Bab 01

Dua Botol Susu, Empat Koin

9 dibaca

A

Mereka menggantung satu pelangganku lagi hari ini.

Ia rutin membeli susu sapi setiap Senin. Baju abu-abunya kusam di bagian lengan dan aku lebih tahu kebiasaannya mengutip ayat alkitab daripada namanya. Gadis itu tinggal di ujung jalan, setelah berbelok ke kanan tepatnya di dekat gereja tua yang kerap aku kunjungi sesekali.

Sudah tujuh tahun aku membuka toko ini. Tidak besar, hanya cukup untuk menjual susu, tepung, telur dan sesekali selada saat kebun sedang murah hati.

Orang-orang datang dan pergi, meninggalkan jejaknya masing-masing. Rak paling atas masih miring karena seorang pemabuk yang kehilangan keseimbangan tiga tahun lalu. Lantai kayu selalu membawa pulang lumpur sepatu para petani, kadang ada aroma lavender yang bertahan lebih lama daripada pemiliknya, dan jika sedang beruntung ada pembeli yang meninggalkan uang.

Pagi tadi, sebelum matahari sempat menyentuh atap-atap rumah. Dua orang wanita datang membeli telur, jemari mereka sibuk memilah satu per satu sementara mulutnya tak berhenti bergosip soal perempuan bergaun abu yang telah digantung.

Noda di meja kayu ini menolak hilang, aku beralih ke tumpukan selada yang sudah tidak segar di bawah meja---masih dengan percakapan mereka yang mau tidak mau menjadi musik pengalun di pagi hari. Dari percakapan mereka aku jadi tahu bahwa gadis itu dibawa ke persidangan untuk dieksekusi.

Aku tidak pernah tahu ada persidangan, yang aku tahu susu yang kemarin dia beli belum dibayar. Dua botol.

Mereka membayar lalu berlalu begitu saja, meninggalkan telur-telurku yang tak lagi berada di tempat semula. Aku mengelap setiap permukaan telur itu sebelum akhirnya dikembalikan ke rak.

Aku kembali dengan selada di bawah meja yang sudah mulai layu, lalu mengambil beberapa lembar untuk dipisahkan dengan daun yang masih hijau. Kalau pun tidak terjual bisa digunakan untuk makan malamku sendiri .

Susu selalu menjadi pekerjaan yang merepotkan, krimnya mengendap jika dibiarkan terlalu lama, harus ku aduk menggunakan sendok kayu sebelum menuangkannya kembali ke botol-botol kaca yang sudah dicuci dan dikeringkan semalaman.

Sudah tujuh tahun aku melakukan hal yang sama. Tujuh tahun menyusun telur, memilah selada, mengaduk susu. Tidak banyak yang berubah kecuali orang-orangnya.

Ada yang datang hanya saat pertengahan musim, membeli semua persediaan susu dan telur hingga aku harus menutup toko lebih awal dari biasanya. Ada gelandangan meminta sepotong roti, tapi aku tidak jual roti--itu untukku sarapan makan siang, jadi aku mengarahkannya ke toko roti di dekat gereja.

Bagaimana pun juga aku selalu suka pelanggan yang datang sendiri-sendiri. Mereka datang, bayar yang mereka perlukan, kemudian pulang. Dua orang berarti percakapan, tiga orang berarti gosip, dan empat biasanya mendatangkan masalah baru.

Denting kecil bel memecah keheningan toko. Tanpa perlu menoleh, aku tahu ada pelanggan yang berkunjung. Ia berjibaku di rak telur yang tinggal tersisa separuh di rak kayu itu.

“Katanya besok ada sidang lagi”

Aku memisahkan sisa tepung di keranjang anyaman untuk stok besok pagi.

“Empat koin untuk dua telur”

Sepatu boots berlumpur milik pria itu maju lebih dulu dari perut buncitnya. Satu tangannya muat untuk menggenggam dua butir telur yang dia ambil. “Katanya jumlah penyihirnya lebih banyak dari yang kita kira.” Suara bas pria itu tak mau kalah beradu dengan langkah beratnya.

“Empat koin.”

Gerakan pria itu terhenti, menatapku lurus. Alis tebalnya berkerut tak suka, membingkai wajah yang mulai dimakan keriput tipis meski usianya belum terlalu tua. Ia merogoh saku baju, menaruh empat koin secara kasar di atas meja.

Koinnya dihiasi kerak lumpur. Mengingat kebanyakan pekerjaan masyarakat disini adalah petani, aku memaklumi. Suara berat langkah kaki itu beranjak keluar, decihan tipis masih dapat ku dengar sebelum akhirnya suara derit pintu yang ditutup kasar menggema di dalam toko.

Aku berhenti sejenak, mengamati jejak sepatu berlumpur di lantai yang baru kubersihkan beberapa menit sebelum pria itu masuk. Telur yang kembali menjadi tidak beraturan, bekas cap tangan di meja, dan aroma pekat tembakau yang melekat terlalu lama di ruangan.

Bersamaan dengan helaan napas, aku mengambil lap yang tergantung di sisi meja. Lumpur di lantai segera kubersihkan sebelum mengering, lalu bekas cap tangan di meja menjadi sasaran lap selanjutnya. Telur-telur menjadi yang terakhir aku sentuh, kotornya enggan kubersihkan---terlihat lebih manusiawi, setidaknya begitu.

Menjelang siang sudah tidak ada pelanggan yang berkunjung, aku memutar papan bertuliskan BUKA menjadi TUTUP sedikit lebih cepat dari hari biasanya. Persediaan telur tinggal tiga butir, susu sisa sebotol, selada sudah kuputuskan untuk menu makan malam, dan tepung hanya tersisa stok untuk esok hari.

Sebelum pulang aku memeriksa buku hutang, lusuh dan sedikit robek di beberapa sudut halaman. Tidak banyak halaman terisi, untuk minggu ini hanya tertulis dua orang yang masih belum membayar bagian mereka.

Nama perempuan bergaun abu itu masih di sana---ditulis dengan pena yang hampir kehabisan tinta. Di baris bawahnya tertulis tanggal dan hari saat wanita itu mengambil kebutuhan pokoknya di toko ini.

Dua botol susu.

Empat koin.

Belum dibayar.

Sekarang siapa yang akan bertanggung jawab dengan dua botol susu itu? Aku bergeming sebentar kemudian mengangkat pena, berniat mencoret namanya. Ujung pena hanya meninggalkan goresan pucat sebelum tintanya benar-benar habis, aku mengurungkan niat dan menutup kembali buku hutang itu.

Aku baru akan membeli tinta untuk pena di akhir pekan dan kematian seseorang tidak akan mengubah rutinitasku selama tujuh tahun terakhir.

Jalan pulang hanya membutuhkan beberapa menit, tidak terlalu jauh dari toko tempatku bekerja.

Melewati jalan yang sama selama tujuh tahun membuatku sadar bahwa tidak ada yang benar-benar bisa menyimpan rahasia. Sebelum pergantian hari semua orang sudah tahu siapa yang sakit atau gosip mengenai siapa yang bertengkar, dan siapa yang akan diadili esok hari.

Aku tidak pernah berpartisipasi dalam percakapan, jadi terima kasih pada pelanggan yang berkunjung ke toko---minusnya mereka menghabiskan lebih dari setengah jam untuk bergosip di dalam toko. Aku asumsikan mereka hapal tekstur telur yang mereka pegang satu persatu atau sidik jari mereka yang menempel, dari seladanya segar sampai menjadi layu.

Aku berjalan pulang seperti biasa. Menghindari jalanan yang sekiranya akan berlumpur karena kemarin sempat hujan malam-malam. Tidak banyak orang yang aku temui, itu adalah sesuatu yang bisa aku syukuri karena biasanya orang-orang akan berkumpul dan bergosip jika ada seseorang yang habis dieksekusi.

Aku sudah cukup banyak mendengar untuk hari ini.

Langkahku melambat, tepat saat melewati rumah wanita bergaun abu yang belum membayar dua botol susu. Rumahnya tidak jauh beda dari rumah lain yang pernah aku lihat di Salem. Dinding kayunya mulai kusam, beberapa papan melengkung dan lapuk karena dimakan usia. Rayap juga, mungkin.

Yang kuperhatikan justru selalu ada tumpukan kayu bakar di samping pintunya. Tak pernah berkurang bahkan saat musim dingin---musim dimana orang-orang kesulitan mencari kayu bakar yang masih kering.

Aku terkekeh pelan. Kayu bakarnya selalu lengkap. Dua botol susu itu, lucunya belum.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk