Bab 01

Songfic - Rahasia Kehidupan

0 dibaca

A

Alena menatap pantulan dirinya di cermin dengan pandangan kosong. Ia menghela napas panjang, seolah mencoba mengusir bayangan masa lalu yang terus menghantuinya. Sejak kecil, Alena selalu merasa dirinya adalah anak itik jelek di tengah-tengah keluarganya yang penuh dengan angsa-angsa cantik. Saudara-saudaranya diberkati dengan kecantikan yang mempesona, sementara Alena merasa dirinya hanya seorang gadis biasa yang tidak memiliki daya tarik.

“Kenapa aku tidak bisa seperti mereka?” gumam Alena pada bayangannya sendiri.

Masa SMA-nya pun tidak lebih baik. Alena selalu merasa diabaikan oleh cowok-cowok di sekolahnya. Sempat naksir pada Timothy, cowok paling populer di sekolah, namun rasa itu hanya berakhir sebagai harapan yang tak pernah terucap.

“Hai, Tim,” Alena mencoba menyapa suatu hari, tetapi suaranya tertelan kerumunan.

Kehidupan Alena mulai berubah ketika ia memasuki semester keempat di universitas. Seorang senior yang juga aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa yang sama dengannya mulai masuk ke dalam kehidupannya. Fadil adalah definisi dari pangeran pada buku cerita dongeng sekaligus “Oppa Drakor” yang berkarisma. Bagaimana tidak, selain fisik menarik, Fadil juga anak orang kaya. Beberapa kemiripan cukup mencolok dengan Timothy, cinta monyet Alena dulu. Rasanya hal ini membuat Alena bingung dan terkejut.

“Alena, kamu ada waktu sebentar?” tanya Fadil suatu hari, menghampirinya di perpustakaan.

“Hmm, ada apa, Bang Fadil?” jawab Alena gugup, masih tidak percaya bahwa sosok pangeran seperti Fadil ingin berbicara dengannya.

“Aku ingin bicara serius. Aku suka sama kamu, Alena,” ucap Fadil dengan mata penuh kesungguhan.

Ketika Fadil menyatakan perasaannya pada Alena, gadis itu hanya bisa terdiam. Rasa insecure-nya kembali muncul, membuatnya merasa tidak layak untuk dicintai.

“Kenapa Abang bisa suka sama aku? Aku bukan siapa-siapa,” ujar Alena, suaranya nyaris berbisik.

“Karena kamu berbeda, Alena. Kamu tulus dan jujur. Itu yang membuatku tertarik,” jawab Fadil dengan senyum hangat.

Para pengagum Fadil tidak senang dengan sikap Alena. Mereka marah bukan karena cemburu, melainkan karena sikap Alena yang terlalu blak-blakan. Alena merasa dirinya tidak pantas untuk Fadil. Ia bahkan sampai menuduh Fadil sebagai player dan mempertanyakan motifnya.

“Apa Bang Fadil cuma main-main? Apa kamu cuma butuh bantuanku untuk mengerjakan skripsi?” tuduh Alena suatu hari dengan nada tajam. Ketampanan Fadil memang tidak sama levelnya dengan kecerdasannya. Bisa dibilang, mungkin saat pembagian otak, Fadil sibuk mengantre untuk ambil muka yang bagus sehingga lupa memilih otak yang berkualitas.

Fadil terkejut. “Alena, aku serius dengan perasaanku. Kenapa kamu selalu meragukan dirimu sendiri?”

Di tengah-tengah semua kekacauan dan kegalauan perasaan Alena, ada satu orang yang selalu ada untuk Alena, yaitu Dani. Dani adalah teman setia Alena yang selalu mendengarkan curhatan dan keluh kesahnya. Dani, seperti tipikal sahabat beda jenis kelamin, adalah cowok yang sebenarnya memendam rasa pada Alena.

Mereka bersahabat karena Dani juga memiliki rasa tidak percaya diri terhadap penampilannya. Tubuhnya pendek dibanding rata-rata cowok seusianya. Wajahnya juga cenderung kusam dan tidak terawat. Namun, ia selalu ada untuk Alena, memberikan dukungan dan dorongan.

“Dani, kenapa sih gue selalu merasa enggak cukup baik?” tanya Alena saat mereka duduk di kafe favorit mereka di dekat kampus.

“Karena elo tuh terlalu keras sama diri sendiri, Alena. Nih ya, elo tuh harus belajar mencintai diri lo apa adanya,” jawab Dani lembut.

Dani selalu mencoba untuk membuat Alena merasa lebih baik. Ia sering kali membuat lelucon untuk menghibur Alena.

“Jadi gini loh, Len,” kata Dani suatu hari, dengan nada bercanda. “Fadil tuh enggak minta elo buat mecahin teori fisika kuantum. Apalagi buat nge-joki-in tugas skripsinya. Dia tuh cuma pengin ngajak lo ngopi cantik, Shaayyy.” Dani menjentikkan tangan kirinya dengan gaya slay.

Alena tidak bisa menahan tawa. Humor Dani selalu berhasil membuatnya merasa lebih baik.

“Makasih, ya, Dani. Lo tuh tau aja gimana caranya bikin gue merasa lebih baik,” kata Alena sambil tersenyum.

Seiring berjalannya waktu, Alena mulai membuka diri pada Fadil. Ia mulai melihat Fadil bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai seseorang yang tulus mencintainya. Dengan dukungan dari Dani, Alena mulai menerima dirinya dan merangkul keindahan yang ada di dalam diri dan hidupnya.

Pada suatu hari setelah UAS berakhir, Alena akhirnya menerima perasaan Fadil. Ia merasa gugup, namun juga bahagia.

“Bang Fadil, aku... aku juga suka sama Abang,” ujar Alena dengan pipi yang memerah.

Saat mereka berjalan bersama di area parkiran kampus, Alena melihat Dani dan tersenyum seraya melambaikan padanya. Dalam hati, Alena merasa berterima kasih pada Dani yang selalu ada untuknya.

***

Hubungan Alena dan Fadil semakin erat. Mereka semakin dekat dan cinta mereka semakin kuat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, berbicara tentang mimpi dan harapan mereka.

“Alena, apa impian terbesarmu?” tanya Fadil suatu sore ketika mengantar Alena ke rumah.

“Aku ingin membuka kafe yang bisa menjadi tempat bagi orang-orang untuk berbagi cerita dan mimpi mereka,” jawab Alena dengan mata berbinar.

Hal itu diceritakan Alena pada Dani saat mereka bersama. “Serius, Daniiii! Bang Fadil sampe nanya soal impian gue. Dan elo tau? Bang Fadil itu juga tipenya nanti kalau udah lulus, dia enggak mau kerja kantoran. Bisa aja nanti kita usahain buat bikin bisnis sendiri.” Suara Alena begitu bersemangat dan penuh kebahagiaan.

Namun, di balik kebahagiaan itu, ada rasa pahit yang dirasakan oleh Dani. Ia merasa sedih karena cintanya pada Alena tidak pernah terbalas. “Kayaknya kalian udah serius, ya? Hehehe, jangan-jangan bentar lagi married nih!” Dani meledek meski ada rasa tercekat dalam tenggorokannya.

“Yaaaa… doain aja, Dan. Gue sih yakin sama Fadil. Setelah wisudanya Fadil, kayaknya gue bakal tunangan, deh.”

Potek hati gue, Len, pikir Dani sedih. So much for being your best friend. Rasanya kalau bisa, Dani ingin selamanya menjadi sahabat dan pelindung bagi Alena.

“Terima kasih, Dani,” bisik Alena dengan suara lirih. “Kalau bukan karena elo, mungkin gue akan jadi orang yang melewatkan Bang Fadil dengan segala kebaikan hatinya. Bisa jadi juga, gue ngelewatin jodoh gue, ahahaha...” Terdapat sedikit nada getir dalam tawa Alena

Dani tersenyum, meski hatinya terasa sakit. “Kan gue bilang, lo tuh pantas mendapatkan semua kebahagiaan di dunia, Alena,” jawabnya dengan suara lembut. Meski bukan sama gue, lanjutnya dalam hati.

***

Waktu berlalu, Fadil sudah lulus kuliah dan pertunangan Fadil dan Alena dilaksanakan beberapa bulan setelah wisuda. Fadil dan Alena beserta keluarga juga sudah sering berbicara tentang masa depan mereka, termasuk tentang impian dan harapan. Hingga suatu hari, Fadil mengajak Alena ke tempat yang istimewa.

“Alena, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu,” kata Fadil sambil menggenggam tangan Alena.

Mereka pergi menuju sebuah area tempat sebuah bangunan tua yang tampak tak terawat. Beberapa bangunan tua dan ruko di sekitarnya pun seperti terabaikan. Suasana sekitarnya seperti yang ada dalam film klasik; asri, sederhana, jauh dari hiruk pikuk dan keramaian kota. Meskipun demikian, Alena merasa ada sesuatu mengenai bangunan itu yang membuatnya merasa hangat dan nyaman.

“Ini adalah tempat yang akan kuusahakan untuk kubeli demi mewujudkan impianmu, Alena. Aku pengin kita membuka kafe di sini,” ujar Fadil dengan senyum lebar. “Tentunya setelah kita menikah,” tambah Fadil.

Alena terkejut dan terharu. “Bang Fadil, ini beneran?! Aku enggak nyangka Bang Fadil sampe kepikiran begini.”

***

Pernikahan Alena dan Fadil dilangsungkan secara sederhana meski keluarga Fadil lebih dari mampu untuk mengadakan pesta besar. Baik Alena dan Fadil sudah berencana untuk fokus dalam bisnis mereka, tentunya dengan bantuan orang tua Fadil.

Semua hal yang terasa mudah bagi Alena menyisakan rasa tak percaya dalam benaknya. Alena kerap kali mengenyahkan pikiran negatif tentang hal yang menurutnya too good to be true. Hidup memang penuh dengan liku-liku, tetapi Alena kini percaya bahwa setiap liku adalah bagian dari perjalanan yang indah. Dan setiap akhir adalah awal dari sesuatu yang baru dan menakjubkan.

***

Alena dan Fadil mulai bekerja sama untuk merenovasi bangunan yang akan menjadi kafe tersebut. Dani juga sering datang membantu, meski hatinya masih terasa berat melihat Alena dan Fadil bersama. Namun, Dani selalu menyembunyikan perasaannya demi kebahagiaan Alena.

Suatu malam, setelah seharian bekerja keras, Alena dan Dani duduk bersama menikmati teh hangat. Alena merasa bahagia melihat kafe impiannya semakin dekat menjadi kenyataan.

“Dani, gue dan tentunya Bang Fadil bener-bener berterima kasih sama elo. Tanpa elo, kayaknya gue mungkin enggak bakalan pernah sampai di sini,” kata Alena dengan tulus.

Dani tersenyum lembut. “Elo selalu punya kekuatan dalam diri lo, Len. Gue mah cuma apalah, paling bantu-bantu sedikit.”

***

Pada hari pembukaan kafe, Alena merasa gugup tetapi juga bercampur rasa penuh semangat. Banyak teman dan keluarga yang datang untuk mendukungnya. Kafe itu menjadi tempat yang hangat dan penuh cinta, seperti yang Alena impikan.

Di tengah keramaian, Dani mendekati Alena. “Kafe ini luar biasa kerennya, Alena. Gua bangga banget sama lo, Len.”

“Makasih, Dani. Gue kayaknya berutang budi banget sama elo, ya!” Alena memeluk Dani dan Dani merengkuh Alena dengan penuh kasih dan rasa bangga pada sahabat yang benar-benar dicintainya.

Hari itu, Alena menyadari betapa pentingnya memiliki orang-orang yang mendukung dan mencintainya. Ia merasa beruntung memiliki Dani dan Fadil dalam hidupnya.

***

Waktu terus berjalan, “Lidafel”, kafe Alena dan Fadil semakin dikenal dan menjadi tempat favorit banyak orang. Alena dan Fadil semakin bahagia bersama, sementara Dani akhirnya menemukan keberanian untuk mengejar mimpinya sendiri.

“Alena, gue udah memutuskan untuk pergi ke Tiongkok dan belajar lebih banyak tentang seni,” kata Dani suatu akhir pekan. “Gue juga mau menjalani hidup dengan passion gue.” tambahnya

Alena terkejut namun juga bangga. “Wah, Dani. Gue yakin deh, lo bakalan sukses.” Meski demikian, Alena merasa akan kehilangan kehadiran sahabatnya itu. Apalagi sekarang Alena tengah mengandung buah hati pertama dari pernikahannya dengan Fadil. Ia ingin anaknya nanti mengenal sosok Om Dani sebagai sahabat dari kedua orang tuanya.

“Kapan lo mulai berangkat, Dan?” tanya Alena.

“Hm, sebenernya minggu depan, Len. Gue enggak mau ngerepotin elo. Sejak hamil, elo tuh suka mual-mual, lemes, pingsan segala. Jadi gue sengaja bilangnya sekarang.” Kata-kata Dani terlontar seperti tanpa perasaan. Begitu heartless.

Dengan berat hati, Alena melepas kepergian Dani. Mereka berjanji untuk tetap saling mendukung, meski jarak memisahkan mereka.

“Janji ya, Dani. Lo harus rajin video call sama gue. Nanti kalo gue lahiran, lo harus ngasih gue kado buat bayi gue dari Tiongkok sana.” Alena merasa sedikit terpukul dengan kenyataan bahwa sahabatnya akan pergi dan sengaja mengabarkan dalam waktu yang dekat.

“Gue enggak tau, Dan. Kenapa gue sering lemes. Mana minggu depan jadwal gue kontrol ke dokter. Dokter gue populer, jadi gue enggak bisa ngelewatin kontrol. Enggak ada ordal juga di rumah sakit itu.” Alena merasa tak berdaya.

“Weh, bumil tuh harusnya santuy, coy! Gue bukan pertama kali pergi naik pesawat. Lagian, Fadil udah nawarin nganterin gue, Len,” kata Dani menenangkan.

Alena terkejut. “Bang Fadil udah tau? Dia kok enggak bilang gue, ya?”

Dani terkekeh. “Rahasia antara dua lelaki dalam hidup lo, Len!” Dani meletakkan kedua tangannya di bahu Alena. “Ini janji kami berdua. Enggak mau membebani lo dengan pikiran. Kami juga tau sejak kehamilan lo ini, lo sering mabok.”

“Ya sudahlah, pokoknya kita harus farewell-an dulu. I don’t take no for an answer! Awas ya, kalo mengelak terus.” Alena menegaskan.

“Siap, Nyonyah!” Dani memberi gestur hormat.

***

Beberapa hari kemudian, ketika Alena sedang sibuk mengatur persiapan acara perpisahan untuk Dani di kafe, Fadil mendekatinya dengan wajah tegang.

“Alena, kita perlu bicara,” kata Fadil dengan nada serius.

Alena mengernyitkan dahi, merasa ada yang tidak beres. “Apa yang terjadi, Bang? Ada masalah?”

Fadil menghela napas panjang, tampak ragu sejenak sebelum akhirnya berbicara. “Alena, aku menemukan sesuatu yang aneh tentang Dani. Aku merasa dia menyembunyikan sesuatu dari kita.”

Alena terkejut. “Maksud Abang apa? Dani sahabat kita, dia selalu jujur sama kita.”

Fadil menggelengkan kepala. “Aku juga ingin percaya begitu, tapi aku menemukan beberapa hal yang membuatku curiga. Dani sering kali pergi ke tempat-tempat yang tidak biasanya dia kunjungi. Aku juga melihatnya berhubungan dengan orang-orang yang kelihatannya tidak bisa dipercaya.”

Alena merasa hatinya berdebar-debar. “Bang Fadil, kita harus bicara sama Dani. Kita enggak bisa nge-judge dia tanpa bukti yang jelas.”

***

Malam itu, setelah acara perpisahan selesai dan para tamu pulang, Alena dan Fadil mengajak Dani untuk berbicara di sebuah ruangan kecil di belakang kafe.

“Dani, kayaknya kita perlu bicara,” kata Alena dengan suara yang penuh kekhawatiran.

Dani terlihat bingung. “Ada apa, Len? Fadil?”

Fadil mengambil napas dalam-dalam. “Dan, gue udah melihat beberapa hal yang membuat gue curiga. Elo sering kali pergi ke tempat-tempat yang enggak biasanya lo kunjungi, dan beberapa orang bahkan melihat lo berhubungan dengan orang-orang yang mencurigakan. Apa yang sebenarnya lo lakuin?”

Dani terlihat terkejut sejenak, namun kemudian ekspresinya berubah menjadi sedih. Ia menunduk, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang berat.

“Gue... gue sebenarnya enggak pengin kalian tahu,” kata Dani dengan suara pelan. “Tapi, gue enggak punya pilihan lain.”

Alena merasa jantungnya berdegup kencang. “Apa maksud lo, Dani? Jelasin semuanya.”

Dani menghela napas panjang. “Gue sebenarnya dalam misi khusus untuk sebuah organisasi rahasia. Tugas utama gue adalah melindungi kalian, khususnya elo, Alena. Sejak awal misi, gue ditugaskan untuk menjaga keamanan lo dari ancaman yang mungkin tidak lo sadari.”

Alena ternganga. “Apa? Jadi selama ini elo memata-matai kehidupan kami?”

Dani menggeleng. “Enggak, Alena. Gue bukan memata-matai. Gue berusaha melindungi. Ada pihak-pihak yang ingin menyakiti elo, dan gue di sini untuk memastikan itu enggak sampe terjadi.”

Fadil merapatkan alisnya. “Tapi kenapa elo enggak pernah bilang sebelumnya? Kenapa harus merahasiakannya dari kami?”

Dani menatap Alena dengan mata yang penuh rasa bersalah. “Karena semakin sedikit orang yang tahu, semakin aman kalian. Gue sama sekali enggak mau membuat kalian khawatir.”

Alena merasa kepalanya berputar. “Tapi, Dani... siapa yang ingin menyakiti gue? Kenapa?”

Dani menatap Fadil sejenak sebelum kembali memandang Alena. “Ada seseorang dari masa lalu keluarga kalian yang merasa sangat dendam. Mereka tidak ingin kalian bahagia, dan mereka siap melakukan apa saja untuk menghancurkan hidup kalian.”

Alena merasa dunia di sekitarnya runtuh. “Siapa mereka, Dani? Siapa yang ingin menghancurkan hidup kami?”

Dani menghela napas lagi. “Kita harus bicara dengan lebih detail, tapi bukan di sini. Tempat ini mungkin udah enggak aman lagi.”

Tiba-tiba, terdengar suara keras dari luar ruangan. Pintu terbuka dengan keras, dan sekelompok pria berbadan tegap masuk dengan senjata di tangan mereka.

“Kita sudah ketahuan,” bisik Dani dengan tegang. “Cepat, Alena. Fadil. Ikutin gue.”

Mereka berlari keluar dari kafe, dengan Dani memimpin jalan. Alena merasa napasnya semakin berat, namun ia tahu mereka harus bertahan. Mereka akhirnya menemukan tempat persembunyian sementara di sebuah gedung kosong di dekat kafe, mengingat kawasan kafe juga memiliki beberapa bangunan dan ruko yang terabaikan.

Alena merasa hidupnya berubah dalam sekejap. Kini, ia harus menghadapi ancaman yang tidak pernah ia duga sebelumnya, namun ia tahu ia tidak sendirian. Dengan Fadil dan Dani di sisinya, ia merasa siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang.

Namun, di balik semua kekacauan dan kebingungan ini, ada satu hal yang membuat Alena merasa aneh. Mengapa Fadil tidak terlalu terkejut dengan pengakuan Dani? Dan mengapa seolah Fadil tahu lebih banyak daripada yang ia ungkapkan?

Kebenaran yang sesungguhnya belum sepenuhnya terungkap. Dan di balik wajah-wajah yang dikenalnya, Alena harus bersiap menghadapi kenyataan yang jauh lebih gelap daripada yang pernah ia bayangkan.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk