Minggat

3 dibaca

A

Saga menyeret koper merahnya keluar dari rumah. “Jangan bawa apa pun selain bajumu!” Ultimatum yang dia dengar barusan malah membuat tekadnya untuk pergi semakin besar. “Memangnya siapa yang butuh fasilitas? Hah, lihat saja, aku akan bertahan!”

Dia menguatkan hatinya untuk tidak berpaling dan menghentikan taksi yang lewat.

“Mau ke mana, Mas?” tanya sopir taksi.

Blank! Seketika kepala Saga berpikir keras. Dia harus ke mana? Dia tak punya arah tujuan! “Pak, bantu saya cari kontrakan kecil yang murah,” katanya pasrah.

“Mau di daerah mana, Mas?” Pak sopir menatap iba ke arah Saga yang kebingungan.

“Daerah yang dekat dengan pabrik, Pak. Saya harus mencari kerja juga,” katanya semakin lirih. Seketika dia menyesali keputusannya untuk keluar dari rumah. Dia mau ke mana, bagaimana, dan mau apa?

Akhirnya sopir yang sama bingungnya dengan Saga membawanya ke daerah industri di pinggir kota. Debu yang beterbangan, asap-asap yang keluar dari cerobong pabrik, menambah syahdu suasana hati Saga.

“Mas, di belakang kantor-kantor itu ada beberapa kontrakan, kali saja ada yang kosong.” Sopir itu menunjukkan gang kecil yang membelah bangunan di sana.

Saga menggeleng lemah, ada rasa ragu untuk masuk, tapi dia tak bisa kembali. Setelah membayar ongkos, dia menyeret kopernya memasuki salah satu gang di sana. Rumah-rumah petak berjajar, penuh dengan jemuran dan beberapa perabot usang. Saga semakin menggelengkan kepalanya. Ini salah. Namun, ultimatum tadi membuatnya maju.

ADA KAMAR KOSONG

Tulisan itu membuat Saga melewati halaman kecil tersebut. Dia mengetuk pintu pertama yang terlihat. Beberapa kamar yang berada di samping rumah menandakan bahwa itulah kamar yang disewakan.

“Iya, ada yang bisa dibantu?” tanya seorang bapak paruh baya. Dia menatap Saga dari ujung kaki sampai ujung kepala. Apa yang dipakai Saga sama sekali tidak mencerminkan seorang buruh yang mencari kontrakan.

“Saya lihat plang ada kamar kosong, saya ingin mengontrak,” kata Saga membuat bapak itu melongo.

“Mas gak salah tempat, kan?” tanyanya sambil melirik koper yang dibawa Saga.

“Nggak, Pak. Saya beneran mau ngontrak di sini. Sebulan berapa?” tanya Saga setengah kesal. Dia sudah ingin merebahkan diri di kasur dan tidur. Melupakan masalahnya hari ini.

“Lima ratus ribu sebulan, Mas. Kalau bayar tahunan lebih murah, saya kasih diskon dua bulan,” kata si bapak pada akhirnya.

Saga melongo. “Bapak yakin? Lima ratus ribu sebulan?”

“Ya harga pasaran di sini segitu, Mas. Sudah murah itu,” kata si bapak agak tersinggung. “Coba tanya depan sana, lebih mahal, ada yang tujuh ratus,” lanjutnya.

“Oh, bukan begitu, Pak. Ini, saya bayar langsung setahun, gak usah didiskon,” kata Saga mengambil dompetnya dan mengeluarkan lembaran merah.

Si bapak melongo melihat isi dompet Saga. Dia menerima lembaran-lembaran itu dengan menatap Saga tak percaya. “Mas yakin mau ngontrak di sini? Di depan sana ada yang lebih bagus, Mas,” kata si bapak agak tidak enak.

“Yakin, Pak!” kata Saga mantap. Dia harus menghemat uang selama belum mendapatkan pekerjaan. Semua ATM-nya sudah tidak ada. Bekal yang dia punya hanya apa yang ada di dompetnya.

Si bapak dengan tergesa mengambil kunci dari lemari di ruang tamu. “Mari, Mas. Kebetulan kemarin sudah saya bersihkan, seprai juga sudah saya ganti semua,” ujarnya.

Mereka menuju kamar yang berada di ujung. “Oh, ya, kamar mandi dalam, kok, ya tapi kamarnya kecil,” lanjut si bapak. Pintu terbuka. Jauh dari apa yang Saga harapkan, tapi apa boleh buat. Dia harus berhemat.

“Terima kasih, Pak. Oh, ya, Pak. Untuk cari makanan di mana yang terdekat?” Saga harus memastikan bahwa sumber makanan tidak jauh.

“Oh, di gang sebelah, ada warung. Kalau mau agak mahalan, di jalan raya sana banyak,” kata Pak Kos.

Saga mengangguk dan menutup pintu. Dia menatap nanar kasur yang ada di lantai tanpa dipan, lemari kecil di sudut, dan meja. Hanya itu. Kamar mandi toilet jongkok dan bak besar. Dia merebahkan tubuhnya di kasur itu, kasur kapuk. Saga merutuk sikapnya yang gegabah. Namun, dia sudah terlanjur berada di sana. Besok dia akan mencari kerja.

Saga terbangun karena suara berisik di luar, orang-orang yang mengobrol dan tertawa-tawa. Saga melihat jam di tangannya, sudah jam enam sore rupanya. Karena capek, dia tanpa sadar tertidur juga tadi. Kemudian dia mengecek ponsel. Beberapa pesan masuk membuatnya mendesah. Pesan beruntun dari sahabat-sahabatnya. Sastra terutama. Dia yang paling banyak mengirimkan pesan dan menelepon.

[Kamu di mana?]

Pesan senada berjumlah puluhan.

[Om Pram mengirimkan pesan untuk tidak membantumu. Tapi aku butuh lokasimu untuk memastikan kamu aman.]

Sudah pasti, papanya akan mengirimkan pesan untuk menghalangi para sahabatnya membantu. Jika ketahuan, maka mereka juga akan habis. Papanya bagaikan singa jika sedang marah. Dan dia sudah membangunkan singa itu tadi hingga mengusirnya.

“Argh!” Saga menarik rambutnya sendiri karena frustrasi.

Saga mengirim koordinat tempatnya sekarang kepada Sastra.

[Parkir mobilmu di jalan besar dan masuk ke gang.]

Setengah jam kemudian, ponselnya berdering. Sastra. “Aku sudah di depan rumah, kamu di mana?”

Saga bangun dan membuka pintu kamarnya. Lalu menuju halaman. Terlihat Sastra kebingungan. “Ayo,” kata Saga menarik Sastra mengikutinya.

Sastra masih heran dengan kamar yang dituju Saga, dia mengira rumah besar di depanlah yang dihuni Saga. “Sa, kamu yakin?” tanyanya tak percaya. “Kamu gak salah rumah, kan?” lanjutnya.

“Aku mengontrak kamar ini dengan harga lima ratus ribu sebulan, dan aku sudah membayar penuh untuk satu tahun,” tutur Saga membuat Sastra melongo.

“Sa, kamu mau aku bayarin rumah depan?” tawar Sastra tanpa basa-basi.

Saga menjitak kepala sahabatnya itu kesal. Bagaimana bisa dia dengan entengnya bilang seperti itu. “Aku akan membuktikan sama Papa, aku bisa berdiri sendiri,” tekad Saga. Matanya berapi-api menahan geram.

Lalu Sastra menamparnya dengan keras. “Bego! Kita lihat kamu bakalan bertahan sampai kapan,” ledek Sastra membuat Saga semakin kesal. Dalam hati, dia berjanji akan bertahan sekuat tenaga. Tak akan meminta bantuan kepada siapa-siapa. “Trus, kamu mau cari kerja di mana? Mau aku cariin?” tawar Sastra semakin membuat Saga menggeleng keras.

“Aku akan mencari sendiri,” desisnya sambil mengepalkan tangan.

“Ya sudah, mau makan?” tawar Sastra lagi. Ponsel Sastra berbunyi. Om Pram. “Buset, tau aja si Om aku di sini,” desisnya tak percaya.

“Sas, sudah baca pesan, kan? Kalau sampai Saga meminta bantuanmu, jangan pernah berani kamu, ya!” ancam Pram di saluran telepon.

“Iya, Om. Tenang saja,” kata Sastra.

Saga tertawa melihat wajah pucat Sastra. “Gitu mau bantuin. Mau kamu digorok?” ledeknya.

“Serem,” kata Sastra bergidik.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk