Bab 01

Bab 1

8 dibaca

A

Diara mengetukkan jarinya di permukaan meja kerja. Matanya bergerak lambat, menelusuri baris demi baris pada lembar kerja spreadsheet di monitor komputernya. Ada satu daftar pengeluaran yang sedari tadi menahan pekerjaannya. Nominal transaksi itu tergolong kecil untuk ukuran pengeluaran mingguan perusahaan. Angkanya selalu berada di kisaran belasan juta rupiah, persis di bawah batas dua puluh lima juta rupiah yang mewajibkan persetujuan dari meja direksi.

Karena skalanya kecil, proses pencairan dana ini hanya membutuhkan tanda tangan validasi dari kepala bagian. Namun, frekuensi transaksi ini terjadi terlalu sering. Hampir setiap minggu ada pengeluaran dengan nominal nyaris serupa yang ditransfer ke rekening vendor yang sama. Jika angka-angka kecil ini ditotal selama enam bulan terakhir, jumlah pengeluarannya sudah menembus ratusan juta rupiah. Angka akumulasi itulah yang seharusnya wajib masuk ke meja Diara untuk tinjauan akhir sebelum uang benar-benar dicairkan oleh pihak bank perusahaan.

Nama vendor yang tertera di layar adalah PT. Bina Karya Sejahtera. Dari keterangan di kolom dokumen pendukung, perusahaan ini bergerak di bidang pengadaan alat tulis kantor dan pemeliharaan gedung harian. Diara membuka satu per satu salinan faktur digital yang terlampir di sistem jaringan kantor. Stempelnya terlihat sah. Nomor surat jalannya berurutan dengan rapi. Nomor rekening penerimanya juga tercantum dengan jelas. Harga barang yang ditagihkan pun mengikuti harga pasar standar, tidak ada penggelembungan dana atau markup yang biasanya langsung memicu peringatan otomatis di sistem keuangan.

Hal yang membuat Diara curiga adalah pola waktunya. Tidak masuk akal sebuah kantor menghabiskan persediaan tinta printer dan kertas cetak dalam jumlah yang persis sama setiap hari Kamis tanpa ada sisa stok di gudang.

“Wajahmu kenapa?”

Bintang sudah berdiri di depan meja kerja Diara. Tangannya bersedekap. Diara mengangkat tangan kirinya, lalu mengarahkan telunjuknya lurus ke arah Bintang. “Diam dulu, Mas. Aku masih pusing. Setelah ini aku bawakan datanya ke meja Mas Bintang. Duduk dulu di sana, minum kopimu. Makan juga rotimu.”

Mata Diara sama sekali tidak beralih dari layar komputernya saat dia memberikan instruksi tersebut. Tangan kanannya terus menggeser tetikus, membuka tab baru untuk memeriksa daftar mutasi pengeluaran dari bulan sebelumnya.

Bintang tidak membantah. Dia sudah sangat hafal dengan tabiat Diara. Jika Diara sudah memberikan instruksi seperti itu, berarti ada masalah serius di dalam laporan yang sedang dia periksa. Dia masuk ke ruangannya, di sana sudah ada kopi dan roti yang Diara siapkan karena tahu dirinya melewatkan sarapan di rumah.

Sepuluh menit kemudian, Diara masuk ke ruangan Bintang. Dia meletakkan tabletnya di atas meja kerja atasannya. Layar tablet itu menampilkan tabel data yang baru saja dia tarik dari sistem dan dia susun agar polanya lebih mudah dibaca.

“Baca, Mas. Tapi tahan, jangan mengumpat,” kata Diara. Dia menggeser tablet itu tepat ke sebelah cangkir kopi Bintang. Instruksi jangan mengumpat dari Diara ini berarti sesuatu yang akan membuatnya kesal. “Dan jangan langsung memanggil Kepala Bagian Pengadaan. Kita belum tahu siapa pelakunya.”

Bintang meletakkan sisa rotinya. Dia menarik tablet itu mendekat. Matanya membaca barisan data yang sudah diberi sorotan warna merah oleh Diara. Dia menggulir halaman ke bawah, melihat rincian tanggal, deskripsi barang, dan nominal yang keluar dari kas perusahaan.

“Ini vendor alat tulis kantor?” Bintang bertanya. Matanya masih menatap deretan angka di layar.

“Alat tulis dan pemeliharaan rutin,” jawab Diara lugas. “Beli tinta printer, kertas cetak berbagai ukuran, biaya perbaikan engsel pintu darurat, sampai tagihan penggantian lampu lorong yang rusak. Hal-hal operasional harian yang nilainya tidak pernah menyentuh batas nominal merah untuk persetujuan direksi.”

Bintang meletakkan tablet itu kembali ke meja. “Mereka menagih kita lima belas juta rupiah secara rutin untuk barang dan jasa yang diklaim masuk ke kantor ini. Siapa kepala bagian yang memberikan tanda tangan persetujuan untuk dokumen ini setiap minggunya?”

“Pak Hendra,” jawab Diara. “Tapi jangan langsung menuduhnya. Tanda tangan digitalnya bisa saja disalahgunakan oleh staf administrasi di bawahnya. Atau ada kemungkinan lain, dia sekadar menyetujui pengeluaran ini bersama puluhan tumpukan dokumen harian lain tanpa memeriksa rinciannya satu per satu. Kalau Mas Bintang langsung memanggilnya sekarang untuk bertanya, orang yang membuat dokumen ini bisa langsung sadar dan menghapus data jejak transaksinya dari server pusat.”

Bintang bersandar di kursinya. Wajah santainya sudah hilang. “Ini pengeluaran yang nilainya sengaja dibuat tepat di bawah batas persetujuan mejamu. Orang ini tahu persis celah di sistem birokrasi kita.”

“Iya,” kata Diara. “Makanya aku minta Mas Bintang diam dulu. Siang ini aku akan turun dan memeriksa buku mutasi barang di gudang bawah. Aku mau memastikan apakah barang dari PT. Bina Karya Sejahtera ini benar-benar ada wujud fisiknya di ruang penyimpanan logistik kita atau tidak.”

Bintang mengangguk. Dia menyetujui langkah tersebut. “Lakukan tanpa menarik perhatian. Jangan sampai orang-orang di divisi logistik tahu kalau kamu sedang memeriksa pekerjaan mereka.”

“Iya,” kata Diara. Dia mengambil kembali tabletnya dari meja Bintang. “Habiskan rotimu, Mas. Sepuluh menit lagi jadwal rapat mingguan dengan divisi pemasaran dimulai.”

Puluhan kilometer dari sana, Laut sedang duduk diam di meja kerjanya. Ruangannya sunyi. Tumpukan dokumen fisik tersusun rapi di depannya. Amira berdiri di seberang meja. Staf administrasinya itu baru saja meletakkan sebuah map tebal berisi laporan keuangan bulanan divisi logistik untuk ditinjau.

Laut membuka map tersebut. Halaman pertamanya menampilkan ringkasan persentase pengeluaran operasional bulan ini.

Amira berdeham pelan. “Ada bagian yang saya tandai dengan pembatas kertas warna merah, Mas Laut. Di halaman enam belas.”

Laut membalik halaman kertas sesuai instruksi Amira. Matanya menelusuri barisan angka pengeluaran untuk vendor kebersihan dan pemeliharaan alat berat. Nominalnya kecil, pecahannya tidak bulat, dan di atas kertas terkesan seperti tagihan operasional biasa yang dibayarkan setiap minggu. Namun, mata Laut berhenti pada satu baris nama vendornya. PT. Bina Karya Sejahtera.

“Kamu yakin ini bukan salah input dari bagian administrasi bawah?” Laut bertanya tanpa mengangkat wajahnya. Jari telunjuknya mengetuk pelan baris nomor rekening penerima di kolom paling kanan.

“Tidak, Mas. Itu sudah lima kali saya cek ulang dan hasilnya konsisten,” jawab Amira tegas. “Saya memeriksa salinan rekening koran dari bank. Uangnya ditarik keluar secara otomatis setiap hari Selasa jam sepuluh pagi. Tapi saat saya cocokkan dengan buku log kedatangan teknisi dan tanda terima barang dari vendor tersebut, datanya tidak sinkron. Tidak ada catatan nama teknisi atau sopir pengantar barang dari perusahaan itu yang pernah masuk melewati gerbang pos keamanan kita.”

Laut menatap nama PT. Bina Karya Sejahtera yang tercetak jelas di atas kertas putih tersebut. Laut menutup map itu perlahan. Dia menatap Amira. Perempuan itu berdiri menunggu instruksi selanjutnya. “Sejak kapan pola pengeluaran ini muncul di sistem kita?” tanya Laut.

“Dari catatan rekapan sistem, transaksinya mulai terlihat rutin selama tiga bulan terakhir. Sebelumnya hanya muncul sesekali, mungkin sekitar satu bulan sekali dengan nominal yang jauh lebih kecil. Tapi belakangan ini transaksinya berubah menjadi tagihan mingguan tetap,” jelas Amira.

“Siapa yang memegang akses penyetujuan dokumen ini sebelum sampai ke mejamu?”

“Manajer operasional dan admin logistik. Karena nominal tagihannya selalu berada di bawah batas kebijakan pencairan bertahap kita, dokumen ini langsung diteruskan ke bagian keuangan untuk proses pencairan otomatis tanpa perlu naik untuk meminta tanda tangan persetujuan Mas Laut,” kata Amira memaparkan alur birokrasinya.

Laut mengangguk pelan. Dia menarik map itu lebih dekat ke tepi mejanya. “Amira.” Amira menatap Laut. “Jangan bahas temuan ini dengan siapa pun. Baik itu dengan rekan kerja di mejamu, manajer operasional, atau staf di bagian keuangan.” Laut menatap lurus ke arah mata Amira. “Anggap kamu belum pernah melihat kejanggalan dokumen ini.”

Amira mengerutkan dahi sejenak, namun dia langsung mengangguk pelan. “Baik, Mas Laut.”

“Tinggalkan berkas ini di sini. “ Laut mengambil map tebal itu, memindahkannya ke dalam laci mejanya yang kosong, dan memutar kuncinya. “Kembalilah bekerja. Jangan melakukan pencarian lanjutan ke sistem server tentang vendor ini. Biarkan datanya mengalir seperti biasa.”

“Baik, Mas,” jawab Amira. Dia membalikkan badan dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.

Setelah pintu tertutup rapat, Laut menyandarkan punggungnya di kursi. Dia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Tangannya mengetikkan pesan singkat ke kontak kepercayaannya yang biasa mengumpulkan data lapangan.

Cek entitas bernama PT. Bina Karya Sejahtera. Ada aliran dana operasional keluar ke rekening mereka dari perusahaanku tanpa ada bukti catatan logistik fisik yang masuk.

Laut menekan tombol kirim. Dia meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah, menarik tumpukan dokumen lain, dan kembali membaca laporan seolah tidak terjadi apa-apa.

Jam istirahat makan siang tiba. Diara tidak berjalan ke arah kantin karyawan di lantai dua. Dia berbelok menuju deretan lift dan turun ke lantai basemen, tempat gudang utama penyimpanan barang inventaris kantor Bintang berada. Ruangan luas itu dipenuhi oleh rak besi tinggi, tumpukan kardus kertas berbagai ukuran, kotak-kotak tinta printer, dan barisan peralatan operasional kantor. Udara di sana sedikit lembap dan berbau debu kertas.

Diara berjalan menyusuri lorong antar rak dan menemui petugas gudang. Seorang pria bernama Pak Yanto sedang duduk di kursi lipat dekat pintu masuk sambil meminum kopi saset dari gelas plastik.

“Pak Yanto, saya mau pinjam buku catatan masuk barang untuk bulan ini,” kata Diara santai. “Ada permintaan dari bagian HRD untuk cek sisa stok kertas untuk persiapan acara rapat besar besok siang.”

Yanto berdiri dan segera memberikan sebuah buku besar bersampul biru tua dari laci mejanya. “Silakan, Mbak Diara. Stok kertas kita masih penuh kok, baru dikirim hari Senin kemarin.”

“Dari vendor mana, Pak?” Diara membuka buku tersebut dan mulai membalik halamannya, mencari tanggal di awal bulan.

“Dari CV. Makmur Jaya, seperti biasa,” jawab Yanto.

Diara menelusuri kolom nama pengirim. Matanya berfokus mencari nama PT. Bina Karya Sejahtera. Dari awal bulan hingga tanggal hari ini, nama perusahaan itu tidak tercatat sama sekali di dalam buku log penerimaan barang.

“Pak, kalau vendor Bina Karya Sejahtera, biasanya mengantar barang apa ke sini?” Diara bertanya sambil membalik halaman berikutnya, berpura-pura masih membaca daftar sisa stok.

Yanto mengerutkan dahi. Dia meletakkan gelas plastiknya di meja. “Bina Karya Sejahtera? Saya tidak pernah dengar nama perusahaan itu, Mbak. Kalau untuk kebutuhan alat tulis, kita selalu pakai Makmur Jaya. Kalau untuk alat kebersihan, sapu, sabun pel, dan galon air minum, semuanya dari PT. Bersih Sentosa. Tidak ada nama Bina Karya di daftar pengiriman barang yang masuk ke gudang ini selama saya jaga.”

“Oh, mungkin saya yang salah lihat daftar rekap dari bagian pengadaan,” kata Diara. Dia menutup buku log itu dan mengembalikannya kepada Yanto. “Terima kasih banyak ya, Pak. Nanti saya sampaikan ke HRD kalau stok kertasnya masih aman terkendali.”

Diara membalikkan badan dan berjalan meninggalkan area gudang menuju pintu lift. Buktinya sudah sangat jelas. Faktur tagihan tercetak di sistem dan uangnya keluar dari rekening kantor secara rutin, tetapi wujud barangnya tidak pernah sekalipun sampai ke rak gudang.

Diara masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai ruang kerja direksi. Saat tiba di ruangan Bintang, laki-laki itu sedang membubuhkan tanda tangan di atas beberapa berkas kontrak kerja sama di mejanya. Bintang menatap Diara yang melangkah masuk dan menutup pintu.

“Bagaimana kondisi gudangnya?” Bintang bertanya.

“Kosong, Mas,” jawab Diara. “Pak Yanto tidak pernah menerima barang apa pun dari PT. Bina Karya Sejahtera. Semua stok alat tulis kita dipasok secara resmi oleh vendor lain. Faktur-faktur tagihan yang masuk ke sistem keuangan kita ini murni dokumen fiktif.”

Bintang meletakkan pulpennya di meja. “Berarti ada orang di dalam gedung ini yang sengaja menyisipkan faktur palsu ke tumpukan tagihan mingguan rutin agar ikut dicairkan bersamaan oleh bagian keuangan.”

“Iya,” kata Diara.

“Aku telepon bagian keuangan sekarang. Kita hentikan proses pembayaran ke rekening itu mulai hari ini,” kata Bintang sambil meraih gagang telepon mejanya.

“Jangan dulu, Mas. Kalau rekening vendor itu dibekukan sekarang, orang yang menyisipkan dokumen tersebut ke dalam sistem akan sadar kalau kita sudah tahu. Dia pasti langsung bergerak menghapus semua catatan transaksinya dari peladen internal kantor untuk menghilangkan jejak.” Diara memberikan alasan. “Biarkan saja tagihan minggu ini lewat dulu seperti biasa. Kita kumpulkan jejak bukti digital dari komputernya sampai kita dapat nama orang pasti di balik rekening penampung tersebut.”

Bintang menahan tangannya di atas telepon, lalu meletakkan kembali gagang telepon tersebut ke tempatnya. “Oke. Kita tahan dulu.”

Di tempat yang berbeda, Laut mengambil ponselnya yang bergetar di atas meja kerja. Dia membaca pesan balasan yang baru saja masuk.

PT. Bina Karya Sejahtera terdaftar sebagai perusahaan cangkang. Alamatnya mengarah ke sebuah ruko sewaan kosong di daerah pinggiran kota. Rekening utama mereka menampung pembayaran operasional rutin dari beberapa perusahaan.

Laut membaca laporan itu dalam diam. Dia menekan tombol daya di sisi ponsel, mematikan layarnya, lalu memasukkan benda itu kembali ke dalam saku jasnya.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk