Hujan turun sejak sore.
Butiran air memukul atap seng rumah-rumah tua di Kota Aruna dengan ritme yang membuat jalanan cepat sepi. Orang-orang memilih berdiam di rumah, menikmati teh hangat atau sekadar mendengarkan radio tua yang masih bertahan dari zaman sebelum jaringan digital menguasai segalanya.
Namun tidak dengan Raka.
Pemuda berusia dua puluh tahun itu masih berjalan menyusuri gang sempit sambil membawa tas berisi buku-buku bekas. Ia baru saja pulang dari toko buku tua tempatnya bekerja. Toko itu kecil, berdebu, dan hampir tidak pernah ramai, tetapi Raka menyukainya.
Buku, baginya, selalu lebih menarik daripada manusia. Manusia sering berbohong. Buku hanya menyimpan apa yang dituliskan.
Saat melewati ujung gang, langkahnya terhenti. Di antara dua bangunan tua yang biasanya berdiri berdempetan, terdapat sebuah lorong yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Raka mengerutkan kening.
“Aneh.”
Ia tinggal di kota itu sejak kecil. Ia hafal setiap jalan, setiap tikungan, bahkan tembok yang retaknya menyerupai bentuk pulau. Namun lorong ini terasa asing. Lorong itu sempit dan gelap. Di ujungnya tampak cahaya kuning redup. Rasa penasaran mengalahkan logika.
Raka melangkah masuk. Semakin jauh ia berjalan, semakin sunyi suasana di sekitarnya. Suara hujan perlahan menghilang, seolah tertinggal jauh di belakang. Beberapa menit kemudian ia tiba di sebuah bangunan besar. Bangunan itu tampak seperti perpustakaan kuno. Pintunya terbuat dari kayu hitam dengan ukiran simbol-simbol yang tidak dikenalnya. Tidak ada papan nama. Tidak ada jendela yang memperlihatkan isi bagian dalam. Hanya ada satu kalimat yang terukir di atas pintu:
”Setiap buku di sini pernah ditulis. Kecuali satu.”
Raka membaca kalimat itu dua kali. Lalu tiga kali. Entah mengapa, bulu kuduknya berdiri. Dengan ragu, ia mendorong pintu. Pintu terbuka tanpa suara. Di dalam, ribuan rak menjulang tinggi hingga menghilang di balik kegelapan langit-langit. Lampu-lampu gantung melayang tanpa tali. Udara dipenuhi aroma kertas tua. Dan yang paling aneh, tidak ada seorang pun.
“Permisi?” panggil Raka.
Tidak ada jawaban. Ia melangkah di antara rak-rak. Judul buku yang dilihatnya membuat jantungnya berdebar.
”Sejarah Kota Aruna Tahun 2150.”
”Perang Laut Ketiga.”
”Kehidupan Raja Terakhir Benua Selatan.”
Semuanya terdengar seperti buku sejarah. Masalahnya, beberapa peristiwa itu belum pernah terjadi. Raka mengambil salah satu buku. Tangannya gemetar saat membuka halaman pertama. Isi buku tersebut menjelaskan kejadian-kejadian yang akan berlangsung puluhan tahun di masa depan dengan detail yang mengerikan. Ia segera menutupnya.
“Tidak mungkin...”
Suara langkah kaki tiba-tiba terdengar dari belakang.
Tok. Tok. Tok.
Raka berbalik. Seorang pria tua berdiri di sana. Rambutnya putih seluruhnya. Ia mengenakan jas panjang berwarna abu-abu dan membawa lentera kecil. Tatapannya tenang. Seolah ia sudah menunggu sangat lama.
“Akhirnya,” kata pria itu.
“Akhirnya apa?”
Pria tua itu tersenyum tipis.
“Akhirnya seseorang datang untuk membaca buku yang belum pernah ditulis.”
Raka menelan ludah.
“Buku apa?”
Pria itu mengangkat lentera dan menunjuk ke arah tengah perpustakaan. Di sana berdiri sebuah meja batu. Di atas meja itu terdapat sebuah buku besar berkulit hitam. Tidak ada judul. Tidak ada tulisan. Halaman-halamannya kosong.
“Itu,” kata pria tua tersebut.
“Buku itu sedang menunggu penulisnya.”
“Siapa penulisnya?”
Pria tua itu menatap langsung ke mata Raka. Lalu menjawab dengan suara pelan.
“Kamu.”
Raka tertawa gugup. Namun tidak ada sedikit pun tanda bercanda di wajah pria tua itu. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Raka merasa bahwa seluruh jalan hidupnya mungkin baru saja berubah.





