Ulasan ini bertujuan untuk diikutsertakan pada event Author Unfiltered yang berlangsung dari tanggal 1 Oktober sampai dengan 7 Oktober 2026.
Novel yang akan saya beri ulasan adalah novel yang berjudul “MISS BADAS JUTEK VS MR COOL,” karya akun bernama Cloud Nine.
Cerita ini mengambil tema percintaan dengan trope enemies to lovers.
Pada bab satu, pembaca akan disuguhkan dengan adegan Shabira yang diminta sang ibu untuk menjemput adiknya yang sedang bermain layangan. Meski sedikit kesal, ia tetap menjemput sang adik yang bernama Ruru.
Ketika dalam perjalanan menjemput adiknya, Shabira sempat tersandung kerikil dan dibantu oleh seorang pemuda bernama Gerhana, atau dikenal juga dengan sebutan Gege.
Shabira dan Gege adalah musuh bebuyutan, nantinya akan diketahui pada bab tiga bahwa mereka rupanya telah mengenal satu sama lain sejak lama.
Meskipun pada blurb tertera bahwa mereka adalah musuh, ketika membaca novelnya, kalian akan melihat bahwa musuh yang dimaksud hanyalah dua orang pribadi yang tidak akur satu dan lainnya.
Lucunya, interaksi yang ditampilkan oleh keduanya justru memberikan kesan manis dan menggemaskan––bagaimana mereka saling berdecak kesal, namun tersenyum ketika saling mengamati, justru dapat membuat pembaca ikut tersenyum saat membaca adegan tersebut.
Pada novel ini, Gege digambarkan sebagai sosok yang tenang, di saat Shabira digambarkan sebagai sosok yang jutek. Dua tokoh yang saling berlawanan.
Melalui dialog dan narasi yang telah dibangun oleh penulis, pembaca dibuat penasaran oleh interaksi selanjutnya.
Bab dua kembali dimulai di dalam lingkup keluarga. Pembaca dihadapkan pada konflik kecil yang sering terjadi pada kebanyakan keluarga, hal ini menjadikan konflik pada novel terasa lebih nyata.
Dikatakan, Shabira sempat merasa ingin pergi untuk kost karena pusing dengan tingkah keluarga terutama adiknya, kemudian dilanjutkan dengan perdebatan kecil yang cenderung terasa masuk akal di dalam keluarga, terutama sebagai interaksi kakak-beradik.
Setelah pertikaian atau drama kecil yang sifatnya komedi di antara kedua kakak-beradik ini, pembaca kemudian disuguhkan dengan dialog yang cukup memberikan rasa iba, melalui perandai-andaian sang adik yang berharap ayahnya masih ada bersama mereka.
Menurut saya, bab ini membawa kehangatan bagi pembaca. Sebagai pembaca, saya turut merasakan emosi-emosi kecil akan pertikaian sederhana dengan kerabat. Di sisi lain, ada hal yang menunjukkan bagaimana kedua kakak-beradik ini berusaha saling menopang satu dan lainnya di tengah kondisi yang tidak sempurna.
Setelah moment singkat tersebut, perasaan pembaca akan kembali dibuat ketawa akan interaksi mereka sebagai kakak-beradik. Di tengah semua hal itu, narasi pertemuan mereka berdua dengan Gerhana dan adiknya kembali masuk.
Di sana, penulis kembali memberikan interaksi kecil yang manis di antara keduanya, bagaimana Gege menawarkan bantuan dengan sedikit celetukan-celetukan asal yang di sisi lain memberikan atmosfer yang menyenangkan, namun menjengkelkan.
Penulis berhasil mengemas cerita ini sesuai tropenya. Meski dalam bab dua ini, perkembangan mereka sedikit lebih cepat.
Penulis tidak memberikan penjelasan mengapa kedua tokoh ini bermusuhan. Sejak awal, mereka sudah digambarkan saling meledek/mencibir, namun pada kedua bab ini, perubahan emosi dari musuh yang perlahan dekat justru sedang terjadi.
Terdapat adegan di mana Gerhana bahkan mengancam ingin mencium Shabira di depan adiknya, apabila ia tidak segera masuk ke dalam mobilnya untuk diantar ke sekolah sang adik dan juga ke kantor.
Menurut saya, percampuran antara pertikaian dan godaan-godaan kecil di antara mereka, berhasil menghadirkan sensasi butterflies in the stomach yang membuat saya senyum-senyum sendiri.
Masuk pada bab ketiga, latar tempat kali ini berada di mobil Gerhana, saat ia sedang mengantarkan Shabira ke kantor dan Tirta serta Ruru ke sekolah.
Dari interaksi pada bab ini, terlihat bahwa Gege sebenarnya sudah menyimpan perasaan kepada Shabira sejak lama. Namun, sikap yang selama ini berusaha ia bungkus justru sikap jahil yang sering mengganggu Shabira.
Lelaki berusia 25 tahun itu sengaja memaksa untuk menjemput Shabira ketika pulang kantor dan tidak ingin wanita itu pergi untuk pulang sendiri.
Penulis menambahkan efek romantis pada kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh Gege kepada Shabira, meski Shabira beberapa kali menolak dan enggan berinteraksi dengan Gege.
Pada bab ini, kedua adik mereka juga turut memberikan efek romansa dan komedi karena beberapa kali menggoda Shabira dan juga Gege.
Bab ini menjadi bab terakhir ketika saya menulis ulasan mengenai novel ini. Secara keseluruhan, penulis berhasil membuat pembaca penasaran akan alur cerita selanjutnya melalui adegan-adegan yang kini tertulis dari bab satu hingga bab tiga.
Pace pada novel ini cenderung cepat dengan premis yang menarik dan seringkali disukai oleh pembaca.
Secara keseluruhan, saya pribadi menikmati alur cerita yang diberikan oleh penulis. Meski, ada beberapa kesalahan dalam kepenulisan serta beberapa typo yang perlu diperhatikan karena dapat membuat pembaca sedikit terganggu.
Sekian dari saya. Semoga ulasan ini bermanfaat.
Semangat terus untuk penulis ❤️














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!