Bab 01

Kandidat Terkuat

3 dibaca

A

Dinginnya lantai marmer menyusup dari dahi Elam sampai ke ujung hidungnya, dan baru saat itulah ia menyadari bahwa dirinya tengah bersujud menghadap lukisan besar figur Dewi Kuno yang jejak sketsanya masih separuh tenggelam di balik sapuan warna. Kanvas yang seharusnya hanya ia potret, ia pelajari teknik goresannya, dan ia jadikan patokan dasar untuk menciptakan tiruannya, kini justru menjadikannya hamba yang hina.

Padahal lima tahun yang lalu, ia telah memutuskan untuk tidak percaya kepada siapa pun lagi, baik itu manusia, hewan, tumbuhan, malaikat, maupun Tuhan. Sama sekali tak ada alasan baginya untuk bersujud di hadapan benda mati seperti itu. Apalagi benda yang belum selesai dikerjakan, yang bahkan belum layak disebut sebagai barang jadi.

Namun, alih-alih bangkit, Elam justru meresapi posisi itu sepenuhnya. Ia memejamkan matanya, lalu menghirup udara sejuk dini hari dalam-dalam. Perlahan gelombang kedamaian yang berlimpah merengkuhnya. Rasa tenang, bahagia, dan cinta yang entah dari mana datangnya seolah mengisi kekosongan dua puluh tujuh tahun hidupnya. Misi utamanya benar-benar menguap begitu saja. Ia hanya ingin menahan waktu lebih lama, berserah seutuhnya demi bermesraan dengan kepasrahan, membiarkan jiwanya tenggelam dalam perasaan asing yang tak akan pernah mampu ia palsukan.

“Bangun. Jangan pernah bersujud kepada benda buatan manusia.”

Suara berat itu memecah kekhusyukannya. Elam mengerutkan dahi dengan kelopak mata yang masih terpejam. Keindahan oasis batinnya porak-poranda, digantikan oleh sengatan amarah yang menghantam keras rongga dadanya.

“Berisik,” gumamnya tajam, tangannya sedikit mengepal di atas lantai.

Satu detik berlalu. Logika perlahan menyusul emosinya. Ia berada di fasilitas paling privat di Benua Spektrum. Tidak seharusnya ada orang lain di sini.

Kelopak matanya menyentak terbuka, ekor mata kirinya menangkap siluet yang berdiri tak jauh darinya. Ia sontak berpaling. Di sudut ruang yang remang itu, seorang pria tua berdiri menatapnya, dengan rambut putih keperakan yang menjuntai lurus hingga ke dada. Napas Elam terhenti. Seluruh kedamaiannya runtuh dalam sekejap. Keheningan studio yang beberapa saat lalu terasa seperti dimensi kayangan kini berbalik menjadi sangkar ancaman. Teguran itu setara dengan dobrakan paksa pada pintu kamar tepat di detik puncak keintiman.

Pria tua itu tak lain adalah sang pencipta dari lukisan mentah yang baru saja membajak kewarasannya. Orven Kaelis. Sang Imam Besar.

Gelombang kepanikan sontak membajak sistem sarafnya. Ia bangkit terlalu cepat, lututnya yang belum siap menopang bobot tubuh mendadak kehilangan pijakan. Tubuhnya terhuyung limbung ke sisi kanan sampai punggungnya menabrak rak kayu penyimpan perkakas lukis. Sebuah tabung kaca tebal berisi serbuk pigmen toska terguling jatuh, menghantam lantai marmer dengan dentuman berat yang disusul derak kaca yang hancur hingga gaungnya memantul ke seluruh penjuru ruangan. Debu berkilauan itu seketika menghambur ke udara, meliuk pelan bagai kabut sakral yang membisukan laju waktu di sekelilingnya.

Elam mendongak dengan napas memburu. Dari remang bayangan, pria tua itu berjalan menghampirinya. Bunyi langkahnya berdentang tajam memecah sunyi, memantulkan gaung logam yang beradu dengan marmer. Orven hanya mengenakan kemeja linen berlengan pendek, sehingga wujud fisiknya terpampang nyata. Kaki kanannya berupa prostetik logam hitam, begitu pula tangan kirinya. Namun, prostetiknya bukanlah potongan besi biasa, tetapi rakitan robotik canggih yang bergerak sehalus dan sepresisi sendi manusia.

Menatap realitas itu, ketakutan Elam perlahan surut, digantikan oleh sesuatu yang lebih menyakitkan. Di kepalanya, Orven adalah sosok sempurna yang tak tersentuh—pemimpin umat Prysmus di benua terindah Planet Paintros. Bagaimana mungkin sosok yang dikeramatkan sebagai perpanjangan tangan dewa-dewi itu membutuhkan sokongan logam hanya untuk sekadar berpijak, dan dari fisik yang tak utuh itulah lahir mahakarya yang mampu memaksa jiwa Elam berlutut di lantai marmer?

Pria tua itu berhenti tepat di hadapan Elam yang masih terkulai bersandar pada rak. Bukannya meledak dalam murka lantaran ruang sucinya disusupi dan suaranya dihardik, pria itu justru mengukir senyum yang begitu lembut. Ia menunduk perlahan, lalu mengulurkan tangan kanan biologisnya.

“Selamat datang, Elam Sevran.”

Untuk sesaat, seluruh suara di dalam studio itu seketika lenyap. Sevran. Sebaris nama yang sukses menelanjanginya di bawah cahaya remang. Bagaimana pria tua ini bisa tahu? Itu adalah identitas asli yang ia kubur mati-matian dalam kegelapan. Rahasia kelam yang tak pernah ia bisikkan kepada sahabat terdekatnya sekalipun.

Di titik itulah segala bentuk pertahanannya hancur tak bersisa. Terlucuti secara mental, Elam hanya menurut menyambut uluran tangan tersebut dan membiarkan tubuhnya ditarik berdiri. Telapak tangan sang maestro terasa sangat halus, tanpa ada tekstur kulit kering sisa pergumulan dengan kanvas dan zat kimia keras. Sentuhan itu begitu lembut hingga sesuatu dalam bayangan Elam tentang Orven akhirnya terasa lengkap. Pria ini jauh melampaui seorang maestro seni. Ia benar-benar sang Imam Besar.

“Silakan duduk di sana, tenang saja, santaikan dirimu dulu,” ucap Orven dengan seulas senyum lembut. Pria tua itu menunjuk sofa kulit di samping rak kayu besar, lalu berbalik menuju kabinet minuman di balik sekat ruangan. “Aku akan mengambilkan sesuatu.”

Elam mendaratkan tubuhnya ke atas sofa dengan seluruh otot yang masih bersiaga. Bunyi langkah prostetik Orven yang menjauh memberinya jeda sepersekian detik untuk bernapas. Secara refleks, tangannya meraba bagian dalam seragamnya. Mahakarya kecil yang ia curi masih terselip aman di sana. Sentuhan pada kanvas kasar itu menarik ingatannya mundur. Pada malam ini, semuanya seharusnya berjalan sempurna.


Ia datang ketika rumah-rumah besar di Ibu Kota Spektrum telah memadamkan sebagian lampu luarnya. Ember, kain lap, dan seragam kebersihan membuat orang tak sudi memandang wajahnya. Orang superkaya memiliki kebiasaan aneh; mereka ingin lantainya berkilau, tetapi menolak melihat siapa yang membersihkannya. Elam mengenal kebiasaan itu terlalu baik, dan malam ini ia memanfaatkannya. Pintu pertama terbuka dengan kartu akses curian. Pintu kedua dan ketiga malah lebih mudah. Tidak ada penjaga yang curiga mengapa petugas kebersihan membawa tas perkakas yang terlampau berat.

Kemudahan itu memicu konflik yang saling bertabrakan di pikiran Elam. Ada kepuasan yang hangat sebagai penyusup ulung, namun di saat yang sama, insting jalanannya berbisik curiga. Pengawasan ini terlalu longgar untuk ukuran aset bernilai triliunan.

Memasuki area privat, Studio Orven jauh berbeda dari ekspektasi publik. Banyak yang mengira ruang kerja sang imam berwujud bak kuil suci yang memancarkan nuansa surgawi. Nyatanya, tempat itu lebih menyerupai studio kerja seorang seniman yang diperlakukan seteliti laboratorium. Satu-satunya kemewahan yang segera terasa hanyalah langit-langitnya yang menjulang tinggi dan proporsi ruangan yang terlampau longgar.

Yang membuat Elam berhenti adalah cara seluruh benda ditempatkan. Setiap permukaan meja jati tua, bingkai-bingkai kayu, tiang-tiang penyangga kanvas, dan kabinet besi sengaja dibiarkan kusam agar pantulan cahaya tidak mengganggu penglihatan. Taktik pemusatan fokus ini disempurnakan oleh tata cahaya yang tidak merata. Cahaya lampu jatuh dari beberapa sudut dan meninggalkan area tertentu dalam remang, memaksa mata memilih mana yang harus dilihat lebih dahulu. Bahkan penempatan rak-rak tinggi dan barang-barang besar sengaja disusun mengapit area kanvas utama demi membentangkan jalur imajiner yang perlahan membuka arah pandang menuju pusat studio.

Elam memahami apa yang sedang dilakukan ruangan itu terhadap matanya. Senyum miring tersungging di bibirnya. Alih-alih memutus manipulasi itu, ia dengan sengaja memilih meminjamkan pandangannya untuk dituntun secara penuh oleh jebakan visual tersebut.

