Bab 01

Cerpen - Target

4 dibaca

A

Aku tak bisa menahan rasa ingin tahu yang meluap-luap setiap kali melihatnya. Nabiha, bukan Nabila, namanya terukir dalam benakku seperti mantra yang menghipnotis. Dia adalah bunga yang mekar di SMA Matahari yang begitu memesona. Setiap kali dia melintas di koridor sekolah, tatapan-tatapan tak terelakkan melekat padanya. Begitu indah, begitu memikat bagaikan lukisan hidup.

Rambut hitamnya yang bergelombang terlihat begitu alami, seakan-akan angin berbisik lembut memeluk setiap helainya. Setiap gerakannya seperti tarian lembut yang membuat siapa pun yang melihatnya jatuh hati. Tak ada celah untuk menemukan cacat pada kulitnya yang bersih dan berkilau, seperti impian setiap remaja yang biasanya berjerawat oleh lonjakan hormon.

Senyumnya, ah, senyumnya! Begitu menawan, begitu menggoda. Senyumnya meluluhkan hati banyak orang, termasuk para guru di sekolah. Aku tak terkecuali. Setiap kali dia tersenyum, dunia seakan-akan berhenti sejenak, dan aku luluh oleh pesonanya.

Meskipun bukanlah siswa berprestasi, Nabiha memiliki magnetisme yang sulit dijelaskan. Dia tak pernah terlalu rajin belajar, namun selalu mampu mendapatkan apa yang dia inginkan. Entah bagaimana caranya, entah apa yang membuatnya begitu istimewa. Tetapi, satu hal yang pasti, dia memiliki kekuatan yang tak bisa diabaikan.

Aku telah mengawasinya berbulan-bulan. Ibarat detektif swasta yang dibayar mahal untuk menguntit, aku mengamati setiap gerakannya, setiap senyumnya, setiap tatapannya, sampai kebiasaannya. Dan semakin lama aku mengamatinya, semakin besar rasa keingintahuanku. Aku ingin memiliki Nabiha dan mengetahui segala hal tentangnya.

Dan akhirnya, hari ini adalah hari ketika aku akan mengambil langkah besar. Aku telah merencanakan semuanya dengan cermat. Tanpa berbagi rencana. Hanya aku yang mengetahui rencana gelap ini.

Aku melangkah perlahan menuju Nabiha, yang sedang duduk sendirian di bangku taman sekolah. Senyumnya masih sama memikat seperti biasa. Aku mendekatinya dengan hati yang berdebar-debar. Begitu dekat, begitu nyata.

Dan di detik itu juga, aku melancarkan aksiku untuk menculiknya. Tanganku menutupi mulutnya yang menghalangi suaranya yang lembut. Tatapannya terkejut, tak menyangka bahwa seorang guru sepertiku, yang hanya seorang pengamat di kejauhan, akan berani melakukan sesuatu yang begitu nekat.

Aku membawanya pergi, menjauhkannya dari dunia luar yang mengaguminya. Kini, Nabiha akan menjadi milikku dan hanya milikku sepenuhnya. Ya, misi ini selesai, pikirku sambil tersenyum.

Obsesi gelapku telah membuahkan hasil. Aku telah memenangkan pertarungan melawan diriku sendiri, melawan rasa takut dan keraguan dari tindakan ini. Aku telah mendapatkan Nabiha. Dan sekarang, aku akan menikmati buah dari kemenangan ini. Aku akan menikmati setiap detik bersama Nabiha. Dan aku tidak akan menyesal.

Namun, apa yang aku tidak ketahui adalah bahwa Nabiha bukanlah gadis biasa. Di balik pesonanya yang memikat, ia menyembunyikan kekuatan dan kecerdikan yang luar biasa.

Saat aku membawanya ke tempat terpencil yang telah kusiapkan, Nabiha mencoba melepaskan diri. Ia berjuang dengan segala kekuatannya, melawan cengkeraman tanganku yang memegangnya erat. Tatapannya penuh dengan tekad dan rasa penolakan. Aku merasa terkejut dan tertantang oleh perlawanannya.

Dalam kekacauan itu, Nabiha berhasil melepaskan diri dan berlari menjauh dariku. Aku mengejarnya dengan nafas tersengal-sengal, namun ia terlalu cepat bagiku. Aku terus berlari, mengabaikan rasa lelah yang merasuki tubuhku. Aku tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja.

Setelah melarikan diri sejauh beberapa kilometer, Nabiha tiba-tiba berhenti di tepi tebing curam. Aku melihatnya dengan takjub, tak menyangka bahwa ia akan mengambil langkah nekat seperti ini. Dalam sekejap, Nabiha melompat ke dalam jurang yang gelap.

Hati dan pikiranku terperangkap dalam kebingungan dan kepanikan. Aku berlari ke tepi tebing dan melihat ke bawah. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan Nabiha. Ia seakan-akan menghilang begitu saja, meninggalkanku dengan perasaan yang berkecamuk.

Aku menyadari bahwa aku telah kalah. Nabiha telah menghancurkan misiku. Ia tidak akan menjadi milikku, dan aku tidak akan pernah tahu segala rahasia yang ia sembunyikan.

Kini, aku menghabiskan hari-hariku di dalam penjara pikiran. Aku terjebak dalam belitan kesalahan yang tak bisa kuubah. Hanya ada satu hal yang aku pelajari dari pengalaman ini: obsesi gelap berbalut misi tidak akan pernah membawa kebahagiaan. Hanya kehancuran dan penyesalan yang tersisa.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk