Bab 10 - Tim yang Tidak Diinginkan

0 dibaca

A

Bab 10: Tim yang Tidak Diinginkan


(Senin pagi. Pintu masuk Dungeon Simulasi Bawah Tanah.)

Udara di sini berbau tanah basah, belerang, dan sedikit aroma jamur yang sudah lama membusuk. Tempat ini lembap, gelap, dan yang paling penting: sama sekali tidak cocok untuk tidur siang.

“Siswa tahun pertama, berkumpul!” suara proktor akademi bergema di aula batu yang luas. “Tim telah ditentukan berdasarkan undian. Saat nama kalian di panggil segera masuk ke lorong yang ditunjuk.”

Aku berdiri di samping Lilia, tangannya meremas ujung jubahnya dengan gugup. Di sebelah kami, dua siswa commoner lain bernama Elian dan Mira memiliki raut wajah yang sama, pucat pasi.

“Tim 4: Victor Borisovich, Lilia Fernweh, Elian, dan Mira,” panggil proktor itu. “Masuk ke Lorong C.”

Aku menghela napas pelan. Setidaknya aku satu tim dengan Lilia. Dia tidak akan panik dan berlari sembarangan.

Tapi sebelum kami sempat melangkah, suara langkah kaki yang terburu-buru dan percaya diri mendekati kami.

“Hei! Kalian pasti Tim 4, kan?”

Aku menoleh. Yang berdiri di depan kami adalah seorang pria muda dengan rambut cokelat kemerahan yang diikat setengah ke belakang (half-up). Dia mengenakan jubah petualang yang terlihat terlalu baru, tanpa satu pun noda debu atau goresan. Matanya yang berwarna hijau zaitun menatap kami dengan tatapan tajam, tapi ada sedikit kebingungan di sana.

Di lehernya, tergantung sebuah kompas logam tua dengan ukiran rumit yang memancarkan aura sihir dengan samar.

“Aku Roderick. Roderick Van Der Berg,” katanya sambil membusungkan dada dengan bangga. “Keturunan langsung dari anggota Hero Party yang legendaris. Aku ditugaskan di Lorong C juga.”

Lilia menelan ludah, sedikit membungkuk. “S-selamat pagi, Roderick.”

Roderick mengabaikannya, matanya menyapu Elian dan Mira dengan tatapan merendahkan, sebelum akhirnya berhenti di arahku. Senyumnya sedikit memudar.

“Dan kau... Victor, kan? Siswa beasiswa itu,” gumamnya, nadanya berubah datar. “Dengar, aku tidak butuh beban di timku. Leluhurku mengajarkan bahwa petualangan sejati adalah tentang keberanian dan kekuatan. Jadi, kalian bertiga cukup berjalan di belakangku. Jangan sentuh apa pun, dan jangan coba-coba menjadi pahlawan.”

Aku menatapnya dengan tatapan kosong. Beban? Aku bahkan tidak berencana untuk bergerak dari tempat aman.

Di dalam kepalaku, suara itu bergema.

“Deteksi resonansi artefak tingkat rendah,” nada klinisnya diwarnai sedikit nada merendahkan yang khas. “Alat pelacak kuno. Efisiensi: 40%. Subjek di depanmu mengandalkan nama besar leluhurnya, bukan kompetensinya. Spesies ini sungguh tidak efisien dalam mewariskan pengetahuan.”

Diamlah, batinku, sambil menatap kompas di leher Roderick. Dia membawa artefak penunjuk arah. Dan dia adalah keturunan Hero Party. Ini pertanda buruk.

“Kau dengar aku tidak, Victor?” Roderick mengetuk-ngetuk kompas di dadanya. “Alat ini akan menuntunku ke harta karun dan monster tingkat tinggi. Aku akan menjadi bintang di ujian ini. Kalian cukup menjadi porter untuk membawa barang-barangku.”

Aku menatap kompas itu lagi. Aura sihirnya berdenyut lemah, tapi ada sesuatu yang aneh. Denyutannya tidak stabil.

Roderick tidak tahu cara menggunakannya, batinku, menyadari fakta yang mengerikan. Keluarganya hanya mewariskan bendanya, tapi tidak mewariskan ilmu cara mengkalibrasinya.

“Baiklah,” jawabku datar sambil menguap pelan. “Kami akan berjalan di belakangmu. Asal kau tidak tersesat.”

Wajah Roderick memerah karena marah. “Tersesat?! Aku tidak akan pernah tersesat! Kompas ini adalah peninggalan suci!”

Dia berbalik dan berjalan masuk ke Lorong C dengan langkah tegap, jubah barunya berkibar-kibar. Lilia, Elian, dan Mira mengikuti dengan langkah ragu-ragu.

Aku berjalan paling belakang, merogoh saku. Jari-jariku menyentuh bungkus cokelat batangan.

Pekerjaan tambahan. Lagi.

Aku tidak hanya harus bertahan hidup dari monster di dungeon ini. Aku juga harus bertahan hidup dari kebodohan seorang pahlawan wannabe yang bisa saja mempercepat jadwal kiamat hanya karena dia tidak tahu cara membaca kompas.

“Analisis risiko: tinggi,” bisik The Observer di kepalaku. “Saran: Jaga jarak minimal lima meter dari subjek Roderick.”

Saran yang bagus, batinku, sambil merobek bungkus cokelat dengan gigi. Tapi aku rasa jarak lima meter tidak akan cukup untuk melindungiku dari kekacauan yang akan dia buat.


--

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk