuh ke depan. Rasa ingin tahu yang tulus membara di matanya.

“Jadi, sudah berapa lama kamu menjadi desainer?”

Elaine berpikir sejenak.

“Setelah kupikir-pikir, aku selalu mendesainsejak kecil. Aku sudah membuat sketsa ide mode sejak masih SD.”

“Apakah kamu membawa karya sketsamu?” tanya Indra.

“Oh.”

Elaine tercengang karena Indra ingin melihat karyanya. Tercengang dan curiga.

Tidak diragukan lagi Indra punya alasan sendiri untuk menunjukkan minat pada karyanya, tetapi dia akan menurutinya. Elaine meraih tas jinjingnya untuk mengambil portofolionya.

“Aku punya portofolio sketsa lama. Sebagian besar akhirnya dibuat.”  Dia menyerahkan binder portofolionya.

Indra membuka binder untuk melihat karyanya. Jantung Elaine berdebar kencang ketika dia melihat Indra menilai sketsa-sketsanya. Entah mengapa, dia peduli dengan apa yang dipikirkan Indra. Itu lebih membuatnya takut daripada apa pun. Tidak masalah bahwa Indra telah dengan baik hati mengundangnya makan siang. Tidak masalah bahwa Indra telah begitu memperhatikan minatnya.

Pria itu tidak bisa dipercaya.

“Ini hasil karya yang mengagumkan,” kata Indra dengan antusias. “Jas ini memiliki kesan klasik. Seperti sesuatu yang diambil dari film hitam putih lama.”

“Itulah yang aku inginkan.”

Indra menatapnya dengan heran.

“Aku tumbuh besar dengan film-film lama dan aku suka memasukkan itu ke dalam desainku. Gaya seperti apa yang kamu sukai? Aku bisa tahu dari apa yang kamu kenakan bahwa kamu menyukai jas yang dibuat dengan baik.”

Indra mengenakan jas hitam berpotongan sempurna tanpa dasi. Bahannya terlihat menyatu, dan harganya sangat mahal.

“Sejujurnya, asistenku biasanya membeli jas desainer apa pun yang dikirim rumah mode kepadaku.”

Elaine menggigit bibir, membayangkan apa yang akan terlihat bagus dipakai Indra. Ketika ide terbentuk di kepalanya, dia mengambil buku sketsanya dari tasnya dan mulai membuat sketsa secepat yang dia bisa. Kemudian, dia mengambil beberapa pensil warna untuk menambahkan sedikit warna.

“Aku tahu hijau adalah pilihan yang berani, tetapi menurutku jas hijau tua akan cocok untukmu.”

Makanan penutup mereka tiba, tetapi Indra mengabaikan tiramisu yang menggoda dan mengambil buku sketsa Elaine.

“Ini luar biasa. Aku tidak akan pernah mencoba warna seperti ini.”

“Warna hijaunya cocok dengan matamu,” katanya lembut. “Ditambah lagi, kamu bisa menggunakan dasi berwarna cokelat untuk mengimbangi warna hijaunya. Warnanya berani, modern, maskulin. Mungkin sedikit mencolok.”

“Apakah kita masih membicarakan tentang jas?” Indra menyeringai.

“Jas itu adalah ekspresi dirimu,” kata Elaine, membalas senyuman Indra. “Aku ingin fokus tokoku pada desain prêt-à-porter kelas atas. Sambil juga memasukkan desain haute couture dan desain rancangan yang dibuat khusus. Mengenal klienku berarti mereka akan mendapatkan sentuhan pribadi yang tidak bisa mereka dapatkan di tempat lain.”

“Kamu tahu? Mempunyai desainer pribadi sendiri kedengarannya seperti ide yang bagus,” kata Indra.

“Aku akan mampu melakukan tugas itu kalau aku punya toko sendiri,” balas Elaine.

Senyum Indra memudar, memupuskan harapan Elaine. Misi ini adalah tentang membalas dendam papanya, tetapi dia punya impiannya sendiri. Impiannya untuk membuka butik mode miliknya sendiri adalah nyata. Selain itu, dia butuh alasan untuk berada di dekat Indra kalau dia ingin mengungkap rahasia keluarga Suryajaya. Tanpa alasan untuk berada di dekat Indra, tidak mungkin dia bisa membantu papanya membalas dendam. Dan sekarang sepertinya Indra akan menyampaikan kabar buruk kepadanya.

Indra mengembalikan buku sketsa Elaine, dengan ekspresi muram di wajahnya. “Aku akan menyampaikan dengan dengan jujur padamu, Elaine. Kami tidak bisa memberimu kredit.”

Hati Elaine mencelos.

“Oh, begitu.”

Dengan begitu banyak utang yang membebani pundaknya, dia akan beruntung kalau bisa membuka tokonya. Mantan pacarnya yang menyebalkan tidak hanya telah menggunakan kartu kreditnya secara maksimal, tetapi dia juga terlilit utang kredit mahasiswa. Program pertukaran pelajar ke sekolah desain di Italia telah menyempurnakan keterampilannya, tetapi dia telah menghabiskan banyak uang yang tidak lagi mampu dia lunasi sebagai utang.

“Jadi, tidak ada yang bisa kulakukan.”

Elaine mendesah dan memasukkan kembali barang-barangnya ke dalam tas jinjingnya.

Sepertinya keberuntungannya yang baru ditemukan itu sudah habis. Dia tidak akan pernah bisa membuka tokonya, dan tidak ada alasan untuk menemui Indra lagi.

“Mungkin ada sesuatu.” Indra menggaruk janggut yang baru tumbuh sehari di dagunya. Sulit untuk tidak meleleh ketika seorang pria setampan itu menatapnya dengan begitu penuh perhatian. Bibir Indra membentuk garis tegas ketika dia tenggelam dalam pikirannya. Pria itu memiliki jenis mulut yang jantan dan menarik, yang diciptakan untuk memberi perintah.

Untuk mencium wanita hingga takluk.

Tak dapat menahan diri, Elaine menatap bibir itu, bertanya-tanya bagaimana rasanya kalau menempel di kulitnya. Pria itu tampak seperti pencium yang hebat.

Oh, demi Tuhan! Berhentilah menatapnya seperti itu. Apakah kamu begitu haus kasih sayang sampai bernafsu sekali terhadap musuh bebuyutanmu?

Jengkel dengan dirinya sendiri, Elaine mengalihkan pandangannya dari Indra. Dia harus fokus pada tugas yang ada. Membuat keluarga Suryajaya membayar dan mengembalikan kejayaan keluarganya. Hal lain hanya akan mengalihkan perhatian. Ketampanan Indra Suryajaya dan ketertarikannya pada pekerjaannya sama sekali tidak ada hubungan.

“Aku akan berusaha keras untukmu,” tawarnya. “Kalau kamu dapat membuktikan bahwa mantan pacarmu bertanggung jawab atas sebagian utangmu, aku akan menjaminnya untukmu.”

Mendadak harapan kembali mencengkeramnya.

“Bagaimana aku bisa membuktikan bahwa dia bertanggung jawab?”

“Apakah kamu punya sesuatu yang ditandatangani atas nama kalian berdua?” tanya Indra. “Rekening bank bersama atau tagihan listrik bisa digunakan.”

“Apakah perjanjian sewa bisa digunakan?” tanya Elaine. “Aku dan mantan pacarku tinggal bersama sampai beberapa bulan lalu.”

Indra mengangguk. “Itu bisa digunakan. Dapatkan surat dari pengelola gedung yang menunjukkan nama-nama yang ada di perjanjian sewa. Itu tidak menjamin, tapi aku akan lihat apa yang bisa kulakukan kalau kamu membawa dokumen yang relevan.”

“Terima kasih.”

Elaine masih curiga kebaikan Indra adalah kedok untuk sesuatu yang lain, tapi ini adalah kesempatannya untuk bertemu dengannya lagi. “Aku sangat menghargai ini.”

Indra merogoh saku jasnya dan mengeluarkan dompetnya. “Ini kartu namaku,” katanya, mengulurkan kartu nama pada Elaine. “Aku tidak memberikan ini kepada sembarang orang, jadi gunakanlah dengan bijak.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk