Mangkuk melamin di hadapan Pak Tito berdenting, Bu Ria meletakkan piring berisi nasi goreng ke sisi meja. Ia menarik tangan kembali ke sisi tubuh.
Rizal melangkah masuk ke ruang makan. Ujung kerah seragam putihnya melipat ke dalam, tertindih ransel hitam yang baru tersampir di satu bahu. Poni hitamnya jatuh melewati alis, hampir menyentuh kelopak mata.
Ayah lipatan koran kemarin yang terbuka setengah di atas meja. “Rambutmu.”
Langkah Rizal terhenti di ubin keramik ketiga. “Kenapa, Yah?”
Pak Tito mengalihkan pandangan, menatap lurus ke arah kening Rizal. “Rapikan.”
“Baru mau masuk sekolah, Yah. Belum ada razia.”
“Ayah nggak tanya aturan sekolah.”
Ibu melangkah setengah langkah ke depan, jemarinya meremas kain celemek di perut. “Sudah, nanti Ibu rapikan sebelum berangkat. Biar dia sarapan dulu.”
“Kerapian dimulai dari kepala. Kalau dari rumah saja sudah berantakan, di luar kamu cuma jadi beban orang lain,” sahut Ayah masih menatap lurus ke arah Rizal.
Rizal menarik kursi kayu, lalu duduk tanpa suara. “Panjang rambut nggak ganggu pelajaran sekolah, Yah.”
“Kalo lagi makan jangan bersuara,” tukas Ayah cepat.
Rizal mengunyah dalam diam, rahangnya mengeras. Ibu bergerak ke dapur, mengambil segelas air putih, meletakkannya di samping piring Rizal tanpa suara.
Pak Tito berdiri lebih dulu. Ia mengambil kunci motor dari atas lemari kecil di dekat pintu, lalu berjalan keluar.
Rizal menatap punggung ayahnya.
Ibu Hana menoleh sekilas. “Berangkat sama Ayah.”
Rizal mengusap mulut dengan punggung tangan. “Biasanya sama Nadia, Bu.”
“Sekalian Ayah lewat depan sekolahmu.”
Rizal berdiri dan menyampirkan ransel ke bahu. “Kalau begitu Rizal jalan sendiri aja, Bu.”
Dari teras terdengar suara Pak Tito. “Lima menit.”
Rizal menoleh ke arah pintu. “Iya, Yah.” Ia melangkah keluar.
Motor milik Pak Tito sudah menunggu di depan rumah. Rizal duduk di jok belakang, menjaga jarak beberapa sentimeter dari punggung ayahnya. Mesin motor menyala, perlahan meninggalkan gang.
Rizal memandang deretan rumah yang bergerak mundur di sisi jalan. Seragam barunya masih kaku di badan. Sepatu pantofelnya sesekali menyentuh knalpot setiap kali motor melewati jalan berlubang.
Laju motor berhenti di lampu merah. Pak Tito menatap Rizal melalui spion. “Masih latihan di padepokan?”
“Iya, Yah.”
“Jam berapa selesai?”
“Biasanya sore.”
“Jangan pulang terlalu malam.”
Rizal terdiam sebentar. “Iya, Yah.”
Lampu lalu lintas berubah hijau, motor kembali bergerak.
“Ayah cuma nggak mau kamu pulang sendirian malam-malam.”
Rizal menatap punggung ayahnya. “Iya.”
Di dekat gerbang sekolah, Nadia sudah berdiri di dekat tiang listrik. Tas ransel birunya menggantung di bahu, tubuhnya terlihat lebih kecil dari usianya.
Nadia melempar kerikil kecil ke arah sepatu Rizal saat Rizal muncul dari tikungan gang. Kerikil memantul di ujung sepatu pantofel Rizal.
“Lama banget,” sergah Nadia.
“Gue baru nyampe.”
“Gue berdiri di sini lima belas menit, Item. Kaki gue pegal.”
“Salah sendiri, nggak ada yang nyuruh lu nunggu.”
Nadia melangkah maju, tangannya mendarat telak di lengan atas Rizal. “Hari pertama SMA mulut lo udah minta disumpel, ya?”
Rizal mendengus, memasukkan kedua tangan ke saku celana abu-abunya yang masih kaku. “Bodo amat.”
Rizal melangkah melewati Nadia. Nadia mendengus, menyamakan langkah kakinya dengan Rizal.
Mereka berjalan berdampingan menuju jalan besar. Matahari baru separuh naik, menyisakan hawa sejuk yang perlahan-lahan dihisap oleh aspal panas dan deru angkot kota.
Gerbang SMA Pelita Bangsa menjulang tinggi. Ratusan anak berseragam putih-abu-abu baru tumpah ruah di halaman depan. Suara pengeras suara dari ruang guru berdengung bising, memantul di dinding beton gedung utama.
Mereka berhenti di depan ruang kelas. Nadia menarik ujung kerah Rizal. “Diam.”
Rizal menatap tangannya. “Apaan?”
“Jangan gerak.”
Nadia merapikan kerah seragam Rizal yang terlipat ke dalam. Jemarinya menarik sedikit bagian bahu seragam yang kusut.
“Lu kalau berangkat sekolah kenapa selalu kayak habis dikejar anjing?”
“Gue baru bangun.”
“Jam berapa?”
“Setengah enam.”
“Terus?”
“Ya bangun.”
“Gue heran kenapa dari SD sampai sekarang lu nggak pernah berubah.”
Rizal menyeringai. “Lu juga.”
“Apanya?”
“Masih cerewet.”
Nadia menepuk dadanya. “Bagus. Berarti masih ada yang ngawasin lu.”
Rizal terdiam beberapa detik.
Nadia sudah lebih dulu berjalan menuju kelas. “Cepetan.”
Rizal mengikuti dari belakang. “Kalau gue nggak ada, lu mau ngawasin siapa?”
Nadia menoleh sambil berjalan mundur. “Banyak.”
“Siapa?”
“Bukan urusan lu.”
Rizal mendengus. Nadia tersenyum kecil lalu kembali menghadap ke depan.
Matahari siang melenceng sedikit ke barat ketika jam istirahat pertama membunyikan bel nyaring. Di lorong sempit belakang gedung sekolah, Anak-anak kelas satu dari delapan kelas bergerombol merapat ke tembok bata merah.
“Mulai hari ini, delapan kelas satu akan diadu dalam turnamen internal! Bukan buat cari piala, tapi buat nentuin siapa yang jadi penguasa kelas satu tahun ini!” Sorak-sorai langsung pecah. Anak-anak kelas tiga di pinggir lingkaran berteriak-teriak liar, memukul-mukul besi pagar pembatas.
Nadia menarik ujung lengan seragam Rizal, ia melihat kerumunan itu dari kejauhan. “Jangan ke sana.” Suaranya tertahan deru kipas angin.
Rizal melipat tangan di dada, matanya menatap ke tengah lingkaran kecil di antara rumpun bambu belakang sekolah. “Kenapa?”
“Lo mau ikut-ikutan jadi jagoan?”
“Gue cuma mau lihat.”
“Muka lo dari tadi udah kelihatan gatal mau nyari masalah.”
“Belum mulai udah dituduh.”
“Gue kenal lo dari kelas satu SD, Item. Lo tuh nggak bisa lihat orang sok jago sedikit.”
Dua pertandingan sudah lewat. Dua anak kelas satu terkapar di lantai, hidung merrka berdarah, disaksikan tawa para senior.
Dion, anak kelas 3 turun dari tumpukan drum kosong, meludah ke tanah, menatap angkuh ke arah kerumunan kelas satu.
“Mana yang katanya paling berisik dari kelas 1-C? Siapa namanya? Rizal?”
Rizal melangkah melewati dua anak kelas satu, lalu berhenti di depan Dion.
Dion mengangkat alis, tersenyum sinis. “Mau digantiin teman lu? Atau lu mau nyerah duluan?”
“Gue nggak mau lawan anak kelas satu.” Rizal menunjuk tepat ke muka Dion yang berdiri di atas drum. “Gue lebih tertarik ngelawan lo.”
Asap rokok dari jari salah satu senior membeku di udara.
Nadia menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Eh item... lo udah gila.”
Dion tertawa pendek, melompat turun dari drum, mendarat dengan bunyi debu bergemeretak. “Anak kemarin sore minta diantar ke liang lahat lebih cepat.”
Dion melayangkan hook kiri tanpa aba-aba. Tubuh Rizal merendah, angin kepalan tangan Dion menyerempet telinganya. Jarak terkunci, siku Rizal menghantam keras ke arah ulu hati Dion.
Dion terpekik, napasnya tersedak. Tubuhnya melengkung ke depan. Belum sempat tubuh Dion menegak, kaki Rizal menyapu bagian belakang lututnya.
Bum.
Tubuh Dion ambruk, suara hantaman tertahan tembok bata tua di belakang mereka.
Para senior teman Dion terpaku, saling berpandangan. Rizal berdiri tegak, merapikan kerah bajunya, lalu berjalan melewati tubuh Dion begitu.
Nadia menarik Rizal keluar dari lingkaran sempit itu, jemarinya mencengkeram lengan Rizal dengan tenaga penuh.
“Lo kenapa cari mati sih?!” napas Nadia memburu.
Rizal menyeringai. “Mereka yang mulai.”
“Itu bukan alasan!” Nadia mendesis marah, meski matanya berkaca-kaca menatap luka di pipi Rizal.
Dion masih terbaring, salah seorang senior berjongkok di sampingnya.
“Yon.”
Dion mengangkat tangan, ia menarik napas panjang, lalu duduk perlahan. Matanya masih mengikuti Rizal yang sudah ditarik Nadia menjauh dari kerumunan.
“Dia siapa?” tanya seorang senior.
“Rizal.”
“Anak kelas satu?”
“Iya.”
Senior di sebelahnya tertawa kecil. “Gila. Malu lu, Yon.”
Dion menoleh. “Kalau mau ketawa, lawan sendiri.”
Tawa itu berhenti. Dion kembali melihat punggung Rizal yang semakin jauh.
“Anak itu,” gumamnya, “bakal bikin sekolah ini ribut.”
Malam hari, lampu neon di ruang tamu berdengung pelan. Pak Tito duduk di kursi rotan, memegang cangkir kopi pahit yang mengepulkan uap tipis. Rizal berdiri di hadapannya dengan seragam ganti kaus oblong putih dan celana training.
“Udah bikin masalah di sekolah?” tanya Ayah tanpa mengalihkan pandangan dari cangkir.
“Nggak, yah.”
“Ayah masukin kamu ke padepokan supaya kamu bisa jaga diri, jaga keluarga. Bukan buat jadi jagoan.”
“Iya, yah.”
Pak Tito meletakkan cangkirnya ke atas meja. “Jangan bikin malu keluarga.” Ia beranjak pergi ke kamar belakang.
Bu Ria muncul dari balik tirai dapur, membawa segelas teh hangat. “Ayahmu sebenarnya khawatir,” bisik Ibu pelan.
Rizal mendengus pelan. “Tapi ayah aneh. Kalo khawatir ngomong aja, nggak usah sok dingin. Emang ayah mau jadi kulkas?’
Ibu tersenyum tipis. “Nggak semua orang bisa ngomong yang dirasain. Yang jelas, ayah kamu itu sayang sama kamu.”
Di tempat lain, rumah Nadia berukuran jauh lebih kecil. Bu Hana membereskan sisa benang di atas meja jahit. Nadia duduk di tepi dipan, memeluk lututnya sendiri.
“Rizal bikin masalah lagi di sekolah?” tanya Bu Hana tanpa menoleh.
Nadia menghela napas panjang. “Bukan masalah, Bu. Dia nantang senior.”
Ibunya berhenti menginjak pedal mesin. Kepalanya menoleh, tersenyum kecil. “Itu sama saja. Dari kecil sampai sekarang, kelakuannya nggak pernah berubah.”
“Nadia takut suatu hari dia ketemu orang yang salah, Bu.”
“Selama ada kamu yang ngerem di belakangnya, dia mungkin masih bisa dikendalikan,” kata ibunya lembut. “Tapi ingat, hati orang nggak ada yang tahu batasnya.”
Hari-hari berikutnya berjalan dalam ritme yang aneh. Di sekolah, nama Rizal disebut-sebut dengan nada campur aduk. Bel pulang baru saja berbunyi.
Seorang guru olahraga berdiri di depan pintu kelas. “Rizal.”
Rizal memasukkan buku ke dalam tas, lalu menoleh. “Iya, Pak?”
“Kesini sebentar.”
Rizal berjalan mendekati guru tersebut. “Saya denger kamu ribut sama anak kelas tiga?”
“Bapak tau dari mana?”
“Kamu latihan bela diri?”
“Pencak silat, Pak.”
“Di mana?”
“Padepokan Beksi.”
Guru olahraga mengangguk. “Sekolah lagi nyari atlet untuk kejuaraan pelajar beberapa minggu lagi.”
Rizal mengangkat alis. “Seleksi, Pak?”
“Iya, latihan kapan besok sore.”
Rizal berpikir sebentar. “Baik, Pak. Saya datang.”
Dari belakang, Nadia menyela. “Jangan sampai cedera.”
Rizal menoleh. “Kenapa? Khawatir?”
“Nggak.”
“Terus?”
“Kalau lu cedera, nanti yang repot gue.”
Rizal tertawa kecil.
Di warung kopi dekat sekolah Pelita Bangsa, Riki dan Noval sering datang menghampiri Rizal setelah selesai sekolah.
“Gue denger lo nantangin anak kelas tiga?” bisik Riki.
Rizal menyesap kopi hitamnya. “Orangnya aja yang lembek.”
“Anak Trijaya Utama juga mulai ngomongin lu,” timpal Noval. “Hati-hati, Zal. Senior nggak bakal tinggal diam harga diri mereka diinjak anak kelas satu.”
“Pada ngomongin apa sih?” Nadia menarik kursi di sebelah Rizal, lalu memesan es teh manis.
“Dih kepo banget,” sahut Rizal datar.
“Lo bisa nggak sih kalo orang nanya baik-baik jawabnya nggak usah ngegas?!” sungut Nadia.
“Muka lo udah nantangin orang ribut.”
Nadia membuang muka. “Tugas matematika udah belom?”
“Belum.”
“Kenapa belum? Besok dikumpul.”
“Kalo udah selesai lo pasti minta nyontek.”
“Jahatnya pikiran lo.”
“Emang bener.”
Nadia melempar sedotan plastik yang basah tepat ke dahi Rizal. Rizal tertawa kecil, membiarkan sedotan itu jatuh ke pangkuannya.
Noval menarik napas dalam. “Mendingan lo berdua pacaran, deh.”
Riki menyeringai. “Jangan lupa peje-nya ya.”
Nadia menoleh cepat, matanya melotot menatap Riki dan Noval bergantian. “Lo berdua mending balik ke sekolahan lo deh.”
Sore harinya, di padepokan silat tua di pinggir kota, pelatih paruh baya berkaus putih polos mengamati gerakan Rizal yang sudah sampai tahap sepuluh dari delapan belas jurus seni silat Beksi. Peluh membasahi punggung baju Rizal hingga tembus ke kulit.
Pelatih berdiri di belakangnya, memegang sebatang rotan tipis yang diketuk pelan ke lantai semen. “Lu tahu kenapa orang belajar bela diri, Rizal?”
Rizal mengatur napasnya. “Biar bisa menang.”
“Salah.” Pelatih menggeleng pelan. “Kekuatan tanpa arah itu cuma kekerasan. Kalau tangan lu dipakai cuma buat buktiin kalau lu yang paling hebat, lu nggak ada bedanya sama preman pasar.” Pelatih itu berjalan memutari Rizal. “Pertarungan terbaik adalah pertarungan yang tidak perlu terjadi.”
Rizal menatap pantulan bayangannya di lantai yang basah oleh keringatnya sendiri.
Minggu kedua setelah kejadian itu, Seorang senior bernama Reno mulai sering mendekati meja Nadia sepulang sekolah.
“Pulang sekolah kemana?” Reno berdiri di samping meja Nadia, tangan bersidekap.
Nadia menatap buku catatannya tanpa mendongak. “Langsung pulang, Kak.”
Reno tersenyum tipis. “Nggak ada kegiatan, kan? Jalan yuk.”
Nadia mendongak. “Nggak bisa kayanya kak.”
Reno mencondongkan tubuhnya ke depan, merendahkan suara. “Sombong banget lo.”
“Ko sombong?” Alis Nadia bertaut.
Reno melangkah pergi meninggalkan ruang kelas yang mulai sepi.
Hari-hari berikutnya. Nadia mendorong pintu kelas, resleting tas ransel birunya yang terbuka lebar, menyembulkan tumpukan lembar kerja siswa yang terlipat paksa. Tutup pulpen patah berserakan di lantai kolong meja.
Nadia berjongkok. Jarinya memunguti serpihan plastik pulpen tanpa suara. Ia menarik napas panjang, merapikan lembaran kertasnya yang lecek ke dalam tas, lalu menarik resletingnya rapat-rapat.
Dua hari berikutnya, buku paket biologinya lenyap dari meja, baru ditemukan menjelang jam pulang terselip di dalam laci kayu di sudut paling belakang kelas, tertutup debu kapur tebal. Besoknya, halaman depan buku catatannya dicoret-coret menggunakan spidol permanen hitam dengan garis-garis kasar yang merusak catatan rapinya.
Di koridor luar jendela, Rizal sedang berdiri bersandar pada tembok melemparkan gulungan kertas ke arah tong sampah. Tawanya terdengar sekilas, bahunya santai tanpa beban. Nadia menatap Rizal beberapa detik, lalu mengalihkan pandangan. Jemarinya meremas tali tas erat-erat, buku-buku jarinya memutih. Bibirnya digigit pelan sampai kehilangan warna, lalu ia kembali duduk dan membuka buku tanpa memanggil siapa pun.
Sore hari, Nadia pulang sendirian karena Rizal harus latihan tambahan di padepokan. Di tikungan sepi dekat tembok belakang sekolah, langkah Nadia dicegat dua orang teman Reno. Mereka berdiri menghalangi jalan setapak setapak batako.
“Mau ke mana, manis?” geretak salah satu dari mereka.
Nadia mundur dua langkah, punggungnya menempel ke dinding. “Minggir.”
“Reno cuma pengen ngobrol baik-baik. Kenapa sombong banget?”
Salah satu dari mereka mengangkat tangan, mencengkeram dagu Nadia. Nadia menepis tangan itu sekuat tenaga sambil berteriak. Bayangan gelap melompat dari balik dinding semak-semak samping lapangan.
Hantaman lutut telak mengenai rusuk anak di sebelah kiri hingga terlempar ke semak-semak. Rizal berdiri di antara Nadia dan mereka berdua. Napasnya memburu, matanya merah menyala.
Anak yang tersisa mundur melihat sorot mata Rizal. “Anjrit... lu-“
Tangan Rizal mencengkeram kerah seragam anak itu, satu pukulan lurus mendarat telak di tulang pipi. Anak itu tersungkur ke tanah, mengerang kesakitan sambil memegangi wajahnya.
Nadia berdiri di belakang Rizal, kedua tangannya gemetar menutupi mulutnya. Air mata yang sejak kemarin ditahannya tumpah membasahi pipi.
Rizal menoleh perlahan. Melihat air mata di wajah Nadia. “Dia... dia ngapain lu?”
Nadia menggeleng, mencengkeram ujung baju belakang Rizal. “Udah, Zal... jangan. Jangan diterusin.”
Rizal menatap dua orang yang tergeletak di tanah, lalu berbalik merangkul bahu Nadia. “Pulang.”
Malam hari, Pak Tito duduk di kursi ruang tamu, membaca laporan harian dari koran sore. Rizal melangkah masuk, seragamnya kotor, noda darah kering di lengan baju.
Pak Tito menurunkan korannya perlahan. “Kamu berkelahi lagi?”
Rizal berdiri di ambang pintu, tangannya mengepal di sisi celana.
“Ayah tanya, kamu berkelahi lagi?” Ayah berdiri dari kursinya, bayangannya menutupi seluruh tubuh Rizal. “Kali ini alasan apa lagi? Cari nama? Atau karena mau sok jadi pahlawan?”
Rizal mendongak, menatap mata ayahnya. “Mereka ganggu Nadia.”
“Kalau mereka masuk rumah sakit, masalah selesai?!” bentak pak Tito, suaranya menggelegar membentur dinding rumah. “Kekuatan itu bukan buat ngebasmi semua orang yang bikin kamu emosi, Rizal! Kalau kamu terus pakai otot buat nyelesaikan segalanya, kamu cuma jadi binatang buas yang dilepas di tengah kota!”
Rizal terdiam, ia menunduk di hadapan ayahnya, lalu melangkah masuk kamar.
Ia duduk di tepi tempat tidur. Dari ruang tengah terdengar suara televisi yang volumenya kecil.
Beberapa menit kemudian, pintunya diketuk.
“Siapa?”
“Ibu.”
Pintu terbuka. Bu Ria masuk membawa segelas air. Ia meletakkannya di meja.
“Masih marah sama Ayah?”
Rizal menggeleng.
“Kecewa?” Bu Ria duduk di ujung tempat tidur. “Ayahmu memang keras.”
“Rizal tahu.”
“Tapi bukan berarti semua yang dia bilang salah.”
Rizal menatap lantai. “Ibu juga mau Rizal diam kalau ada orang yang ganggu Nadia?”
“Bukan begitu.” Bu Ria menarik napas. “Ibu cuma mau kamu tahu kapan harus pakai kekuatanmu.”
Rizal mengangkat wajah. “Kalau orang lain menyakiti orang yang deket sama Rizal?”
Bu Ria diam beberapa saat. “Lindungi dia.”
“Tapi jangan sampai kamu berubah menjadi orang yang kamu lawan.”
Bu Ria berdiri. “Yaudah kamu tidur.”
“Iya, Bu.”
Sebelum keluar, Bu Ria berhenti di ambang pintu. “Besok jangan terlambat sekolah.”
Rizal tersenyum tipis. “Iya.”
Pintu kamar tertutup perlahan. Rizal kembali menatap lantai.
Tiga minggu berlalu di SMA Pelita Bangsa. Reputasi Rizal sudah terpatri sebagai batas terlarang di lingkungan sekolah.
Hari Sabtu pagi. Bu Ria berdiri di belakang Rizal sambil merapikan kerah seragam pertandingan. Rizal menunduk sedikit.
“Jangan tegang.”
“Rizal nggak tegang, Bu.”
“Kalau nggak tegang, kenapa dari tadi kaki kamu goyang?”
Rizal melihat kakinya sendiri. Ia tertawa kecil. “Refleks.”
Bu Ria tersenyum. “Jangan pikirkan menang atau kalah.”
“Terus?”
“Lakukan yang sudah kamu pelajari.”
Rizal mengangguk.
Pak Tito sudah berdiri di dekat pintu, menatap Rizal beberapa detik. “Jaga kepala.”
Rizal mengernyit. “Maksud Ayah?”
“Jangan cuma pakai tangan dan kaki.”
Rizal terdiam, lalu mengangguk. “Iya, Yah.”
Pak Tito membuka pintu. “Yaudah sana berangkat.”
Rizal mengikuti ayahnya keluar.
Di aula utama kota, Sabtu pagi yang cerah, kejuaraan pencak silat tingkat pelajar se-provinsi digelar. Lampu sorot putih menggantung di langit-langit gedung olahraga, memantulkan kilau keringat dari puluhan peserta yang berlaga di atas matras merah biru.
Nadia duduk di barisan tribun penonton paling depan, di samping Riki dan Noval yang datang mengenakan kaos seragam sekolah mereka. Di atas matras utama, Rizal berhadapan dengan lawan bertubuh lebih tinggi dari perguruan lawan. Pertandingan berjalan sengit. Kaki-kaki beradu dengan suara nyaring setiap kali tendangan sabit dilepaskan.
Tatapan Rizal membaca setiap pergeseran berat badan lawannya. Lawan melancarkan tendangan memutar, Rizal merendahkan tubuh, menepis lengan lawan ke samping, lalu melakukan bantingan bersih yang mengunci pergerakan di atas matras.
Tiga detik.
Wasit mengangkat tangan kanan Rizal tinggi-tinggi. Sorak-sorai penonton pecah dari sudut tribun. Nadia berdiri dari kursinya, melambaikan tangan sambil tersenyum lebar.
Senin pagi di lapangan upacara SMA Pelita Bangsa. Kepala sekolah memanggil nama Rizal ke atas panggung utama, menyerahkan piala kejuaraan pencak silat tingkat regional yang baru dibawanya pulang untuk mengharumkan nama sekolah.
Di barisan kelas tiga, Dion dan beberapa senior yang dulu pernah dikalahkan Rizal berdiri tegak. Rizal turun dari panggung membawa piala berkilau emas di tangannya, Dion melangkah maju beberapa langkah, menghadang jalur jalan Rizal di dekat koridor kelas.
Rizal menghentikan langkah. Dion menatap piala di tangan Rizal, lalu tersenyum tipis. Bekas luka di pipinya masih sedikit kelihatan.
“Gue akuin, waktu itu lu memang hebat di lapangan, Zal,” kata Dion. “Dan piala itu... emang pantas buat lu.”
Rizal mengangguk singkat. “Waktu itu gue...”
“Lu tetap maju,” balas Dion, mengulurkan tangan kanannya ke depan.
Rizal menatap uluran tangan Dion, lalu menjabat tangan yang erat.
Di dekat koridor perpustakaan, Nadia berdiri bersandar di pilar beton, tersenyum kecil.
Sore hari menjelang senja, Rizal dan Nadia berjalan berdampingan pulang ke rumah seperti biasa.
“Sekarang jadi anak emas sekolah,” panggil Nadia. “Disalamin kepala sekolah, disapa senior.”
Rizal mendengus pelan, memasukkan tangan kanannya ke saku celana. “Biasa aja.”
“Kemarin bikin onar, sekarang jadi pahlawan. Hidup lu dramatis banget, Zal.”
“Berarti seimbang.”
Nadia tertawa kecil. Suara tawanya memecah keheningan sore yang mulai temaram. Mereka berbelok ke tikungan gang rumah, melewati tiang listrik tempat mereka biasa menunggu setiap pagi.
Nadia berhenti sebentar. “Besok gue tunggu di sini.”
Rizal menoleh. “Ngapain?”
“Ya nungguin lu.”
“Kalau gue telat?”
“Gue tunggu.”
“Kalau gue nggak datang?”
Nadia mengangkat bahu. “Gue tunggu lebih lama.”
Rizal tertawa kecil. “Bego.”
“Daripada lu.”
Rizal kembali berjalan. Nadia menyusul di sampingnya.
Beberapa meter kemudian, Rizal menoleh ke belakang. Tiang listrik sudah semakin jauh. Nadia masih berjalan di sampingnya, masih mengomel soal tugas matematika yang belum dikerjakan, sementara matahari perlahan tenggelam di balik deretan rumah.
Rizal tidak tahu berapa lama semuanya akan tetap seperti itu. Yang dia tahu, sore itu dia masih punya rumah untuk dituju, seorang ayah yang akan memarahinya ketika pulang, seorang ibu yang mungkin akan membelanya, dan seorang teman yang bersedia menunggunya setiap pagi.
Untuk pertama kalinya, Rizal tidak merasa perlu mencari tempat lain. Ia hanya berjalan pulang.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!