Sore itu, kamu merasa sangat lelah. Tumpukan pekerjaan di kantor dan deadline yang terus mendesak membuat semuanya terasa monoton. Namun, ada satu hal yang selalu kamu nantikan: kafe kecil di sudut jalan. Bukan karena kopinya yang enak, tapi karena barista bernama Dian.
Kamu masih ingat pertemuan pertamamu dengannya. Saat itu, kamu datang ke kafe seperti biasa, hanya ingin kopi dan ketenangan. Dian tersenyum menyambutmu, seolah tidak ada masalah yang bisa merusak harinya.
“Halo, Kak, mau pesan apa?” tanyanya riang.
“Iced Americano. Sedang,” jawabmu singkat.
Saat ia meracik kopi, Dian bertanya, “Kak, kamu percaya sama keajaiban?”
Kamu tersenyum kecut, “Keajaiban? Kayaknya enggak, deh.”
Dian tersenyum lalu sambil menyerahkan kopimu, dia berkata, “Menurutku, bisa bernapas aja itu sudah keajaiban, lho.”
Kamu hanya mengangkat alis, merasa aneh dengan ucapannya, tapi tetap mengangguk sopan. Dalam hatimu, napas bukanlah keajaiban. Kamu tidak punya waktu memikirkan hal seperti itu. Namun, senyumnya membuatmu merasa sedikit lebih baik. Dian terlihat imut dan menggemaskan dengan rambut diikat rapi dan celemek birunya. Matanya bercahaya, meski sedikit lelah, tetapi kamu tidak terlalu memikirkannya.
***
Sore itu, seperti biasa, kamu masuk ke dalam kafe dan langsung disambut oleh suara ceria Dian. “Hai! Iced Americano seperti biasa, kan?”
Kamu mengangguk sambil tersenyum. “Ya, tau aja,” candamu.
Dian tertawa kecil, senyum cerah itu lagi-lagi menghiasi wajahnya. “Namanya juga pelanggan favorit!”
Sore seperti ini terasa seperti rutinitas. Ada yang nyaman dalam obrolan singkat dengan Dian—hal sederhana, tapi cukup untuk membuatmu merasa hidupmu tidak sekaku itu.
“Jadi, kamu udah percaya keajaiban, belum?” tanya Dian.
Kamu terkekeh pelan, “Nanti kalau udah percaya, aku kasih tau kamu, ya!”
***
Sepekan setelah itu, kamu sibuk oleh pekerjaanmu. Perjalanan dinas ke luar kota selalu melelahkan. Setelah seharian penuh rapat dan presentasi, kamu akhirnya berdiri di tepi jalan, menunggu kendaraan online yang sudah kamu pesan. Malam itu udara terasa dingin, dan kamu hanya ingin cepat-cepat kembali ke hotel untuk beristirahat. Sambil melirik layar ponsel, memperhatikan pergerakan sopir yang masih beberapa menit lagi, kamu menghela napas panjang.
Saat kamu sibuk dengan pikiran sendiri, kamu mendengar seseorang memanggil namamu.
Kamu menoleh spontan. Suaranya begitu jelas, seolah berasal dari arah belakangmu. Naluri kamu langsung membuatmu mundur selangkah lalu selangkah lagi sambil mencari siapa yang memanggil. Anehnya, tidak ada siapa-siapa di sana. Kamu berkeliling, matamu menyisir jalan, tetapi jalanan masih kosong seperti sebelumnya.
Sebelum sempat memikirkan lebih jauh, sebuah mobil pick-up melaju kencang dan berbelok tanpa kendali. Kendaraan itu kehilangan arah dan menabrak trotoar, masuk tepat ke tempat kamu berdiri beberapa detik sebelumnya. Suara benturan keras terdengar, menghentikan seluruh aktivitas di sekitar.
Jantungmu berdegup kencang, menyadari jika tadi tidak bergerak, mungkin kamu sudah menjadi korban kecelakaan. Di tengah kebingungan, kamu teringat perkataan Dian tentang keajaiban. Sesuatu yang awalnya terasa tidak masuk akal kini menjadi sangat nyata. Siapa yang memanggilmu? Mengapa kamu selamat? Kamu merasakan bahwa apa yang terjadi adalah sebuah keajaiban.
Meski jantungmu masih berdegup kencang, ada keinginan untuk berbagi momen ini dengan Dian. Sayangnya, kamu tidak punya nomor ponselnya. Kalian hanya bertemu di kafe, berbagi obrolan ringan tanpa pernah bertukar kontak. Dalam hati, kamu berjanji. Begitu kembali, kamu ingin duduk di meja kafe biasa dan memberitahu Dian bahwa akhirnya kamu percaya keajaiban.
***
Sekembalinya ke kotamu, kamu ingat untuk mampir ke kafe sepulang kantor, tidak sabar untuk menceritakan semua yang terjadi.
Langkahmu terasa ringan ketika mendekati kafe. Pintu kaca itu mengayun pelan saat kamu masuk, tetapi suasana di dalam kafe tidak seperti biasanya. Tidak ada tawa atau sapaan ceria dari Dian yang menyambutmu. Dia tidak ada di belakang meja kasir dengan senyum ramahnya. Kamu menunggu sejenak, berpikir mungkin dia sedang di belakang. Dan setelah beberapa menit, barista lain yang belum terlalu kamu kenal datang menghampiri.
“Halo, Kak! Mau pesan apa?” tanya barista itu.
Kamu mengernyit bingung. “Dian enggak masuk hari ini, ya?”
Barista itu terdiam sejenak, lalu menatapmu dengan ekspresi yang agak muram. “Kakak pelanggan favoritnya Dian, ya?” tanyanya.
“Yah, bisa dibilang begitu,” katamu sambil menggaruk kepalamu yang tidak gatal.
“Um, belum dengar kabar ya?” tanya barista yang name tag-nya bertuliskan Ary.
“Kabar apa?” jantungmu tiba-tiba berdegup kencang.
Barista itu menarik napas panjang, seolah berusaha merangkai kata-kata yang tepat. “Dian meninggal tiga hari yang lalu. Dia sudah lama berjuang melawan penyakit kronis yang dia derita. Kami semua sedih, tapi… ya, takdir berkata lain.”
Kamu terpaku di tempat. Rasanya seperti udara di kafe ini tiba-tiba hilang, membuatmu sulit bernapas. Kamu berusaha mencerna berita duka sambil menatap ke arah meja kasir, membayangkan Dian berdiri di sana seperti biasa, tersenyum ramah padamu.
Keajaiban. Itu yang ingin kamu ceritakan padanya. Tentang bagaimana kamu hampir tertabrak, bagaimana nyawamu terselamatkan secara ajaib. Tetapi sekarang, kamu tidak akan pernah punya kesempatan untuk mengatakannya.
Kamu keluar dari kafe dengan langkah berat. Hujan gerimis mulai turun, membasahi jalan di depanmu. Dunia yang tadi pagi terasa penuh warna dan harapan, sekarang terasa hampa dan suram.
Kamu menatap langit, hujan semakin deras, membasahi wajahmu. Air mata yang kamu tahan akhirnya pecah. Di tengah rintik hujan, kamu menyadari bahwa mungkin keajaiban yang sebenarnya bukan hanya tentang sebuah mirakel yang menyelamatkan nyawamu di detik terakhir. Mungkin keajaiban itu adalah pertemuanmu dengan Dian—sesuatu yang singkat, tetapi bermakna lebih dari yang pernah kamu sadari.











