Bab 01

Berlayar Menuju Imaji Dunia yang Tenggelam: The Last Tide

1 dibaca

A
Ketika daratan semakin sedikit, apa yang akan dilakukan manusia untuk memperebutkan yang masih tersisa?

The Last Tide sedikit banyaknya memberikan gambaran jawaban dari pertanyaan tersebut. Novel yang menganut genre science fiction, survival, serta post-apocalyptic ini membawa pembacanya untuk menelusuri lebih jauh tentang bagaimana sisi kemanusiaan seseorang dapat perlahan terkikis.

Erlyta Vivi, otak di balik The Last Tide mampu membawa pembaca mengarungi konflik dan permasalahan yang terjadi di dalam novel The Last Tide.

Lampu disorotkan kepada Aeris, seorang quartermaster di pulau apung Penana yang bertugas untuk mengurus logistik dan sumber daya kota. Di awal perjalanan, Aeris lekat dengan sosok lelaki yang senantiasa menemaninya, yaitu Theodor. Namun, sayangnya penulis tidak sebaik itu, karena kehidupan Aeris yang awalnya tenang berubah drastis saat Penana di invasi oleh sekelompok perompak.

Dari sini, petualangan Aeris dimulai. Insting survival membawanya ke berbagai tempat, bertemu orang-orang baru, sampai pertemuannya dengan Nautilux, makhluk laut hasil eksperimen, yang membawa Aeris berhadapan langsung dengan misteri lain yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

The Last Tide sendiri merupakan buku terbitan Penerbit Imaji Indonesia yang dicetak pada September 2026. Erlyta Vivi, membawa kembali pembaca untuk ikut merasakan adrenalin dalam petualangan Aeris.

Mengintip Isi Kepala Penuh Bias Seorang Pembaca

Aku selalu jujur pada diriku sendiri saat membaca sebuah novel. Sebetulnya yang menjadi pilar dari penilaianku adalah sebuah pertanyaan sederhana yang membuatku menelisik lebih jauh isi kepala selama atau setelah membaca.

Apakah pengalaman membaca buku ini cukup membuatku terhibur? 

Novel The Last Tide sendiri mendapatkan ceklis hijau sebagai jawaban pertanyaan tersebut. Penggabungan unsur sci-fi, survival, dan petualangan membuat perjalanan Aeris terasa menyenangkan untuk diikuti. Ada rasa penasaran yang terus muncul setiap kali Aeris berpindah tempat, bertemu karakter baru, atau menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak dia ketahui.

Bagiku pribadi, hal yang membuat pengalaman membaca novel ini terasa menyenangkan adalah bagaimana selalu ada sesuatu yang bisa ditemukan dalam perjalanan Aeris. Mulai dari dunia yang perlahan terbuka, teknologi yang digunakan, sampai berbagai eksperimen dan misteri yang muncul sepanjang cerita.

Mungkin bukan novel yang sempurna, tetapi sebagai pengalaman membaca, The Last Tide berhasil memberikan hal yang paling sederhana dan paling penting buat aku sendiri, yaitu: terhibur selama membacanya.

Perpisahan Aeris dan Theodor, diganti setimpal oleh pertemuannya dengan Kezia, Ramin, Omid, dan Bahram. Sebetulnya masih ada karakter lain yang muncul sepanjang perjalanan, hanya saja mereka yang paling memorable buatku.

Hal lain yang aku sukai dari novel ini adalah bagaimana Talakka sebagai tempat persinggahan. Tempat ini bukan sekadar lokasi baru, Talakka memberikan perubahan suasana yang cukup terasa. Aeris awalnya mengira tempat itu cuma perlindungan, ternyata dibaliknya ada komunitas dan sistem kehidupan yang cukup kompleks.

Nautilux juga merupakan companion yang menarik. Aku mulai menginvestasikan ketertarikan pada Nautilux saat memasuki bagian ketika Aeris dan Kezia menemukan laboratorium Project 3.0. Awalnya, aku hanya menganggap Nautilux sebagai salah satu hasil eksperimen yang menambah misteri dalam perjalanan mereka. Namun, semakin cerita berjalan, keberadaannya justru terasa semakin penting.

Aku beberapa kali menjelaskan preferensi pribadi, bahwa aku menyukai perasaan yang familiar saat membaca novel ini. Bukan membandingkan, hanya saja saat membaca The Last Tide, aku merasakan  vibes yang sama seperti saat aku menonton One Piece, terutama pada arc Water 7. Adrenalin yang mampir dan disajikan mampu membuat aku memakannya dengan lahap.

Setelah puas membahas bagian yang aku suka, mari beralih ke sisi yang berbeda.

Salah satu hal yang cukup terasa mengganjal buatku adalah bagaimana The Last Tide membawa terlalu banyak hal dalam satu perjalanan. Ada konflik perompak, kehancuran lingkungan, teknologi futuristik, eksperimen, Nautilux, misteri Project 3.0, sampai berbagai pulau dan komunitas yang punya cerita masing-masing.

Semuanya menarik, tetapi justru karena itu, beberapa bagian terasa belum mendapatkan ruang yang cukup untuk benar-benar dieksplorasi.

Setiap pembaca pasti mempunyai pendapat yang berbeda, tapi untukku sendiri dinamika antara Theodor dan Aeris agak terasa kurang dieksplor. Padahal, hubungan mereka menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan Aeris.

Theodor juga punya peran besar sebagai alasan Aeris terus bertahan setelah kejadian di Penana. Beberapa kali kenangan tentang Theodor muncul kembali, tetapi aku merasa kedekatan mereka sebelum tragedi bisa lebih banyak diperlihatkan. Kalau hubungan mereka diberi ruang lebih banyak sejak awal, mungkin rasa kehilangan Aeris setelah kepergian Theodor juga bisa terasa lebih kuat.

Selain itu, aku juga merasa ada beberapa bagian yang penyampaiannya masih terasa kurang natural, terutama dalam dialog antar karakter. Ada beberapa percakapan yang terasa seperti sedang menyampaikan informasi kepada pembaca, bukan benar-benar percakapan yang terjadi secara alami antar karakter

After all, pengalaman membaca The Last Tide merupakan pengalaman yang menyenangkan. Aku menikmati lika-liku konflik yang dialami Aeris, dinamika karakter, juga tentu saja worldbuilding yang dirancang oleh penulis.

Sebagai seorang penulis juga, aku merasa kagum kepada siapapun itu yang bisa membuat rancangan dunia kompleks. Jujur, respect sih. Karena membangun sebuah dunia dengan berbagai pulau, teknologi, konflik, sampai detail kehidupan di dalamnya bukan sesuatu yang mudah.

Nahkoda Novel The Last Tide: Cerita yang Lahir Dari Layar Laptop Erlyta Vivi

Aku tidak kenal secara personal dengan penulis, tapi aku berharap semakin banyak kisah-kisah yang berhasil ditamatkan oleh Kak Erlyta Vivi, kemudian terbit dan dibaca oleh banyak orang.

The Last Tide adalah novel pertama yang aku baca dari Kak Erlyta Vivi. First impression yang cukup baik, dan membuatku menunggu lagi sekiranya judul apa yang akan terbit cetak selanjutnya.

Keep Writing! 

See you in the next review!


Sosial Media Penulis 

Instagram: @erlytavivi

Threads: @erlytavivi

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk