“Sudah habis rupanya uangmu, ya?”
Sebaris kalimat tanpa permisi menempeleng hati Sarwiko yang baru saja menempelkan pantatnya di kursi. Diangkatnya kepala yang sedari tadi terasa berat. Tidak. Bukan sejak tadi.
Entah mengapa, semakin dekat dengan bangunan tua ini, kepala Sarwiko kian berat. Seolah beban jutaan kilo bergelayut mesra di atas kepalanya.
Lantas, ketika dilihat sosok yang kini berdiri di hadapannya, Sarwiko paham. Hela napasnya menjelaskan segala hal. Bukan siapa jua yang mampu memberi beban sedemikian runyam kepadanya. Hanya satu orang itu. Bapak.
Cepat-cepat diraih tangan berbungkus kulit keriput yang menggantung bebas di udara. Dicium tangan kasar renta itu penuh takzim.
“Bapak, gimana kabarnya?”
“Bawa apa kemari? Bawa masalah? Habis uang?”
Ditatapnya mata cekung dari lelaki 70 tahun yang setinggi telinganya. Sejumput bintik hitam hadir di sisi kanan dan kiri pria tua itu.
“Enggak apa-apa, Pak. Mau nengok Bapak aja.” Sarwiko menjawab lemah. Seperti yang biasa ia beri kepada lelaki itu.
“Nengok? Hampir lima tahun kamu pergi, sekarang kau bilang cuma nengok?”
“Iya, Pak. Wiko nengok Bapak. Maaf Wiko baru pulang sekarang.”
“Kalau sibuk, lekas pergi saja. Waktumu pasti berharga sekali, ‘kan? Bapak sudah cukup ditengok hari ini. Terima kasih.”
Ada bara menyala yang membuat pria 40 tahun itu bangkit dari kursi kayunya. Ada geletar dalam suara yang terlontar perlahan.
“Wiko salah banget, ya, sama Bapak? Sampe Wiko nengok aja, tetap diperlakukan begini?”
“Sudahlah. Kau yang enggak dewasa, enggak akan pernah ngerti sopan santun dan memperlakukan orang tua.”
Jemari Wiko terkepal sepenuhnya. Ada rasa tertahan yang menyalak minta dilepaskan.
“Enggak dewasa, ya, Pak? Wiko enggak dewasa, ya? Bapak bisa jelasin arti dewasa ke Wiko?”
Wajah pria tua di hadapannya menegang. Tidak ia sangka, putra yang lama meninggalkan rumah, berani membalas perkataannya.
“Tolong ajarin Wiko kalau memang Wiko enggak paham cara memperlakukan orang tua, Pak.
“Tapi, Wiko mau tanya. Apa Bapak sudah benar cara memperlakukan anak?”
“Kamu mau mengajari aku cara bersikap? Anak enggak tahu diri!”
Suara serak pria kesepian itu meninggi. Duda tua beranak satu itu memang hidup sendiri dalam rumah yang ia cicil dulu bersama mendiang istrinya. Apa daya, Sarwiko yang ia harap dapat menjaga di masa tua, malah memilih pergi bertahun-tahun lamanya.
“Bukan, Pak. Justru Wiko minta tolong ke Bapak. Tolong ajarin Wiko bersikap. Bersikap dingin ke anak. Bersikap enggak acuh ke anak.
“Tolong ajarin Wiko, cara mendidik anak tanpa perlu nanya, sebenarnya si anak kepengin apa. Tolong kasih tau ke Wiko, gimana caranya tutup mata dan telinga agar enggak peduli sama sakit dan perihnya anak demi mengejar ambisi orang tua.”
Lelaki tua itu mematung. Tubuhnya mengeras memandang sang putra yang mengejang bersama ribuan kata yang tak pernah ia dengar sebelumnya.
“Saat Bapak dengar kalau Wiko ingin masuk STM, apa yang Bapak bilang? ‘Jangan masuk STM! Hidupmu bakal susah. Masuk SMA saja—“
“Itu kan karena aku tau bagaimana pedihnya jadi anak STM dan tidak punya peluang karier sebaik kawan-kawanku yang masuk SMA!” Lelaki tua itu tidak terima. “Aku cuma tidak mau kau mengalami nasib sepertiku!”
“Iya, Pak. Wiko memang salah, Pak. Tidak seperti Bapak yang hebat. Bisa membaca masa depan dan berpikir bahwa dunia akan berputar persis seperti yang Bapak alami.
“Sama seperti ketika Wiko di SMA berencana ikut pertukaran pelajar ke Amerika. Tapi, apa Bapak bilang? ‘Tidak boleh! Jangan coba-coba berangkat!’
“Bapak tau? Padahal saat itu, bahkan Wiko belum ambil formulirnya. Wiko baru berandai-andai sambil bermanja dengan Bapak. Apa salah kalau anak manja-manja ke orang tuanya?
“Sayangnya, Wiko lupa. Bapak tidak pernah salah. Wiko yang selalu salah.”
Lelaki tua itu menunduk.
“Sewaktu Wiko bilang ingin masuk IPS, serta merta Bapak mengamuk. Bapak bilang, masuk IPA akan membuka peluang masa depan cemerlang.
“Wiko batal masuk IPS dan gagal mengejar kenikmatan belajar pelajaran yang sungguh-sungguh Wiko suka. Tapi enggak apa-apa. Bapak kan pasti benar.
“Maka, Wiko masuk IPA sesuai arahan dari orang yang tidak pernah tau apa itu jurusan IPA dan IPS karena tidak pernah masuk SMA.”
Suara parau terdengar dalam isak yang tersembunyi. “Aku mendengarkan kata-kata temanku, Nak. Aku cuma ingin yang terbaik untukmu—“
“Iya, Pak. Bapak memang hebat dalam mengarahkan. Wiko ikuti semua perkataan Bapak. Sampai akhirnya lima tahun kemarin, Wiko merasa cukup dengan semua itu.
“Wiko kepengin coba jatuh dan bangun tanpa bikin Bapak repot selalu mikirin Wiko dan mengeluarkan pendapat Bapak yang selalu benar. Mahabenar, bahkan.
“Makanya, di tengah kebangkrutan setelah di-PHK akibat ikutin perintah Bapak, Wiko keluar dari rumah. Lima tahun Wiko coba kejar apa yang Wiko enggak pernah berani ambil. Dan sekarang, hari ini, Wiko akhirnya tahu—“
Lelaki tua itu menangis. Tergugu dalam isak yang teramat menyayat.
“Akhirnya Wiko tahu, Pak. Meski seumur hidup Wiko ikutin apa kata Bapak. Meski seumur hidup Wiko turutin apa yang Bapak bilang untuk kebaikan Wiko, faktanya Wiko enggak pernah jadi baik di mata Bapak.
“Wiko akan tetap dianggap anak tidak tahu diuntung. Wiko di umur 40 tahun ini bahkan dianggap tidak dewasa. Karena belum nikah, kadang masih suka nonton anime dan kartun, masih senang dengar musik, kadang masih beli komik.
“Wiko sadar. Wiko enggak pernah bernilai buat Bapak.”
“Nak,” panggil lelaki tua itu sendu, “maafin Bapak, Nak. Bapak banyak salah sama kamu.”
Tangis dua orang bapak dan anak itu pecah seketika.
“Maafin, Bapak, Nak. Maafin Bapak.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!