Bab 01

Malam di Pelabuhan Armbriel

1 dibaca

A

Angin laut meniup kabut tipis yang merayap di atas dermaga kayu Pelabuhan Pulau Armbriel. Gemericik air yang menghantam tiang-tiang penyangga dermaga menyamarkan langkah-langkah kaki yang bergerak cepat di balik kegelapan. Malam itu, Pulau Armbriel tampak tenang dari kejauhan, tetapi atmosfer di sekitar garis pantai terasa sangat mencekam. Lampu-lampu kota yang redup terpantul di permukaan air yang hitam, menciptakan bayangan samar yang bergoyang mengikuti gelombang. Di tengah keheningan pelabuhan, berdiri sebuah kapal pesiar megah bernama Silver Wave. Kapal mewah berlantai lima itu bersinar terang bagaikan perhiasan raksasa di atas air. Gelak tawa, dentingan gelas kristal, dan alunan musik instrumental terdengar samar-samar dari aula utama di lantai atas. Para penumpang kaya, bangsawan lokal, dan pebisnis antardimensi sosial sedang menikmati pesta malam bertema perak yang sangat megah. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa di balik kemewahan tersebut, bahaya besar sedang mengintai dari balik kabut.

Di balik tumpukan peti kemas yang terlantar di sudut dermaga, belasan sosok berpenutup muka mengamati Silver Wave dengan mata tajam. Mereka adalah anggota kelompok bajak laut Black Rose, kawanan perompak paling ditakuti di perairan selatan. Pakaian mereka yang serba hitam dan berhiaskan lambang mawar tengkorak membuat mereka menyatu sempurna dengan bayangan malam. Senjata tajam dan pistol rakitan tergantung rapi di pinggang masing-masing anggotanya, siap ditembakkan kapan saja. “Semua posisi sudah siap, Kapten,” bisik seorang anak buah bertubuh kekar sambil menggenggam tali jangkar dengan kencang. Di barisan paling depan, berdiri Kapten Vance. Pria berwajah tegas dengan bekas luka melintang di pipi kirinya itu menyipitkan mata. Jubah hitamnya berkibar pelan tertiup angin malam yang dingin.

Matanya yang berwarna keperakan menatap tajam ke arah geladak Silver Wave. Vance mengangguk pelan, memberikan sinyal yang telah mereka rencanakan sejak berhari-hari lalu. “Bergerak sekarang. Jangan ada suara sampai kita berhasil menguasai ruang kemudi,” perintah Kapten Vance dengan suara berat dan dingin. Tanpa membuang waktu, kelompok Black Rose bergerak cepat bagaikan bayangan. Mereka melempar jangkar bertali ke pagar geladak bawah Silver Wave dengan sangat presisi. Satu per satu anggota bajak laut memanjat lambung kapal yang licin dengan kelincahan luar biasa. Kapten Vance memimpin di depan, melompati pagar geladak tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Begitu berhasil menginjakkan kaki di atas kapal pesiar, Vance langsung melumpuhkan dua penjaga keamanan yang sedang bertugas di pintu belakang.

Pertarungan singkat terjadi tanpa henti. Sebelum para penjaga sempat menyalakan alarm atau mencabut senjata, anak buah Vance telah menyergap dan mengikat mereka di sudut lorong yang gelap. Kelompok Black Rose menyebar dengan sangat terorganisir. Sebagian bergerak menuju ruang mesin untuk mematikan sistem navigasi dan komunikasi, sementara sisanya mengikuti Vance menuju ruang kemudi dan aula utama. Hanya dalam hitungan menit, lampu-lampu utama kapal mendadak mati total, menggantikan kemewahan Silver Wave dengan kegelapan yang mencekam. Suasana tenang di dalam pesta seketika berubah menjadi kekacauan massal. Jeritan histeris para wanita dan teriakan panik para pria bergema di seluruh penjuru aula ketika pintu-pintu besi terkunci dari luar. Kapten Vance melangkah masuk ke aula utama dengan senapan terkokang di tangannya, diikuti oleh puluhan anggota Black Rose yang mengepung setiap sudut ruangan. “Selamat malam, Tuan dan Nyonya,” ucap Kapten Vance dengan nada dingin yang menggema di ruangan tersebut. “Mulai detik ini, Silver Wave berada di bawah kekuasaan Black Rose.” Kepanikan hebat langsung melanda seluruh isi aula kapal Silver Wave.

Jeritan ketakutan bersahut-sahutan, saling menimpa dengan suara barang-barang pecah saat para penumpang berlarian tanpa arah. Gelas-gelas kristal jatuh berkeping-keping di atas lantai marmer, sementara para bangsawan bersusah payah bersembunyi di balik meja-meja pesta yang terguling. Ketakutan membeku di udara; aroma anggur tumpah bercampur dengan keringat dingin orang-orang yang gemetar membayangkan nasib mereka. “Diam! Tutup mulut kalian semua!” teriak salah satu anak buah Black Rose bertubuh tinggi besar sambil menembakkan senjatanya ke udara. BANG! Suara dentuman keras menggema di dalam ruangan beratap tinggi tersebut. Seketika itu juga, jeritan Hisia perlahan menyusut menjadi isak tangis yang tertahan. Serpihan langit-langit berjatuhan di dekat beberapa penumpang yang meringkuk ketakutan. “Jangan ada yang bergerak atau mencoba menjadi pahlawan kalau masih mau melihat matahari besok!” bentak bajak laut itu lagi, mengarahkan moncong senjatanya yang masih berasap ke arah kerumunan. “Kami tidak butuh nyawa murah kalian! Kami hanya menginginkan seluruh perhiasan, emas, dan uang tunai yang kalian bawa malam ini!” Kapten Vance berdiri melipat tangan di tengah ruangan, mengamati para sandera yang ketakutan dengan tatapan dingin tak tersentuh.

Anak buahnya mulai bergerak mengelilingi ruangan dengan kantong-kantong kain besar, memaksa para penumpang melucuti cincin, kalung, dan barang berharga mereka. Di tengah situasi yang begitu menegangkan, ketika semua orang dewasa merayap ketakutan di lantai dan menyembunyikan wajah mereka, sebuah gerakan tak terduga terjadi. Sesosok tubuh kecil melangkah keluar dari balik bayangan pilar utama. Dia adalah seorang anak laki-laki yang diperkirakan baru berusia sekitar 13 tahun. Rambut pirangnya yang kusam dan agak berantakan menjuntai menutupi sebagian dahi, sementara pakaiannya tampak sederhana—sangat kontras dengan gaun dan jas mewah para penumpang lainnya. Namun, yang paling menarik perhatian adalah sepasang matanya. Mata berwarna kuning keemasan itu bersinar terang di tengah remang cahaya aula, tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut atau gentar.

Anak laki-laki itu melangkah maju secara sukarela, berjalan tenang melewati garis batas aman dan menghampiri para bajak laut yang sedang bersenjata lengkap. Kehadirannya membuat beberapa anggota Black Rose tertegun sejenak. Langkah kaki anak itu terdengar konstan dan berani di atas lantai marmer yang sunyi, menarik perhatian Kapten Vance. Anak laki-laki itu mendadak menekuk kedua lututnya dan berlutut tepat di hadapan Kapten Vance. Tanpa ada keraguan di wajahnya, ia mendongak dan menatap langsung ke mata keperakan sang kapten perompak. “Tolong izinkan saya ikut bersama kapal Anda,” pintanya dengan suara nyaring dan mantap yang bergema di seluruh aula. “Saya rela bekerja apa saja tanpa minta upah sedikit pun. Saya bisa memasak di dapur, membersihkan geladak setiap hari, atau mengerjakan tugas kasar apa pun yang kalian perintahkan.” Vance menatap anak di depannya dengan dahi berkerut.

 Senyum tipis bernada meremehkan muncul di sudut bibirnya. “Ini kapal perompak, Nak, bukan panti asuhan. Kami tidak menerima anak kecil yang cuma jadi beban.” “Saya tidak akan jadi beban!” seru anak itu cepat, masih bersikeras. Ia mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. “Tapi saya punya satu syarat... jika Anda mengizinkan saya bergabung.” Beberapa anggota Black Rose yang mendengar itu langsung tertawa terbahak-bahak. Seorang sandera bermuka pucat menawar syarat pada kelompok bajak laut yang paling ditakuti? “Satu syarat?” ulang Vance, alisnya terangkat sebelah. “Katakan.” “Perlakukan saya sebagai seorang gadis,” ucap anak itu polos. Keheningan mendadak melingkupi aula. Tawa para bajak laut terhenti seketika. Anak laki-laki berambut pirang kusam itu melanjutkan perkataannya dengan nada jujur tanpa kebohongan, “Saya tidak tahu siapa saya sebenarnya.

Anak itu berkata“Saya terbangun tanpa ingatan sama sekali—tidak tahu nama, dari mana asal saya, atau ke mana saya harus pergi. Amnesia total. Namun, entah mengapa... saya hanya ingin diperlakukan sebagai seorang gadis.” Lelaki bertubuh kekar di samping Vance meludah ke lantai dengan raut wajah jijik. “Kapten, anak ini jelas-jelas tidak waras. Otaknya sudah geser! Biar saya selesaikan saja dia sekarang, tidak ada gunanya membuang waktu mengurusi bocah gila!” Ia menarik pedang panjang dari sarungnya, siap menebas leher anak itu. Anggota Black Rose lainnya turut bersorak setuju, menantikan darah pertama menetes malam itu. Namun, Vance hanya diam. Pria berwajah tegas itu berdiri membisu, menatap dalam-dalam ke arah sepasang mata kuning keemasan yang tetap tenang meski mata pedang yang tajam sudah terangkat di atas kepalanya. Vance belum memberikan perintah apa pun. Kapten Vance masih berdiri gemetaran kecil di tempatnya. Keheningan yang menegang di aula kapal Silver Wave perlahan pecah ketika dada pria berwajah tegas itu mulai naik-turun.

Sebuah tawanan tawa berat menggelegar keluar dari kerongkongannya, kian lama kian nyaring hingga menggema keras menerobos langit-langit aula yang megah. “HAHAHA! Seumur hidupku jadi kapten bajak laut, baru kali ini aku mendengar permintaan seaneh ini!” tawa Vance meledak lepas, membuat anak buahnya yang bersiap menebas leher anak itu mendadak tertegun dan menurunkan pedangnya dengan bingung. Vance menyapu jubah hitamnya, melangkah mendekati anak laki-laki yang masih berlutut di atas lantai marmer. “Tapi kurasa, laut memberikanku tantangan untuk menerimanya!” Anak buah Vance saling pandang dengan raut heran dan ketidakpercayaan, tetapi tak satu pun dari mereka yang berani menyela keputusan sang kapten. Vance menunduk, menatap dalam-dalam pada sepasang mata kuning keemasan yang bersinar redup di kegelapan malam.

Tatapan anak itu begitu kokoh, tanpa menyisakan sedikit pun celah keraguan atau ketakutan. “Berdirilah, Bocah,” perintah Vance dengan nada tegas yang menyimpan kepuasan tersendiri. “Kau bilang kau tidak ingat masa lalumu, kan? Siapa namamu, darimana asalmu, semuanya lenyap dari kepalamu. Karena kau ditemukan di tengah lautan dan memulai awal yang baru di kapal ini, mulai malam ini namamu adalah Marin.” Anak laki-laki itu mendongak perlahan, meraba dadanya seolah mencoba meresapi nama baru yang dipasangkan padanya. “Marin...” bisiknya pelan, lalu mengangguk mantap. “Ingat janji dan syarat anehmu itu, Marin,” ujar Vance seraya berpaling menuju ke arah pintu keluar aula, memunggungi para sandera yang masih ketakutan. “Di atas kapal ini, tidak ada tempat untuk pemalas. Kau akan bekerja keras sebagai koki, pembersih, atau apa pun yang kami perintahkan—dan kami akan memanggilmu sesuai keinginanmu. Sekarang bergerak! Ambil seluruh jarahan dan bersiap kembali ke Black Rose!” Dengan perintah tersebut, petualangan baru dimulai. Marin melangkah menembus kegelapan malam, meninggalkan kapal pesiar Silver Wave yang tenggelam dalam ketakutan, demi menapakkan kaki di atas geladak kayu Black Rose. Kehidupan barunya yang asing, penuh misteri, dan berbahaya di tengah luasnya lautan resmi dimulai.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk