Bab 01

Cerpen - Perjalanan Pulang

3 dibaca

A

Dani turun dari bus dengan tergesa-gesa. Langkahnya yang terburu-buru hampir membuatnya terpeleset di aspal terminal yang masih licin oleh sisa hujan semalam. “Sial,” gumamnya sambil tersenyum kecut. Bukan Dani namanya kalau tidak memulai hari dengan kekonyolan. Di punggungnya, tergantung ransel besar yang penuh oleh-oleh. Ada baju batik untuk bapak, selendang cantik untuk ibu, dan tentunya sebuah kalung perak kecil untuk Aini, kekasih hatinya. Namun, yang lebih berharga daripada semua itu tersimpan rapat di saku jaketnya: sebuah cincin dengan batu Sapphire biru, batu kelahiran Aini, yang sudah lama Dani siapkan untuk satu momen istimewa.

Pandemi COVID-19 telah memisahkan Dani dari desanya di kaki Gunung Lawu, tempat ia dibesarkan. Dua tahun penuh ketidakpastian. Kota besar seperti Surabaya yang biasanya riuh oleh kehidupan, mendadak sepi dan terisolasi. Jalanan ramai berubah lengang, toko-toko dan kantor tutup, dan kebisingan klakson berganti suara sirine ambulans. Pemerintah memberlakukan pembatasan ketat, mengunci akses keluar-masuk kota. Bahkan, ketika Dani ingin pulang, selalu ada halangan: lockdown, pembatasan wilayah, atau ancaman kesehatan yang terus menghantui.

Bagi Dani yang paling menyakitkan adalah tidak bisa pulang ke desanya, tempat ia bisa mencium aroma tanah basah setelah hujan, dan, yang lebih penting, menatap mata Aini. Desa kecil Aini di kaki gunung, dengan udara yang sejuk dan pemandangan alam yang hijau, memiliki keindahan yang memeluk hatinya setiap kali ia pulang. Sayangnya, ada satu hal yang selalu menjadi keluhan: sinyal di desa itu seringkali seperti angin, hadir hanya sekejap lalu hilang. Komunikasi jarak jauh melalui telepon atau video call selalu terputus-putus, membuat mereka hanya bisa mengandalkan pesan teks.

“Aku baik-baik aja, kok. Jangan khawatir. Kalau pandemi selesai, kita rencanain semuanya, ya. Jangan terlalu lama di sana, aku tunggu kamu,” begitu isi pesan Aini yang selalu terngiang di kepala Dani. Singkat, tanpa keluhan, tanpa ungkapan rindu yang berlebihan. Dani yakin, di balik kata-kata itu, Aini menyimpan perasaan yang lebih besar.

Selama dua tahun, Dani dan Aini menjalani hubungan yang dipenuhi rasa rindu melalui pesan-pesan singkat yang dikirim di sela-sela pekerjaan. Setiap kata Aini selalu menenangkan Dani, seolah-olah Aini adalah pohon rindang tempat Dani duduk bersandar. Namun, ada yang mulai berubah. Pesan-pesan Aini belakangan ini terasa lebih pendek, lebih sepi, seakan menyembunyikan sesuatu di balik kelembutan katanya.

Surabaya, dengan segala kemegahannya, tak pernah benar-benar menjadi rumah bagi Dani. Bekerja di kota besar selama pandemi adalah perjuangan tersendiri. Ia harus beradaptasi dengan kebijakan bekerja dari rumah, tekanan ekonomi, serta kekhawatiran akan kesehatan. Setiap kali dia memikirkan Aini yang jauh di desa, hatinya selalu dipenuhi kerinduan yang mendalam. Dani mengumpulkan setiap rupiah dari hasil kerjanya, mengurangi pengeluaran harian, dan menabung untuk satu tujuan: membeli cincin Sapphire yang sempurna untuk melamar Aini. Cincin itu adalah simbol cinta yang abadi, seperti cinta mereka yang bertahan meski terpisah oleh jarak dan waktu.

Setiap malam, setelah bekerja, Dani menghabiskan waktu mencari cincin itu di internet. Toko perhiasan di kota banyak yang tutup, dan harga batu mulia melonjak karena ekonomi yang tidak stabil. Namun, Dani tidak menyerah. Cincin itu bukan sekadar perhiasan, melainkan janji yang ingin diwujudkan. Setelah berbulan-bulan mencari, Dani akhirnya menemukan cincin Sapphire yang sempurna—sederhana, tetapi sarat makna.

Setiap kali Dani menyentuh kotak kecil di saku jaketnya, hatinya berdegup kencang. Bayangan Aini yang tersenyum saat dia melamar selalu memenuhi pikirannya. Dani tahu, momen itu akan menjadi akhir dari penantian panjang mereka.


Di terminal, Dani segera mencari angkot yang akan membawanya ke desa Aini. Sopir angkot, seorang pria tua dengan senyum bijaksana, mengenali Dani. “Mas Dani, ya? Sudah lama enggak pulang?”

“Iya, Pak. Dua tahun lebih gara-gara pandemi,” jawab Dani, berusaha terdengar ceria meski hatinya dipenuhi rasa cemas yang samar.

Sopir itu mengangguk, lalu menambahkan sambil tersenyum, “Pacarnya Aini, ya?”

Dani tertawa kecil. “Betul, Pak. Saya bawa kejutan buat Aini. Udah lama nabung demi cincin lamaran.”

Namun, senyum sopir itu tak kembali. “Iya... udah lama, ya, enggak ketemu Aini?” Nada suaranya seperti angin yang berembus di antara daun-daun, menyampaikan sesuatu yang tersirat dan tak ingin terucap. Dani merasakan getaran halus di dadanya, firasat yang tak bisa ia abaikan.

“Iya, Pak, sudah lama. Tapi kami masih kontak-kontakan kok, kemarin kami masih berkabar.”

“Iya... iya... semoga semuanya baik-baik aja ya, Mas.” Kali ini, sopir angkot itu hanya menatap jalanan di depannya dengan pandangan kosong.

Dani merasa ada yang tidak beres. Kata-kata sopir itu terdengar seperti peringatan samar, tetapi ia menepisnya. Ini mungkin hanya kebiasaan orang tua di desa yang terlalu khawatir. Lagipula, Aini pasti baik-baik saja. Aini selalu menunggu Dani selama ini, bukan?


Di tengah perjalanan, serangkaian insiden konyol terjadi. Dani hampir kehilangan ranselnya di bagasi angkot karena lupa menurunkannya, membuat penumpang lain tertawa geli. “Ah, dasar ceroboh,” gumamnya, tersipu. Tetapi, tak ada yang bisa mengalihkan pikirannya dari Aini dan cincin di sakunya. Semua pengorbanan dan kesulitan selama pandemi akan segera terbayar lunas.

Sesampainya di desa, Dani menghirup udara pegunungan yang sejuk, tetapi ada rasa berat yang tak bisa ia singkirkan. Ia berjalan menuju rumah kayu sederhana milik Aini. Biasanya, Aini sudah menunggunya di depan pintu dengan senyum yang meneduhkan. Namun kali ini, pintu itu tertutup rapat, dan suasana sekitarnya terasa begitu sunyi, seolah-olah rumah itu telah lama ditinggalkan oleh tawa dan kebahagiaan.

Dani mengetuk pintu dengan perasaan campur aduk. “Assalamualaikum! Aini? Aku sudah sampai!”

Pintu terbuka pelan. Di baliknya berdiri Ibu Aini, wajahnya tampak jauh lebih tua dari yang Dani ingat. Wajah yang biasanya ramah kini dipenuhi kesedihan yang tak terucapkan. “Waalaikum salam, Dani,” jawabnya pelan.

Dani tersenyum canggung. “Bu, Aini ada di rumah?”

Ibu Aini tak langsung menjawab, hanya melangkah mundur, memberi isyarat agar Dani masuk. Di dalam, suasana rumah terasa dingin dan hening. Di atas meja kecil, Dani melihat foto Aini yang dihiasi bunga melati, tampak layu dan berwarna pudar.

“Aini mana, Bu?” tanyanya lagi, suaranya mulai bergetar.

Ibu Aini mulai menangis. “Nak, Aini sudah enggak ada. Dia... meninggal tiga bulan lalu.”

Seperti petir di siang bolong, kata-kata itu menghantam Dani. “Apa maksud Ibu...?” Suaranya parau, air matanya jatuh tanpa permisi.

Ibu Aini menyeka matanya, suaranya bergetar. “Aini sudah sakit sejak awal pandemi. Infeksi paru-paru yang parah. Dia enggak pernah mau bilang ke kamu, Dani. Dia tuh enggak mau kamu khawatir. Dia... meninggal tiga bulan lalu.”

Dani tertegun. Kata-kata itu ibarat gempa, menghancurkan seluruh harapan Dani dalam sekejap. “Tapi... pesan-pesannya?” suaranya serak, tak sanggup memahami kenyataan ini.

Ibu Aini mengangguk pelan, kesedihan tersurat di matanya. “Aini meminta kami mengirimkan pesan-pesan itu... setelah dia pergi. Dia enggak mau kamu sedih atau merasa kehilangan. Dia ingin kamu tetap merasa dia ada, meski sebenarnya... dia sudah tiada.”

Dani terduduk, merasakan seluruh dunianya runtuh. Cincin Sapphire yang ia bawa untuk Aini—batu kelahiran Aini yang penuh makna cinta—kini hanya menjadi simbol cinta yang tak sempat terwujud.

“Sebentar, ya. Ibu mau memberimu sesuatu,” kata Ibu Aini, meninggalkan Dani yang masih terpaku menerima kabar.

Ibu Aini menyodorkan sebuah kotak kecil dan menyerahkannya kepada Dani. “Aini meninggalkan ini buat kamu.”

Dengan tangan gemetar, Dani membuka kotak itu. Di dalamnya ada foto lama mereka berdua dan surat tulisan tangan Aini. Surat tulisan tangan Aini yang terasa begitu familier, sayangnya sekarang begitu menyakitkan untuk dibaca. Surat itu sederhana, penuh cinta, tapi setiap kata terasa seperti perpisahan yang tak pernah sempat diucapkan secara langsung.

”Dani, kalau kamu membaca ini artinya aku sudah enggak ada. Tenang saja, aku akan selalu ada di memorimu. Jangan pernah berhenti bahagia untuk dirimu sendiri, ya. Aku yakin banget kalau kamu akan pulang suatu hari. Aku pengin kamu membawa senyum dimanapun kamu berada, bukan kesedihan. Kamu udah berjuang keras selama pandemi ini dan itu membuatku sangat bangga padamu. 

Terima kasih atas kehadiranmu dalam hidupku. Sekarang, aku sudah bebas. Tidak ada sakit lagi, tidak tertahan pandemi. Aku akan menunggumu di tempat yang lebih baik. Sampai saat itu tiba, hiduplah dengan sebaik-baiknya. Aku yang menyayangimu,”

–Aini

Dani tak sanggup menahan air matanya. Surat itu, yang seharusnya menjadi penutup bahagia dalam perjalanan panjang ini, kini menjadi akhir yang paling tragis yang bisa ia bayangkan. Semua perjuangannya selama pandemi, menabung demi cincin Sapphire itu, berharap bisa melamar Aini di momen yang sempurna, ternyata sia-sia.

Ia membayangkan bagaimana Aini menulis surat ini, mungkin dengan sisa-sisa tenaganya, sambil tetap memikirkan Dani yang berada jauh di kota Surabaya. Dani merasa begitu marah pada dirinya sendiri karena tak menyadari tanda-tanda itu, karena tak bisa ada di sana saat Aini membutuhkannya.

Ibu Aini menatap Dani dengan penuh kasih. “Aini selalu bilang kalau kamu adalah cinta sejatinya. Sampai hari terakhirnya, dia hanya ingin kamu bahagia, Nak. Dia tidak pernah mengeluh. Bahkan ketika kondisinya memburuk, dia tetap tersenyum. Dia menunggumu, Dani, tapi dia tahu kamu mungkin tidak akan sempat pulang sebelum waktunya.”

Dani menggenggam surat itu erat, memejamkan matanya untuk menahan tangis yang semakin deras. Ia ingin marah pada dunia, pada keadaan, pada semua hal yang membuatnya tidak bisa pulang lebih cepat. Tapi di lubuk hatinya, ia tahu, Aini tidak pernah ingin dia menyalahkan dirinya sendiri. Bahkan di saat-saat terakhir, Aini hanya ingin Dani bahagia.


Di tengah sunyi sore yang merambat, Dani menatap langit yang perlahan berubah warna. Di dalam hatinya, hanya ada satu bisikan: cinta Aini akan selalu ada, meskipun `ia tak lagi bisa menyentuh atau melihatnya.

Cincin Sapphire yang seharusnya dia berikan pada Aini kini tergenggam erat di tangannya, menjadi simbol cinta yang tak pernah sempat diwujudkan. Bukan untuk hari bahagia yang dia impikan, tetapi untuk mengenang cinta tulus yang kini dipisahkan oleh kematian.

Dan di dalam kesunyian malam yang mulai menyelimuti, Dani hanya bisa berbisik perlahan pada angin yang berembus, “Aini, aku rindu... tunggu aku di sana, sampai tiba waktuku.”

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk