Saat membuka mata, Bima terkejut. Ia berada di tempat penuh kabut dan pepohonan tinggi yang kering. Anak sembilan tahun itu mulai panik. Rasa sesal menjalar sampai ke sumsum tulang. Bima hanya penasaran dengan buku tua bersampul kulit yang ia temukan di gudang Pak Herman, tetangganya yang galak dan eksentrik.
“Duh, gimana nih? Kenapa aku ada di tempat seperti ini? Tau gitu, tadi enggak usah buka buku aneh ini.” Bima masih menggenggam buku itu. Saat ingin melemparnya, ia mendengar suara yang sangat dikenalnya—guk guk! Itu suara Jago, anjing kesayangannya yang sudah meninggal setahun lalu! Dengan jantung berdebar, Bima berlari menghampiri suara itu, dan benar saja, di sana ada Jago, melompat-lompat gembira, seperti dulu.
“Jago! Aku kangen banget!” teriak Bima sambil memeluk anjingnya.
Jago menggoyangkan ekornya kemudian mengajak Bima berkeliling dunia aneh itu. Mereka bertemu arwah-arwah hewan lain, tetapi semuanya ramah dan baik!
“Kamu hepi di sini, ya? Mama marah enggak ya kalau aku enggak pulang?”
Jago menunjuk buku yang dipegang Bima dengan hidungnya, mengarah ke simbol bercahaya. “Oh, jadi ini jalan pulangnya!” pikir Bima.
Sekarang, Bima tahu caranya kembali ke dunia arwah dan bertemu Jago lagi kapan pun ia mau.













