Lampu-lampu jalanan Sudirman masih menyala terang malam itu ketika Nara menempelkan jarinya ke absen digital di smartphone-nya. Ia lalu memasukkan perangkat itu ke dalam ransel, mengikat rambut panjangnya dengan asal, dan melangkah menuju Stasiun Sudirman. Pulang ke BSD, rutinitas yang sudah ia hafal luar kepala.
Nara Elviera Astari—akrab disapa Nara—adalah seorang Brand Strategist di perusahaan kreatif bernama Creavo. Rambut bergelombang alaminya sering diikat ke atas dalam gaya messy bun. Teman-temannya tahu, jika gaya itu sudah muncul, berarti Nara sedang masuk mode tempur.
Wajahnya yang biasanya tegas mulai melembut ketika ia berhasil mendapatkan tempat duduk di dalam kereta. Ia memejamkan mata, membiarkan suara dari headset-nya mengalun lembut “I Really Want to Stay at Your House” versi instrumental dari Samuel Kim. Sesekali matanya mengintip ke luar jendela, membiarkan pikirannya melayang sambil tetap waspada.
Ketika suara pengumuman menyebut Stasiun Rawa Buntu sebagai pemberhentian berikutnya, Nara berdiri. Gerakannya sigap dan ringan, memastikan semua barangnya lengkap sebelum turun. Setelah antre sebentar, ia melangkah ke arah penitipan motor.
Di tengah langkahnya yang santai, seseorang menyenggol bahunya.
“Maaf, Kak, buru-buru!” ujar seorang pria yang sekilas menoleh sebelum kembali melaju cepat. Nara sempat mengernyit. Ia melihat tag nama pria itu, sama dengan perusahaannya. Tapi wajahnya asing. Anak baru? Ia mengangkat bahu dan kembali berjalan santai, lalu menstarter motornya.
Sebelum pulang, ia sempat mampir ke Lawson untuk membeli odeng favoritnya, lalu berbelok ke arah Anggrek Loka menuju rumahnya.
Begitu masuk kamar, Nara langsung masuk mode autopilot untuk mandi, skincare singkat, dan bersiap tidur. Namun suara telepon mengalihkan perhatiannya. Nama di layar membuatnya menghela napas.
“Halo, Altair. Jam berapa ini?”
“Masih jam 10, Kak Nara. Tapi aku mau tanya sesuatu. Sebenarnya bisa besok sih, tapi aku butuh pendapatmu malam ini.”
“Kerjaan?” Nara bersandar di kepala ranjang, mengambil tab dan mulai login ke game otome favoritnya.
“Uh, login game suami?” Altair tergelak di seberang.
“Ck, teruskan pertanyaanmu. Aku juga butuh refreshing.”
“Jadi gini, bos besar di Jepang minta aku kirim beberapa talenta terbaik karena mereka mau ekspansi bisnis. Gimana? Kalau aku ajuin kamu, mau nggak, Kak?” Suaranya terdengar hati-hati, tapi yakin. Dalam pikirannya, Nara pasti langsung menyetujui. Siapa yang bisa nolak peluang sebesar itu?
Hening. Lalu Nara bertanya pelan, “Kapan berangkat?”
Terdengar sorakan kecil dari ujung telepon. “Akan kuurus. Kakak tinggal terima beres. Ya udah, lanjut dulu sama para suami imajinasimu. Bye.”
—-------------------
Jakarta belum benar-benar tidur ketika seorang pria keluar dari gedung Creavo dengan langkah terburu-buru. Satpam gedung yang akrab disapanya malam itu bahkan tidak sempat ia sapa seperti biasanya.
“Mas Adra, jangan lupa absen, Mas!” seru Pak Bambang, sang satpam, dari belakang.
“Makasih udah ngingetin, Pak Bambang! Besok ya kita ngopi!” seru pria itu sambil melambaikan tangan, sedikit merasa bersalah karena biasanya ia selalu menyempatkan diri mengobrol sebentar.
Tinggi menjulang, dengan rambut medium wavy yang selalu tampak sedikit acak-acakan tapi justru menambah pesonanya—begitulah Adra Alvarez Mahesa, Creative Director andalan Creavo. Garis wajahnya tajam, dengan tone kulit warm beige yang menunjukkan ia bukan tipe pria yang menghindari matahari.
Dengan napas sedikit memburu, Adra akhirnya berhasil masuk ke KRL menuju Rawa Buntu. Ia menyibakkan poni yang mulai basah oleh keringat, sementara tangan kanannya sibuk menari di layar smartphone. Tangan kirinya berpegang pada gantungan, menjaga keseimbangan. Sesekali dahinya berkerut, lalu bergumam pelan. Untungnya, tidak banyak yang memperhatikan kebiasaan anehnya itu.
Begitu sampai di stasiun tujuan dan pintu terbuka, Adra langsung melompat ke peron, ikut berdesakan menuju pintu keluar. Langkahnya makin terburu-buru, hingga tanpa sengaja menyenggol seorang perempuan.
“Maaf, Kak! Buru-buru!” serunya sambil menoleh cepat, memastikan perempuan itu baik-baik saja, tak ingin tiba-tiba viral karena dianggap melukai seseorang. Setelah memastikan semuanya aman, ia langsung berlari menaiki tangga dan memanggil tukang ojek untuk mengantarnya ke Anggrek Loka, tempat tinggalnya.
Sesampainya di kamar, ransel dilempar asal ke atas tempat tidur. Tanpa mengganti baju, Adra langsung menyalakan PC, membuka email, lalu tenggelam ke dalam file desain yang menunggu diselesaikan. Di sela fokusnya, smartphone-nya berdering pelan.
“Halo, Altair. Lu tau nggak? Gue kira revisian buat brand Alco itu hari ini, woy. Deadline panik!”
Altair tertawa renyah. “Besok, nyet. Gimana sih, lu salah kasih tanggal apa gimana?”
Adra mendesah panjang sambil menggigit bibir bawahnya. “Iya lagi. Mana gue udah lari dari kantor sampe kostan, sampe nabrak orang…”
“Hah? Gimana?” Altair langsung tercekat.
“Nggak, dia nggak papa. Cuma kesenggol. Jadi, kenapa lu nelpon?” Adra mengetuk-ngetukkan jarinya di meja PC.
“Gini. Bos besar minta gue kirim beberapa orang buat tim barunya. Lu mau nggak?”
“Altair, gue tau niat lu baik, tapi kan lu tau kondisi gue.”
Altair langsung memotong. “Gue udah atur semuanya. Nyokap lu tetap bisa kontrol rutin, ditemenin sama adek gue, Orin. Kalau sewaktu-waktu lu dibutuhin di sini, gue udah bilang ke bos besar, khusus lu bisa cuti kapan pun. Udah gue pikirin semua, bro.”
Adra terdiam sebentar, lalu tersenyum. “I love you, Altair.”
“Jijik, Adra. Udah sana siap-siap. Sepupu gue ikut juga.”
“Sepupu lu? Kok gue nggak tau? Cantik nggak?”
Altair hanya menjawab dengan decakan, lalu memutus sambungan telepon.
Adra terkekeh pelan. “Cantik, pasti,” gumamnya sambil berdiri dan menuju kamar mandi.
—---------------------














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!