Langit di atas Desa Karang Jagat tidak pernah benar-benar bersih. Kabut kelabu selalu menggantung rendah, seolah-olah awan sedang mencoba mencekik rumah-rumah kayu yang mulai melapuk dimakan usia. Di sudut paling sunyi desa itu, yakni pemakaman tua yang pepohonannya tumbuh bengkok ke arah barat, suara gesekan kayu dan tanah terdengar memekakkan telinga di tengah kesunyian dini hari.
Murni berdiri di sana, di atas gundukan tanah yang masih basah milik almarhum Pak RT yang baru saja dikuburkan kemarin sore. Tangan wanita paruh baya itu kotor oleh tanah hitam, kuku-kukunya pecah dan berdarah, namun ia tidak peduli. Dengan tenaga yang seolah-olah dipinjam dari entitas lain, ia menyentakkan nisan kayu jati yang tertancap kuat di kepala makam hingga terlepas dari liangnya.
“Jangan di sini, jangan di sini,” gumam Murni dengan suara serak, hampir seperti rintihan binatang yang terluka. Matanya melotot, menatap tajam ke arah lubang bekas nisan itu seolah-olah ia bisa melihat sesuatu yang merayap di bawah sana. “Kalian memberinya jembatan. Kalian memanggilnya naik!”
“Murni! Apa yang kau lakukan, hah?”
Teriakan itu membelah kabut. Haji Danu, sang Kepala Desa, melangkah maju dengan obor yang apinya menari-nari ditiup angin dingin. Di belakangnya, belasan warga desa mengekor dengan wajah yang menyiratkan perpaduan antara kemarahan dan ketakutan yang amat sangat. Cahaya obor menyinari wajah Murni yang pucat pasi, membuatnya tampak lebih seperti hantu daripada manusia hidup.
“Kurang ajar!” maki Haji Danu sambil menunjuk nisan yang kini tergeletak di tanah. “Sudah cukup kegilaanmu selama ini, Murni. Kematian Pak RT adalah duka bagi kami, dan kau malah menghina jasadnya dengan mencabut nisan ini? Kau benar-benar ingin kutuk menimpa desa ini selamanya?”
Murni tidak mundur. Ia justru memeluk nisan kayu itu dengan erat, mengabaikan tanah yang mengotori bajunya yang sudah compang-camping. “Haji tidak mengerti,” tangisnya pecah, air matanya menyapu debu di pipinya yang cekung. “Ini bukan nisan, ini kunci. Kalian memasang pasak di atas jantung yang salah! Dia akan bangun jika kalian terus menindihnya dengan simbol-simbol palsu ini!”
“Bawa dia!” perintah Haji Danu tanpa memedulikan racauan Murni. “Ikat di balai desa. Besok kita putuskan bagaimana menangani perempuan pembawa sial ini.”
Arga, yang berdiri di barisan belakang warga, hanya bisa terdiam melihat pemandangan memilukan itu. Sebagai pemuda yang baru kembali dari kota setelah menyelesaikan studinya, ia sulit memercayai takhayul yang menyelimuti desa kelahirannya. Namun, ada sesuatu dalam sorot mata Murni—sesuatu yang bukan sekadar kegilaan, melainkan ketakutan murni yang sangat logis. Arga memperhatikan lubang nisan yang ditinggalkan Murni; ada uap tipis berwarna keunguan yang keluar dari sana, berbau anyir seperti daging yang membusuk berabad-abad, namun tampaknya hanya dia yang menyadari hal itu.
Malam semakin larut ketika Arga memutuskan untuk tidak pulang. Rasa penasaran yang membakar logikanya menuntunnya kembali ke pemakaman setelah warga bubar dan Murni diseret paksa. Ia menemukan Murni telah melarikan diri—mungkin ikatan di balai desa tidak sekuat ketakutannya. Dengan bantuan senter kecil, Arga mengikuti jejak kaki telanjang yang tertinggal di tanah lembap, hingga ia sampai ke sudut terjauh pemakaman, tempat di mana nisan-nisan tidak lagi memiliki nama dan hanya berupa bongkahan batu lumutan.
Di sana, di depan sebuah makam tanpa nama yang tenggelam di balik semak berduri, Murni sedang bersimpuh. Ia tidak lagi mengamuk. Ia menangis tersedu-sedu, jemarinya membelai tanah dengan lembut seolah sedang menenangkan seorang bayi yang gelisah.
“Kenapa mereka tidak mau mendengar, Arga?” tanya Murni tanpa menoleh, seolah ia sudah tahu pemuda itu ada di sana sejak tadi.
Arga melangkah mendekat dengan hati-hati. “Murni, apa yang sebenarnya kau cari? Warga sangat marah. Mereka pikir kau gila karena mencabuti nisan-nisan itu.”
Murni menoleh perlahan. Sinar senter Arga menangkap pantulan ketakutan di pupil matanya yang melebar. “Nisan-nisan itu bukan untuk menghormati yang mati, Arga. Para tetua desa, termasuk Haji Danu, mereka menggunakan nisan itu untuk menyegel korban-korban mereka. Puluhan tahun lalu, mereka mengubur orang-orang hidup-hidup sebagai tumbal agar tanah ini tetap subur. Tapi mereka salah menempatkan titik segelnya. Setiap kali mereka memasang nisan baru di tempat yang salah, mereka justru memperlemah kurungan mahluk yang ada di bawah sana. Tanah ini lapar, Arga. Tanah ini ingin muntah.”
Arga terpaku. Memorinya mendadak memutar arsip-arsip tua desa yang sempat ia baca secara sekilas di kantor kecamatan; tentang hilangnya belasan pemuda secara misterius pada tahun tujuh puluhan yang dianggap melarikan diri ke kota.
“Aku harus mencabutnya,” lanjut Murni dengan suara bergetar. “Aku harus membiarkan tanah ini bernapas agar dia tidak meledak dari dalam.”
Tiba-tiba, suara riuh rendah terdengar dari arah gerbang makam. Haji Danu kembali datang dengan massa yang lebih besar. Kali ini mereka membawa cangkul, palu besar, dan nisan-nisan yang tadi dicabut Murni.
“Pasang kembali semuanya!” teriak Haji Danu dengan nada otoriter yang tidak terbantahkan. “Tanam lebih dalam! Jangan biarkan mahluk gila ini merusak ketenangan leluhur kita lagi!”
“Jangan! Pak Haji, berhenti!” Arga mencoba berlari ke tengah kerumunan, menghalangi beberapa warga yang mulai menghantamkan palu untuk menancapkan kembali nisan kayu itu ke dalam tanah. “Murni benar! Ada sesuatu di bawah tanah ini! Aku mencium baunya!”
“Minggir, Arga! Kau sudah tertular kegilaan perempuan ini!” bentak Haji Danu seraya mendorong Arga hingga jatuh tersungkur.
Warga desa mulai bekerja dengan penuh semangat yang didorong oleh rasa takut. Satu demi satu, nisan-nisan yang dicabut Murni ditanam kembali ke dalam bumi. Setiap hantaman palu ke atas kayu nisan terdengar seperti dentang lonceng kematian. Murni hanya bisa menjerit histeris, menutupi telinganya dengan tangan yang gemetar hebat.
“Sudah terlambat,” bisik Murni, suaranya nyaris tenggelam oleh hiruk-pikuk warga. “Segel terakhir sudah terpasang di tempat yang paling salah.”
Tiba-tiba, bumi di bawah kaki mereka bergetar. Getaran itu bukan gempa biasa; itu adalah denyutan, seolah-olah ada jantung raksasa yang baru saja berdetak di kedalaman tanah. Suara tawa yang parau dan dingin seakan merembes keluar dari pori-pori tanah.
Arga melihat dengan ngeri saat nisan-nisan yang baru saja dipasang dengan kuat mulai bergoyang. Bukannya tercabut ke atas, nisan-nisan itu justru terisap ke bawah, seolah-olah ada tangan tak terlihat yang menariknya dari dalam liang lahat. Permukaan tanah mulai merekah, menciptakan retakan-retakan panjang yang mengeluarkan asap hitam pekat dan bau busuk yang menyengat.
“Apa yang terjadi?” teriak salah satu warga, menjatuhkan cangkulnya saat tanah di bawah kakinya amblas.
Dari balik rekahan tanah yang semakin lebar, terdengar suara yang membuat darah siapapun yang mendengarnya membeku. Itu adalah suara cakaran kuku-kuku panjang pada dinding batu dan kayu, diikuti oleh erangan yang tidak terdengar seperti suara manusia maupun hewan. Sesuatu yang sangat besar dan sangat lapar sedang berusaha memanjat keluar dari penjara bawah tanahnya.
Haji Danu berdiri mematung, wajahnya yang semula penuh kuasa kini berubah pucat pasi seputih kapas. Ia melihat nisan Pak RT tenggelam sepenuhnya ke dalam lubang gelap yang kini memuntahkan cairan hitam kental.
“Dia bangun,” bisik Murni dengan nada pasrah yang mengerikan. “Kalian baru saja membukakan pintunya.”
Jeritan pertama pecah saat sebuah tangan pucat dengan kuku-kuku hitam yang tajam muncul dari dalam tanah dan mencengkeram pergelangan kaki warga yang berdiri paling dekat dengan retakan. Desa Karang Jagat tidak lagi hanya diselimuti kabut; kini kegelapan yang sesungguhnya telah bangkit untuk menagih hutang masa lalu yang tak pernah lunas.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!