Rasanya hari ini adalah momen ulang tahun terburuk yang pernah aku alami. Malam di mana seharusnya keluarga kecil kami merayakan pesta sederhana, tapi harus di warnai dengan kabar ibu di Magetan yang terluka akibat terpeleset di kamar mandi.
Benar-benar hari yang melelahkan secara mental dan fisik. Mata ini telah begitu berat untuk terbuka demi melawan rute jalanan malam yang gelap dan monoton.
Aku tidak boleh tertidur saat ini, apalagi ada penumpang kecil yang sedang tertidur di jok belakang. Aku tidak boleh memejamkan mata. Tidak boleh.
Pedal gas kutekan lebih dalam, agar kami cepat sampai rumah. Bang Julian---suamiku---pasti sudah menunggu dengan hadiah kejutannya.
Ya Tuhan, kenapa sulit sekali menahan rasa kantuk ini?!
Sekonyong, suara klakson panjang menyentak kesadaranku. Kilasan cahaya putihnya membutakan mata dan memaksaku untuk segera banting setir, menghindari benturan keras yang akan segera terjadi.
Otak ini terlalu lumpuh untuk bisa memahami benda apakah tadi. Reflek kakiku menginjak pedal rem. Mobil berputar-putar di bahu jalan. Segera aku tarik tuas handbrake. Beruntung, aku bisa menghentikannya tepat waktu sebelum mobil ini terperosok ke parit.
Aku membeku untuk sesaat. Jantungku seakan berhenti berdetak. Tanganku masih mencengkeram kemudi dengan erat, seolah benda itu adalah penyelamat ku.
“Nana?! Kamu baik-baik aja, Nak?” Hatiku sedikit terhibur melihat sabuk pengamannya masih terikat dengan benar.
“Nana nggak pa-pa, kok,” gumamnya dengan mengantuk.
“Bentar lagi kita sampai rumah, Sayang. Sabar dulu, ya.”
Mobil pun kulajukan lagi. bersyukur kali ini jalanan begitu lengang hingga akhirnya kami tiba di rumah dengan sangat cepat.
Hatiku mulai bernyanyi gembira ketika melihat lampu ruang tamu masih menyala. Dengan sigap ku gendong Nana dan masuk ke dalam rumah dengan hati penuh harap.
Bang Julian ada di ruang tengah. Duduk menghadap seloyang pizza jumbo yang kelihatannya sudah dingin.
“Assalamualaikum. Abang sudah nunggu lama, ya? Maaf aku terlambat.”
Bang Julian hanya membisu dengan wajah tegang menghadap layar telepon genggamnya, seolah sibuk bermain PUBG.
Hatiku langsung mencelos sedih melihat ekspresinya. Dia pasti marah padaku saat ini. Entah karena apa, tapi dia selalu menunjukkan amarahnya dengan diam seribu bahasa. Termasuk malam ini, menyayat hatiku dengan kebisuan yang dingin.
“Aku tidurin Nana dulu ya, Bang? Ntar kita makan Pizza sama-sama.” Kuberikan senyum yang pernah ia puji sebagai senyum termanis di dunia.
Dengan hati resah kubaringkan Nana di kamarnya kemudian kembali ke ruang tengah. Suara TV di kamar belakang menandakan suamiku beranjak dari ruang tamu. Aku sudah curiga, dia mulai merajuk. Terkadang dia memang seperti bocah kecil tantrum jika ada hal yang tidak berjalan sesuai keinginannya.
“Dilaporkan, telah terjadi kecelakaan maut antara mobil SUV dan truk yang sedang memuat semen. Sayangnya kejadian ini telah menelan korban jiwa seorang ibu dan anak---“
Tunggu dulu, kenapa aku seperti mengenal mobil itu?!
Tidak!
Itu seperti mobilku!
Aku tahu dari stiker Jatim Park yang telah dicorat-coret anakku dengan spidolnya.
Kalau mobilku hancur di sana, lalu bagaimana aku bisa sampai pulang ke rumah?
“Ya Allah! Astaghfirullah, astaghfirullahalazim.” Ucapan Bang Julian---antara berteriak dan terisak pilu---membuatku makin bingung.
Ia berlari ke luar rumah seperti kesetanan, sementara aku terlambat untuk mengejarnya. Aku berhenti di teras rumah dengan air mata berlinangan, membiarkannya menghilang di kelokan jalan. Dalam kesunyian, aku merasakan kejanggalan. Ada yang berbeda dari dalam diri ini. Tidak kurasakan lagi irama degup yang telah menjadi bagian dari kehidupan.
Tamat.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!