Tepat ketika langkah dan pandangannya tiba di pusat ruangan yang sunyi, mode penyamarannya usai. Elam berhenti menjadi petugas kebersihan. Ia kembali menjadi dirinya sendiri; lelaki yang selama bertahun-tahun bertahan hidup dengan mengeksploitasi ilusi optik mata manusia.

Dari balik perlengkapannya, ia mengeluarkan kamera analog kecil berpresisi tinggi yang sudah terisi satu gulung film. Dalam kesunyian, ia mulai mendokumentasikan karya-karya Orven. Keseluruhan, detail permukaan, tumpukan lapisan cat, hingga bekas garukan pisau palet. Bunyi klik tanpa flash menceklik teredam setiap kali jemarinya menekan tombol. Begitu dokumentasinya tuntas, Elam menyarungkan alat itu kembali. Namun, sebagai pemalsu ulung, ia tahu foto saja tidak akan cukup. Ia masih membutuhkan karya yang dapat dipelajarinya secara langsung.

Elam bergerak ke deretan karya yang tersusun di salah satu sisi studio dan mengambil tepat tiga karya berukuran kecil dengan medium berbeda: satu di atas kertas, satu di atas kain, dan satu kanvas kecil. Tiga karya, ditambah satu gulung film yang sudah dipenuhi foto. Itu lebih dari cukup untuk mulai membongkar rahasia goresan Orven.

Hingga akhirnya, Elam melangkah ke pusat ruangan dan menemukan kanvas besar itu. Figur Dewi Kuno.

Kanvas itu baru tersentuh warna setengahnya. Sebagian area masih menampakkan dasar serat linen yang mentah, sejumlah guratan sketsa dibiarkan memudar sebelum mengunci siluet, sementara lapisan pigmen di berbagai sapuan memperlihatkan tingkat keretakan dan oksidasi yang tak seragam. Dari ketimpangan itu Elam dapat memperkirakan sesuatu yang membuatnya berhenti lebih lama. Orven telah mengerjakan lukisan tersebut setidaknya selama enam tahun. Enam tahun untuk satu karya, dan prosesnya masih jauh dari selesai.

Tanpa perlu memakai lensa pembesar, Elam memusatkan pandangannya. Kemampuan anomali pada retinanya mulai membelah realitas fisik lukisan itu. Ia sedikit mencondongkan tubuh. Dari sudut tersebut, permukaan yang semula tampak merah tua pecah menjadi lapisan-lapisan mikroskopis. Ada butiran mineral, serat tumbuhan, dan bagian-bagian tertentu yang menelan cahaya lebih dalam daripada pigmen industri. Aromanya pun asing, tetapi mengingatkannya pada damar, akar mengkudu kering, dan bunga telang yang diremas lama, jejak bau yang pernah tersimpan di salah satu sudut pabrik ayahnya.

Syra. Pikiran itu datang begitu cepat hingga nyaris membuatnya tersenyum.

Dulu, ia pernah mencoba mengolah sedikit serbuk serupa yang terselip di antara stok lama di sana, dan hasilnya membuat tangannya serasa melukis menggunakan tanah liat yang keras kepala. Berat. Kasar. Warna yang satu mengotori warna lain jika tekanannya keliru. Ia pernah menghabiskan berhari-hari hanya untuk memperoleh campuran yang akhirnya tampak seperti lumpur berharga mahal.

Namun, di tangan Orven, bahan yang sama menghasilkan kedalaman yang tak bisa dijelaskan oleh seluruh pengalaman melukisnya.

Pandangan Elam beralih ke meja dorong yang terparkir dua langkah di sebelah kanannya. Permukaannya dipenuhi kuas, pisau palet, lumpang batu kecil, kain bernoda, dan sejumlah botol pigmen. Di antara semuanya, matanya tertuju pada tiga botol kaca kecil berisi serbuk merah, kuning, dan biru. Ia mencomot ketiganya, membuka tutupnya satu per satu, dan mendapati aroma yang sama. Syra. Tanpa ragu, ia menyelipkan tiga botol itu ke dalam saku rahasianya dengan kehati-hatian luar biasa. Benda sekecil itu bisa tampak sepele di tangan orang bodoh, tetapi di tangan yang tepat nilainya jauh lebih merepotkan daripada ukurannya.

Elam menegakkan tubuh, menyilangkan tangan di belakang punggung, lalu berjalan mundur tanpa melepaskan pandangan dari kanvas. Lima langkah belum cukup. Enam. Tujuh. Delapan. Ia terus melangkah menjauh. Baru pada langkah kesebelas, kedua tepi lukisan akhirnya tertangkap utuh oleh pandangannya. Dari jarak itu, detail-detail permukaan tadi melebur dan sketsa mentah yang belum tertutup warna mulai mengabur, menyisakan sosok Dewi Kuno yang baru separuh menemukan wujudnya.

Napas Elam memendek. Matanya mulai nyeri karena terlalu lama memaksa fokus. Lehernya mengirim rasa sakit tipis ke bahu. Cukup. Ia mengalihkan pandangan dari kanvas dan hendak angkat kaki dari sana. Namun, sebelum sempat melangkah, kekuatan di kedua kakinya mendadak mengendur. Lututnya malah merosot pasrah dan membentur lantai marmer.


Bunyi gemeretak pelan cangkir keramik dari atas nampan, bersahutan dengan gaung langkah prostetik logam di lantai marmer, menyentak Elam kembali ke masa kini. Suara itu terdengar kian mendekat dari arah balik sekat dinding tempat kabinet minuman berada. Jantungnya berpacu liar. Ancaman tertangkap basah mencuri mendadak terasa kecil dibanding kesadaran bahwa ia justru sangat mendambakan detik-detik penyembahan buta tadi. Sisa kenikmatan sakral itu seolah masih menempel berupa jejak aroma sejuk di rongga hidungnya.

Untuk menyangkal kekalahan mentalnya, Elam mati-matian menarik kembali ego aslinya. Matanya melirik waspada ke arah lantai di dekat rak kayu, titik tempatnya terjatuh panik beberapa menit yang lalu. Di antara serpihan tabung toska yang pecah, salah satu botol kecil berisi syra kuning curiannya—yang rupanya terlepas saat ia jatuh panik tadi—ikut tergeletak di sana. Dengan gerakan secepat kilat, Elam memungut dan menyembunyikannya kembali ke dalam saku.

Orven kembali dari balik sekat membawa nampan. Mata maestro itu melirik sekilas ke arah titik di mana botol syra tadi dipungut, lalu kembali menatap Elam dengan raut wajah yang lembut.

“Oh,” gumam Orven seraya menyunggingkan senyum sarkastis. “Jadi kau sudah sadar, ya?”

Elam menelan ludah, menghindari tatapan itu.

“Apakah kau tidak heran keamanan gedung ini bisa kau tembus dengan sangat mudah?” tanya Orven bernada kelewat ringan, sembari meletakkan nampan di atas meja. “Padahal pengawasan di sini jauh lebih ketat daripada penjara mana pun di Paintros.” Kali ini ia menaikkan sebelah alisnya.

Ancaman terselubung itu membuat insting bertahan hidup Elam mengambil alih. Ia harus segera merangkai alibi darurat yang sekiranya masuk akal. “Sebenarnya ... saya bekerja di sini karena ingin bertemu langsung dengan Anda.”

“Begitu?” Orven sedikit memiringkan kepala, menampilkan mimik muka pura-pura terkejut.

“Saya hanya ingin melihat cara Anda berkarya dari dekat. Saya ingin menjadi murid Anda. Saya bisa membuktikan kemampuan melukis saya kalau Anda mau.”

Seluruh kecerdasan analitisnya mendadak runtuh. Yang keluar barusan hanyalah muntahan omong kosong demi menunda eksekusi.

“Aksen Markora-mu masih terdengar jelas, Sevran.”

Pura-pura bodoh tak ada gunanya lagi. Elam kini mencondongkan tubuhnya ke depan. “Bagaimana Anda bisa tahu nama belakang saya?”

“Santailah dulu.” Orven bersandar rileks, lalu menunjuk secangkir kopi di atas meja. “Silakan diminum, ini kopi kurma kualitas terbaik kami. Dan ambillah ini, kau terlihat tegang sekali,” lanjutnya sembari menggeser sekotak cerutu melintasi meja ke hadapan Elam.

Sambil terkekeh pelan, Orven membakar cerutunya sendiri dan mengisapnya dalam-dalam. Pemantik logam itu kemudian ia letakkan begitu saja di atas meja, tepat di samping kotak cerutu.

Meski otaknya masih bersikeras mencari celah untuk kabur, tubuhnya menjerit menuntut jeda. Kelelahan fisik dan mental membuat Elam tak lagi punya sisa tenaga untuk sekadar waspada, apalagi peduli apakah suguhan itu beracun atau tidak. Logika oportunisnya pun mengambil alih, kapan lagi ia bisa menikmati kemewahan semacam ini?

Tanpa ragu, Elam meneguk kopi mahal tersebut. Pahit yang elegan berpadu dengan jejak manis kurma yang hangat, menyiram kerongkongannya bak oase bagi psikis yang nyaris meledak. Ia mengambil waktu beberapa detik untuk meresapi kemewahan itu sebelum cangkirnya kembali mendarat di meja. Tangannya berlanjut meraih sebatang cerutu beserta pemantik logam di samping kotak. Diiringi bunyi klik yang tajam, ia menyulut ujung gulungan tembakau itu dan menarik satu isapan panjang.

Asapnya luar biasa tebal, mengepul gemulai bagai sutra kelabu yang melayang, lalu turun membelai tenggorokannya dengan kelembutan tiada tara. Aroma pekatnya yang sangat khas membuktikan bahwa ini memang racikan kualitas tertinggi. Elam nyaris tersenyum getir. Bahkan di masa kejayaan pabrik pigmen ayahnya, kemewahan segila ini tak pernah tersentuh oleh mereka berdua. Perlahan, aliran kafein dan nikotin premium itu meresap masuk, memudarkan kabut di kepalanya. Begitu otaknya kembali jernih, matanya melirik ke arah pintu ganda. Ia mulai mengalkulasi jarak dan skenario pelarian tercepat.

“Bagaimana rasanya? Enak?” tanya Orven riang, bibirnya mengulas senyum lebar usai menyesap kopinya dengan penuh kenikmatan.

Elam meraih kembali cangkirnya, kemudian mengangguk kaku dengan senyum canggung.

Wajah Orven masih sesantai sebelumnya ketika ia menatap mata Elam dan berkata, “Syukurlah. Karena setelah ini, kau akan kami hukum karena telah mencuri.”

Elam tersedak. Asap yang belum terembus itu menerobos saluran napas, membuatnya terbatuk hebat hingga cangkir di tangannya miring dan kopi hitam itu tumpah mengotori meja, lantai, dan separuh sepatunya. Guncangan batuknya membuat bara kemerahan dari ujung cerutunya pun ikut patah, meluncur jatuh bersarang tepat di atas ritsleting celananya. Bau sangit kain dan sengatan panas seketika membuat Elam melonjak kelojotan sambil kelimpungan menepuk-nepuk selangkangannya dengan kalap layaknya pria malang yang tengah berusaha menyelamatkan masa depannya.

Melihat kekacauan itu, tawa Orven meledak tak terkendali hingga ia harus menggebrak meja kayu di hadapannya. Namun, dari balik dinding yang menjulang jauh di belakang Orven, terdengar samar-samar suara kekehan tertahan dari beberapa orang, sebelum suara itu terputus mendadak. Gurat kejengkelan melintas kilat di matanya, lalu dengan cepat ia kembali mengulas senyum damai seolah tak terjadi apa-apa.

Setelah memastikan selangkangannya aman dari luka bakar, Elam masih tersengal meraup oksigen dengan mata memerah berair. Begitu menyadari bahwa dirinya baru saja menjadi bahan tertawaan bagi orang-orang di balik dinding, otaknya mulai memproyeksikan skenario terburuk—entah dirinya dipenjara, dilenyapkan tanpa jejak malam ini juga, atau diseret ke ruang penyiksaan rahasia yang tak tersentuh hukum.

“Tenang saja,” Orven berdeham, mengembalikan atensinya pada Elam yang masih terengah-engah sambil memegangi dada dan mengusap-usap canggung pangkal pahanya. “Kau tidak akan kami masukkan ke penjara.”

Pernyataan itu seketika meredam kekalutan Elam. Matanya yang masih berair menyempit penuh kewaspadaan. Ia segera menarik botol minum dari saku kargo celananya, lalu menenggaknya rakus, membiarkan air dingin itu menyiram tenggorokannya yang terbakar sekaligus menenangkan sisa gemetar di tangannya akibat rentetan kesialan tadi.

Raut wajah Orven kini berubah serius, menyapu bersih segala omong kosong dan menghapus sisa kehangatan palsu yang sedari tadi ia mainkan. “Maaf, sebenarnya aku enggak suka drama murahan semacam ini. Kami enggak punya waktu banyak. Aku akan mengatakan fakta yang sebenarnya, meski ini mungkin akan terdengar enggak masuk akal bagimu. Sejujurnya ... kau adalah kandidat terkuat untuk menjadi nabi kami selanjutnya.”

Elam melongo dengan ujung botol air yang masih menempel di bibirnya. Hening yang panjang seketika menelan seisi ruangan. Otaknya yang baru saja jernih kini dipaksa mencerna lelucon tergila abad ini. Ia? Nabi? Bagaimana mungkin seorang pemalsu lukisan yang telah memilih hidup sebagai ateis mendadak diangkat menjadi utusan Tuhan?

Perlahan, rasa geli yang teramat absurd menggelegak di dadanya, berbaur dengan sisa perih di tenggorokannya. Elam segera menuangkan sisa air ke telapak kirinya, lalu dengan cepat ia meraup wajahnya menggunakan kedua belah tangannya. Di balik persembunyian itu, batinnya tertawa keras. Untuk memastikan tak ada suara yang lolos, ia menarik napas sedalam-dalamnya hingga paru-parunya penuh. Begitu udara berembus keluar, kewarasannya kembali. Ia menutup botol itu dan menyelipkannya lagi ke saku kargo, lalu menatap Orven dengan sorot mata tajam.

Bagi Elam, kata nabi itu justru memantik memorinya pada satu-satunya referensi tentang tokoh spiritual yang belakangan ini sedang naik daun. Ia merogoh dompet dan mengeluarkan selembar potongan koran lecek. Dompet itu kembali ia selipkan ke saku, lalu dengan gerakan tenang, Elam menggeser kliping usang itu melintasi bagian meja kayu yang luput dari genangan kopi, kemudian menunjuk paras pria di kertas tersebut.

“Maksud Anda ... seperti beliau?” tanya Elam setengah tak percaya.

Koran itu menampilkan potret Papa Ghuffar—sosok nabi palsu dari Markora yang tengah menjadi bahan lelucon publik. Penampilannya amat memprihatinkan. Rambut panjang, kumis, dan jenggot awut-awutannya disemir hitam, namun luntur tak merata hingga uban-uban putihnya mengintip liar. Helai-helai kusut dua warna itu menyembul berantakan dari bawah lilitan kain penutup kepala berornamen tradisional.

Reputasi pria ini telah menyebar ke seantero Planet Paintros hingga ke Pencilar. Ia pernah mengaku secara terbuka beradu fisik dengan Malaikat Maut demi menggagalkan ajal pengikutnya, serta acap kali pamer tengah dikejar-kejar koloni semut lantaran serangga-serangga itu begitu mencintai selera humornya. Malahan dalam salah satu ceramahnya, seorang pengikut setianya dengan bangga mendeklarasikan bahwa sang guru adalah pria suci idaman yang kehadirannya tak sabar dinantikan oleh seluruh bidadari di surga.

Namun, citra agung itu mendadak runtuh ketika nabi itu sempat masuk liputan utama media global karena terekam memaki-maki tanpa kendali lantaran sepeda ontel milik muridnya raib digondol maling. Dengan beringas, ia menyuruh si pencuri segera bertobat dan menuntut satpam padepokannya untuk mengganti rugi saat itu juga.

Orven menatap koran itu. Tangan kanan sang maestro refleks membekap mulutnya sendiri, disusul gerakan buru-buru memalingkan wajah dengan bahu yang bergetar samar. Namun, menyadari situasinya tak lagi pantas untuk sebuah lelucon, ia lekas berdeham dan menarik kembali wibawanya. “Baguslah kalau kau sudah tahu,” gumam Orven, meski sisa kilat geli masih bersembunyi di sudut matanya.

Namun, beberapa ketukan kemudian, kejenakaan itu luruh seutuhnya dari raut sang maestro. Matanya manajam, memindai Elam dengan penuh kewaspadaan. Bagi Orven, seorang penyusup dari Markora yang membawa profil seseorang yang tengah diburu lintas planet terlalu ganjil untuk dianggap kebetulan. Keganjilan tersebut membuat Orven harus mengkalkulasi ulang siapa sebenarnya pemuda di hadapannya ini.

“Kenapa kau menyimpan fotonya?” tanya Orven, suaranya kali ini rendah, tajam, dan menuntut kepastian. “Apakah kau ... disuruh seseorang untuk menangkapnya?”

Merasa ditekan, Elam membalas dengan pertanyaan yang sedari tadi menyiksa kepalanya, “Kenapa aku yang harus jadi nabi?”

Menolak kehilangan kendali atas percakapan, Orven mengangkat tangan kanannya ke udara dan mengacungkan telunjuk.

Pintu ganda studio terbuka serentak. Empat pria berpostur tegap berseragam resmi merangsek masuk dengan formasi taktis. Dua di antaranya langsung menyebar, berdiri tegap membelakangi pintu keluar. Tangan mereka bergerak serentak, mengeluarkan sepasang pedang dari sarungnya hingga bilah bajanya berdesing nyaring mengiris udara. Sementara dua sisanya melangkah maju, mengambil posisi di antara Orven dan Elam. Dari jarak beberapa langkah, mereka membidikkan moncong pistol lurus ke dada pemuda itu. Wajah mereka dingin bak algojo.

Orven mengangkat tangan kanannya dengan kelima jari terbuka. Seketika, kedua penjaga yang membidikkan pistol itu menurunkan senjata mereka.

“Geledah dia. Lucuti semua yang ia bawa,” perintah Orven lugas.

Melihat moncong senjata api dan sepasang pedang di depannya, nyali Elam menciut habis. Perhatiannya justru terkunci pada senjata bilah di dekat pintu tersebut. Itu bukan baja biasa. Ada garis jingga menyala yang membelah bagian tengah bilah, berujung pada satu lubang sirkular kecil di pucuknya, serta satu tombol mekanis di bagian gagang.

Napas Elam tercekat. Itu adalah Pedang Fountain. Senjata pembantai yang reputasinya melegenda.

Elam tahu betul mimpi buruk macam apa yang konon bisa diakibatkan oleh benda itu. Pengguna Fountain tak perlu benar-benar menebas daging untuk menumbangkan target. Cukup dengan menekan tombol di gagangnya saat mengayun, pedang itu akan menyemprotkan racun syra jingga dengan tekanan tinggi dari lubang di ujung bilah. Sekalipun sabetannya meleset, cipratan racun itu takkan mengampuni. Cairan tersebut tidak hanya menyiksa kulit dengan rasa perih yang sanggup membuat korbannya menjerit histeris, tetapi dapat merusak jaringan saraf dan meninggalkan kelumpuhan permanen pada anggota tubuh mana pun yang terpapar.

Elam takkan gentar seandainya peluru itu menembus lurus jantungnya dan seketika mencabut nyawanya. Kematian sama sekali tidak menakutinya. Namun, membayangkan proyektil tersebut hanya mengoyak paru-paru dan melumpuhkan tungkai kakinya, atau cipratan racun jingga itu melelehkan jaringan sarafnya perlahan, adalah cerita lain. Baginya, penderitaan fisik tanpa akhir jauh melampaui ketakutannya pada maut. Tanpa perlawanan, ia lekas mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi ke udara.

Penggeledahan itu berlangsung cepat dan sangat efisien. Tangan para penjaga dengan sigap merogoh setiap kantong di balik seragam kebersihan Elam. Kamera analog, empat gulung film cadangan, dan tiga botol kecil syra primer segera berpindah tangan. Tiga karya kecil yang ia curi, satu di atas kertas, satu di atas kain, dan satu kanvas kecil, akhirnya ditarik paksa dari persembunyiannya. Tak ketinggalan, sisa barang bawaan pribadinya seperti dompet dan botol air minum turut dikeluarkan. Semuanya lalu dijejerkan berderet di atas meja, bersanding dengan potongan koran Papa Ghuffar yang sejak tadi tergeletak di sana. Rentetan benda itu seolah menjadi saksi bisu yang menelanjangi segala kedok sang pemalsu di hadapan Orven.

Elam menatap meja itu dengan tatapan kosong. Kopi kurma Orven telah mendingin. Sementara itu, tumpahan kopinya masih menetes pelan dari tepi meja. Baru saat itu ia benar-benar menyadari bahwa perjalanan lintas planetnya kini hancur lebur.

“Jawab pertanyaanku tadi,” desak Orven. Suaranya menggema menguasai ruangan. “Nasibmu ada di tanganku. Aku masih bisa menjebloskanmu ke penjara paling terkutuk di Benua Akar. Kau tahu berapa jumlah napi yang mati membusuk setiap harinya di sana?”

Di hadapan kengerian penjara terkutuk tersebut, rasa malu moralnya akhirnya meluap mengalahkan kepanikannya. Ia menunduk menatap foto lecek di atas meja, lalu bicara dengan kejujuran yang telanjang.

“Aku membawanya ... sebagai bentuk rasa syukur.” Suara Elam bergetar pelan. “Karena dengan kondisi psikis yang sudah putus, beliau masih bersemangat berdakwah menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan.” Elam menarik napas panjang yang terdengar menyakitkan. “Maaf, walaupun banyak yang menganggapnya gila, baik kaum ateis, penganut Prysmus, maupun penganut Moshriel, dan banyak sekali yang menertawakannya ... beliau masih sangat bersemangat untuk hidup.”

Elam mendongak, menatap lurus ke dalam mata Orven. “Tidak sepertiku. Aku yang masih waras justru sudah lama menggadaikan moralku. Aku menghancurkan karier banyak pelukis sungguhan hanya dengan menjiplak karya mereka demi uang.”

Waktu seolah berhenti di dalam ruangan itu.

Tak ada yang bersuara. Atmosfer intimidasi yang sejak tadi dibangun oleh para penjaga bertubuh tinggi kekar mendadak runtuh tak bersisa.

Orven, yang masih memegang cerutunya, membeku total. Jari-jari sang maestro mengendur tanpa ia sadari. Cerutu mahal itu tergelincir dari sela jarinya, jatuh berdebum pelan ke atas marmer, menghamburkan bara api ke dekat kaki prostetiknya. Orven tidak memungutnya. Ia hanya menatap Elam tanpa berkedip.

Di sekeliling Elam, reaksi para penjaga tak kalah aneh. Keempat penjaga itu serempak membuang pandangan ke arah lain. Sekalipun dua di antaranya berdiri sangat jauh di dekat pintu ganda karena luasnya ruangan, Elam tetap mampu menangkap pergerakan mikro tersebut dengan jelas.

Keheningan itu berlangsung selama beberapa detik yang menyiksa. Elam sama sekali tidak tahu mengapa penjelasannya tentang pria gila bernama Papa Ghuffar itu menciptakan reaksi yang begitu ganjil di ruangan ini.

Orven membungkuk meraih cerutunya yang jatuh di dekat kaki prostetiknya. Setelah kembali menegakkan tubuh, ia menarik arah tatapannya menjauh dari Elam.

“Tutup matanya,” perintah Orven dengan suara lirih yang nyaris tanpa tenaga. “Masukkan dia ke tahanan.”

Dua penjaga langsung meringkus lengan Elam. Borgol logam berdenting saat mengunci pergelangan tangannya. Sehelai kain tebal lebih dulu membebat matanya rapat-rapat, disusul selubung karung hitam yang merungkup seluruh kepalanya, hingga tak menyisakan setitik cahaya pun di baliknya.

Elam diseret keluar. Suara langkah kakinya dan sepatu bot para penjaga memantulkan gema berlapis di sepanjang lorong menuju bagian luar kediaman. Tanpa penglihatan, ia hanya bisa merasakan bagaimana udara steril mansion itu berangsur pudar, tergantikan oleh embusan angin dini hari yang meruapkan aroma sejuk rerumputan. Adrenalin yang sejak tadi memompa jantungnya berangsur surut, memberi tubuhnya kesempatan untuk mengendur.

Di dalam kegelapan penutup mata itu, kata-kata Orven kembali terngiang. Kandidat terkuat untuk menjadi nabi.

Sepotong ingatan lama mendadak muncul di kepalanya. Tentang tabung porselen sekecil ibu jari yang berisi Racun Upoh dari Suku Bayak. Di pasar gelap, getah itu diyakini sebagai jalan pintas sempurna menuju kematian. Penggunaan dalam dosis tinggi akan melumpuhkan sistem peredaran darah dalam hitungan detik, menciptakan henti jantung mendadak yang mustahil dibedakan dari serangan jantung alami pada autopsi standar.

Ia ingat membuka tutupnya, merasakan dingin tepian porselen di bibirnya. Ia benar-benar berniat mengakhiri semuanya malam itu di tengah kesunyian studio lukisnya. Namun, belum sempat ia meneguk, jirby gemuk peliharaannya mendadak melompat dengan ganas. Sepasang telinganya yang terlampau lebar terayun hingga ujungnya menepuk telinga Elam, diiringi sabetan ringan ekor panjangnya yang menyisakan rasa geli saat bulu-bulu tipisnya bergesekan dengan leher. Disusul gumpalan perut kremnya yang empuk menubruk wajah Elam, membiarkan bulu-bulu halusnya menggelitik hidung hingga ia refleks memejam menahan bersin. Dalam kekacauan sekelebatan itu, Racun Upoh terlepas dari tangannya dan hancur berantakan di lantai.

Sampai sekarang Elam masih tidak mengerti kenapa. Di balik wajahnya yang imut, nyaris seluruh hidup jirby itu hanya dihabiskan dengan makan, buang air, lalu mendengkur di sofa studio. Bahkan, ia tetap tak acuh setiap kali Elam mencoba memancingnya bermain. Pernah suatu hari, saking lelahnya fisik dan mentalnya, ia melempar hewan itu keluar dari lantai dua. Namun, esoknya, hewan tersebut sudah kembali mendengkur di tempat yang sama, seolah tak terjadi apa-apa.

Untuk seseorang yang pernah memilih untuk mengakhiri hidup kini disebut sebagai kandidat nabi. Orang yang sudah lama menolak percaya pada Tuhan justru beberapa menit yang lalu menemukan kedamaian terdalam hidupnya saat bersujud pada sebuah lukisan.

Setelah kepanikannya mereda, Elam mulai mencoba memahami ucapan Orven dengan cara yang paling masuk akal. Papa Ghuffar. Mungkin semua ini memang berhubungan dengan pria itu. Mereka barangkali hanya membutuhkan seseorang untuk mengambil tempatnya, dan entah karena alasan apa, Elam dianggap cocok. Sesinting apa pun kemungkinan itu, setidaknya asumsi tersebut masih bisa diterima akalnya.

Sampai ia mengingat kembali kalimat Orven dengan tepat. Pria itu tidak mengatakan bahwa Elam akan menggantikan Papa Ghuffar. Ia bahkan tidak pernah mengaitkan nama mereka berdua, melainkan yang dikatakannya adalah—kandidat terkuat.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk