Rasanya seperti dicabut dari kekosongan, lalu dilemparkan dengan paksa ke dunia yang asing. Langit malam tiba-tiba dihinggapi oleh kilatan cahaya, gemuruhnya membuat bumi di bawahnya turut bergetar. Dari tengah kilat itu tubuh seorang gadis meluncur jatuh, menyerupai bintang yang terhempas dari orbitnya. Udara terbelah oleh kejatuhannya, dan tanah desa kecil di bawah berdegum saat tubuhnya menghantam tumpukan jerami yang baru saja dipanen.
Dentumannya membangunkan ternak di kandang terdekat, sapi-sapi menguak panik, ayam-ayam berlarian dengan sayap mengepak. Namun, jerami yang seharusnya empuk seketika tersulut api. Kobaran kecil menyambar, menyebar seperti napas makhluk lapar, hingga tumpukan itu berubah jadi bara hangus yang memakan dirinya sendiri.
Gadis tersebut tersungkur, tubuhnya berlumur debu, rasa sakit menyusup hingga ke tulang. Kepalanya berdenging, dadanya sesak, dan udara serasa enggan masuk ke paru-parunya. Ia mencoba bangkit, tetapi lututnya lemas, tangan berlumur arang menahan tanah kering yang kasar.
Ia membuka mata dengan berat, pupilnya memantulkan cahaya api yang masih menyala. Rambut hitam panjang menutupi sebagian wajah pucatnya, kusut oleh abu. Sejenak ia tak mengenali apa pun. Tidak dirinya, tidak pula dunia di sekitarnya.
Sebuah pedang bertakhtakan permata hitam tergeletak di sampingnya. Di pinggangnya tergantung sebuah kantung kecil dari kulit hitam, beratnya aneh, penuh koin yang berdenting setiap kali tubuhnya bergerak. Nalurinya berkata benda itu penting, kendati pikirannya kosong.
Rasa sakit perlahan menjalar ke seluruh sendi, membuatnya mengernyit. Lalu sesuatu menyusup samar di benaknya, suara, atau mungkin sekadar gema asing yang menggores kesadarannya.
Sebuah nama.
“Rhea ....”
Ia terdiam. Kata itu terkatung di sanubari. Entah ia yang menyebut atau sekadar gema dari ingatan yang tercecer. Perlahan bibirnya mengulang, suara serak keluar dari tenggorokan kering.
“Rhea ... aku?”
Pertanyaan itu tak terjawab. Tak ada yang menjawab. Hanya kesunyian malam, bunyi api kecil yang menyambar jerami, dan dingin angin desa yang menyalak ke wajahnya. Ia menatap tangannya sendiri, menggenggam udara. Menunggu kepastian bahwa dirinya memang nyata.
“Siapa aku? Di mana ini? Apa yang ... terjadi padaku?”
Kebingungan menyesakkan dada menghantam lebih keras daripada sakit yang dirasakan fisiknya. Ia berusaha menyusun potongan, tetapi semua memori hanyalah kegelapan yang kosong. Satu-satunya yang ia tahu dirinya bernama Rhea. Hanya itu.
Lamunannya buyar saat suara langkah terdengar mendekat. Suara alas kaki menapak tanah berdebu. Rhea menegang. Tubuhnya memang payah, penuh luka, tetapi nalurinya berteriak, lari.
Ia terhuyung, tergopoh menahan sakit, menyeret kakinya dari bara jerami yang kini padam tersisa arang. Tiba-tiba pedang di genggamannya terlepas, jatuh menghantam tanah dengan dentingan logam. Suara itu memantul, nyaring di udara malam yang hening.
Rhea menoleh gugup, siapa pun sosok itu, ia harus bersembunyi.
Langkah kaki orang itu berhenti. Seorang lelaki dari desa menoleh ke arah bunyi denting tersebut. Suaranya berat, kaku oleh rasa curiga.
”Siapa di sana?”
Jantung Rhea melompat ke kerongkongan. Ia buru-buru menyelinap, menyembunyikan diri di balik lumbung gelap. Nafasnya terengah, tubuhnya menolak perintahnya sendiri, tetapi ia memaksa diam. Pedang itu ... masih di tanah, tidak bersama dirinya.
Mata Rhea terbelalak. Entah dari mana datangnya naluri itu, tangannya terulur perlahan, telapak terbuka mengarah pada pedang yang tergeletak. Ia tak tahu mengapa, hanya tahu ia harus menginginka pedang itu kembali.
Ajaibnya, pedang itu bergerak.
Udara di antara mereka bergetar tipis, lalu bilah baja itu melesat bagai ditarik magnet tak kasatmata. Dalam sekejap, pedang itu menempel kembali pada telapaknya. Rhea terperanjat, hampir menjatuhkannya lagi, tetapi kali ini genggamannya makin erat.
A ... apa barusan? bisiknya pada dirinya sendiri dalam hati.
Darahnya berdesir, perasaan asing merayapi dirinya. Ia bisa menarik pedang itu dengan pikiran? Dari mana datang kekuatan itu?
Lelaki asing itu sempat menoleh, hampir mendekat, tetapi suara perempuan memanggil dari arah rumah.
“Doris! Kau di mana? Ayam-ayam kabur lagi!”
Lelaki itu menggerutu pelan, lalu melangkah pergi, meninggalkan area lumbung. Rhea membeku di tempatnya, mendengarkan hingga suara langkah benar-benar lenyap.
Dadanya naik-turun, napasnya memburu. Ia merasa seakan baru saja lolos dari jerat maut, walau tak yakin mengapa ia begitu takut ditemukan. Perlahan, ia keluar dari balik bayangan, menatap sekitar. Tak ada seorang pun lagi.
Ia menarik pedang ke dadanya, memeluknya sebentar seperti anak kecil memeluk boneka, lalu menurunkannya kembali. Kantung di pinggangnya berdenting, isinya masih penuh. Ia tidak tahu mengapa, tetapi tahu bahwa ia tidak boleh kehilangan keduanya, pedang dan kantung itu.
Dengan langkah lemah, Rhea mulai berjalan menjauh dari lumbung. Malam sunyi, hanya suara serangga yang menemani. Tubuhnya masih sakit, setiap gerakan seperti ditusuk jarum, tetapi ia tak berhenti. Ada sesuatu dalam dirinya yang berkata, ia harus menjauh dari orang-orang itu.
Ia mendongak ke langit. Bulan menggantung tinggi, bulat sempurna. Namun, saat ia menatap lebih lama, ia menyadari sesuatu yang aneh. Bulan itu seakan bergeser. Tidak tetap di satu posisi, seolah-olah bergulir perlahan menuju arah tertentu.
Rhea memicingkan mata. “Bulannya ... bergerak? Atau aku yang salah lihat?”
Nalurinya lagi-lagi memberi jawaban yang tak bisa dijelaskan. Ia tahu benar apa artinya. Ia kini berada di selatan. Bagaimana ia tahu? Ia sendiri tak mengerti. Namun, kepastian itu kuat, seolah-olah bulan membisikkan arah kepadanya.
Ia merapatkan pedang ke sisi tubuh, menarik napas panjang, dan mulai melangkah lebih jauh ke kegelapan malam. Rambut hitamnya berkibar, mata ungunya yang menyerupai nebula memantulkan cahaya rembulan. Gaun hitam yang ia kenakan sama sekali tidak cocok untuk petualangan, tetapi itu.adalah satu-satunya pakaian yang melekat padanya.
Rasa sakit tetap ada, kebingungan tidak berkurang, tetapi ada dorongan dalam dirinya. Ia harus berjalan. Ia harus mencari tahu siapa dirinya dan mengapa ia berada di sini.
Rhea berjalan dalam kegelapan yang tak kunjung berakhir. Hutan itu seakan menelan setiap detik, setiap denyut napas, hingga ia tak tahu sudah berapa lama kakinya melangkah. Pepohonan menjulang setinggi mata memandang, ranting-rantingnya menyatu membentuk kanopi yang menolak cahaya bulan menembus ke dasar. Semakin ia masuk, semakin gulita, dan semakin jauh pula ia dari apa pun yang bisa disebut aman.
Langkahnya terhuyung, goyah oleh rasa sakit yang masih bersarang di sekujur tubuh. Kadang ia sengaja menahan napas, berusaha mengurangi bunyi gesekan sepatu lusuhnya di atas tanah lembap. Namun, di tengah sunyi yang mencekam, suara sekecil apa pun terasa terlalu keras, membuatnya waspada.
Lalu sesuatu menyapa dari kegelapan. Cahaya kecil, redup, bergerak pelan di udara. Serangga. Bukan serangga yang pernah ia kenal. Tubuh mungil itu memancarkan cahaya kehijauan, seolah-olah lentera yang ditiup angin halus. Dalam gelap, puluhan lainnya ikut bermunculan, menari-nari di udara. Rhea berhenti, keningnya berkerut. Ada sepotong ingatan samar yang menggelitik kepalanya.
Bumi.
Ya, ia pernah mendengar nama itu dan di sana, tidak ada makhluk bercahaya begini.
Tangannya terulur tanpa sadar, ingin memastikan makhluk mungil itu bukan imajinasinya. Akan tetapi, sebelum jemarinya sempat menyentuh sayap yang berpendar, suara derap roda kayu bercampur derik besi terdengar dari belakangnya. Rhea menegang. Itu jelas bukan suara alam. Itu suara kereta.
Jantungnya berdegup keras. Ia menoleh, tetapi terlambat untuk mencari tempat bersembunyi. Kereta besar yang ditarik dua ekor kuda berhenti tak jauh darinya. Lampu minyak bergoyang di sisi kiri kanan kendaraan, cahayanya menyingkap wajah pucat Rhea yang berdiri di tengah jalan setapak.
Pintu kereta terbuka, seorang wanita paruh baya dengan rambut keriting keperakan turun, tangannya menggenggam lentera. Sorotnya segera jatuh pada Rhea. “Astaga, Nona!” serunya terkejut. “Kau tidak apa-apa? Apa keretamu dirampok?”
Rhea mundur beberapa langkah, matanya menyipit menghadapi cahaya yang menusuk pandangan. Tangannya refleks mengangkat pedang. Ujung bilahnya berkilau, cahaya lentera membuatnya tampak lebih menyeramkan.
Wanita itu terperanjat, lalu cepat-cepat berbicara lagi. “Tenanglah, Nona, aku tidak bermaksud jahat. Kami hendak menuju Veyloria.”
Veyloria. Nama itu membuat telinga Rhea bergetar. Ia tak tahu mengapa, tetapi ada sesuatu dalam nama itu yang seakan memanggil. Namun, ia tetap membungkam dengan napas berat.
Wanita itu mengamati Rhea dari atas ke bawah. Gaun hitam panjang, rambut tergerai acak, mata ungu gelap yang seolah-olah menyimpan nebula. “Kau tampak kebingungan ... dan butuh bantuan, Nona.”
“Aku baik-baik saja,” potong Rhea cepat. Ia lantas memutar tubuh, melangkah menjauh.
Sebelum ia bisa pergi, tangan wanita itu terulur dan menyentuh lengannya. Seketika darah Rhea mendidih. Kilat amarah menyambar, pedangnya terhunus dengan gerakan cepat, hampir menebas jika saja nalarnya tidak berhenti di tengah jalan.
Wanita itu langsung mengangkat kedua tangannya, mundur. “Whoa ... maafkan aku, Nona! Aku tak bermaksud melukaimu.” Tubuhnya memang gemetar, tetapi tatapannya tetap tulus. “Aku hanya ingin memperingatkan. Hutan ini ... kami menyebutnya Hutan Myrddal, bukanlah tempat ramah bagi pejalan kaki. Kau sendirian di sini ... itu bahaya.”
“Myrddal ....” Rhea mengulang dengan gumaman. Kata itu asing sekaligus akrab di telinganya.
Wanita itu melanjutkan, “Aku dan kakakku menuju Veyloria. Jika kau mau, ikutlah bersama kami. Setidaknya sampai kota. Dari sana, kau bisa melanjutkan perjalananmu sendiri.”
Rhea menatapnya lekat-lekat, kecurigaan jelas terpampang. Dunianya baru dimulai dengan jatuh dari langit, ia tak punya alasan mempercayai siapa pun. Akan tetapi, di sisi lain, tubuhnya terasa rapuh, langkahnya limbung. Bertahan di hutan asing ini sendirian dengan makhluk bercahaya aneh dan suara-suara samar yang mengintai dari kegelapan, jelas bukan pilihan bijak.
Ia ragu. Pedangnya masih tergenggam erat, sorot matanya tajam penuh kewaspadaan. Pelan-pelan, bilah itu diturunkan. “Jika kau berbuat macam-macam, aku tidak segan ....” Kalimatnya terputus di udara.
Wanita itu mengangguk cepat, tersenyum lega. “Aku mengerti. Aku Marda, dan kakakku sedang menunggu di dalam kereta. Ayolah, kau bisa beristirahat sebentar di dalam.”
Nama Marda bergema dalam kepala Rhea. Ia akhirnya menghela napas, menyeret kakinya mendekati kereta. Pintu kayu dibuka lebih lebar, dan cahaya hangat dari dalam menembus kegelapan hutan. Rhea masih ragu, matanya awas ke segala arah, tetapi akhirnya ia melangkah masuk.
Di dalam, aroma kayu lembap dan minyak menyambut. Kursi empuk berlapis kain sederhana berjajar, dan di ujung sana seorang pria paruh baya, barangkali kakak Marda, menoleh heran ke arah tamu baru itu. Rhea tidak duduk. Ia hanya berdiri, pedangnya tetap terpegang erat, tatapannya awas.
Marda menutup pintu, lalu kembali mengangkat lentera kecil yang kini tergantung di sisi kereta. “Kau bisa duduk, Nona. Kau tampak kelelahan.”
Rhea menggeleng. “Aku lebih suka berdiri.”
“Kau bisa jatuh kalau berdiri di dalam kereta.” Pria itu mengangkat alis, lalu menatap adiknya. “Kau memungut pengembara lagi, Marda?” tanyanya lagi pada adiknya, tetapi intonasi itu tidak terdengar bermusuhan.
“Dia tersesat di Myrddal,” jawab Marda singkat menatap teduh pada sosok Rhea yang perlahan mengambil tempat untuk duduk.
Kereta kembali bergerak, roda kayunya berderit di jalan yang tidak rata. Rhea menatap keluar jendela kecil, ke pekat hutan yang kini bergeser perlahan ditelan kegelapan. Serangga bercahaya yang tadi masih tampak menari di kejauhan, kini semakin samar, enggan mendekati kereta.
Di balik kaca, bulan menampakkan wajah. Rhea memandang benda angkasa tersebut lama, hingga hatinya terasa bergetar aneh.
Ia memejamkan mata, bersandar sebentar pada dinding kayu kereta. Dalam hatinya, pertanyaan itu berulang. Siapa dirinya, dan mengapa dunia ini terasa asing sekaligus begitu akrab?














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!